Syiir tanpo asal; penakluk si dungu nan pemalas

Dulu, kalau tidak salah sekitar 20 tahun silam, ada salah seorang Kiai, sebut saja nama beliau adalah Kiai Zainuri. Gayanya yang khas dan penampilannya yang terbilang sangat sederhana membuat beliau tampak seperti orang yang biasa-biasa saja. Orang yang tidak pernah bertemu beliau pun akan menyangka sama dan pasti akan mengajukan pertanyaan yang sama, “apakah dia itu seorang Kiai?”.

Ya, beliau adalah salah satu Kiai yang cukup sepuh di kalangan sekolah kami. Keilmuan beliau sangat tampak sebenarnya, cuma penampilannya yang menampakkan beliau seperti orang yang biasa-biasa saja. Ngomong-ngomong tentang kesabaran beliau, saya sangat kagum dan acungi jempol. Saya menyaksikannya sendiri.

Saat itu, kelas saya kebetulan kelas super rame dan susah dikendalikan, ditambah lagi dengan sekumpulan siswa yang terbilang kurang berminat untuk pelajaran Nahwu dan (maaf) cenderung menyepelehkan pelajaran tersebut. Saya pun tergolong siswa yang rame itu dan siswa yang tidak pernah hafal kalau disuruh menghafal bait-bait Alfiyah dan kiasan-kiasan saraf. Tiap minggu, saya harus menghafal dobel karena bait-bait sebelumnya gagal saya hafalkan. Yang membuat kelas semakin membosankan, tentunya tulisan-tulisan beliau yang sangat  banyak dalam bentuk pegon dan sangat cepat dihapus. Pusing tentu saja iya.

Dalam suatu waktu, ketika pelajaran Nahwu berikutnya dimulai, seluruh teman saya ramai sendiri. Kiai ini menjelaskan tentang kaidah-kaidah Nahwiyah dan tak ada satu pun yang mendengarkan. Beliau pun tak marah sama sekali. Beliau hanya berhenti sejenak dan menatap tajam ke arah teman-teman. Saya sempat memerhatikan sorotan mata beliau dan seketika itu pula saya terhenyak dan langsung terdiam sendiri. Teman-teman saya pun masih saja ramai dan tidak sadar bahwa sang Kiai sedang memerhatikan mereka.

Tak lama setelah itu, beliau duduk di meja kayu kuno yang ada di depan kelas sambil memberikan nasihat singkat. Nasihat itu pun tak diucapkan melalui lisan beliau, tetapi melalui tulisan singkat yang bunyinya kurang lebih seperti di bawah ini:

إن المعلم والطبيب كلا هما  لا ينصحان إذاهما لم يكرما

Janganlah engkau mengharapkan nasihat dari gurumu dan seorang dokter jika engkau tak mampu memuliakan mereka–
(mohon maaf jika ada kesalahan arti karena ini saya terjemahkan secara bebas. Saya bukan ahli bahasa Arab apalagi bahasa syiir yang membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi)

Setelah menuliskan ini, beliau pun langsung keluar dari ruangan kelas tanpa berkata apa pun. Seketika itu pula, hati saya terenyuh dan mata saya meneteskan air mata tanpa sadar. Masih, teman-teman saya ini ramai sendiri seperti pasar.

Dari kejadian ini, saya pun menjadi giat mencari apa maksudnya syiir itu, apakah maksudnya sama dengan pemahaman awal saya saat membaca tulisan itu pertama kali di papan. Akhirnya, jawaban itu saya temukan di kitab Ta’limul Mutaallim dan benar saja, maksudnya seperti yang saya tangkap di awal.

