Syiir tanpo asal; penakluk si dungu nan pemalas

Dulu, kalau tidak salah sekitar 20 tahun silam, ada salah seorang Kiai, sebut saja nama beliau adalah Kiai Zainuri. Gayanya yang khas dan penampilannya yang terbilang sangat sederhana membuat beliau tampak seperti orang yang biasa-biasa saja. Orang yang tidak pernah bertemu beliau pun akan menyangka sama dan pasti akan mengajukan pertanyaan yang sama, “apakah dia itu seorang Kiai?”.

Ya, beliau adalah salah satu Kiai yang cukup sepuh di kalangan sekolah kami. Keilmuan beliau sangat tampak sebenarnya, cuma penampilannya yang menampakkan beliau seperti orang yang biasa-biasa saja. Ngomong-ngomong tentang kesabaran beliau, saya sangat kagum dan acungi jempol. Saya menyaksikannya sendiri.

Saat itu, kelas saya kebetulan kelas super rame dan susah dikendalikan, ditambah lagi dengan sekumpulan siswa yang terbilang kurang berminat untuk pelajaran Nahwu dan (maaf) cenderung menyepelehkan pelajaran tersebut. Saya pun tergolong siswa yang rame itu dan siswa yang tidak pernah hafal kalau disuruh menghafal bait-bait Alfiyah dan kiasan-kiasan saraf. Tiap minggu, saya harus menghafal dobel karena bait-bait sebelumnya gagal saya hafalkan. Yang membuat kelas semakin membosankan, tentunya tulisan-tulisan beliau yang sangat  banyak dalam bentuk pegon dan sangat cepat dihapus. Pusing tentu saja iya.

Dalam suatu waktu, ketika pelajaran Nahwu berikutnya dimulai, seluruh teman saya ramai sendiri. Kiai ini menjelaskan tentang kaidah-kaidah Nahwiyah dan tak ada satu pun yang mendengarkan. Beliau pun tak marah sama sekali. Beliau hanya berhenti sejenak dan menatap tajam ke arah teman-teman. Saya sempat memerhatikan sorotan mata beliau dan seketika itu pula saya terhenyak dan langsung terdiam sendiri. Teman-teman saya pun masih saja ramai dan tidak sadar bahwa sang Kiai sedang memerhatikan mereka.

Tak lama setelah itu, beliau duduk di meja kayu kuno yang ada di depan kelas sambil memberikan nasihat singkat. Nasihat itu pun tak diucapkan melalui lisan beliau, tetapi melalui tulisan singkat yang bunyinya kurang lebih seperti di bawah ini:

إن المعلم والطبيب كلا هما  لا ينصحان إذاهما لم يكرما

Janganlah engkau mengharapkan nasihat dari gurumu dan seorang dokter jika engkau tak mampu memuliakan mereka–
(mohon maaf jika ada kesalahan arti karena ini saya terjemahkan secara bebas. Saya bukan ahli bahasa Arab apalagi bahasa syiir yang membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi)

Setelah menuliskan ini, beliau pun langsung keluar dari ruangan kelas tanpa berkata apa pun. Seketika itu pula, hati saya terenyuh dan mata saya meneteskan air mata tanpa sadar. Masih, teman-teman saya ini ramai sendiri seperti pasar.

Dari kejadian ini, saya pun menjadi giat mencari apa maksudnya syiir itu, apakah maksudnya sama dengan pemahaman awal saya saat membaca tulisan itu pertama kali di papan. Akhirnya, jawaban itu saya temukan di kitab Ta’limul Mutaallim dan benar saja, maksudnya seperti yang saya tangkap di awal.

Kejadian itu sungguh seperti sebuah momentum penting atau bahasa kerennya milestone bagi kehidupan saya. Saya yang waktu itu sangat goblok dan malas, langsung tersadar dan merasakan kerinduan yang luar biasa untuk dapat terus diajar beliau. Ya, meski saya tetap goblok dan bodoh, kejadian itu membuat saya berhijrah dari kehidupan yang penuh kebodohan dan kekosongan. Betapa tidak, kalau ditanya siapakah murid yang paling goblok di kelas, jawabannya pasti mengarah ke saya. 😀

Kejadian itu sungguh aneh. Seketika itu juga, saya mulai suka dengan dunia ulama. Seketika itu juga, beberapa hari setelah kejadian itu, saya langsung sowan ke beberapa ulama sepuh yang kebetulan juga guru-guru saya di Madrasah Tsanawiyah. Saya pun langsung berkunjung ke dhalem para ulama ini satu per satu guna meminta restu dan doa mereka. Saya pun didoakan.

