Dan bapakku guru ngaji pertamaku.

Di mana pun dan kapan pun membaca atau mendengar surat ini, pikiran dan otak saya selalu dibawa kembali ke masa super silam atau kalau kaset begitu ya, direwind sampai habis mundur ke belakang.

Masa kecil saya itu termasuk masa yang paling malas bagi saya. Jika Yanto, Yono, Budi HartonoDidik Fafa Swimming Course, dan kawan-kawan saya yang lain sudah tartil membaca Alquran, beda lagi dengan saya. Saya ini yang paling malas sejagat. Alhasil, Alif Ba Ta ya tidak paham sama sekali.

Suatu ketika saat teman-teman yang lain hendak akan mengaji Alquran di musholla Mbah Bashir (sekitaran masjid Attaqwa Paciran), saya ditinggal oleh teman-teman yang akan hendak mengaji di sana, kebetulan malam itu adalah malam pertama saya akan memulai ngaji Alif Ba Ta. Seperti anak kecil pada umumnya, karena ditinggal oleh teman-teman saya, saya pun menangis sejadi-jadinya. Bapak saya, yang kebetulan akan melakukan salat wajib infirod di rumah pun dengan tanggap menyambut tangan saya, dan digelarkan sajadah, serta disiapkan Alquran tebal yang tampak kuno (sepertinya masih tersimpan rapi di rumah).

Seusai salat maghrib berjamaah dengan saya, kami duduk bersila dan surat alquran di foto inilah yang pertama diajarkan beliau kepada saya. Saya hanya disuruh mendengarkan tanpa dijelaskan satu-satu maksud dari ayat itu bahkan makhrojnya. Pokoknya, saya disuruh menyimak dan melantunkannya berulang dan…..

Secara tidak langsung, saya hafal surat ini dengan sendirinya melalui suara yang dikeluarkan oleh bapak saya. Jika saya ditanya siapa guru ngaji saya pertama, ya itu bapak saya.

Saya tidak sedang ‘ngapik-ngapik’ (promosi) bapak saya. Bapak saya ini ngajinya super lancar (saat beberapa kali main di Pasuruan), tapi anehnya anaknya yang satu ini malah mulai belajar ngaji. Alhasil, baca Qurannya masih belum cetoh bahkan tidak jelas dan tidak karuan. Lak isin2i bapak e ah ngene iki. Bapake pinter ngaji, anake OON. Bapake wis hatam bolak balik, anake mek hatam fatihah bolak balik.

Advertisements

Pesugihan Nabi Ibrahim

Bulan haji akan tiba, jadi teringat ada salah satu tokoh sentral yang bernama Ibrahim! Saya biasanya menulis dan menyebut namanya dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS). Kisah Nabi Ibrahim ini tentu sangat mengharu biru dan bagi siapa saja yang beragama Islam, pastilah tahu betul siapakah beliau. Ya, Ibrahim, seorang bapak dari Ismail yang rela menyembelih anak semata wayannya hanya demi cinta dan ikhlasnya beliau kepada Sang Penciptanya. Kisah ini tentu saja tidak asing di telinga kita. Bahkan tak tanggung-tanggung, Allah SWT pun menetapkan namanya dalam kitab suci Alquran (Surat Ibrahim).

Tahukah kita bahwa Nabi Ibrahim AS ini sangat kaya? Kita mungkin sering mendengar kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan segalanya demi Tuhannya, tapi tentu kita tidak pernah tahu bahwa Nabi Ibrahim ini memiliki kebiasaan yang unik yang akhirnya menjadikannya salah satu Nabi Allah SWT yang sangat kaya. Beliau tak pernah menikmati makanannya sendiri. Setiap kali beliau hendak menyantap makanan, beliau selalu mengajak orang-orang yang ada di sekitarnya walaupun dalam jarak bermil-mil (bisa dibayangkan ya betapa dermawannya beliau). Dari makanan-makanan yang disantap bersama orang-orang ini, hartanya tidak semakin habis, sebaliknya hartanya semakin bertambah. Subhanallah!

