Ala Santri; Penting Manut Guru

 

4686101613295689513

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS Atthalaq: 3)

Kutipan ayat tersebut saya rasa cocok dengan kejadian yang saya alami kemarin. Alquran kebenarannya pasti 100%, salah satu tugas kita adalah mengimani kebenaran alquran itu sendiri serta isi yang terkandung di dalamnya.

Sore kemarin, tepatnya 16 Maret 2018, saya kebetulan ada janji dengan Habib Abdullah Almuchdor, salah satu guru besar Tarim Yaman, yang kebetulan sedang berada di Indonesia. Sekitar pukul 4 saya diminta datang ke sana dan ditunggu di kediaman beliau. Singkat cerita, saya sampai di depan rumah beliau dan dipersilakan masuk oleh putra beliau. Ternyata…..

Saat itu ada 2 orang lagi dengan kegiatan yang berbeda. Dua-duanya sama-sama berbada tambun dengan pekerjaan mereka masing-masing. Di depan teras beliau, salah satu dari tamu beliau ini sedang ngepak atau membenahi buku-buku kecil yang hendak dia bawa ke pesantrennya. Saya pun penasaran, siapakah gerangan dia dan benar saja dia adalah santri utusan dari Habib Sholeh Banyuwangi yang diutus untuk mengambil kitab Basyairul Khoirot dari Habib Abdullah. Kurang lebih ini sholawatnya:

Posted by Al Ukhuwah Wal Ishlah on Wednesday, May 12, 2010

Saya persingkat saja ceritanya dan sampai kepada pemuda yang diutus oleh Habib Sholeh untuk mengambil buku ini. Saya kebetulan ada di sana dan bercengkerama agak lama dengan Habib Abdullah, hingga akhirnya pemuda tambun ini pun mau berpamitan pulang ke Banyuwangi dengan membawa buku sholawat tadi. Saya pun sama, keperluan saya sudah selesai dan saya harus beranjak pulang.

Saya perhatikan pemuda itu dari belakang yang kebetulan dia keluar duluan dan akhirnya kita berada pada baris yang sama di depan rumah Habib Abdullah. Saya pun bertanya kepada dia, ke mana dia hendak pergi. Dia akan kembali ke Banyuwangi untuk menyampaikan amanat gurunya itu.

Saya pun menawarinya untuk mengantarnya ke terminal bus, yang kebetulan searah dengan rumah saya. Awalnya pemuda ini sungkan dan saya paksa saja karena kasihan juga kalau dia jalan atau naik becak yang lumayan jauh dari kediaman Habib Abdullah.

Sesaat setelah dia dan saya masuk mobil, hujan deras nan lebat pun turun. Dia pun sepertinya tampak kebingungan dalam mobil dan menanyakan suatu daerah di Pasuruan. Saya pun langsung menjawabnya, tidak usah mencari daerah itu, pulang saja lebih baik. Dia keukeuh mau ke sana dan akhirnya saya pun bertanya kenapa dia ngotot mau ke sana. Ternyata, dia mau berhutang uang kepada teman pondoknya. Saya pun tersenyum kecil dalam hati dan kembali bertanya, “memangnya berapa mas ongkos ke Banyuwangi dari sini?” “60 ribu”, jawab dia.

Saya pun menggoda dia, “60 ribu saja ngutang mas, sudah naik bus saja nanti kan yo pasti sampai Banyuwangi meski gak pake uang.” Dia semakin bingung, mungkin begini @#@#@#@#@$#@$#%$%$#$#@#%$@#%$#%#$%#%$.

Saya pun berceloteh ringan tak berarti kepada dia, karena tentu saja ilmu tawakkalnya dia pasti lebih hebat daripada santri kebanyakan. Saya bilang kepada dia. “Mas, santri kalau sudah maqom sampeyan ini sudah pasti langka. sampeyan bayangkan, sampeyan tidak punya uang untuk kembali ke Banyuwangi dan akhirnya sampeyan bisa pulang tanpa uang. Betapa tidak, saya ini lo kok juga tidak mengerti kok bisa ketemu sampeyan di kediaman Habib Abdullah. Sampeyan tahun hujan lebat ini, sampeyan lo kok yo gak kehujanan lantaran kebetulan lagi ada saya yang saya juga tidak mengerti kenapa saya ke sini. Ini semua pasti karena tingkat tawakkal sampeyan sudah di atas maqom sempurna. Sampeyan pasti cuma disuruh sama guru sampeyan tanpa dikaish sangu atau dipesan apa-apa kan? Dan sampeyan manut pasrah bongkoan???”