Ternyata, doa dan keikhlasan guru-guru dan kiai-kiai kita mampu menggetarkan arasy untuk murid-murid mereka yang mau bertawadhu’ dan taat apa pun keadaannya. Semoga harta kita, ilmu kita, dan keturunan kita menjadi jembatan bagi kita untuk bisa selalu dekat dengan para ulama. Amin

Advertisements

Rumput di ladang kita, jauh lebih hijau!

Dalam balutan digitalisasi dunia seperti saat ini, mau menggetarkan sesuatu itu mudah sekali. Apalagi menggetarkan hati-hati yang sedang sakit! Itu perkara mudah, setidaknya itu menurut pandangan saya.

Kita punya apa, kita tinggal jepret dan share. Tak butuh semenit, gambar-gambar penuh keangkuhan itu tersebar ke media sosial yang kita kehendaki. Begitu gambaran singkatnya soal dunia digital saat ini. Tentunya tak melulu berdampak buruk, dampak baiknya pun sama-sama ada.

Ah kita lupakan sejenak dunia digital itu. Saya tak sedang ngomongin soal dunia digital karena semakin ke dalam, maka akan semakin terlihat kebodohan saya dalam hal ini. Sama pula ketika orang yang fanatik buta (buta beberapa kali) membicarakan presiden pilihannya. Yang berseberangan dengannya adalah musuh. Padahal, presiden itu milik bersama, yang pro dan kontra sama-sama berpresiden sama. Anehnya lagi, mereka-mereka ini bukan anak kecil atau SMA, mereka adalah orang-orang yang ber-IQ sangat tinggi (setidaknya ngakunya begitu). Semakin fanatik pro dan kontra, semakin terlihat gobloknya! Ayo move-on dikit aja.

Tiga paragraf tak karuan di atas itu mungkin pembuka judul yang kurang pas, tapi setidaknya begitulah gambaran perasaan saya. Tidak menentu dan susah ditebak. Kembali ke rumput di ladang kita. Kita tentu saja menginginkan kehidupan yang tenang dan damai. Andai kita tak punya apa pun, kita tetap tenang dan damai. Itulah kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan para kekasih Allah SWT pada zaman dahulu (meski sekarang pun masih kita jumpai orang-orang dengan maqom yang seperti ini).

Karena saya ini termasuk santri yang gagal; gagal mengikuti proses kelulusan Matan Aljurumiyah dan gagal-gagal yang lain (semoga saya mendapatkan ridho dari para guru dan kiai). Tulisan saya ini sebenarnya juga bisa dikatakan sebagai tulisan orang gagal paham. Tapi percayalah, cerita saya ini benar, walau saya ini orang gagal. Saat kita mendengar (ini berarti hanya mendengar dan tidak melihat sendiri) bahwa ada orang di luar sana yang profesinya sama dengan kita atau kemampuannya sama dengan kita tetapi mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih besar dari kita (jika hati kita sakit), kita merasa sakit hati. Kita menginginkan agar kenikmatan itu sirna darinya dan sebaliknya menghampiri kita. Atau dalam kasus lain, hanya kita membaca status Facebook atau status di media-media sosial lain dari teman-teman seprofesi kita yang kemampuannya menurut kita sama atau bahkan jauh lebih rendah dari kita, hati kita serasa heboh sendiri, teraduk-aduk seperti telur dadar. Apalagi teman-teman kita ini sangat pandai membuat pencitraan di dinding-dinding kesombongan. Update statusnya heboh, padahal kebenarannya 50%:50%, bisa benar-bisa salah. Lah yang lebih tahu siapa? Ya, yang update status itu. Lalu, kenapa kita heboh sendiri?