Bahkan hewan-hewan ternaknya pun semakin berkembang, karena setiap ada tamu maupun orang yang minta, pasti beliau sembelihkan satu ekor atau lebih hewan ternaknya. Suatu ketika, ada seseorang yang mengagumi kedermawanan Nabi Ibrahim berkata, “Hai Ibrahim, engkau dikenal sebagai Nabi yang sangat dermawan, engkau hidangkan tamu-tamumu dengan sembelihan hewan dan engkau kurbankan hewan-hewan ternakmu untuk kaum. Apa yang menjadi dasar dan pedomanmu itu?”. Nabi Ibrahim pun menjawab, “Aku diperintahkan oleh Allah untuk saling berbagi kepada sesama, menghormati tamu dan berkurban dengan menyembelih hewan-hewan ternakku untuk orang lain”. Tak disadari, Nabi Ibrahim menambahi ucapannya, “Seandainya Allah memerintahkanku untuk menyembelih anakku, aku pun siap menjalankan perintah-Nya”. Saat itulah terjadi peristiwa yang tertuang dalam surah Ash-Shaffat ayat 102 – 111. (kisah lengkap tentang Nabi Ibrahim ini bisa dibaca di sini.

Ya, begitulah pesugihan Nabi Ibrahim AS. Saat kita mendengar kata pesugihan, pikiran kita biasanya langsung mengarah ke sesuatu yang berbau klenik. Ya pesugihan berasal dari bahasa Jawa yang berarti sesuatu yang bisa membuat kaya. Nah, pesugihannya Nabi Ibrahim ini lain. Pesugihannya ini berupa suka memberi makan orang lain. Dalam kitab Nashoihul Ibad, perbuatan Nabi Ibrahim ini masuk dalam bab Idhoolussuruur atau memberikan kebahagian untuk orang lain. Di kitab tersebut dijelaskan secara singkat namun mengena bagaimana Nabi Ibrahim AS memperlakukan hartanya dan orang-orang di sekitarnya.

Nah, ngomong-ngomong tentang mengajak makan orang lain ini, saya teringat teman saya (teman saya ini tergolong sangat amat muda jika dilihat dari apa yang dimilikinya), seorang kontraktor sukses dan kalau orang biasa melihatnya pasti menganggap dia tidak waras. Betapa tidak, (setidaknya menurut pengamatan saya selama berteman dengannya dan bertemu dengannya di mana saja saat ada kesempatan) ia selalu mengajak teman-temannya untuk menemaninya dia makan, entah di warung, di emperan, atau bahkan di restoran paling mahal sekalipun. Anehnya lagi, dia tak pernah menghitung jumlah piring atau makanan yang akan dipesan teman makannya itu.

Pernah suatu ketika, dia mengajak saya makan di salah satu rumah makan yang harganya tergolong lumayan mahal. Saya perhatikan di belakang saya ada beberapa orang yang tidak saya kenal membuntuti saya di belakang. Saya kira mau minta tanda tangan saya ahhahaha #guyonbro. Ternyata, mereka ketemu satu meja dengan kami dan lebih terkejut lagi, mereka adalah teman-teman kontraktor ini. Saya langsung terbayang apa saja yang dipesan mereka setelah itu. Kira-kira habis berapa ya?

Saya pun penasaran, dan akhirnya bertanya, ‘Bro, tak sawang-sawang awakmu kok senengane nraktir koncomu, opo ora bosen? Dia pun dengan enteng menjawab, ‘Dol, awakmu ngerti ora? Biasane mari mangan karo wong-wong ngene iki selang 1 jam utowo 2 jam aku oleh telpon utowo SMS isine garapan. Jumlahe yo macem-macem, biasane tergantung piro sing wis dibayarno kanggo mangan-mangan.’