Jawabnya, “Iya”. Begitulah ilmu santri. Pokoknya manut guru dan kiainya, PASTI SELAMET. Allah SWT yang akan melebarkan jalannya, apa pun keadaannya. Semoga saya bisa belajar dari pemuda dan santri tambun ini. Amin amin amin.

Advertisements

Doa penghancur dan Mbah Yai Romli

download

سألتك يا غفار عفواوتوبة باقهر ياقهار خذ من تحيلا 
“Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu. Aduhai Dzat yang banyak mengampuni dosa-dosa. Ku mohon ampunan dan taubat. Dan dengan isim “qahr” yang Kau sandang, aduhai dzat yang maha memaksa, hancurkan orang-orang yang membuat reka-daya”

Bagi warga nahdliyin, doa tersebut di atas tentu saja tidak asing di telinga. Doa tersebut selalu terselip dalam setiap rangkaian acara istighosah. TAPI……………………………………………..

Jangan sembarangan membaca doa itu jika tidak tahu maksudnya. Kalau saya sendiri, saya tidak akan berani membaca doa itu meski saat sedang mengikuti istighosah. Alasannya sederhana, saya tidak diperkenankan untuk mengamalkan doa itu oleh kiai-kiai saya. Konon katanya, doa itu akan memunculkan sinar merah yang berarti petaka, atau jika suatu tempat dibacakan doa itu, tempat itu tidak akan bisa berkembang. Sebut saja pesantren, jika dibacakan doa itu, pesantren itu tidak akan berkembang. Begitu tandasnya dari kiai-kiai saya.

Saya pun selalu mewanti-wanti istri saya untuk tidak ikut membaca doa itu saat istighosah. Pernah suatu ketika, saya mengadakan majlis dzikir di Pasuruan, kebetulan saya tempatkan di tempat saya. Karena saya kurang tahu setting dzikir di Pasuruan, ternyata doa di atas selalu dilantunkan bahkan diulang-ulang. Benar sekali kata guru saya, sehari setelah acara, saya mengalami kecelakaan sepeda motor. Saya masuk ke kolong truk tronton, tetapi untungnya tidak terjadi apa-apa. Saya pun pulang dan merasa aman, selang beberapa jam setelah itu, saya terjatuh dari kursi kerja saya dan kakai saya terkilir. Alhasil, saya tetap mendapatkan bala’ menurut versi saya. Setelah kejadian itu, majlis dzikir itu saya ganti menjadi majlis waqiah, karena selain tidak menyinggung orang-orang di situ, juga untuk menyamarkan. Karena kalau saya menjelaskan perihal doa itu, mana mungkin orang Pasuruan yang terkenal kuat kesantriannya mau menerima penjelasan manusia yang kadang santri kadang bukan, ya saya ini. Saya ini seorang pebisnis kecil yang ingin jadi besar, sebesar-besarnya.

Lain cerita saya, lain pula cerita Mbah Yai Romli. Cerita ini tidak bisa ditiru. Alasannya sederhana, Mbah Yai Romli ini mursyid toreqoh dan kealiman serta kearifannya sudah di atas manusia rata-rata, jika beliau berani membaca ini, beliau sudah tahu risikonya dan akan kembali kepada siapa doa itu, selain mempertimbangkan segi mudhorot dan maslahat bagi kebanyakan orang.

Suatu ketika, ada seorang taipan China yang hendak mendirikan 8 gedung bioskop di depan pondok pesantren Rejoso. Tanah-tanah itu dibeli oleh taipan China itu dan digunakan sebagai tempat hiburan pertama di wilayah Jombang. Arus protes pun justeru tidak langsung datang dari Mbah Yai Romli, tetapi dari para tamu-tamu beliau yang merupakan para ulama jempolan pada zamannya. Mbah Yai Romli hanya mesem dan meminta bersabar. Sesekali menjelaskan bahwa itu hak dia membangun gedung bioskop di atas tanahnya sendiri. Para tamu itu pun nggerundel dan pikirannya belum sampai pada pikiran Mbah Yai Romli. Hingga pada puncaknya bioskop itu dibuka perdana.

