Belajar hidup dari Mak Ketan

Kira-kira, saya ini sedang apa?

Kurang lebih, saya sedang nyambi cangkruan dan menggoda mak ketan ini. Kebetulan, mak ini (sebut saja mak ketan, karena saya tanya nama beliau, beliau tidak berkenan menjawab) sedang lewat di depan masjid jami’ Al Anwar Pasuruan.

Obrolan pun dimulai dengan saya membeli 5 biji ketan seharga lima ribu (satu bungkus harganya seribu) dari beliau. Saya pun langsung sodorkan uang Rp100.000 dan mak ketan ini langsung mengembalikan uang itu kepada saya. Saya pun menolaknya dan meminta beliau untuk memegang uang itu, tapi beliau tetap keukeuh mencari kembalian uang itu.

Semua orang, termasuk bapak-bapak tukang becak pun dimintai tolong untuk bisa ditukari uang itu agar bisa mengembalikan uang saya. Sambil nderemil (berbicara tanpa arah) mak ketan ini menata dagangannya, dan akhirnya saya goda beliau untuk menunggu istri saya datang. Istri saya akan membawa uang pas. Beliau pun bersedia menunggu hingga istri saya tiba.

Dalam percakapan selama penantian itu, saya pun menggoda beliau. Mak, jenengan kok bisa awet muda begitu apa rahasianya, jenengan pasti umurnya 80 ke atas? (Bu, Anda kok bisa awet muda begini apa rahasianya, Anda umurnya sudah pasti di atas 80 tahun)

Mak ini pun akhirnya buka suara. Nak, nek kowe kepengen koyo emak, yo kudu rajin solat, ngaji, nek bengi ojo lali tahajud, terus jaluki nang masjid, gak usah rame-rame, gak usah kondo-kondo. Cukup kowe ae sing weruh. (Nak, jika kamu ingin seperti ibu, kamu harus rajin solat, ngaji, kalau malam jangan lupa tahajud, terus memintalah di masjid, tidak usah keras-keras atau berisik, cukup kamu saja yang tahu maksudmu).

Cerita pun berlanjut hingga zaman gestapu, tapi istri saya keburu datang sehingga saya memutuskan untuk pulang.

Setidaknya, berkumpul dengan orang-orang seperti inilah yang pada akhirnya akan memberikan obat hati untuk kita. Mak ini bicaranya hanya seputar dagangang yang harganya cuma 1000, selebihnya beliau berbicara melulu soal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla. Wis yo mak, mugo2 ketane laris manis semanis sing tuku haha

Advertisements

Aku tak butuh harta, tapi ridho-NYA

P_20170731_060928_HDR.jpg

Wah, jangan salah paham dengan judul postingan FB saya ini. Itu salah satu ujaran dari salah satu ustad ngaji yang saya temui sabtu siang kemarin, bukan saya, saya masih cinta dan butuh harta.

Jadi, ceritanya begini. Sabtu itu, saya sedang mood bersepeda ongkel dengan tujuan yang tidak jelas. Dalam perjalanan muter-muter itu, saya kepikiran salah satu guru ngaji di masjid Jami’ Pasuruan. Cuma penasaran sebenarnya, beliaunya ini pernah bilang rumahnya ada di sekitar SMPN 11 Gading Rejo, Pasuruan. Saya pun tanpa ba bi bu lansung meluncur ke sana sekalian mengukur jalan. Kira-kira, jarak dari rumah beliau ke masjid jami’ itu berapa kilo.

Saya tidak tahu berapa kilo, yang jelas kaki saya hingga senin pagi ini masih terasa jaremi karena efek sepeda ongkel sabtu kemarin. Saya simpulkan, jaraknya pasti sangat jauh. Saya pun mencari ke sana kemarin, bertanya kepada satu orang ke orang lain di sekitar SMPN 11 itu, dan akhirnya saya menemukan sebuah rumah super kecil, dengan jendela kaca yang sudah pecah-pecah, saya dekati rumah yang ada di dalam gang sempit itu hingga sepeda ongkel saya pun tidak bisa masuk. Saya pun akhirnya tiba di pintu rumah beliau dan saya dipersilakan masuk oleh istri beliau. Saat masuk pun, hati saya ini menjerit hebat (asline pengen nangis seketika itu tetapi saya tahan takutnya menyinggung perasaan beliau).