Kejadian itu sungguh seperti sebuah momentum penting atau bahasa kerennya milestone bagi kehidupan saya. Saya yang waktu itu sangat goblok dan malas, langsung tersadar dan merasakan kerinduan yang luar biasa untuk dapat terus diajar beliau. Ya, meski saya tetap goblok dan bodoh, kejadian itu membuat saya berhijrah dari kehidupan yang penuh kebodohan dan kekosongan. Betapa tidak, kalau ditanya siapakah murid yang paling goblok di kelas, jawabannya pasti mengarah ke saya. 😀

Kejadian itu sungguh aneh. Seketika itu juga, saya mulai suka dengan dunia ulama. Seketika itu juga, beberapa hari setelah kejadian itu, saya langsung sowan ke beberapa ulama sepuh yang kebetulan juga guru-guru saya di Madrasah Tsanawiyah. Saya pun langsung berkunjung ke dhalem para ulama ini satu per satu guna meminta restu dan doa mereka. Saya pun didoakan.

Ternyata, doa dan keikhlasan guru-guru dan kiai-kiai kita mampu menggetarkan arasy untuk murid-murid mereka yang mau bertawadhu’ dan taat apa pun keadaannya. Semoga harta kita, ilmu kita, dan keturunan kita menjadi jembatan bagi kita untuk bisa selalu dekat dengan para ulama. Amin

Advertisements

Kuliah rasa ceramah, ternyata?

Sesi perkuliahan UNISMA tercinta

Sesi perkuliahan UNISMA tercinta | Foto oleh Mr. Akbar Zein Al-mojokertoni 

Kalau kita ngomong soal makanan atau masakan, tentu saja kita pasti ngomong tentang rasanya. Rasa masakan atau makanan bisa macam-macam, bisa enak dan bisa tidak, bisa beragam dan bisa beraneka ragam. Tapi kalau kita makan mie rasa bubur? Tentu saja aneh, atau bahkan kita tidak mau melihatnya. Beda pula saat kita makan es teler rasa duren? Coba rasanya bagaimana? Saya tidak suka duren!

Nah, soal makanan tentu lain dengan soal pendidikan. Pendidikan yang baik itu adalah, pendidikan yang tidak hanya fokus pada pedagogi. ‘Ayo anak-anak tolong buatkan kalimat simple present’, ‘Ayo anak-anak’, dan ‘Ayo anak-anak’ yang lain sudah tidak kontekstual lagi untuk zaman ini. Kalau boleh meminjam istilah Applied Linguistics, school task should involve both target and pedagogical tasks. Students should learn subject based on the real life without leaving the pedagogical aspect of teaching and learning. Boso Pasuruane, belajar iku kudu nyangkut kabeh, yo pelajarane yo pelajaran uripe. Arek-arek ora mung belajar siji tambah siji hasile loro. Piye carane arek-arek iku yo ngerti susuk piro nek tuku puthu neng pasar rong ewu limangatus nganggo duit limangewu.

Nah! (lagi), saya ingat perkuliahan saya tadi pagi. Mungkin ini yang saya sebut dengan kuliah rasa ceramah, bukan ceramah mama dedeh, bukan pula ceramah sembarangan. Ini ceramahnya Doktor lo, katanya juga Bu Nyai. Validitasnya? Ya, masak ragu dengan validitas seorang Doktor!

Pagi itu, masih tersisa beberapa tugas presentasi dan kebetulan hanya satu yang presentasi. Presentasinya pun menarik juga menurut saya pribadi. Betapa tidak, ceritanya soal telur emas, raksasa, ibu, anak, pohon tauge, dan…. ingat cerita ini kan? Saat sesi presentasi selesai dan waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB. Sang dosen bercerita sekelumit soal kehidupan sehari-hari masyarakat kita, terutama soal cara bersyukur, bersyukur atas semua yang dilimpahkan kepada kita, bersyukur atas kesehatan yang kita punya saat ini, tanpa memandang berapa duit atau harta yang kita dapatkan atas segala pengabdian kita. Kita tak sedang hitung-hitungan dengan Tuhan! Intinya, syukur, syukur, syukur!