Saya pun terdiam sejenak dan langsung ingat dulu ketika membala kitab Nashoihul Ibad yang membahas perihal mendatangkan kebahagiaan untuk orang lain (Idhoolussuruur) dan dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS, dengan mengajak makan siapa saja yang ada di sekitarnya saat beliau hendak menyantap makanan.

Semoga kita bisa menauldani Nabi Ibrahim AS. Semoga kita dijadikan manusia-manusia dermawan yang selalu menebarkan kebahagiaan bagi sesama, apa pun agama, suku, dan rasnya. Amin amin amin.

Mengembalikan dana gaib!

Uang pecahan Pp20, 50, dan 100 ribu.

Ketika Anda mendengar frasa ‘dana gaib’, pikiran Anda pasti mengarah ke ‘dunia lain’ – dana yang muncul tiba-tiba dari alam lain melalui ritual-ritual khusus. Ya, itu tidak salah dan 100 untuk pikiran Anda.

Jika orang-orang beramai-ramai ingin mendatangkan atau mengambil atau bahkan menarik dana gaib, dengan caranya masing-masing yang bermacam-macam, tentu saja lain lagi dengan saya.

Eh, tunggu! Jangan salah paham dulu! Saya bukan bagian dari ritual penarikan dana gaib ini atau pelaku penarikan dana gaib ini. Justru sebaliknya, saya malah pernah mengembalikan dana gaib ini. Nah, penasaran bukan? Logikanya, kalau dana gaib sampai dikembalikan, berarti duitnya sudah turah-turah. Amin 100000000X 😀

‘Gaib’ itu apa sebenarnya? Saya mencoba menggali kata ini melalui satu referensi valid yang bisa dijadikan rujukan. Kurang lebih, ‘gaib’ itu seperti di bawah ini:

gaib ga.ib
[v] (1) tidak kelihatan; tersembunyi; tidak nyata: para ilmuwan mencoba meneliti hal-hal yg — di alam semesta ini; (2) hilang; lenyap: sekalian dewa-dewa itu pun — lah; (3) tidak diketahui sebab-sebabnya (halnya dsb): banyak peristiwa — yg belum diselidiki
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/gaib
KamusBahasaIndonesia.org

Nah, jelas sudah apa itu gaib! Ternyata gaib itu tak hanya terkait dengan dunia mistis. Sesuatu yang asal-muasalnya tak jelas atau samar pun juga bisa dikatakan gaib. Jika Anda tiba-tiba diberi uang Rp100.000 oleh orang yang tidak Anda kenal, itu namanya gaib. Samar kan? Anda tidak tahu dan bahkan tidak menduga sama-sekali. Sangat misterius!

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah mendapatkan ‘dana gaib’ ini, namun saya langsung mengembalikannya setelah saya tahu secara jelas siapa pemilik dana ini.

Saat itu, saya sedang iseng membuka rekening bank saya dan tiba-tiba ada dana yang masuk ke rekening saya yang mencapai jutaan. Saya sempat kaget karena saat itu belum waktunya saya menerima gaji atau dana dari rekanan saya. Kaget itu pasti. Senang juga iya, tapi akhirnya galau juga saat saya mencoba menelisik riwayat transfer rekening secara online dan saya tak mendapati nama pengirimnya. Hanya ada tulisan ‘Transfer otomatis’. Wah, gawat, gawat! Saya pun menunggu keesokan harinya dan saya cek lagi riwayat transfer rekening, dan saya pun dibuat kaget bukan kepalang saat mengetahui bahwa dana tersebut ternyata ditransfer oleh salah satu CEO dari Jakarta. Saya sangat mengenal orang ini karena dulu kita biasa bekerja sama.