Seperti yang kita tahu bioskop pada zaman itu, poster-poster maha besar pasti bertebaran di sekitar gedung, hingga ada poster yang memuat artis dengan setengah telanjang dan yang cenderung mengumbang aurat. Dari situlah beliau tidak tinggal diam. Beliau tidak menasihati si taipan itu secara langsung atau bahkan marah kepada si taipan itu. Beliau hanya meminta kepada Allah SWT, dengan dibantu oleh para santri beliau yang setia.

Hingga pada akhirnya, beliau menginstruksikan untuk membaca doa tersebut di atas bersama-sama dengan kaifiyah (tata cara) khusus beliau. Gemuruh doa itu bak angin kencang yang mampu merobohkan apa saja yang ada di hadapannya. Benar saja, saat bioskop perdana dibuka, tiba-tiba ada angin yang sangat amat kencang yang mampu merobohkan 8 gedung bioskop yang dibangun oleh taipan China tu. Aduhai rugi materi besar-besaran tentu saja.

Dari kejadian itu, si taipan pun mendapatkan hidayah. Dia masuk Islam setelah melihat kejadian itu. Dia rugi materi, tetapi dia sangatlah beruntung karena akhirnya dia menemukan mutiara Islam melalui kejadian yang akan selalu mempertebal imannya.

Wis ya, ojo ditiru, iku maqomi wali. Nek ndungo sing standar-standar ae koyo aku, contohne Robbana Atina dst….

رب فانفعنا ببرگتهم, واهدناالحسنی بحرمتهم

وأمتنا فی طريقتهم, ومعافاة من الفتن

Tugas Kuliah dan Mbah Yai Romli

P_20180315_031816Entah ini kebetulan, atau tidak, tetapi saya hanya mengutip tulisan dari buku yang sedang saya baca ini, yang disarikan dari dawuh Syaikh Abul Hasan Asyadzily

“Allah mencipta makhluk dengan sebuah misi ilahiyah. Oleh karena itulah Allah mempunyai pilihan dan takdir. Maka, seorang hamba yang membangun adab di hadapan sang pencipta selayaknya ridho atas pilihan dan takdir Allah.”

Kisah saya ini jangan ditiru, karena memang tidak ada yang perlu ditiru. Saya termasuk mahasiswa S2 yang malas, bukan malas tetapi sangat malas. Saat semua teman saya sudah lulus dan berjibaku dengan mainan baru mereka, saya masih berjibaku dengan thesis saya dan saat ini masih proses penyelesaian.

Saya sudah beberapa kali melobi sekolah-sekolah yang menjadi rujukan untuk penelitian saya, entah kenapa, semuanya menolak, ada juga yang tidak ada jawaban, sebelum akhirnya, saya memutuskan untuk melakukan penelitian di kampus-kampus yang bisa diteliti. Dan, dari sinilah saya kenal dengan Mbah Yai Romli berdasarkan cerita dan semakin penasaran dengan beliau.

Dari kuliah saya yang molor bertahun-tahun, setidaknya saya harus bisa menanamkan dalam jiwa kosong ini, menanamkan wejangan para ulama sufi seperti yang terkutip di atas. Sungguh, saya menemukan banyak kemudahan dalam proses penyelesaian thesis saya ini, di antaranya, dosen pembimbing saya yang sungguh sangat amat kooperatif dan membantu serta memudahkan urusan-urusan saya (semoga saja beliau tidak pernah melihat blog ini, karena pada intinya ujaran ini memang benar adanya dan tidak mengada-ngada atau ada maksud tersembunyi), lalu, saya dipertemukan dosen Unipdu dan juga guru lahir batin saya, sebut saja Pak Nurdin, yang sekilas saya perhatikan nyeleneh, dan setelah saya konfirmasi di warung pesantren, memang orangnya nyeleneh. Sungguh beliau orang yang memiliki banyak kelebihan tersembunyi, dan bonus yang terbesarnya adalah, saya mampu bersentuhan secara ruhani dengan muassis pondok yang berlokasi di Rejoso Jombang ini.

Awalnya, saya diberi masukan dan cerita mengenai Mbah Yai Romli oleh Pak Nurdin dan semakin hari, semakin saya penasaran, hingga saya menemukan buku di atas yang terpajang di pojok rak buku toko buku yang berlokasi di Tebu Ireng. Kok ora nyambung, Mbah Yai ada di Rejoso, tapi tiba-tiba ada Tebu Ireng. Ya, saya membeli buku itu di Tebu Ireng yang kebetulan saya bersama teman saya, Pak Anang jalan-jalan ke sana.