Kawan! Percayalah bahwa rumput di ladang kita itu jauh lebih hijau dan indah. Semakin kita tak memerhatikan ladang kita, semakin kita dijauhkan dari penampakan indahnya ladang kita. Kalau kita perhatikan ladang kita, kita perhatikan terus dan terus, kita siram, kita rawat, kita potong benalunya jika ada, kita rapikan, ladang kita pasti akan tampak subur. Tak hanya subur, ladang kita pun akan tampak asri dan indah. Nah begitulah gambarannya. Sebaliknya, saat kita lebih memerhatikan ladang orang lain, maka ladang orang lain itu akan semakin subur, indah, dan asri; jauh melebihi ladang kita yang kurang kita perhatikan. Analoginya, kita lebih memilih merawat rumput dan bunga di ladang milik orang lain daripada merawat milik kita. Percayalah kawan! Milik kita itu jauh lebih indah dan subur daripada milik orang lain. Cobalah untuk selalu memerhatikannya. Anda pasti akan segera menemukannya!

Kuliah rasa ceramah, ternyata?

Sesi perkuliahan UNISMA tercinta

Sesi perkuliahan UNISMA tercinta | Foto oleh Mr. Akbar Zein Al-mojokertoni 

Kalau kita ngomong soal makanan atau masakan, tentu saja kita pasti ngomong tentang rasanya. Rasa masakan atau makanan bisa macam-macam, bisa enak dan bisa tidak, bisa beragam dan bisa beraneka ragam. Tapi kalau kita makan mie rasa bubur? Tentu saja aneh, atau bahkan kita tidak mau melihatnya. Beda pula saat kita makan es teler rasa duren? Coba rasanya bagaimana? Saya tidak suka duren!

Nah, soal makanan tentu lain dengan soal pendidikan. Pendidikan yang baik itu adalah, pendidikan yang tidak hanya fokus pada pedagogi. ‘Ayo anak-anak tolong buatkan kalimat simple present’, ‘Ayo anak-anak’, dan ‘Ayo anak-anak’ yang lain sudah tidak kontekstual lagi untuk zaman ini. Kalau boleh meminjam istilah Applied Linguistics, school task should involve both target and pedagogical tasks. Students should learn subject based on the real life without leaving the pedagogical aspect of teaching and learning. Boso Pasuruane, belajar iku kudu nyangkut kabeh, yo pelajarane yo pelajaran uripe. Arek-arek ora mung belajar siji tambah siji hasile loro. Piye carane arek-arek iku yo ngerti susuk piro nek tuku puthu neng pasar rong ewu limangatus nganggo duit limangewu.

Nah! (lagi), saya ingat perkuliahan saya tadi pagi. Mungkin ini yang saya sebut dengan kuliah rasa ceramah, bukan ceramah mama dedeh, bukan pula ceramah sembarangan. Ini ceramahnya Doktor lo, katanya juga Bu Nyai. Validitasnya? Ya, masak ragu dengan validitas seorang Doktor!

Pagi itu, masih tersisa beberapa tugas presentasi dan kebetulan hanya satu yang presentasi. Presentasinya pun menarik juga menurut saya pribadi. Betapa tidak, ceritanya soal telur emas, raksasa, ibu, anak, pohon tauge, dan…. ingat cerita ini kan? Saat sesi presentasi selesai dan waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB. Sang dosen bercerita sekelumit soal kehidupan sehari-hari masyarakat kita, terutama soal cara bersyukur, bersyukur atas semua yang dilimpahkan kepada kita, bersyukur atas kesehatan yang kita punya saat ini, tanpa memandang berapa duit atau harta yang kita dapatkan atas segala pengabdian kita. Kita tak sedang hitung-hitungan dengan Tuhan! Intinya, syukur, syukur, syukur!

Contohnya pun jelas! Beliau menggambarkan saat ada salah satu teman beliau (saya lupa teman atau siapa, terus terang saya agak kurang jelas, saking asyiknya mendengarkan sampai saya terbawa arus cerita, saya pun hampir ngiler tadi, untungnya teman-teman tidak tahu hehehe). Teman beliau harus di-bypass (bukan dilewatkan jalan bypass Sidoarjo, Pasuruan atau apa ya) Bypass ini semacam perlakuan untuk kasus jantung tertentu. Biayanya pun aduhai! 500 juta! Hanya bypass-nya, belum yang lainnya. Duit dari mana coba? Mahal juga kan kesehatan?

