Ternyata, saya lebih goblok daripada pedagang kaki lima!

Mbah SuwitoPernah melihat pemandangan seperti ini di daerah sekitar Anda? Atau pemandangan lain yang lebih menarik dari ini? Ya, mungkin pemandangan seperti ini sudah biasa bagi sebagian orang dan bisa jadi luar biasa bagi sebagian orang yang lain. Tetapi, saya tak sedang membahas si penjual nasi goreng atau bahkan rombongnya. Saya mau membahas sesuatu yang lain. Sesuatu yang menampar saya seketika itu juga!

Malam itu, saya sedang ingin jalan-jalan menyusuri alun-alun kota Pasuruan. Saya ingin menikmati suasana nightlife yang sebenarnya dari kota Pasuruan. Jangan dibayangkan seperti kehidupan bebas lepas seperti di lokasi-lokasi lain. Nightlife di sini sangat berbeda sekali dengan yang mungkin ada di daerah-daerah lain. Banyak sekali saya jumpai warung-warung aneka makanan dan minuman ringan seperti wedang kopi, dll. Oh ya, tahu tek, soto ayam, nasi goreng, dan aneka menu khas Indonesia lainnya juga ada. Jumlahnya pun tidak hanya satu dua. Ada beberapa penjual dengan jenis makanan yang sejenis. Tak jarang pula, jaraknya hanya sekitar 5 sampai 10 meter tiap rombong, bahkan ada yang lebih dekat lagi. Kebetulan, saya sedang lapar saat itu dan mampir di salah satu warung kopi sambil menikmati aneka gorengan yang dijual. Hampir 2 jam saya duduk-duduk di sana sambil memerhatikan kegiatan para penjual dan pembeli di sana. Saya perhatikan betul dan saya mendapati mereka saling bertegur sapa, tidak saling memfitnah, bermusuhan, apalagi bertengkar. Bahkan, sesama penjual pun saling bertukar sapa, ngobrol, guyonan, terkadang pula saling tukar uang kembalian saat ada pembeli yang jajan menggunakan pecahan uang yang lebih besar.

Hai tunggu sebentar! Persis di sebelah saya adalah pedagang tahu tek dan sebelahnya lagi juga pedagang tahu tek. Lo, mereka kok tidak bermusuhan ya? Tidak pula tidak saling menyapa. Aneh!! Jualannya sama, jaraknya sama-sama dekat (saling bersebelahan). Pengunjungnya pun tidak sama banyak! Harganya pun seporsi beda-beda. Hebat sekali mereka. Tunggu-tunggu! Kenapa pedagang tahu tek itu ke rombong satunya. Sedang apa dia? Oh, ia mau menukar uang karena tidak ada kembalian untuk pelanggannya. Lo lo lo, kok mereka senyum-senyum saja. Pasti kurang waras mereka ini! Jualannya sama. Pelanggannya tidak sama banyak, kok mau-maunya si penjual yang sepi pelanggan menukari uang untuk pesaingnya?? Waduh! Aneh juga! Kok bisa ya?

Saya benar-benar kagum sama mereka ini. Bisa dibilang, di atas kertas, pola pikir strategis mereka jauh lebih rendah daripada saya, tetapi mereka mampu menempatkan diri mereka dengan sangat baik di antara sesama mereka. Mereka tidak sikut-sikutan, tidak saling memfitnah, tidak saling bermusuhan, atau bahkan bertengkar. Sedangkan saya?

Akhir-akhir ini saya melihat kejadian yang cukup menggelitik bagi saya. Ya, sebenarnya tidak pantas saya ceritakan di sini, tetapi saya ini sedang iseng atau dengan kata lain, saya sedang melakukan pencitraan (versi saya). Anggap saja kejadian ini melibatkan orang-orang yang bisa dibilang sangat terpelajar. Singkat kata, lebih hebatlah daripada pedagang kaki lima. Kerjanya saja pakai otak, tidak pakai otot! Nah, si A membisiki si B tentang xxxx, si B membisiki si C tentang xxxx, si C membisiki si D tentang xxxx, sampai si X. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang menanggapinya biasa-biasa saja, serta ada pula yang berontak.

Saya memerhatikan kejadian ini lucu sekali. Saya pribadi tidak ambil pusing dengan kejadian ini, karena sudah biasa. Saya pun tidak mau mencampuri urusan dapur orang lain. Karena saya tidak tahu pasti sebenarnya dapurnya seperti apa. Saya tidak pernah pergi ke dapur mereka dan memeriksa barang mereka satu-satu.