Contohnya pun jelas! Beliau menggambarkan saat ada salah satu teman beliau (saya lupa teman atau siapa, terus terang saya agak kurang jelas, saking asyiknya mendengarkan sampai saya terbawa arus cerita, saya pun hampir ngiler tadi, untungnya teman-teman tidak tahu hehehe). Teman beliau harus di-bypass (bukan dilewatkan jalan bypass Sidoarjo, Pasuruan atau apa ya) Bypass ini semacam perlakuan untuk kasus jantung tertentu. Biayanya pun aduhai! 500 juta! Hanya bypass-nya, belum yang lainnya. Duit dari mana coba? Mahal juga kan kesehatan?

Tak cukup sampai di situ. Bagian ini yang paling saya suka! Tapi sayang, istri saya tidak berada di kelas yang sama; istri saya sedang memasak di rumah. Betapa beruntungnya para suami yang saat itu istri-istrinya berada di kelas saya (maksud saya, suami yang beristri teman-teman sekelas saya) dan mendengarkan kisah dan celotehan beliau ini. Kemasannya lucu, dengan intonasi yang menggebu-nggebu, bahasanya pun campuran. Ah, keren pokoknya! Seorang istri harus mampu bersyukur atas segala yang dikasih oleh suaminya, berapa pun itu. Katakanlah Rp300.000 untuk sebulan, kenapa tidak? Jangan jadi monster bagi suami! Biarkan Tuhan yang bertindak selebihnya. Kurang lebih begitu isi pesannya.

Beginilah seharusnya, kuliah rasa ceramah dan isinya soal kehidupan – membawa kehidupan nyata ke dalam kelas – itulah seharusnya pendidikan. Kalau boleh saya analogikan, makan singkong rasa hambar atau asin itu biasa, tapi kalau makan singkong rasa barbekyu atau rasa ayam atau rasa sapi? Itu namanya singkong rasa luar biasa! Singkongnya dapat, rasanya juga dapat. Nikmat nian!

Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertai beliau, semoga kita semua menjadi hamba-hamba Tuhan yang selalu bersyukur. Amin amin amin.

Saya tak mau kaya!

Kredit foto: syaarar

Kredit foto: syaarar

Saat saya sedang menyimak keterangan dari dosen pengampu mata kuliah TEFL, salah satu teman yang duduk di samping saya bercerita. Jadi, ceritanya ada dosen menjelaskan dan ada teman yang bercerita; telinga kanan untuk mendengarkan cerita teman saya dan telinga kiri untuk mendengarkan. Hitung-hitung, Tuhan tidak sia-sia menciptakan dua telinga untuk saya.

Ia bercerita bahwa semalam teman sekamarnya, yang juga teman sekelas saya, dengan tegas mengatakan bahwa ia tak mau jadi orang kaya. Saya langsung kaget. Tak cukup sampai di situ, dahi saya pun dibuat mengernyit. Ah, ada-ada saja teman saya ini. Kalau saya justru sebaliknya. Setiap orang pasti ingin kaya, meski kaya itu bukan jaminan bahagia. Begitu pula saya.

Saya mau berkomentar, dan berpikir keras untuk menimpali. Aneh juga! Tak sekata pun keluar dari mulut saya seharian belum makan nasi. Ah, biarkan saja pikir saya. Toh itu pilihannya. Kita boleh memilih untuk jadi apa saja dan pilihan itu tidak selalu lebih baik daripada pilihan yang lain. Pilihan saya belum tentu lebih baik daripada pilihannya, dan juga sebaliknya. Kalau kita melihat segala sesuatu dari kacamata minus atau plus kita masing-masing, maka tidak akan ada titik temu, atau bahkan menimbulkan perselisihan.

Ya sudahlah. Setidaknya, itulah pilihannya untuk tidak mau menjadi kaya. Kita hanya mampu mendoakannya. Semoga keinginannya tercapai. Kebahagian teman kita sama dengan kebahagiaan kita juga toh? Nah, di sinilah peran kita sebagai teman. Setidaknya kita selalu mendoakannya.