Saya pun dibuat bingung bagaimana saya harus mengembalikan dana gaib ini, eh dananya sudah tidak gaib ya karena sudah jelas siapa pemiliknya. 😀

Saya memutuskan untuk menghubungi yang bersangkutan dan memberi tahunya bahwa saya mendapatkan transferan dana darinya. Dengan sedikit guyonan saya bilang kepadanya, ‘Mas, iki duite sampeyan pesti kokehan sampek ngirimi aku duit ra jelas. Piye iki carane mbaliknoe?’ Si CEO ini pun ngakak dan kami pun akhirnya ngakak bersama (ngakak lewat BBM). Sejurus kemudian, ‘dana gaib’ ini berhasil dikembalikan ke rekening semula. ‘Ada-ada saja‘, pikir saya. Inilah salah satu ujian kejujuran dari Allah SWT. Seperti halnya ujian saat kita sekolah, ujian kehidupan pun kurang lebih sama. Kalau kita bisa mengisi soal-soalnya dengan baik dan benar, maka kita bisa lulus dan diwisuda. Nah, wisuda dari Allah SWT ini bentuknya bisa macam-macam. Setidaknya, ada jaminan bahwa derajat kita akan naik setelah lulus ujian itu. Allahu A’lam.

Semoga usaha dan upaya jujur kita mendatangkan barokah dan manfaat bagi orang lain serta mengangkat derajat kita dan keluarga kita, teman-teman kita, saudara-saudara kita dan guru-guru kita….. Amin.

Saya tak mau kaya!

Kredit foto: syaarar

Kredit foto: syaarar

Saat saya sedang menyimak keterangan dari dosen pengampu mata kuliah TEFL, salah satu teman yang duduk di samping saya bercerita. Jadi, ceritanya ada dosen menjelaskan dan ada teman yang bercerita; telinga kanan untuk mendengarkan cerita teman saya dan telinga kiri untuk mendengarkan. Hitung-hitung, Tuhan tidak sia-sia menciptakan dua telinga untuk saya.

Ia bercerita bahwa semalam teman sekamarnya, yang juga teman sekelas saya, dengan tegas mengatakan bahwa ia tak mau jadi orang kaya. Saya langsung kaget. Tak cukup sampai di situ, dahi saya pun dibuat mengernyit. Ah, ada-ada saja teman saya ini. Kalau saya justru sebaliknya. Setiap orang pasti ingin kaya, meski kaya itu bukan jaminan bahagia. Begitu pula saya.

Saya mau berkomentar, dan berpikir keras untuk menimpali. Aneh juga! Tak sekata pun keluar dari mulut saya seharian belum makan nasi. Ah, biarkan saja pikir saya. Toh itu pilihannya. Kita boleh memilih untuk jadi apa saja dan pilihan itu tidak selalu lebih baik daripada pilihan yang lain. Pilihan saya belum tentu lebih baik daripada pilihannya, dan juga sebaliknya. Kalau kita melihat segala sesuatu dari kacamata minus atau plus kita masing-masing, maka tidak akan ada titik temu, atau bahkan menimbulkan perselisihan.

Ya sudahlah. Setidaknya, itulah pilihannya untuk tidak mau menjadi kaya. Kita hanya mampu mendoakannya. Semoga keinginannya tercapai. Kebahagian teman kita sama dengan kebahagiaan kita juga toh? Nah, di sinilah peran kita sebagai teman. Setidaknya kita selalu mendoakannya.

Saat kita miskin atau kekurangan, apakah secara materi kita mampu berbuat lebih untuk sesama kita? Saat kita berkelimpahan atau singkatnya kaya, kita bisa menjangkau lebih. Kita bisa membuat sekolah untuk mereka yang tak mampu, menyantuni mereka yang perlu disantuni dan terlebih lagi, kita tak perlu berpikir keras terkaot apa yang akan kita makan esok nanti. Ibadah jadi tenang. Tidur jadi nyenyak (saya tidak membahas orang kaya yang kedunyan).