Saya sangat menyukai dunia sufisme yang saat ini sedang mengalami nisbat penyesatan dari orang-orang yang tidak percaya dunia tasawuf, dan sungguh tugas yang saya kerjakan di kampus UNIPDU ini mengantarkan saya kepada dunia yang saya sukai, meski saya pribadi belum berbaiat ke thoriqoh mana pun. Setidaknya, saya sangat mencintai ulama-ulama sufi pada zaman old dan zaman now. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan Mbah Yai Romli meski hanya mampu melihat kubur beliau. Mendengar dan menyaksikan sendiri karya-karya beliau, sungguh membuat saya merinding dan semakin penasaran.

Mbah Yai Romli adalah salah satu ulama sufi jawa yang disegani, dengan cerita-cerita mu’tabar yang sungguh di luar nalar. Tak hanya itu, beliau adalah murid kesayangan sekaligus menantu Mbah Yai Hasyim Asy’ari sang pendiri jamiyah Nahdlotul Ulama.

Wahai Tuhanku, maka berilah kami manfaat dengan keberkatan mereka.
Dan hantarkanlah kami kepada kemuliaan dan kebaikan dengan jalan menghormati mereka.
Dan matikanlah kami dalam jalan mereka
Dan lindungilah kami dari segala fitnah dunia 

Di balik kurma azwa; masuk Islamnya ketiga Yahudi

Cerita ini saya salin ulang dari cerita langsung dari guru saya, K.H. Salim Azhar, Ahad kemarin, 12 Maret 2017 saat saya sowan ke kediaman beliau yang berlokasi di Sendang Duwur. Beliaunya habis datang dari tanah suci. Sambil menikmati sepiring rawon yang begitu nikmat bersama beliau, kebetulan saya hanya memakan nasi, kuah, dan kerupuknya karena saya tidak memakan daging (sejak masih Tsanawiyyah). Rawon itu sungguh rasanya tidak biasa, rasanya sangat enak, panas sampai tidak terasa.

Yai Salim pun tiba-tiba menghadiahkan beberapa barang, yang sungguh tidak ternilai harganya, termasuk kisah kurma azwa yang baru saya ketahui detik itu juga. Saya sampai ndomblong sambil senyum-senyum mendengarkan cerita beliau. Selain kisahnya yang sangat menarik, seperti biasa, cerita itu sepertinya pas banget dibawakan oleh beliau, seperti mendengar lantunan maknani kitab falaq kala itu, saat waktu Aliyah dulu.

p_20170313_044228_sres.jpg

Hadiah kurma, air zam-zam, dan surban super spesial dari Yai Salim

Ada kisah di balik kurma azwa, dawuh Yai Salim. Kurma Azwa itu kurma yang istimewa selain harganya yang mahal (sekitar 80 real per kilo, tahun 2015 lalu), kurma azwa ini hanya ada satu di seantero dunia dan tidak bisa ditanam di mana-mana kecuali di tempat khusus yang ada di Madinah, selain juga bisa digunakan sebagai media penangkal sihir, dll. Yang menanam pun tidak sembarangan. Ada kisah yang sangat dahsyat di balik kurma azwa.

Saya pun penasaran karena setahu saya kurma azwa ini ditanam oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW saja. Beliau pun melanjutkan kisahnya. Dahulu kalau, saat Kanjeng Nabi hendak hijrah ke Madinah dari Makkah, beliau sangat dinanti oleh para sahabat yang sudah masuk Islam kala itu dan juga para kaum Yahudi yang penasaran dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Lalu ada 3 orang Yahudi yang bisa dikatakan iri dengki kepada Kanjeng Nabi, tetapi mereka bertiga ini mengetahui bahwa setiap rasul yang diutus oleh Allah SWT, pasti memiliki mukjizat.

Karena saking irinya, salah satu dari mereka pun mempunyai akal bulus untuk membuat kanjeng nabi ini malu atau gagal di Madinah. Mereka ingin menguji kenabian Kanjeng Nabi dengan meminta kanjeng nabi menumbuhkan sebuah biji kurma yang sudah dimasak (digodok) berulang-ulang oleh salah satu dari 3 orang Yahudi ini. Tentu saja, biji kurma tidak akan tumbuh karena sudah digodok atau dimasak. Ini sengaja dilakukan oleh ketiga orang Yahudi itu agar mereka bisa mempermalukan Kanjeng Nabi SAW.