Saat kita miskin atau kekurangan, apakah secara materi kita mampu berbuat lebih untuk sesama kita? Saat kita berkelimpahan atau singkatnya kaya, kita bisa menjangkau lebih. Kita bisa membuat sekolah untuk mereka yang tak mampu, menyantuni mereka yang perlu disantuni dan terlebih lagi, kita tak perlu berpikir keras terkaot apa yang akan kita makan esok nanti. Ibadah jadi tenang. Tidur jadi nyenyak (saya tidak membahas orang kaya yang kedunyan).

Ya, begitulah pesan salah satu karib saya yang saat ini mengelola pondok pesantren di Situbondo. Saat saya melontarkan guyonan kepadanya. ‘Lho, opo ustad iku yo butuh duit toh. Mulang ngaji sing genah lak engko teko-teko dewe duite’. Celoteh saya. ‘Nek ora ono duite koyo aku ngene iki, ibadah ra iso tenang, mulang ngaji kepikiran, yo ugo mikir bojo mikir anak. Nek duwe bondo, ibadah tenang, pengen budal nang endi wae iso. Mulang ngaji iso ikhlas soale wis ora ono sing diarep. Wes talah, kudune ngono’, timpal teman saya.

Orang kaya dermawan itu sama dengan manajer Allah SWT yang secara tidak langsung diperintahkan untuk mengatur keuangan-NYA. Semoga kita mampu menjadi manajer hebat dan amanat!

Ngaplo; 11 atau 12 tahun silam!

Ngaplo atau menurut definisi subjektif saya – keadaan di mana kita tidak mampu berbuat apa-apa dan hanya bisa melongok atau melihat sambil memendam keinginan yang kuat untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh objek yang kita lihat atau perhatikan. Setidaknya, saya pernah mengalami ini – meski terbilang tidak jarang, tapi menurut saya ngaplo saya yang satu ini sungguh berkesan di hati. Bukan kesan enaknya; tidak ada ngaplo itu rasanya enak. Kalau boleh beranalogi, orang pada makan bakso dan lontong, saya hanya kebagian mangkuknya…atau bahkan tidak kebagian sama sekali karena sudah keburu dicuci sama si penjualnya.

Saya masih ingat 11 atau 12 tahun yang lalu saat saya masih duduk di bangku kuliah. Kalau tidak salah ingat, saat itu saya masih harus menyelesaikan 4 semester lagi untuk meraih gelar S1 saya. Ya, saat itu saya masih semester 4 dan sebagaimana kegiatan wajib fakultas, semua mahasiswa yang menempuh mata kuliah speaking diwajibkan mengikuti PKL atau Praktik Kerja Lapangan. PKL ini tidak memerlukan waktu sebulan atau bahkan seminggu. Cukup 3 atau 4 hari, dan setelah itu kami sudah dianggap memenuhi tugas mata kuliah speaking. 

Saat itu, tujuan PKL kami adalah pulau dewata atau Bali. Siapa sih yang tidak mengenal pulau yang eksotis ini? Anak saya Daniel pun tahu sebelum ia pernah ke sana. Bukan Balinya yang menjadi sasaran PKL kami, melainkan banyaknya wisatawan asing dari berbagai mancanegara yang membuat fakultas kami menjadikan Bali sebagai tempat PKL. Kami harus mengumpulkan data, secara berkelompok, dari para wisatawan secara langsung. Tentu saja, kami harus menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar kami dan inilah inti dari PKL itu.

Ngomong-ngomong tentang Bali, selain sunset dan sunrise-nya yang begitu indah sampai terkenal seantero jagat, aneka suvenir dan hiburannya pun tak ketinggalan menarik. Tentu saja, semua ini menjadi bumbu dapur perjalanan PKL kami. Di mana ada keramaian, entah pasar, tempat kesenian, atau bahkan tempat menarik lainnya, di sanalah bus yang kami tumpangi selalu berhenti. Tak ketinggalan pula, para mahasiswa yang sudah tidak sabar dan selalu bersemangat untuk melihat-lihat dan tak sedikit yang akhirnya membeli apa yang mereka lihat. Saya yang mahasiswa dari desa ini pun sebenarnya ingin seperti mereka; melihat ini, membeli itu, menawar ini, membeli itu dan lain sebagainya. Namun apa daya, itu semua tidak mampu saya lakukan. Saya hanya bisa ngaplo di atas bus sambil melihat dari kejauhan – banyak yang menenteng barang beliannya. Tak sepeser pun saya bawa bekal uang untuk keperluan PKL saya. Saya hanya mengandalkan jatah makan dan minum dari paket perjalanan PKL waktu itu. Alhamdulillah, meski saya tidak mampu membeli apa pun saat itu, saya masih segar bugar dan bisa kembali ke kos dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun.