Kembali lagi ke penjual aneka makanan dan minuman di atas. Mereka berjualan makanan yang sama, saling berdekatan, dan dengan jumlah pelanggan yang tidak sama banyak. Mereka baik-baik saja. Tidak ada perselisihan di antara mereka. Lalu, siapakah yang lebih goblok sebenarnya? Saya atau penjual-penjual itu?

Nah, saya akhirnya bermuhasabah (bahasa kerennya berkontemplasi), bahwa terjadi sikut-sikutan itu karena kita kurang percaya dengan petugas pembagi rezeki. Rezeki kita sudah ada wadahnya sendiri-sendiri. Pekerjaan boleh sama, apa pun boleh sama, tetapi ingatlah bahwa takaran rezeki kita itu beda-beda. Nah, saya akhirnya sadar dengan ini. Lalu, apa selanjutnya? Mari sudahi polemik ini. Malu sama yang punya rombong. hehehe

Advertisements

Sudah sore, ayo pulang, kawan!

Pada suatu hari yang tampak cerah, dengan semilir angin yang terasa panas dingin. Rerumputan pun tampak hijau merona dari kejauhan. Kami pun sibuk mencari beberapa kupu-kupu di kuburan kuno yang berada tidak jauh dari rumah kami. Kuburan yang dipenuhi kuburan orang-orang Belanda pada zaman penjajahan itu tampak tidak seram lagi bagi anak-anak seusia kami. Malahan, tempat itu menjadi tempat bermain yang sangat asyik pada waktu itu. Banyak sekali hewan dan makhluk kecil lucu-lucu yang bisa kami bawa pulang.

Saya ingat betul dengan salah satu teman kami saat itu yang sangat jago menangkap kupu-kupu. Ya, Yanto namanya. (Semoga kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan selalu menyertainya). Yanto ini sungguh lihai dalam menangkap kupu-kupu. Tidak hanya itu. Nyalinya pun terbilang paling besar di antara kami. Terkadang kami masih mikir dua kali saat harus berlarian ke semak-semak dengan menangkap kupu-kupu yang kami minati. Sebaliknya, semak ini bagaikan kasur empuk bagi si Yanto.

Seharian kami berada di makam kuno itu. Wadah untuk kupu-kupu itu pun hampir penuh dan tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Ah sepertinya sudah waktunya untuk pulang. Saya pun mengingatkan semua teman-teman saya untuk segera pulang karena hari akan gelap sebentar lagi. ‘Tunggu…… Sepertinya ada yang kurang!’, pikir saya. Ternyata memang benar, Yanto ini berada paling jauh dari gerombolan kami. Saya perhatikan dari kejauhan. Ia masih tampak asyik dengan mencari kupu-kupu itu. Saya biarkan sejenak sambil berpikir untuk mengajaknya pulang segera.

Saya pun memutuskan untuk mendekatinya dan memintanya untuk segera pulang karena hari akan segera berganti malam. Ia sepertinya tidak menghiraukan saya. Masih saja asyik dengan memburu kupu-kupu yang diincarnya.

Beginilah saat orang itu kedanan. Kedanan bisa macam-macam. Kedanan capres, kedanan kerja, kedanan apa saja. Susah kalau diomongin atau diberi tahu, tak peduli hari ini semakin senja dan akan segera tiba malam. Tak peduli usia, tak peduli apa saja. Yang tidak sejalan dengannya tidak akan dihiraukan atau bahkan dijelek-jelekkan atau bahkan di-unfriend (hayo siapa yang suka unfriend? Eh, tapi ngomong-ngomong soal unfriend, cukup di FB aja kali ya. Kalau ketemu masih saling menyapa kan?)

Nah, kawan. Hari sudah sore. Sudah waktunya pulang. Sudah waktunya bijak dalam bersikap. Mari hentikan kegiatan kita sejenak dan beristirahat menikmati malam.

Akik sakti seharga 5 juta!