Ya, begitulah pesan salah satu karib saya yang saat ini mengelola pondok pesantren di Situbondo. Saat saya melontarkan guyonan kepadanya. ‘Lho, opo ustad iku yo butuh duit toh. Mulang ngaji sing genah lak engko teko-teko dewe duite’. Celoteh saya. ‘Nek ora ono duite koyo aku ngene iki, ibadah ra iso tenang, mulang ngaji kepikiran, yo ugo mikir bojo mikir anak. Nek duwe bondo, ibadah tenang, pengen budal nang endi wae iso. Mulang ngaji iso ikhlas soale wis ora ono sing diarep. Wes talah, kudune ngono’, timpal teman saya.

Orang kaya dermawan itu sama dengan manajer Allah SWT yang secara tidak langsung diperintahkan untuk mengatur keuangan-NYA. Semoga kita mampu menjadi manajer hebat dan amanat!

Akik sakti seharga 5 juta!

Kredit foto: kopesatdjbc

Bukan tanpa niat atau bahkan tidak sengaja saya menulis tentang batu akik ini. Cerita yang saya tulis ini pun mu’tabar dari mimpi saya semalam. Saya ingin menceritakan atau bahasa alaynya, curhat lah. cie cie…. 😉

Saya anggap mimpi semalam itu hanya bunga mimpi. Saat badan ini tak mampu lagi menahan kantuk yang super sekali, mata pun terlelap tanpa saya sadari. Teman sekamar saya pun ‘ngomel’ pagi-pagi akibat kantuk saya ini. Pantas saja ia ngomel! Karena saat ia bercerita, saya tinggal tidur tanpa pamit. Alhasil, satu-satunya penonton setianya tidak ada. haha

Kembali ke bunga mimpi saya tadi. Tiba-tiba saya didatangi seseorang yang tidak saya kenal sama sekali dengan tangannya yang dipenuhi cincin batu akik. Saya perhatikan tiap ujung jarinya dan saya dapati banyak sekali batu akik di tangannya. Di setiap jemarinya, saya melihat ada yang berisi 2, 3, dan 4. Ah, sungguh aneh mimpi saya ini. Saya pun tidak mengaitkan mimpi saya ini dengan hal yang berbau mistis.

Ah, saatnya bangun pagi. Saya pun ingat sekali mimpi saya tadi. Selang beberapa jam, teman sekamar saya pun bangun dari peraduannya, mandi, lalu ngobrol dalam kamar. Nah! Ternyata mimpi saya tad iini terjawab. Tiba-tiba teman sekamar saya ini bercerita tentang batu akiknya yang mau dijual. Tak tanggung-tanggung, ia mematok Rp5 juta!!

Saya pun penasaran. Apa hebatnya batu akik dia itu. Harga kambing tetangga saya saja tidak sampai segitu. Padahal jelas sekali kambing tetangga saya itu gemuk-gemuk. Ini batu cuma secuil tapi harganya roket sekali! Datanglah ia ke salah satu calon pembeli. Ia menunjukkan batu akiknya itu ke si pembeli. Saat awal transaksi, si pembeli tampak begitu yakin dan sangat ingin memiliki batu akik itu, kata teman saya tadi. Si pembeli ini bilang ke teman saya bahwa batu akik itu bisa dibanderol Rp5 juta! Teman saya pun langsung dag dig dug, sambil berdoa transaksi ini bisa deal! 

Ah nasib sedang tak memihak teman saya! Si pembeli ternyata mengurungkan niatnya untuk membeli batu akik itu setelah ia meneliti bahan dari batu akik itu. ‘Sayang sekali ya bro’, celetuk saya. Teman saya pun cerita lagi bahwa batu akiknya terindikasi terbuat dari bahan matang (apalah istilahnya, saya gagal paham soal peristilahan batu akik). Inilah alasan utamanya Rp5 juta yang ia idam-idamkan tak jadi masuk kantongnya. Ia pun saat itu juga tak memakai batu akik yang biasa terlihat melingkar di jari manisnya.