Ya, betapa ngaplo-nya saya waktu itu. Semua teman saya saling menenteng barang belanjaannya serta aneka suvenir khas Bali yang dibeli mereka dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi saya hanya membawa segudang derita. Dan derita ini tentunya derita dari satu tempat ke tempat lainnya. 😀

Kalau saya flashback lagi, jangankan bawa bekal uang, bisa bayar PKL saja rasanya seperti habis mendapatkan undian 1 miliar pada waktu itu. Saya termasuk mahasiswa yang serba kekurangan (kekurangan segalanya; uang kurang, bekal kurang, wajah kurang sip, otak kurang, makan kurang, tapi minum tidak pernah kurang karena banyak air keran di Masjid) waktu itu. Saya harus bekerja agar bisa terus kuliah sampai lulus S1. Memang jalan Allah itu tidak selamanya sama dengan yang kita harapkan, tetapi semuanya pasti indah pada waktu-NYA. Saya bekerja di salah satu counter pulsa di Surabaya dan saat itu gaji saya persis Rp400.000 sebulan. Cukup buat bayar biaya PKL saat itu. Urusan sangu, itu urusan nomor 100 (atau makan nggak makan asal bisa ikut). Begitulah kondisi ngaplo saya saat itu. Keren kan? 😉

Semoga kita selalu diberi semangat dan kekuatan untuk menjalani segala kekurangan kita, lalu diberi kekuatan dan kemampuan untuk menutupnya melalui proses yang cepat dan indah dan menjadikannya sebuah pijakan untuk menaiki tangga-tangga kesuksesan kita.

Secangkir Kopi Rasa SPSS

Saat itu, kami baru saja menyelesaikan perkuliahan kami. Kami pun pergi ke suatu tempat untuk mengisi perut yang keroncongan karena belum makan sedari siang. Kami akhirnya mendarat di salah satu lokasi kuliner emperan yang bisa kami bilang ‘surganya’ kuliner. Ya, di depan balai kesenian Krida, Sukarno Hatta, Malang. Bagi kami yang bukan asli warga Malang, tentunya malam itu adalah malam yang membahagiakan sekali. Betapa tidak, kami mendarat di surganya kuliner saat motor tubuh kami memerlukan bensin agar bisa melaju kencang lagi.

Selesai sudah acara makan bersama kami dan kami beranjak kembali ke rusunawa. Kebetulan, hanya kelas D yang saat itu ada perkuliahan dan tentunya rusunawa tampak lengang tidak seperti biasanya. Kami akhirnya sampai di depan rusunawa, memarkir mobil, dan masuk ke kamar kami. Kami pun meminta tolong petugas kamar untuk menambahkan matras tidur karena kami rasa matras yang ada dalam kamar kami itu tidak bisa menampung lima orang sekaligus.

Kami menaruh barang masing-masing dan langsung melanjutkan tugas belajar bersama kami. Kami mempelajari materi SPSS untuk persiapan UAS esoknya. Malam pun semakin menyelimuti langit dan tak terasa jam menunjukkan pukul 11 malam. Rasa kantuk pun terasa tak tertahankan. Dua dari teman saya sudah tepar duluan dan tinggal kami bertiga yang masih terjaga. Seperti biasa, saya selalu ditemani kopi saat kerja malam, dan kebetulan tidak ada kopi saat itu. Bahkan, kami pun lupa membeli sebotol air putih.