Kredit foto: kopesatdjbc

Bukan tanpa niat atau bahkan tidak sengaja saya menulis tentang batu akik ini. Cerita yang saya tulis ini pun mu’tabar dari mimpi saya semalam. Saya ingin menceritakan atau bahasa alaynya, curhat lah. cie cie…. 😉

Saya anggap mimpi semalam itu hanya bunga mimpi. Saat badan ini tak mampu lagi menahan kantuk yang super sekali, mata pun terlelap tanpa saya sadari. Teman sekamar saya pun ‘ngomel’ pagi-pagi akibat kantuk saya ini. Pantas saja ia ngomel! Karena saat ia bercerita, saya tinggal tidur tanpa pamit. Alhasil, satu-satunya penonton setianya tidak ada. haha

Kembali ke bunga mimpi saya tadi. Tiba-tiba saya didatangi seseorang yang tidak saya kenal sama sekali dengan tangannya yang dipenuhi cincin batu akik. Saya perhatikan tiap ujung jarinya dan saya dapati banyak sekali batu akik di tangannya. Di setiap jemarinya, saya melihat ada yang berisi 2, 3, dan 4. Ah, sungguh aneh mimpi saya ini. Saya pun tidak mengaitkan mimpi saya ini dengan hal yang berbau mistis.

Ah, saatnya bangun pagi. Saya pun ingat sekali mimpi saya tadi. Selang beberapa jam, teman sekamar saya pun bangun dari peraduannya, mandi, lalu ngobrol dalam kamar. Nah! Ternyata mimpi saya tad iini terjawab. Tiba-tiba teman sekamar saya ini bercerita tentang batu akiknya yang mau dijual. Tak tanggung-tanggung, ia mematok Rp5 juta!!

Saya pun penasaran. Apa hebatnya batu akik dia itu. Harga kambing tetangga saya saja tidak sampai segitu. Padahal jelas sekali kambing tetangga saya itu gemuk-gemuk. Ini batu cuma secuil tapi harganya roket sekali! Datanglah ia ke salah satu calon pembeli. Ia menunjukkan batu akiknya itu ke si pembeli. Saat awal transaksi, si pembeli tampak begitu yakin dan sangat ingin memiliki batu akik itu, kata teman saya tadi. Si pembeli ini bilang ke teman saya bahwa batu akik itu bisa dibanderol Rp5 juta! Teman saya pun langsung dag dig dug, sambil berdoa transaksi ini bisa deal! 

Ah nasib sedang tak memihak teman saya! Si pembeli ternyata mengurungkan niatnya untuk membeli batu akik itu setelah ia meneliti bahan dari batu akik itu. ‘Sayang sekali ya bro’, celetuk saya. Teman saya pun cerita lagi bahwa batu akiknya terindikasi terbuat dari bahan matang (apalah istilahnya, saya gagal paham soal peristilahan batu akik). Inilah alasan utamanya Rp5 juta yang ia idam-idamkan tak jadi masuk kantongnya. Ia pun saat itu juga tak memakai batu akik yang biasa terlihat melingkar di jari manisnya.

Meski batu akik itu tak jadi terjual karena terindikasi palsu, setidaknya saya punya kenangan tersendiri dengan batu akik itu. Setiap kali saya duduk bersebelahan dengan teman saya itu dan pada saat bersamaan ia memakai batu akik itu, saya selalu merasa kantuk yang luar biasa meski sudah tidur cukup saat malam dan nyeruput kopi pagi-pagi. Jangan-jangan, batu akik itu????

Ternyata, hidangan lezat itu karena anaknya (Hikayat)

Konon ada seorang lelaki tua bersama seorang anak laki-lakinya. Ia berprosesi sebagai seorang nelayan. Menariknya, sang nelayan ini bisa dibilang ahli ibadah. Tak sekalipun ia meninggalkan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim, bahkan tak pernah sekali pun ia meninggalkan salat malam.

Sehabis salat subuh, ia melaut dan selalu mendapatkan ikan dengan jumlah yang tidak seberapa. Ke esokan harinya pun ia melaut dan hasilnya tetap sama. Begitulah seterusnya. Ikan yang ia dapatkan sangat sedikit bahkan kadang tidak dapat ikan sama sekali. Suatu ketika, ia teringat anak lelakinya yang masih kecil itu. Pikirnya, sekali-sekali ia mengajak anaknya melaut sambil membelajarkanya mencari penghidupan kelak jika ia besar nanti. Sang ayah dan anak pun pergi melaut bersama. Kemudian, perahu pun sampai di tempat tujuan dan jaring pun mulai dibentangkan. Tak satu pun ikan yang terjaring, hingga akhirnya kesabaran mereka membuahkan hasil. Ada salah satu ikan yang nyantol di jaring mereke. Sang ayah pun sangat girang dan ingin cepat-cepat mengangkat ikan itu dan memasukkannya ke dalam wadah lalu dijual ke pasar.

Tanpa diduga, sang anak memerhatikan mulut ikan itu. Ia perhatikan dan perhatikan terus menerus. Ia pun lantas berujar kepada ayahnya agar ikan itu dilepaskan. Ayahnya pun marah besar karena ia mendapatkan ikan itu dengan susah payah.