Tak cukup sampai di situ. Bagian ini yang paling saya suka! Tapi sayang, istri saya tidak berada di kelas yang sama; istri saya sedang memasak di rumah. Betapa beruntungnya para suami yang saat itu istri-istrinya berada di kelas saya (maksud saya, suami yang beristri teman-teman sekelas saya) dan mendengarkan kisah dan celotehan beliau ini. Kemasannya lucu, dengan intonasi yang menggebu-nggebu, bahasanya pun campuran. Ah, keren pokoknya! Seorang istri harus mampu bersyukur atas segala yang dikasih oleh suaminya, berapa pun itu. Katakanlah Rp300.000 untuk sebulan, kenapa tidak? Jangan jadi monster bagi suami! Biarkan Tuhan yang bertindak selebihnya. Kurang lebih begitu isi pesannya.

Beginilah seharusnya, kuliah rasa ceramah dan isinya soal kehidupan – membawa kehidupan nyata ke dalam kelas – itulah seharusnya pendidikan. Kalau boleh saya analogikan, makan singkong rasa hambar atau asin itu biasa, tapi kalau makan singkong rasa barbekyu atau rasa ayam atau rasa sapi? Itu namanya singkong rasa luar biasa! Singkongnya dapat, rasanya juga dapat. Nikmat nian!

Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertai beliau, semoga kita semua menjadi hamba-hamba Tuhan yang selalu bersyukur. Amin amin amin.

Ternyata, saya lebih goblok daripada pedagang kaki lima!

Mbah SuwitoPernah melihat pemandangan seperti ini di daerah sekitar Anda? Atau pemandangan lain yang lebih menarik dari ini? Ya, mungkin pemandangan seperti ini sudah biasa bagi sebagian orang dan bisa jadi luar biasa bagi sebagian orang yang lain. Tetapi, saya tak sedang membahas si penjual nasi goreng atau bahkan rombongnya. Saya mau membahas sesuatu yang lain. Sesuatu yang menampar saya seketika itu juga!

Malam itu, saya sedang ingin jalan-jalan menyusuri alun-alun kota Pasuruan. Saya ingin menikmati suasana nightlife yang sebenarnya dari kota Pasuruan. Jangan dibayangkan seperti kehidupan bebas lepas seperti di lokasi-lokasi lain. Nightlife di sini sangat berbeda sekali dengan yang mungkin ada di daerah-daerah lain. Banyak sekali saya jumpai warung-warung aneka makanan dan minuman ringan seperti wedang kopi, dll. Oh ya, tahu tek, soto ayam, nasi goreng, dan aneka menu khas Indonesia lainnya juga ada. Jumlahnya pun tidak hanya satu dua. Ada beberapa penjual dengan jenis makanan yang sejenis. Tak jarang pula, jaraknya hanya sekitar 5 sampai 10 meter tiap rombong, bahkan ada yang lebih dekat lagi. Kebetulan, saya sedang lapar saat itu dan mampir di salah satu warung kopi sambil menikmati aneka gorengan yang dijual. Hampir 2 jam saya duduk-duduk di sana sambil memerhatikan kegiatan para penjual dan pembeli di sana. Saya perhatikan betul dan saya mendapati mereka saling bertegur sapa, tidak saling memfitnah, bermusuhan, apalagi bertengkar. Bahkan, sesama penjual pun saling bertukar sapa, ngobrol, guyonan, terkadang pula saling tukar uang kembalian saat ada pembeli yang jajan menggunakan pecahan uang yang lebih besar.

Hai tunggu sebentar! Persis di sebelah saya adalah pedagang tahu tek dan sebelahnya lagi juga pedagang tahu tek. Lo, mereka kok tidak bermusuhan ya? Tidak pula tidak saling menyapa. Aneh!! Jualannya sama, jaraknya sama-sama dekat (saling bersebelahan). Pengunjungnya pun tidak sama banyak! Harganya pun seporsi beda-beda. Hebat sekali mereka. Tunggu-tunggu! Kenapa pedagang tahu tek itu ke rombong satunya. Sedang apa dia? Oh, ia mau menukar uang karena tidak ada kembalian untuk pelanggannya. Lo lo lo, kok mereka senyum-senyum saja. Pasti kurang waras mereka ini! Jualannya sama. Pelanggannya tidak sama banyak, kok mau-maunya si penjual yang sepi pelanggan menukari uang untuk pesaingnya?? Waduh! Aneh juga! Kok bisa ya?

Saya benar-benar kagum sama mereka ini. Bisa dibilang, di atas kertas, pola pikir strategis mereka jauh lebih rendah daripada saya, tetapi mereka mampu menempatkan diri mereka dengan sangat baik di antara sesama mereka. Mereka tidak sikut-sikutan, tidak saling memfitnah, tidak saling bermusuhan, atau bahkan bertengkar. Sedangkan saya?