Saya perhatikan perabotan rumah beliau. Sungguh demi Allah beliau ini adalah guru ngaji termiskin (harta) dari guru-guru ngaji yang pernah saya jumpai. Almarinya pun sudah jebol tidak karu-karuan dan ruangannya pun sangat kecil. Antara kamar tidur dan dapur menjadi satu (Semoga Allah menkayakan beliau di dunia dan di akhirat kelak).

Saya pun diajak ngobrol santai, saya gunakan kesempatan ini untuk mengajukan pertanyaan berapakah yang dihasilkan dari hasil jerih payah mengajar ngaji beliau. Sontak saya langsung dimarahi, dan beliau berpesan ‘Mas, hidup ini kalau sudah tujuannya mencari ridho Allah, uang itu tidak ada artinya. Meski keadaan saya begini, saya senang dan bahagia.’ (dari versi terjemahan ujaran jawa beliau)

Dan masih banyak kekurangan-kekurangan beliau yang lain yang menurut saya itu adalah kehebatan luar biasa (saya tidak berani bercerita, karena inti dari cerita nyata ini adalah, saya ingin menyampaikan bahwa masih ada orang seperti yang ternash dalam alquran di bawah ini – setidak menurut versi saya).

Ustad Solekhan namanya, beliau masih tampak muda dan gagah meski usianya sudah menginjak 75 tahun. Tunggangan beliau pun bukan mobil apalagi sepeda motor, tetapi ongkel tua yang berhasil menaklukkan deru jalanan kota Pasuruan dan sekitarnya. Dan orang-orang seperti inilah yang seharusnya layak mendapatkan kehidupan layak dari siapa pun. Mohon doanya semoga beliau diberi kesembuhan dari penyakit yang beliau derita saat ini sehingga beliau bisa kembali mengajar kalamullah di masjid-masjid dan rumah-rumah para santri beliau.

Tak lekang oleh waktu

وَاخْتِمْ بِأَحْسَنِ خِتاَمٍ إِذَا دَناَ اْلإِنْصِرَامُ

وَحاَنَ حِينُ الْحِماَمِ وَزاَدَ رَشْحُ الْجَبِينِ

Sudahilah kami dengan sebaik-baik kesudahan, apabila hampir waktu untuk berpisah, Ketika hampir kepada maut dan menambahkan peluh di dahi.

p_20170212_051022.jpg

Semoga khusnul khotimah, semoga mendapatkan surga terbaik, semoga selalu ada di hati anak-anaknya. Ribuan siang dan malam pasti berganti, cintaku takkan terganti, doaku takkan berhenti, harapanku akan selalu tergantung di langit tertinggi, wahai sang motivator hati.

 

Belajar dari sang pencerah

Di suatu pagi yang cerah, saat langit tak sama sekali menampakkan kegalauannya, saat matahari tersenyum lebar kepada semuanya, dan suara riuh riang kendaraan bak menyambut pesta pernikahan sang primadona, aku berkunjung ke salah satu rumah kolega, yang jaraknya kira-kira 3 atau bahkan 4 km dari rumah.

Wajahnya yang selalu ceriah dan cerah, yang tak menampakkan raut durjana, selalu senyum ceria menyambut sahabatnya yang mengetuk pintu rumahnya. “Ah, kawan, aku senang sekali bertemu engkau di pagi hari ini”, sahutku dengan penuh gembira. Ia pun hanya tersenyum ikhlas dan tak menampakkan ekspresi apa-apa. Ia hanya datar-datar saja. “Ah, kawanku ini sungguh bersahaja”, gumamku dalam hati ini.