“Nak, kenapa engkau meminta ayahmu ini melepaskan ikan ini padahal engkau tahu sendiri kita mendapatkannya dengan susah payah?” tanya sang ayah.

“Ayah, tak tahukah engkau bahwa ikan ini sedang berdzikir. Cobalah pandangi mulut ikan itu ayah. Ikan itu seolah-olah berdzikir mengucapkan asma ALLAH SWT.” jawab sang anak.

“Anakku, ikan memang seperti itu mulutnya. Itu sudah biasa. Itu bukan berdzikir, tapi ia sedang bernapas.” sahut ayahnya dengan penuh kesal.

Sang anak pun ngotot supaya ikan itu boleh dilepas oleh sang ayah. Sambil menangis ia mengiba.

“Ayah, aku rela melakukan apa saja asalkan ayah mau melepaskan ikan ini. Jika kita melepaskan ikan ini, maka yang berdzikir kepada ALLAH SWT tidak akan berkurang saat itu. Percayalah. Tolong lepaskan ikan ini ayah.” pinta anak itu.

“Baik anakku. Aku lepaskan ikan ini demi kamu”. ujar sang ayah.

Ikan itu akhirnya dilepas atas permintaan anak sang nelayan. Hari pun berganti, kegiatan sang ayah pun berjalan seperti biasa hingga suatu ketika ada kejadian di luar nalar di pagi hari. Tiba-tiba, aneka makanan lezat terhidangkan di perahu sang ayah setiap pagi sebelum mereka hendak berangkat melaut. Tak sampai di situ saja, mereka pun selalu pulang membawa ikan yang sangat banyak. Kejadian ini tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi hampir tiap hari. Akhirnya, sang ayah pun berangan-angan dan merasa bahwa ini semua adalah buah dari ibadahnya yang tiada pernah putus.

Hari pun berganti, tahun pun mulai menampakkan usia senjanya. Sang anak pun akhirnya meninggal dunia tanpa sebab yang jelas. Suatu ketika sang ayah hendak melaut untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, sungguh teramat kaget ketika ia sudah tidak menjumpai lagi hidangan lezat yang biasanya ia santap bersama anaknya tiap pagi saat ia mulai menjalankan aktivitas melautnya. Hasil tangkapan ikan pun tidak seperti biasanya, bahkan kembali seperti dulu atau bahkan tidak dapat ikan sama sekali. Ia pun mengadukan nasib kepada Sang Pencipta, “Tuhanku, apa salahku sehingga nikmat yang biasanya kami terima tak kami terima lagi.”

Tuhan pun menjawab pengaduannya lewat jalur mimpi. Saat ia sedang terlelap tidur, ia tiba-tiba bermimpi ketemu anaknya dan sang anak pun berujar kepadanya. “Ayah, hidangan dan segala nikmat yang sempat kita nikmati berdua kala itu semata karena barokah ikan yang kita lepaskan.” Tak lama setelah itu, sang ayah pun bangun dari tidurnya dan akhirnya tersadar bahwa ternyata semua keanehan itu berasal dari sebab melepaskan seekor ikan yang dianggap berdzikir kepada ALLAH SWT.

Subhanallah…….

Lalu, masihkan kita membanggakan nilai ibadah kita dan menyepelehkan sesuatu yang kelihatan kecil tapi justru nilai keutamaannya lebih besar dari yang secara kasat mata kelihatan besar? Itulah rahasia Allah. Ibadah itu sangat luas, kita bekerja dengan niat menolong agama Allah juga termasuk ibadah, atau sebaliknya, kita beribadah salat atau zakat bisa-bisa malah mendapatkan dosa karena niat kita bukan ibadah atau karena Allah SWT, tetapi karena untuk mendapatkan pujian. Semoga kita menjadi orang yang selalu mampu menata niat untuk ibadah di jalan ALLAH SWT. Amin amin amin

Selamat ulang tahun, anakku Nabiel!

Setahun silam, kurang lebih jam menunjukkan pukul 18.30 waktu setempat pada tanggal 10 Mei 2014, bapak dan ibumu ini sangat gelisah menanti kehadiranmu, perasaan bahagia, senang, dan cemas bercampur aduk menjadi satu. Ibumu berjalan bolak-balik dari satu tempat ke tempat lain untuk memudahkan proses kelahiranmu. Dengan rasa sakit luar biasa yang ibumu tahan selama hampir 9 bulan dan doa-doa ibu dan bapakmu serta kakek dan nenekmu serta para ulama dan habaib, akhirnya engkau menyuarakan jeritan tangismu ke dunia untuk pertama kalinya tepat pukul 20.49.