Meski batu akik itu tak jadi terjual karena terindikasi palsu, setidaknya saya punya kenangan tersendiri dengan batu akik itu. Setiap kali saya duduk bersebelahan dengan teman saya itu dan pada saat bersamaan ia memakai batu akik itu, saya selalu merasa kantuk yang luar biasa meski sudah tidur cukup saat malam dan nyeruput kopi pagi-pagi. Jangan-jangan, batu akik itu????

Cibiran itu………bak obat

photo credit: trekearth

Apakah Anda pernah dicibir orang atau direndahkan? Bagaimanakah Anda menyikapinya saat itu? Atau setidaknya, maukah Anda berbagi dengan saya bagaimanakah perasaan Anda saat itu?

Marah? Kesal? Jengkel? Dendam? Bersumpah serapah? Atau tenang-tenang saja? Atau sebaliknya, justru Anda langsung sadar bahwa Anda harus bangkit saat itu juga meski kebangkitan itu tak selalu berbuah durian, tapi berbuah mahoni?

Biasanya, saat kita dicibir atau dihina orang, kita selalu marah atau jengkel atau bahkan kesal, sampai ada yang lebih dari itu. Ya, itu manusiawi sekali, tetapi tahukah kita bahwa ada yang lebih manusiawi lagi daripada itu? Anda tahu kira-kira apa? Ya, betul. Jadikanlah cibiran atau hinaan itu sebagai sarana untuk membuat doa Anda terkabul. Saya tidak begitu mengerti soal agama atau tasawuf atau apalah yang berkaitan dengan hubungan manusia, tuhan, dan manusia, tetapi KATANYA, orang yang terdzolimi itu doanya manjur. Orang bodoh jika dihina pasti marah atau jengkel atau mendoakan yang jelek-jelek kepada pelakunya. Lalu, bagaimanakah dengan Anda? Apakah demikian juga bagi Anda? Saya rasa tidak, ya saya yakin tidak mungkin karena setelah membaca tulisan pendek ini Anda pasti sedikit tercerahkan, paling tidak Anda bisa membaca alur cerita tulisan ini ke mana dan bisa menjadi rambu kuning, setidaknya ketika Anda akan melakukan hal yang negatif (seperti yang saya sebutkan di atas) saat Anda berada dalam posisi ini.

Saya mengutip sebuah kisah nyata yang saya dapatkan dari teman saya yang saat ini mengasuh salah satu pesantren di Situbondo. Dahulu kala, ada satu keluarga besar yang tampak begitu luar biasa dari luarnya. Dan dalam keluarga besar tersebut,  ada salah satu anggota keluarga yang bisa dibilang serba kekurangan. Mencukupi kebutuhan sehari-harinya saja ia tak mampu, bahkan istrinya yang minta dibelikan ini dan itu harus gigit kuku karena ia tak mampu membelikannya. Celakanya, saudara-saudara istrinya ini suka memamerkan apa yang mereka punyai kepada istri lelaki yang kekurangan ini. Tak cukup sampai di situ, kata-kata nyeplos yang tampak biasa, tapi bisa menyakitkan pun sering terlontar dari saudara-saudaranya yang sudah merasa berada 10 tingkat di atasnya.

Seringkali sang istri lelaki ini curhat kepada sang suami. Suaminya pun ikut sedih mendengarnya. Karena sang suami ini sangat dekat dengan para ulama dan ia tahu betul apa yang harus dilakukan saat ia menghadapi situasi seperti ini. Ia pun cukup menunjukkan senyum kepada istrinya, seraya memintanya untuk bersabar dan berdoa. Ah, saat saya nulis kisah ini saya jadi ingat salah satu kaifiyah (cara) yang diajarkan dalam kitab Nashoihul Ibad. Saat orang-orang sedang mendoakan sesuatu yang buruk kepada kita, kita dianjurkan untuk mengucapkan Allahumma la taj’al mimma yaquul (Ya Allah janganlah engkau wujudkan kepadaku apa yang ia ucapkan), sebagai penangkal doa jelek itu.