Akhir-akhir ini saya melihat kejadian yang cukup menggelitik bagi saya. Ya, sebenarnya tidak pantas saya ceritakan di sini, tetapi saya ini sedang iseng atau dengan kata lain, saya sedang melakukan pencitraan (versi saya). Anggap saja kejadian ini melibatkan orang-orang yang bisa dibilang sangat terpelajar. Singkat kata, lebih hebatlah daripada pedagang kaki lima. Kerjanya saja pakai otak, tidak pakai otot! Nah, si A membisiki si B tentang xxxx, si B membisiki si C tentang xxxx, si C membisiki si D tentang xxxx, sampai si X. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang menanggapinya biasa-biasa saja, serta ada pula yang berontak.

Saya memerhatikan kejadian ini lucu sekali. Saya pribadi tidak ambil pusing dengan kejadian ini, karena sudah biasa. Saya pun tidak mau mencampuri urusan dapur orang lain. Karena saya tidak tahu pasti sebenarnya dapurnya seperti apa. Saya tidak pernah pergi ke dapur mereka dan memeriksa barang mereka satu-satu.

Kembali lagi ke penjual aneka makanan dan minuman di atas. Mereka berjualan makanan yang sama, saling berdekatan, dan dengan jumlah pelanggan yang tidak sama banyak. Mereka baik-baik saja. Tidak ada perselisihan di antara mereka. Lalu, siapakah yang lebih goblok sebenarnya? Saya atau penjual-penjual itu?

Nah, saya akhirnya bermuhasabah (bahasa kerennya berkontemplasi), bahwa terjadi sikut-sikutan itu karena kita kurang percaya dengan petugas pembagi rezeki. Rezeki kita sudah ada wadahnya sendiri-sendiri. Pekerjaan boleh sama, apa pun boleh sama, tetapi ingatlah bahwa takaran rezeki kita itu beda-beda. Nah, saya akhirnya sadar dengan ini. Lalu, apa selanjutnya? Mari sudahi polemik ini. Malu sama yang punya rombong. hehehe

Sudah sore, ayo pulang, kawan!

Pada suatu hari yang tampak cerah, dengan semilir angin yang terasa panas dingin. Rerumputan pun tampak hijau merona dari kejauhan. Kami pun sibuk mencari beberapa kupu-kupu di kuburan kuno yang berada tidak jauh dari rumah kami. Kuburan yang dipenuhi kuburan orang-orang Belanda pada zaman penjajahan itu tampak tidak seram lagi bagi anak-anak seusia kami. Malahan, tempat itu menjadi tempat bermain yang sangat asyik pada waktu itu. Banyak sekali hewan dan makhluk kecil lucu-lucu yang bisa kami bawa pulang.

Saya ingat betul dengan salah satu teman kami saat itu yang sangat jago menangkap kupu-kupu. Ya, Yanto namanya. (Semoga kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan selalu menyertainya). Yanto ini sungguh lihai dalam menangkap kupu-kupu. Tidak hanya itu. Nyalinya pun terbilang paling besar di antara kami. Terkadang kami masih mikir dua kali saat harus berlarian ke semak-semak dengan menangkap kupu-kupu yang kami minati. Sebaliknya, semak ini bagaikan kasur empuk bagi si Yanto.

Seharian kami berada di makam kuno itu. Wadah untuk kupu-kupu itu pun hampir penuh dan tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Ah sepertinya sudah waktunya untuk pulang. Saya pun mengingatkan semua teman-teman saya untuk segera pulang karena hari akan gelap sebentar lagi. ‘Tunggu…… Sepertinya ada yang kurang!’, pikir saya. Ternyata memang benar, Yanto ini berada paling jauh dari gerombolan kami. Saya perhatikan dari kejauhan. Ia masih tampak asyik dengan mencari kupu-kupu itu. Saya biarkan sejenak sambil berpikir untuk mengajaknya pulang segera.

Saya pun memutuskan untuk mendekatinya dan memintanya untuk segera pulang karena hari akan segera berganti malam. Ia sepertinya tidak menghiraukan saya. Masih saja asyik dengan memburu kupu-kupu yang diincarnya.

