Pesan Mbah Wahab Ismail

Pada usianya yang terbilang sangat senior, mungkin antara 80-90 tahun, Mbah Wahab ini masih aktif berdakwa, baik melalui pengajian-pengajian umum atau melalui majelis-majelis sekolah. Beliau adalah K.H. Abdul Wahab Ismail, salah seorang kiai atau ulama yang disegani di desa kami. Beliau juga merupakan salah satu pendiri Lembaga Pendidikan Maarif Mazraa’atul Ulum, Paciran, sekolah yang pernah membesarkan dan mendidik saya. Mungkin beliau tidak seterkenal para ustad yang ada di balik gemerlapnya jagad dunia hiburan pertelevisian, tapi menurut saya pribadi, justru inilah yang membuat saya semakin mengagumi beliau. Kedalaman ilmu beliau dan ma’rifat beliau kepada Yang Maha Kuasa, tentunya tidak boleh dianggap enteng. Kemasyhuran hanya sesuatu yang fana dan melenakan semata.

Suatu ketika saya berkunjung ke sekolah almamater saya. Kalau tidak salah, saat itu saya masih proses mencari pekerjaan setelah lulus kuliah. Kehidupan tidak begitu memihak saya saat itu. Ibu saya sakit dan sedang membutuhkan banyak biaya untuk terus bisa bertahan dengan penyakit kankernya dan satu-satunya yang saya butuhkan saat itu adalah pekerjaan yang tidak terlalu jauh memisahkan saya dari jarak rumah saya. Singkat kata, saya sedang mencari pekerjaan yang lokasinya dekat dengan rumah saya agar terus bisa melihat ibu saya. Saya melamar untuk menjadi apa saja, bahkan posisi cleaning service di Hotel WBL pun menjadi target lamaran saya. Tak satu pun lamaran saya diterima dan saya memutuskan untuk bermain ke sekolah, dengan harapan saya akan ditawari pekerjaan di sana.

Akhirnya saya tiba di sekolah dan dipersilakan masuk oleh staf sekolah. Saya pun masuk dan duduk sambil menunggu kepala sekolah. Kebetulan, Mbah Wahab ini datang ke ruangan itu dan saya pun menjabat tangan beliau sambil mencium tangannya. Mbah Wahab pun duduk persis di samping saya dan menanyakan keadaan saya. Percakapan pun berlangsung dan beberapa pertanyaan dilontarkan beliau kepada saya. Tak lama setelah itu, beliau tiba-tiba bercerita tentang saudaranya yang menjadi ulama besar. Tak hanya itu beliau pun bercerita tentang salah satu muridnya yang kurang beruntung. Inilah salah satu alasan kenapa kita dianjurkan untuk berkumpul dengan orang alim.

Beliau berpesan, “Cong, wong munggah ondho iku ora langsung iso thuthuk ndhuwur, kudu dilewati siji. Dadi opo wae, iku kudu diterimo lan dilakoni nganti iklas. Nek ora diterima lan dilakoni nganti iklas, iku artine ondhone jomplang, ora iso thuthuk ondho sing paling dhukur.” Setelah berpesan itu, beliau pun melanjutkan cerita beliau tentang dua orang yang hidupnya tampak berlawanan. Sebelum saudaranya menjadi ulama besar, saudaranya pun menjalani kehidupan yang bisa dibilang sulit  dan tidak pantas (setidaknya menurut pandangan orang awam seperti saya). Ia adalah seorang lulusan salah satu universitas di Arab Saudi yang sangat kesohor. Nah, sisi uniknya adalah ia mau dan ikhlas menjalani apa saja termasuk menjadi tukang penggembala sapi yang tentunya tidak cocok dengan gelar yang disandangnya (sekali lagi, itu pandangan orang awam seperti saya). Seiring berjalannya waktu, ia pun akhirnya menjadi salah satu ulama yang disegani di wilayahnya.

Lain lagi cerita murid beliau. Ia merupakan lulusan S1 di wilayahnya, tapi sayang nasibnya kurang beruntung. Hingga saat ini, ia masih mengayuh becak untuk menghidupi anak istrinya. Ironi? Silakan nilai sendiri.

Ya, pesan Mbah Wahab itu pun selalu melekat di sanubari. Saya sangat percaya itu. Saya sangat percaya bahwa setiap fase kehidupan harus diterima dan dijalani dengan ikhlas, apa pun itu – entah sebagai seorang petugas penjualan (atau bahasa kerennya salesman), buruh, guru, atau apa saja yang menurut kita hina. Itulah tangga-tangga menuju kesuksesan yang sudah digariskan oleh Sang Pembuat Tangga untuk para pemakai-NYA.

Semoga tangga-tangga kita adalah tangga-tangga emas, dengan kilau kemuliaan dan kebahagiaan di setiap ruasnya…..

Advertisements