Tiba-tiba ada yang lewat di depan kamar kami. Saya tengok ke luar dan ternyata, dia adalah salah satu teman kami yang kebetulan tinggal di lantai yang sama. Saya menyapanya dan seperti biasa, dia menyapa balik dengan candaan khasnya. Ah, dia sungguh manis saat tersenyum. Saya pun meminta tolong kepadanya untuk dibuatkan secangkir kopi. Tanpa banyak komentar, dia langsung membuatkan kopi untuk kami. Kami menunggu beberapa saat dan kopi pun akhirnya tersaji dalam dua wadah besar. Saya tawarkan kopi itu kepada yang tertua di kamar kami dan ternyata tidak ada yang mau. Akhirnya, saya yang menyeruput kopi itu dan rasanya begitu enak. Satu cangkir besar kopi habis dalam semalam karena rasanya yang memang enak. Kapan-kapan, saya dan teman-teman mau dibuatkan lagi. Semoga saja orangnya mau. hahaha

Kelas Kehidupan: Sang Nakhoda Perahu

Saat kehidupan perkuliahan mulai menampakkan kesibukannya dengan aneka aroma sedap atau bahkan sebaliknya. Saya melihat sesosok lelaki tambun berkacamata, dengan gayanya yang khas – saya yakin tidak seorang pun di kelas saya mampu meniru gayanya yang menurut saya eksentrik! Dialah ketua kelas kami yang sudah menakhodai perahu kelas D sampai seperempat perjalanan kami menuju pulau kesuksesan yang masih harus ditempuh bermil-mil lagi.

Semakin lama semakin menarik saya mencermati orang ini. Menurut saya unik dan tentu saja nyentrik. Betapa tidak? Saat teman-teman sekelas pada sibuk dengan kegiatannya masing-masing, atau bahkan saat perkuliahan sudah selesai, orang ini masih saja ribut sendiri dengan tugasnya sebagai ketua kelas. Mengatur bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah beranak pinak tentunya bukanlah hal yang mudah, tetapi saya melihat justru sebaliknya. Ketua kelas saya ini sangat santai menghadapi mereka bahkan saya melihatnya sangat perhatian kepada mereka.

Saya pun turut merasakan perhatiannya secara langsung. Saat badan terasa sangat pegal karena kegiatan yang begitu banyak, sepertinya ketua ini tahu keadaan saya dan mengatakan kepada saya bahwa ia bisa memijat. “Kebetulan sekali,” pikir saya. Saya pun tidak sungkan meminta tolong kepadanya untuk memijat saya dan tra la! Saya dapat fast response seperti saat pesan delivery order dari McD. Permintaan saya langsung dikabulkan. Saya pun dipijat dan alhamdulillah efek pijatannya luar biasa!

Ya, itu pengalaman pribadi saya. Tak cukup sampai di situ. Saya pribadi pun merasa sangat senang karena saya tidak pernah ketinggalan informasi perkuliahan apa pun, bahkan sampai detail terkecil. Bagi saya yang pekerjaannya tidak jelas dan tak pasti ini, tentu saja satu keberuntungan tersendiri. Informasi apa pun yang didapat langsung disebarkan, dan ia pun aktif ke sana kemari untuk meminta kejelasan dari dosen atau pihak fakultas kalau memang ada salah satu anggota kelas yang kurang jelas dengan berbagai aktivitas perkuliahan.

Suatu ketika kami berada dalam satu ruangan – tepatnya ada tiga orang termasuk saya waktu itu. Saya pun sempat membuat guyonan kecil kepadanya, “Pak, sampeyan iki opo ora kesel ngurusi wong-wong sing kadang-kadang angel diatur?” “Ngono kuwi wis risiko Pak. Tapi aku ora iso njarke wong-wong koyo ngono. Iku wis tanggung jawabku.” jawabnya santai.