Beginilah saat orang itu kedanan. Kedanan bisa macam-macam. Kedanan capres, kedanan kerja, kedanan apa saja. Susah kalau diomongin atau diberi tahu, tak peduli hari ini semakin senja dan akan segera tiba malam. Tak peduli usia, tak peduli apa saja. Yang tidak sejalan dengannya tidak akan dihiraukan atau bahkan dijelek-jelekkan atau bahkan di-unfriend (hayo siapa yang suka unfriend? Eh, tapi ngomong-ngomong soal unfriend, cukup di FB aja kali ya. Kalau ketemu masih saling menyapa kan?)

Nah, kawan. Hari sudah sore. Sudah waktunya pulang. Sudah waktunya bijak dalam bersikap. Mari hentikan kegiatan kita sejenak dan beristirahat menikmati malam.

Mengembalikan dana gaib!

Uang pecahan Pp20, 50, dan 100 ribu.

Ketika Anda mendengar frasa ‘dana gaib’, pikiran Anda pasti mengarah ke ‘dunia lain’ – dana yang muncul tiba-tiba dari alam lain melalui ritual-ritual khusus. Ya, itu tidak salah dan 100 untuk pikiran Anda.

Jika orang-orang beramai-ramai ingin mendatangkan atau mengambil atau bahkan menarik dana gaib, dengan caranya masing-masing yang bermacam-macam, tentu saja lain lagi dengan saya.

Eh, tunggu! Jangan salah paham dulu! Saya bukan bagian dari ritual penarikan dana gaib ini atau pelaku penarikan dana gaib ini. Justru sebaliknya, saya malah pernah mengembalikan dana gaib ini. Nah, penasaran bukan? Logikanya, kalau dana gaib sampai dikembalikan, berarti duitnya sudah turah-turah. Amin 100000000X 😀

‘Gaib’ itu apa sebenarnya? Saya mencoba menggali kata ini melalui satu referensi valid yang bisa dijadikan rujukan. Kurang lebih, ‘gaib’ itu seperti di bawah ini:

gaib ga.ib
[v] (1) tidak kelihatan; tersembunyi; tidak nyata: para ilmuwan mencoba meneliti hal-hal yg — di alam semesta ini; (2) hilang; lenyap: sekalian dewa-dewa itu pun — lah; (3) tidak diketahui sebab-sebabnya (halnya dsb): banyak peristiwa — yg belum diselidiki
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/gaib
KamusBahasaIndonesia.org

Nah, jelas sudah apa itu gaib! Ternyata gaib itu tak hanya terkait dengan dunia mistis. Sesuatu yang asal-muasalnya tak jelas atau samar pun juga bisa dikatakan gaib. Jika Anda tiba-tiba diberi uang Rp100.000 oleh orang yang tidak Anda kenal, itu namanya gaib. Samar kan? Anda tidak tahu dan bahkan tidak menduga sama-sekali. Sangat misterius!

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah mendapatkan ‘dana gaib’ ini, namun saya langsung mengembalikannya setelah saya tahu secara jelas siapa pemilik dana ini.

Saat itu, saya sedang iseng membuka rekening bank saya dan tiba-tiba ada dana yang masuk ke rekening saya yang mencapai jutaan. Saya sempat kaget karena saat itu belum waktunya saya menerima gaji atau dana dari rekanan saya. Kaget itu pasti. Senang juga iya, tapi akhirnya galau juga saat saya mencoba menelisik riwayat transfer rekening secara online dan saya tak mendapati nama pengirimnya. Hanya ada tulisan ‘Transfer otomatis’. Wah, gawat, gawat! Saya pun menunggu keesokan harinya dan saya cek lagi riwayat transfer rekening, dan saya pun dibuat kaget bukan kepalang saat mengetahui bahwa dana tersebut ternyata ditransfer oleh salah satu CEO dari Jakarta. Saya sangat mengenal orang ini karena dulu kita biasa bekerja sama.