Mereka bertiga mendatangi Kanjeng Nabi Muhammad SAW di kediaman beliau, di Madinah dan dipersilakan masuk oleh beliau. Salah satu di antara mereka menantang Kanjeng Nabi untuk menumbuhkan biji kurma yang dibawanya itu (biji kurma yang sengaja dibuat untuk mempermalukan Kanjeng Nabi SAW). Dia pun berseloroh, wahai Muhammad, kami tahu bahwa setiap nabi atau rasul yang diutus oleh Tuhanmu itu, akan dibekali dengan yang namanya mukjizat, lalu coba tunjukkan bukti kenabianmu dengan menumbuhkan biji kurma yang saya bawa ini?

Kanjeng Nabi pun mengambil biji itu, dan tiba-tiba Malaikat Jibril hadir dan membisiki Kanjeng Nabi Muhammad SAW bahwa kurma itu kurma yang digodok berulang dan pasti tidak bisa tumbuh kecuali dengan izin Allah SWT. Jibril pun berpesan kepada Kanjeng Nabi SAW bahwa insyallah kurma itu akan tumbuh atas izin Allah SWT. Bukan Nabi Muhammad kalau beliau tidak mampu mengislamkan siapa saja yang beliau temui.

Kanjeng Nabi pun berujur kepada ketiga Yahudi ini. Wahai para tamuku, saya akan menanam biji ini untuk kalian, tetapi ada bebarapa syaratnya.

  1. Saya yang menanam, dan kalian bertiga yang menyirami atau
  2. Kalian bertiga yang menanam dan saya yang menyirami
  3. Saya mohon apa pun yang terjadi setelah ini, kita tetap menjalin persahataban, jangan ada permusuhan di antara kita

Ketiga Yahudi ini pun bingung dan mikir-mikir. dan akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk memilih pilihan yang pertama. Kanjeng Nabi pun menanam biji kurma itu dan meminta ketiga Yahudi tersebut menyiraminya setiap hari.Sungguh dahsyat kesantunan Rasulullah, beliau mampu mengislamkan siapa saja sekaligus tanpa proses apa pun, tetapi beliau lebih memilih jalan yang santun dalam mengislamkan siapa saja.

Ketiga Yahudi itu pun rutin menyirami kurma yang ditanam Kanjeng Nabi tersebut dan dari hari ke hari, biji kurma itu tumbuh semakin besar. Subhanallah, ketiga Yahudi itu pun akhirnya langsung masuk Islam setelah mengalami kejadian itu.

Ternyata, kurma azwa yang terkenal seantero dunia itu punya kisah unik tersendiri, kurma ini tumbuh dari buah tangan Kanjeng Nabi SAW dan ketiga orang Yahudi yang akhirnya memeluk Islam. Semoga kita bisa meneladani beliau dalam berdakwa, santun dan tidak menjatuhkan, lembut dan tidak mengkafirkan, kalem dan tidak membid’ahkan.

Kisah ini saya salin langsung dari lisan K.H. Salim Azhar sebagai kenang-kenangan untuk saya pribadi dan semoga beliaunya berkenan. Semoga beliaunya selalu dalam lindungan Allah SWT.

Napak Tilas Sayyid Arief [Sejenak]

Sabtu ini, tanggal 7 Januari 2017, sungguh pengalaman pertama dan juga seperti memenuhi janji saya beberapa tahun lalu; saya akan mengunjungi tempat-tempat disemayamkannya para waliyullah di Pasuruan menggunakan kendaraan pribadi saya dan saya kendarai sendiri.

Sore itu selepas servis mobil, saya langsung menuju lokasi untuk untuk ziarah kubur ke Segoro puro. Di lokasi ini, ada tiga waliyullah penyebar agama Islam di daerah ini.

p_20170107_155355

Dari arah Probolingo

Jarak dari plakat ini menuju lokasi ada sekitar 2,5 km, jalan pelan saja mengikuti arah yang ada, nanti akan sampai di lokasi dengan sendirinya.

Akhirnya saya sampai di lokasi dan berhasil mengambil beberapa foto untuk saya abadikan. Kalau di tempat-tempat lain, pengambilan foto ini sangat terbatas. Kalau di Segoropuro ini, tidak ada juru kuncinya, sehingga bisa mengambil foto dengan bebas. Oya, kawan-kawan, sebaiknya tidak mengambil foto kalau tidak dengan niat yang jelas. Saya sudah izin dengan para penghuni di sana.