Bapakmu ini ingat betul betapa kelahiranmu begitu mudah, jika dibandingkan dengan proses kelahiran kakakmu, Daniel. Kamu hanya butuh seperempat jam untuk keluar dari rahim ibumu. Alhamdulillah, proses kelahiranmu begitu mudah dan semoga jalan hidupmu selalu dipenuhi kemudahan dari segala arah.

Anakku Nabiel, aku memberimu nama Ahmad Nabiel Arif bukannya tanpa sebab! Aku ingin engkau suatu saat kelak menjadi seorang ulama besar atau paling tidak, engkau menjadi orang yang terpuji seperti Nabi Muhammad SAW, cerdas, dan bijaksana lagi bermanfaat untuk agama Allah SWT dan sesamamu.

Anakku, aku bukan tipe orang yang suka memberi kado harta atau benda kepada anakku. Kakakmu pun merasakan hal yang sama. Bahkan, tak sekalipun bapakmu ini merayakan hari ulang tahunnya dengan mengadakan pesta seperti yang dilakukan kebanyakan orang atau tetangga kita. Cukup doa saja dariku, ibumu, kakek dan nenekmu serta para ulama dan habaib.

Semoga kelak, engkau menjadi manusia tangguh, penolong bagi agama Allah SWT, dermawan dan bermanfaat bagi sesamamu, dan berbakti kepada kedua orang tuamu.

Saya, murid paling goblok

Di balik hingar-bingar aneka menu pendidikan untuk anak-anak TK dan SD selalu ada kisah menarik, miris, atau bahkan lucu sama sekali. Saya kurang tahu apakah cerita tentang saya dan anak saya ini tergolong menarik, miris, atau lucu. Atau jangan-jangan tergolong kategori A, B, dan C? Andalah yang bisa menilainya, saya yang bercerita lewat blog saya saja.

Kalau dulu saya sekolah di sekolah Madrasah sejak TK, beda lagi dengan anak saya. Anak saya sekolah di sekolah umum atau katakanlah sekolah negeri yang katanya para tetangga sekolah itu bagus. Kata tetangga lo ya, bukan kata Pak Presiden. Bukan itu inti dari pendidikan sebenarnya. Pendidikan harus membentuk manusia yang beriman dan bertakwa serta mandiri dan mampu menghadapi segala tantangan zaman dari waktu ke waktu.

Nah, suatu ketika saat jam menunjukkan pukul 10 pagi (saya lupa tanggalnya berapa), saya dengan tergesa-gesa ke sekolah anak saya dengan maksud untuk menjemputnya dan sontak saja saya agak terkejut atau bahkan bisa dikatakan kaget saat ada salah satu orang tua yang memberi tahu saya bahwa anak saya masih berada di ruangan kelas, sedangkan anak-anak yang lain sudah pada pulang. Saya pun penasaran dan bertanya singkat. Usut punya usut, ternyata anak saya ini diberi pelajaran membaca tambahan karena menurut pengamatan gurunya, anak saya ini termasuk anak yang terlambat baca di antara teman-teman sekelasnya. Saya pun maklum karena memang anak saya tidak terlalu saya paksa untuk membaca dengan usianya yang masih enam tahun jalan. Sebaliknya, saya memberinya porsi lebih banyak dalam bermain karena menurut saya dunia anak seusianya memang dunia bermain. Lebih aneh lagi, ia mampu memasang lego dengan tingkat kerumitan yang mungkin orang dewasa pun tidak sanggup melakukannya. Ia mampu membaca petunjuk demi petunjuk melalui angka dan gambar hingga membentuk lego dengan pola seperti yang ada dalam gambar.