Hari pun silih berganti, cibiran dan hinaan pun tak pernah berhenti. Tak ayal pula pameran harta pun semakin menjadi-jadi. Hingga suatu ketika sang suami mendengar sendiri ucapan saudara-saudaranya. Begitu mengiris hati, bak seorang wanita mandul yang ditanya soal anak, bak orang miskin yang ditanya soal harta, bak luka mengangah yang disiram dengan air garam, sakit pasti rasanya! Sang suami pun tampak tenang dan diam sejenak sambil merenung. Air mata pun menetes deras dari kedua matanya. Ia pun saat itu juga terlecut untuk menjadi suami terbaik, setidaknya suami yang mampu membelikan susu, bahkan rumah-rumah mewah!

Karena ia tak tahu harus bagaimana, ia cukup bersabar dan berdoa, berdoa dan selalu berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah semua ini sebagai saranaku untuk menjadi mulia, jadikanlah semua ini sebagai cambukku untuk menjadi suami yang lebih bertanggung jawab, jadikanlah ucapan-ucapan orang-orang itu sebagai penyemangatku untuk menjadi 1000X lebih maju daripada mereka, dan jika Engkau berkenan, tundukkanlah mereka lewat aku, tunjukkanlah kekuasanMU kepada mereka lewat aku, bakar habis kesombongan mereka sampai tiada kesombongan di antara keluarga kami dan kami kembali ke ‘setelan default’.

Singkat cerita, (katanya teman saya ini tadi) pria yang serba kekurangan ini pun langsung berubah nasibnya. Tak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan bulan, ia mampu memiliki apa saja. Subhanallah…Allah SWT bisa mengubah (bukan merubah ya) apa saja dan siapa saja dalam hitungan detik, menit, dst… Sehingga, kita sangat tidak dianjurkan untuk menyombongkan diri atau membanggakan diri atas apa saja, karena semuanya hanya milik Allah SWT semata.

Saya pun penasaran dan ingin sekali bertemu orang ini. Semoga saya bisa segera bertemu dengan orang ini dan memintanya untuk bercerita langsung kepada saya. Pasti seru. Semoga kesuksesan, kemakmuran, dan kemenangan selalu menyertai kita. Semoga kita dijauhkan dari sifat sombong dan takabur. Amin amin amin…

Ternyata, hidangan lezat itu karena anaknya (Hikayat)

Konon ada seorang lelaki tua bersama seorang anak laki-lakinya. Ia berprosesi sebagai seorang nelayan. Menariknya, sang nelayan ini bisa dibilang ahli ibadah. Tak sekalipun ia meninggalkan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim, bahkan tak pernah sekali pun ia meninggalkan salat malam.

Sehabis salat subuh, ia melaut dan selalu mendapatkan ikan dengan jumlah yang tidak seberapa. Ke esokan harinya pun ia melaut dan hasilnya tetap sama. Begitulah seterusnya. Ikan yang ia dapatkan sangat sedikit bahkan kadang tidak dapat ikan sama sekali. Suatu ketika, ia teringat anak lelakinya yang masih kecil itu. Pikirnya, sekali-sekali ia mengajak anaknya melaut sambil membelajarkanya mencari penghidupan kelak jika ia besar nanti. Sang ayah dan anak pun pergi melaut bersama. Kemudian, perahu pun sampai di tempat tujuan dan jaring pun mulai dibentangkan. Tak satu pun ikan yang terjaring, hingga akhirnya kesabaran mereka membuahkan hasil. Ada salah satu ikan yang nyantol di jaring mereke. Sang ayah pun sangat girang dan ingin cepat-cepat mengangkat ikan itu dan memasukkannya ke dalam wadah lalu dijual ke pasar.

Tanpa diduga, sang anak memerhatikan mulut ikan itu. Ia perhatikan dan perhatikan terus menerus. Ia pun lantas berujar kepada ayahnya agar ikan itu dilepaskan. Ayahnya pun marah besar karena ia mendapatkan ikan itu dengan susah payah.