 

p_20170107_160835

Bagian bawah masjid – ini bagian tertinggi dari lokasi makam Mbah Sayyid Arif

p_20170107_161056

Ini angle dari atas ke bawah, lumayan turun-naiknya.

Saya pun ngashar sebentar di masjid ini dan melanjutkan perjalanan ke maqbaroh Mbah Sayyid Arif

p_20170107_161854

Jalan menuju makam

p_20170107_161916

Ini juga jalan menuju makam, kalau tengah malam lumayan seram, tapi bagi orang beriman, setan tak mempan

p_20170107_162124_bf

Pendopo makam Mbah Sayyyid Arif (Pintu Masuk)

p_20170107_163650_bf

Makam Mbah Sayyid Arif. Sekadar info, bapak yang duduk di sebelah saya tidak TIDAK SEDANG SHOLAT, beliau NGAJI ALQURAN. Jadi jangan suka menuduh yang bukan-bukan.

p_20170107_163736

Mas ini juga sama. Ada tulisan di sana; DILARANG TIDUR, SHOLAT, DLL DI MAKAM. Jika ada sebagian golongan yang mengatakan orang berziaroh ini sholat di kuburan, semoga cepat-cepat diberi hidayah. AMIN 100000X

p_20170107_163804

Gambar jelasnya, biar tidak salah paham 

Perjalanan pun lanjut ke makam Mbah Sayyid Abdurrahman. Lokasinya ada persis di bawah lokasi makam Mbah Sayyid Arif, seakan-akan menunjukkan kelasnya. Di makam Mbah Sayyid Abdurrahman ini, ada yang unik. Makam beliau ditumbuhi pohon yang sangat besar yang sudah berumur puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun, anehnya, tidak sedikit pun ada bagian makam yang retak. Subhanallah.

p_20170107_163846

Menuju lokasi 2 dan 3

p_20170107_164035

Penampakan lokasi Mbah Sayyid Abdurrahman dari atas

p_20170107_164054

Dari jarak agak dekat

p_20170107_164216

Inilah makam Mbah Sayyid Abrurrahman. Seperti yang saya gambarkan singkat di atas, di tengah-tengah makam Mbah Abdurrahman ditumbuhi sebuah pohon besar dan anehnya, tak sedikit pun makamnya retak atau pecah

p_20170107_164219

Dari sudut yang sama

p_20170107_164243

Dari sudut paling dekat

p_20170107_165241

Qosidah Salamullahi Ya Saadah ini diciptakan oleh Habib Abdullah bin Alwi Al Hadad. Qosidah ini biasa dibaca oleh para peziarah kubur di makam para Auliya 

Kadang saya sedih melihat kawan-kawan yang tidak benar-benar mengerti apa yang kami lakukan di makam para auliya, tetapi mereka sudah dengan tegas membuat gambar, lebih tepatnya mencatut gambar orang yang sedang berdiri di makam auliya dan dikelilingi orang yang duduk-duduk. Lalu, gambar itu diberi keterangan ‘Aliran sesat, sholat di kuburan’ Saya luruskan, para peziarah ini membaca doa ini sebagai penghormatan kepada auliya. Sekali-sekali masuk ke lokasi dan lihat sendiri, biar tidak selalu membuat berita hoax.

p_20170107_165251

Wahai tuanku, semoga salam (keselamatan) Allah tetap tercurah kepadamu – Kami hamba-hamba Allah datang kepadamu – Kami bermaksud bersentuhan dengan rohanimu dan mengharapkan berkahmu…………..

 

 

p_20170107_165533

Mushaf untuk para peziarah, biasanya membaca Yaasin dan tahlil

Acara napak tilas pun saya tutup dengan mengunjungi Mbah Kendil Wesi (Mbah Sonhaji) yang lokasinya persis berada di bawah makam Mbah Sayyid Abdurrahman

p_20170107_165830

Makam Mbah Kendil Wesi; sudah tampak bagus dan tidak menyeramkan seperti 3 tahunan yang lalu

p_20170107_165858

Penampakan dari dekat

كنت قد نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها فإنّها تزهد في الدّنيا وتذكركم الأخرة.
(أخرجه ابن ماجة 1-501

Artinya : “Dahulu aku melarang ziarah kubur, sekarang ziarahlah kalian semua karena sesungguhnya ziarah itu membuat kalian tidak tamak kepada dunia dan mengingatkanmu akan akhirat. (HR Ibnu Majah)