Lain anak saya, lain lagi saya. Kalau saya ingat-ingat dan mungkin saya ingat betul. Saat teman-teman seusia saya dulu sudah pandai membaca, saya masih belum bisa membaca. Kalau tidak salah, saya baru bisa baca saat menginjak kelas 5 MI atau setara dengan kelas 5 SD, bahkan ngaji Alquran pun saya tidak bisa. Kalau semua anak berlomba-lomba mendapatkan ranking bagus, beda lagi dengan saya. Kalau ditanya soal ranking berapa, saya selalu mendapatkan urutan ke-1 dari belakang. Kalau dikumpulkan sampai sekarang, mungkin sudah cumlaude. Saking cerdasnya saya pada waktu itu. Sampai-sampai, saya selalu pulang di urutan terakhir kalau ada tugas dari bapak atau ibu guru. Saya tidak menganggap ini bentuk dari rasa cinta yang begitu mendalam dari bapak dan ibu guru saya pada waktu itu. Itu karena saking gobloknya saya pada waktu itu. Tugas apa pun pasti tidak beres dan lebih memilih tidak mengerjakan karena memang tidak bisa. Nah, kalau saya pikir-pikir, ternyata masih parah saya daripada anak saya. 😀

Semoga kita selalu dibukakan ilmu-ilmu dan berbagai rahasia Allah SWT dalam menyingkap tabir dunia dan kita diberi keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

Berikut ini hasil karya anak saya dalam merakit lego, tidak bermaksud pamer, tapi semoga saat ia besar kelak dan menemukan blog saya ini, ia bangga karena bapaknya pun selalu bangga memiliki anak seperti dia dengan segala daya kreativitasnya!

IMG_20150315_003745IMG_20150315_003745IMG_20150315_003817IMG_20150315_003841

Kupanggil Nama-Mu, 3 Kali

Saat para dukun memanggil perewangan mereka dari dunia lain, para tukang bakso pun tak kalah heboh. Mereka ramai-ramai memanggil bakso mereka. “Bakso, bakso, bakso….”, teriak mereka. Yang datang bukan bakso mereka, justru orang-orang pada keluar rumah untuk membeli bakso mereka. Aneh kan?? 😀

Lain dukun, lain tukang bakso, dan tentu lain lagi saya. Dengan maraknya kejahatan di mana-di mana (berdasarkan berita TV atau kisah tetangga sekitar), tentu kita harus memiliki benteng paling kokoh yang mampu menangkis berbagai serangan kejahatan, CCTV yang mampu mengawasi gerak-gerik penjahat, bahkan bila perlu alat pendeteksi kejahatan sehingga kejahatan apa pun bisa dicegah dan harta, benda, jiwa, dan raga kita aman dari segala macam kejahatan. Lalu, ke mana kita harus mencari teknologi penjaga super canggih ini?

Mungkin saya bukanlah satu-satunya orang yang menginginkan dan mencari teknologi hebat ini. Anda pun mungkin sedang mencarinya dan tentunya harganya sangat mahal, barangnya pun pasti langka. Jika diproduksi, pasti akan diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas, karena segmen pasarnya mungkin diperuntukkan bagi kalangan tertentu saja. Ya, jelas saja. Harganya yang mungkin selangit ditambah lagi biaya perawatannya yang mungkin juga bisa dibilang tidak murah akan membuat siapa saja pikir-pikir untuk memilikinya.

Saya pun memutar otak, bagaimana saya bisa memilikinya. Semakin saya putar otak saya, semakin banyak fitur yang saya inginkan. Saya pun menginginkan teknologi yang mampu membuat bisnis saya langgeng dan berkembang pesat. Siapa saja yang mencoba mengobok-ngobok bisnis saya, bisa dipastikan terobok-obok balik. Wow, hebat sekali teknologi bayangan saya ini. Saya pun menghubungi siapa saja untuk mendapatkan informasi ini dan ahay! Ternyata tidak ada teknologi semacam ini, justru pembuatnya yang ada dan sangat bersedia membuatkannya untuk saya atau untuk siapa saja.

Ya, namanya Hafidz atau dalam bahasa Arabnya حفيظ dan biasanya dipanggil-panggil saat seseorang sedang membutuhkan penjagaan-NYA. Kalian penasaran dengan si Hafidz ini? Asal kalian tahu saja, si Hafizd ini mampu memantau dan menjaga kita, dan tidak berhenti di situ saja, Ia pun mampu melindungi kita dari keburukan apa pun dan siapa pun. Semuanya GRATIS, tidak usah bayar sepeser pun. Cukup sebut nama-NYA tiga kali, “يا حفيظ, يا حفيظ, يا حفيظ”, maka Ia pasti datang. Mau coba?

يا حفيظ, jagalah saya, seluruh anggota keluarga saya, guru-guru saya, dosen-dosen saya, tetangga-tetangga saya

يا حفيظ, jagalah seluruh usaha dan bisnis saya, seluruh anggota keluarga saya, guru-guru saya, dosen-dosen saya, tetangga-tetangga saya

يا حفيظ, jagalah hati ini untuk selalu mengingat-Mu..