“Nak, kenapa engkau meminta ayahmu ini melepaskan ikan ini padahal engkau tahu sendiri kita mendapatkannya dengan susah payah?” tanya sang ayah.

“Ayah, tak tahukah engkau bahwa ikan ini sedang berdzikir. Cobalah pandangi mulut ikan itu ayah. Ikan itu seolah-olah berdzikir mengucapkan asma ALLAH SWT.” jawab sang anak.

“Anakku, ikan memang seperti itu mulutnya. Itu sudah biasa. Itu bukan berdzikir, tapi ia sedang bernapas.” sahut ayahnya dengan penuh kesal.

Sang anak pun ngotot supaya ikan itu boleh dilepas oleh sang ayah. Sambil menangis ia mengiba.

“Ayah, aku rela melakukan apa saja asalkan ayah mau melepaskan ikan ini. Jika kita melepaskan ikan ini, maka yang berdzikir kepada ALLAH SWT tidak akan berkurang saat itu. Percayalah. Tolong lepaskan ikan ini ayah.” pinta anak itu.

“Baik anakku. Aku lepaskan ikan ini demi kamu”. ujar sang ayah.

Ikan itu akhirnya dilepas atas permintaan anak sang nelayan. Hari pun berganti, kegiatan sang ayah pun berjalan seperti biasa hingga suatu ketika ada kejadian di luar nalar di pagi hari. Tiba-tiba, aneka makanan lezat terhidangkan di perahu sang ayah setiap pagi sebelum mereka hendak berangkat melaut. Tak sampai di situ saja, mereka pun selalu pulang membawa ikan yang sangat banyak. Kejadian ini tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi hampir tiap hari. Akhirnya, sang ayah pun berangan-angan dan merasa bahwa ini semua adalah buah dari ibadahnya yang tiada pernah putus.

Hari pun berganti, tahun pun mulai menampakkan usia senjanya. Sang anak pun akhirnya meninggal dunia tanpa sebab yang jelas. Suatu ketika sang ayah hendak melaut untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, sungguh teramat kaget ketika ia sudah tidak menjumpai lagi hidangan lezat yang biasanya ia santap bersama anaknya tiap pagi saat ia mulai menjalankan aktivitas melautnya. Hasil tangkapan ikan pun tidak seperti biasanya, bahkan kembali seperti dulu atau bahkan tidak dapat ikan sama sekali. Ia pun mengadukan nasib kepada Sang Pencipta, “Tuhanku, apa salahku sehingga nikmat yang biasanya kami terima tak kami terima lagi.”

Tuhan pun menjawab pengaduannya lewat jalur mimpi. Saat ia sedang terlelap tidur, ia tiba-tiba bermimpi ketemu anaknya dan sang anak pun berujar kepadanya. “Ayah, hidangan dan segala nikmat yang sempat kita nikmati berdua kala itu semata karena barokah ikan yang kita lepaskan.” Tak lama setelah itu, sang ayah pun bangun dari tidurnya dan akhirnya tersadar bahwa ternyata semua keanehan itu berasal dari sebab melepaskan seekor ikan yang dianggap berdzikir kepada ALLAH SWT.

Subhanallah…….

Lalu, masihkan kita membanggakan nilai ibadah kita dan menyepelehkan sesuatu yang kelihatan kecil tapi justru nilai keutamaannya lebih besar dari yang secara kasat mata kelihatan besar? Itulah rahasia Allah. Ibadah itu sangat luas, kita bekerja dengan niat menolong agama Allah juga termasuk ibadah, atau sebaliknya, kita beribadah salat atau zakat bisa-bisa malah mendapatkan dosa karena niat kita bukan ibadah atau karena Allah SWT, tetapi karena untuk mendapatkan pujian. Semoga kita menjadi orang yang selalu mampu menata niat untuk ibadah di jalan ALLAH SWT. Amin amin amin