Saya pun dibuat bingung bagaimana saya harus mengembalikan dana gaib ini, eh dananya sudah tidak gaib ya karena sudah jelas siapa pemiliknya. 😀

Saya memutuskan untuk menghubungi yang bersangkutan dan memberi tahunya bahwa saya mendapatkan transferan dana darinya. Dengan sedikit guyonan saya bilang kepadanya, ‘Mas, iki duite sampeyan pesti kokehan sampek ngirimi aku duit ra jelas. Piye iki carane mbaliknoe?’ Si CEO ini pun ngakak dan kami pun akhirnya ngakak bersama (ngakak lewat BBM). Sejurus kemudian, ‘dana gaib’ ini berhasil dikembalikan ke rekening semula. ‘Ada-ada saja‘, pikir saya. Inilah salah satu ujian kejujuran dari Allah SWT. Seperti halnya ujian saat kita sekolah, ujian kehidupan pun kurang lebih sama. Kalau kita bisa mengisi soal-soalnya dengan baik dan benar, maka kita bisa lulus dan diwisuda. Nah, wisuda dari Allah SWT ini bentuknya bisa macam-macam. Setidaknya, ada jaminan bahwa derajat kita akan naik setelah lulus ujian itu. Allahu A’lam.

Semoga usaha dan upaya jujur kita mendatangkan barokah dan manfaat bagi orang lain serta mengangkat derajat kita dan keluarga kita, teman-teman kita, saudara-saudara kita dan guru-guru kita….. Amin.

Saya tak mau kaya!

Kredit foto: syaarar

Kredit foto: syaarar

Saat saya sedang menyimak keterangan dari dosen pengampu mata kuliah TEFL, salah satu teman yang duduk di samping saya bercerita. Jadi, ceritanya ada dosen menjelaskan dan ada teman yang bercerita; telinga kanan untuk mendengarkan cerita teman saya dan telinga kiri untuk mendengarkan. Hitung-hitung, Tuhan tidak sia-sia menciptakan dua telinga untuk saya.

Ia bercerita bahwa semalam teman sekamarnya, yang juga teman sekelas saya, dengan tegas mengatakan bahwa ia tak mau jadi orang kaya. Saya langsung kaget. Tak cukup sampai di situ, dahi saya pun dibuat mengernyit. Ah, ada-ada saja teman saya ini. Kalau saya justru sebaliknya. Setiap orang pasti ingin kaya, meski kaya itu bukan jaminan bahagia. Begitu pula saya.

Saya mau berkomentar, dan berpikir keras untuk menimpali. Aneh juga! Tak sekata pun keluar dari mulut saya seharian belum makan nasi. Ah, biarkan saja pikir saya. Toh itu pilihannya. Kita boleh memilih untuk jadi apa saja dan pilihan itu tidak selalu lebih baik daripada pilihan yang lain. Pilihan saya belum tentu lebih baik daripada pilihannya, dan juga sebaliknya. Kalau kita melihat segala sesuatu dari kacamata minus atau plus kita masing-masing, maka tidak akan ada titik temu, atau bahkan menimbulkan perselisihan.

Ya sudahlah. Setidaknya, itulah pilihannya untuk tidak mau menjadi kaya. Kita hanya mampu mendoakannya. Semoga keinginannya tercapai. Kebahagian teman kita sama dengan kebahagiaan kita juga toh? Nah, di sinilah peran kita sebagai teman. Setidaknya kita selalu mendoakannya.

Saat kita miskin atau kekurangan, apakah secara materi kita mampu berbuat lebih untuk sesama kita? Saat kita berkelimpahan atau singkatnya kaya, kita bisa menjangkau lebih. Kita bisa membuat sekolah untuk mereka yang tak mampu, menyantuni mereka yang perlu disantuni dan terlebih lagi, kita tak perlu berpikir keras terkaot apa yang akan kita makan esok nanti. Ibadah jadi tenang. Tidur jadi nyenyak (saya tidak membahas orang kaya yang kedunyan).

Ya, begitulah pesan salah satu karib saya yang saat ini mengelola pondok pesantren di Situbondo. Saat saya melontarkan guyonan kepadanya. ‘Lho, opo ustad iku yo butuh duit toh. Mulang ngaji sing genah lak engko teko-teko dewe duite’. Celoteh saya. ‘Nek ora ono duite koyo aku ngene iki, ibadah ra iso tenang, mulang ngaji kepikiran, yo ugo mikir bojo mikir anak. Nek duwe bondo, ibadah tenang, pengen budal nang endi wae iso. Mulang ngaji iso ikhlas soale wis ora ono sing diarep. Wes talah, kudune ngono’, timpal teman saya.

Orang kaya dermawan itu sama dengan manajer Allah SWT yang secara tidak langsung diperintahkan untuk mengatur keuangan-NYA. Semoga kita mampu menjadi manajer hebat dan amanat!