#bidah #sarkub #ziarahkubur #waliyullah #bid’ah #bid’ah #bid’ah #bid’ah #bid’ah

 

 

 

Perjalanan bertemu dua guru sejati

downloadSudah lama sekali tidak menulis di blog dan sebenarnya ingin menceritakan kisah yang mungkin sebagian orang menganggapnya sebagai cerita orang ora waras, tetapi cerita ini setidaknya bisa dijadikan bahan guyonan jika mau atau lucu-lucuan, tetapi saya menganggap mimpi saya ini benar adanya dan akhirnya saya menemukan teka-teki dalam mimpi itu.

Suatu ketika, kalau tidak salah sekitar 2 tahunan yang lalu, saya mengalami kejadian yang sungguh tak seorang pun ingin mengalaminya; diancam orang, dikirimi ‘hadiah’, sampai rumah dimaling orang dan semua itu dilakukan oleh orang yang mungkin sama atau atas dasar hasud. Saat saya sedang sakit keras dan memeriksakan diri ke RS setempat, ternyata tak satu pun penyakit yang terdeteksi dan akhirnya, saya pun beralih ke jalur lain; jalur doa dan alhamdulillah penyakit saya langsung sembuh total dan konon katanya, saya sedang dikerjai oleh seseorang. Dari kejadian ini, saya pun akhirnya dianjurkan untuk berguru kepada salah satu kiai di Mojokerto.

Masalah pun tak berhenti di situ, musuh saya semakin banyak. Tiap pagi kalau mau berangkat ke kantor, selalu dihadang oleh tetangga beserta teman-temannya yang memang sengaja ingin mencari gara-gara dengan saya. Seluruh teman-teman premannya diajak ke rumahnya hampir tiap pagi. Saya pun hanya cuek, secuek-nya dan singkat cerita, akhirnya rumah saya pun berhasil dibobol maling dan seluruh uang beserta HP saya hilang. Saya pun bingung, perasaan rumah ini pagarnya sudah penuh baik secara fisik dan non-fisik.

Saya pun langsung melaporkan kejadian ini kepada guru saya dan sepertinya setiap kejadian selalu ada hikmah setelahnya. Saya selalu yakin itu. Saya pun ingin membaiatkan diri sebagai murid dan santrinya secara utuh dan guru saya pun berkata demikian, ‘Mas Alex, ikhlaskan semuanya dan carilah guru lagi sampai ketemu.’

Ah, saya bingung, ini namanya mau jadi murid tetapi malah disuruh mencari guru. Saya pun mengiyakan dan mulai mencari-cari guru berdasarkan mimpi-mimpi yang berdatangan. Pernah suatu ketika saat malam tiba, saya didatangi oleh salah satu habib yang sangat terkenal di Pasuruan dan saat pagi itu juga, saya pun langsung ke kediamannya. Saya sowan ke sana dan dengan harapan, beliau ini yang kelak akan menjadi guru saya. Ternyata, hati ini tiada kecocokan.

Hari berlalu dan saya pun mimpi lagi. Kali ini, saya bermimpi anak kecil dan anak kecil ini mencari saya dan ketemu saya, lalu dia berujar, ‘Mas, dicari Gus Idris.’ Saya pun langsung ke kediaman Gus Idris dan benar saja, saya disambut anak kecil di sekitar kediaman Gus Idris Pasuruan dan diantarkan anak itu ke kediaman Gus Idris. Kejadian yang sama persis dengan yang terjadi dalam mimpi. Saya pun akhirnya bertemu dengan beliaunya dan lagi-lagi, tiada kecocokan dalam hati ini dan itu berarti, saya harus mencari guru lagi.

Lalu beberapa malam kemudian, saya mimpi menaiki sebuah gunung menggunakan sepeda motor dan tanpa diduga, sepeda motor saya jatuh dari gunung itu dan alhamdulillah, hanya sepeda motor saya yang rusak dan musnah, saya tidak apa-apa. Lalu, saya ditolong oleh dua orang yang tidak saya kenal sama sekali dan salah satu dari mereka membentak temannya, ‘Heh, jarno ae arek iki ojo ditulungi. Ben kapok. Engko lak iso ngadek-ngadek dewe.’ Kurang lebih artinya, Hai, anak ini tidak usah diperhatikan dan tidak usah dibantu. Biar dia rasakan. Nanti dia bisa berdiri sendiri.