Orang ini hebat sekali pikir saya. Saya yakin tak semua orang bisa seperti ini. Saya tahu bahwa menjadi ketua kelas tidak ada hubungannya sama sekali dengan kemapanan atau singkatnya ketua kelas tidak pernah digaji dan dimanja. Semoga kesehatan, keselamatan, rezeki yang berlimpah, dan panjang umur selalu menyertainya.

Keong Sakti Penakluk Begal!

Beberapa hari yang lalu, saya diundang untuk menghadiri acara pengajian di salah satu sekolah yang berlokasi di Lamongan, Jawa Timur sebagai penyimak. Salah satu teman saya yang berasal dari Situbondo pun ternyata dapat undangan serupa dan ia pun turut hadir dalam acara pengajian ini. Kami bertemu dalam acara itu dan duduk bersanding berdua sampai acara selesai. Kami pun tak lupa ngobrol ngalor-ngidul dengan topik bahasan yang campur aduk. Kenangan masa sekolah dulu pun seolah tampak nyata atau bahkan terulang! Ya, seru sekali!

Malam pun semakin larut. Dan sampailah di penghujung acara. Para hadirin beranjak pulang meninggalkan tempat duduk masing-masing. Hanya tinggal kami berdua yang masih berada di sekolah itu. Pikir-pikir, sudah lama sekali kami tidak pernah mengunjungi sekolah yang sudah membesarkan kami ini. Sampai kami puas melepas rindu pada almamater sekolah kami, kami pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Kebetulan, teman saya ini akan bermalam di pondok pesantren tempat ia nyantri dulu. Itu berarti kami searah dalam perjalanan pulang kami.

Kami pun keluar dari gerbang sekolah, menyusuri kuburan kuno yang penuh dengan makam kompeni meski makam penduduk sekitar pun ada di sana; tapi kuburan ini terbilang kuburan kuno karena sudah tidak ada aktivitas lagi di kuburan ini. Hanya dua atau tiga penggembala yang terkadang menggembalakan ternak mereka di sini. Saat saya masih sering lewat kuburan ini atau bahkan bermain di sini waktu kecil dulu, saya tak pernah menemukan sesuatu yang angker atau aneh, hanya sering terjatuh di kuburan ini saat pulang sekolah.

Di tengah-tengah perjalanan pulang, kami melihat segerombolan orang yang tidak kami kenal sama sekali. Kami pun santai saja karena kami tidak berpikir mereka itu orang-orang jahat. Kami akhirnya bersinggungan melewati mereka dan ternyata salah satu dari mereka menghentikan kami dengan teriakan yang sangat keras. “Berhenti,” katanya. Kami pun berhenti. Saya sangat kaget dan agak sedikit takut sambil memandangi raut muka teman saya. Tak sedikit pun saya lihat rasa takut pada raut mukanya. Ia hanya tersenyum dan berusaha menenangkan saya. “Ngene ae wedi toh Lex,” katanya, “gampang ngatasi wong ngene-ngene iki!”

Saya lihat teman saya ini mengeluarkan sejenis keong dari sakunya dan dilemparkanlah keong ini di depan gerombolan orang yang menghadang kami sambil berkata, “Ini keongku, jogo yo ojo sampek ucul. Nek ucul, tak pateni kabeh kowe!” Gerombolan ini pun gaduh dan tampak panik berebut keong yang dilemparkan oleh teman saya tadi. Salah satu dari mereka pun berhasil mengambil keong ini dari tanah dan dengan wajah tertunduk ia menunjukkan keong itu ke teman saya sambil berkata, “Saya akan jaga keong ini, mas.”

Hebat sekali teman saya ini. Hanya dengan seekor keong ia mampu menundukkan gerombolan begal yang hendak merampok kami. Saya pun tak meragukan ucapannya lagi. Kami pun berhasil melewati gerombolan orang itu dengan aman tanpa terjadi sesuatu yang tak diinginkan dan tak lama kemudian saya pun terbangun dari mimpi saya dan ternyata, saya hanya bermimpi! Mimpi yang sangat aneh. Tapi seaneh-anehnya mimpi saya tadi, saya anggap itu sebagai bunga pemberian dari sang Ilahi.