Saya pun bergegas naik gunung itu lagi, dan ……… (bersambung)

 

Rumput di ladang kita, jauh lebih hijau!

Dalam balutan digitalisasi dunia seperti saat ini, mau menggetarkan sesuatu itu mudah sekali. Apalagi menggetarkan hati-hati yang sedang sakit! Itu perkara mudah, setidaknya itu menurut pandangan saya.

Kita punya apa, kita tinggal jepret dan share. Tak butuh semenit, gambar-gambar penuh keangkuhan itu tersebar ke media sosial yang kita kehendaki. Begitu gambaran singkatnya soal dunia digital saat ini. Tentunya tak melulu berdampak buruk, dampak baiknya pun sama-sama ada.

Ah kita lupakan sejenak dunia digital itu. Saya tak sedang ngomongin soal dunia digital karena semakin ke dalam, maka akan semakin terlihat kebodohan saya dalam hal ini. Sama pula ketika orang yang fanatik buta (buta beberapa kali) membicarakan presiden pilihannya. Yang berseberangan dengannya adalah musuh. Padahal, presiden itu milik bersama, yang pro dan kontra sama-sama berpresiden sama. Anehnya lagi, mereka-mereka ini bukan anak kecil atau SMA, mereka adalah orang-orang yang ber-IQ sangat tinggi (setidaknya ngakunya begitu). Semakin fanatik pro dan kontra, semakin terlihat gobloknya! Ayo move-on dikit aja.

Tiga paragraf tak karuan di atas itu mungkin pembuka judul yang kurang pas, tapi setidaknya begitulah gambaran perasaan saya. Tidak menentu dan susah ditebak. Kembali ke rumput di ladang kita. Kita tentu saja menginginkan kehidupan yang tenang dan damai. Andai kita tak punya apa pun, kita tetap tenang dan damai. Itulah kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan para kekasih Allah SWT pada zaman dahulu (meski sekarang pun masih kita jumpai orang-orang dengan maqom yang seperti ini).

Karena saya ini termasuk santri yang gagal; gagal mengikuti proses kelulusan Matan Aljurumiyah dan gagal-gagal yang lain (semoga saya mendapatkan ridho dari para guru dan kiai). Tulisan saya ini sebenarnya juga bisa dikatakan sebagai tulisan orang gagal paham. Tapi percayalah, cerita saya ini benar, walau saya ini orang gagal. Saat kita mendengar (ini berarti hanya mendengar dan tidak melihat sendiri) bahwa ada orang di luar sana yang profesinya sama dengan kita atau kemampuannya sama dengan kita tetapi mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih besar dari kita (jika hati kita sakit), kita merasa sakit hati. Kita menginginkan agar kenikmatan itu sirna darinya dan sebaliknya menghampiri kita. Atau dalam kasus lain, hanya kita membaca status Facebook atau status di media-media sosial lain dari teman-teman seprofesi kita yang kemampuannya menurut kita sama atau bahkan jauh lebih rendah dari kita, hati kita serasa heboh sendiri, teraduk-aduk seperti telur dadar. Apalagi teman-teman kita ini sangat pandai membuat pencitraan di dinding-dinding kesombongan. Update statusnya heboh, padahal kebenarannya 50%:50%, bisa benar-bisa salah. Lah yang lebih tahu siapa? Ya, yang update status itu. Lalu, kenapa kita heboh sendiri?

Kawan! Percayalah bahwa rumput di ladang kita itu jauh lebih hijau dan indah. Semakin kita tak memerhatikan ladang kita, semakin kita dijauhkan dari penampakan indahnya ladang kita. Kalau kita perhatikan ladang kita, kita perhatikan terus dan terus, kita siram, kita rawat, kita potong benalunya jika ada, kita rapikan, ladang kita pasti akan tampak subur. Tak hanya subur, ladang kita pun akan tampak asri dan indah. Nah begitulah gambarannya. Sebaliknya, saat kita lebih memerhatikan ladang orang lain, maka ladang orang lain itu akan semakin subur, indah, dan asri; jauh melebihi ladang kita yang kurang kita perhatikan. Analoginya, kita lebih memilih merawat rumput dan bunga di ladang milik orang lain daripada merawat milik kita. Percayalah kawan! Milik kita itu jauh lebih indah dan subur daripada milik orang lain. Cobalah untuk selalu memerhatikannya. Anda pasti akan segera menemukannya!