Kawanku ini adalah seorang pengusaha, bisa dibilang pengusaha yang sukses di bidangnya. Ia menggeluti usahanya 5 tahun yang lalu, sama seperti saat aku menggeluti usahaku ini.Bedanya, nasib dia lebih beruntung dariku, meski sebenarnya membandingkan hal ini tidak baik juga. Semua sudah diatur oleh yang kuasa. Ia memiliki puluhan pegawai di rumahnya yang indah itu, kurang tahu juga apakah ia memiliki kantor di luar, mungkin ada, tetapi aku tidak berani menanyakan lebih jauh.

Aku dipersilakan duduk di rumahnya yang juga kantor itu. Aku melihat langsung semua aktivitas karyawannya itu, dari A sampai B, ia pun dengan cueknya ngobrol denganku, berbicara apa saja yang seolah ia tahu apa yang aku mau. Dari cara ia berbisnis sampai bagaimana ia memperlakukan para karyawannya, ia kupas tuntas dengan sesekali menyeruput kopi yang dihidangkan istrinya.

Saat aku memerhatikan para karyawannya, ada satu atau dua karyawan yang tampak bagiku seperti bermain-main saja. Aku hanya memerhatikan, tanpa bertanya-tanya. Aku perhatikan lagi sekitar ruang kerja karyawannya, sambil sesekali menyeruput kopi buatan istrinya. Kopinya sungguh mantap! Tak ada sistem finger print atau sejenisnya seperti kantor-kantor pada umumnya. Padahal, usahanya cukup terbilang maju dan resmi. Aku pun semakin penasaran, dan rasa-rasanya pikiran ini selalu terbayang ingin bertanya, ya bertanya apa saja tentang keunikan kantornya ini.

Aku seruput kopi itu dengan penuh rasa galau, galau ingin bertanya cara ia memperlakukan para karyawannya. “Ah, sudahlah. Buat apa aku berpikir yang tidak-tidak serta menanyakan yang tidak-tidak, pula?”, hatiku berontak. Aku pendam pertanyaan-pertanyaan itu, namun semakin aku pendam, semakin pertanyaan-pertanyaan itu menyiksa batinku. Pertanyaan-pertanyaan itu bak udun yang mau mberojol. Semakin ditekan, semakin mau keluar seluruh isinya.

Aku akhirnya memberanikan diri untuk mengajukan satu pertanyaan, dan lagi-lagi, aku terpukau dengan jawaban kawanku ini. Saat aku menanyakan kenapa pegawai yang tampak main-main itu dibiarkan saja meski hal itu tentunya mengganggu kegiatan produksi di tempatnya. Ia malah bercerita masa lalunya saat ia masih menjadi seorang pegawai.

Dahulu kala, ia adalah seorang pegawai yang bekerja di salah satu instansi milik pengusaha Tiongkok. Seperti pegawai pada umumnya, ia pun terkadang iseng, kadang pula jahil. Pernah juga minta izin yang tidak masuk akal kepada bosnya itu. Pernah juga, terkadang, sesekali berbohong dan membuat kesalahan, tetapi anehnya bosnya pada waktu itu seperti terbius olehnya. Bosnya selalu mengiyakan apa yang diujarkannya. Saat ia bilang, ia mau ada acara aqiqoh untuk anaknya yang berada di luar kota, bosnya pun tidak melarangnya untuk izin tidak masuk kerja, padahal jelas sekali bahwa bosnya lebih berhak atasnya dan banyak lagi kesalahan-kesalahan lain yang ia perbuat pada waktu itu terhadap bosnya yang kebetulan beda keyakinan dengannya. Ia bercerita kepadaku sambil mengenang dan menghayati.

Ia pun melanjutkan ceritanya lagi, seolah-olah sambil menasihatiku secara tidak langsung. Aku sungguh terbawa oleh cerita-ceritanya dan ia pun menutup ceritanya dengan nasihat tidak langsung yang akan selalu aku kenang. Ia menjawab pertanyaan yang aku ajukan tadi dengan tulus mengatakan, “Kawan, biarkanlah pegawai-pegawaiku begitu, itu bukan salah mereka. Itu mungkin salahku dulu yang ditampakkan sekarang dan semoga apa yang dilakukan pegawaiku itu bisa menjadi penebus kesalahan-kesalahanku saat aku dulu menjadi pegawai. Jikalau pegawaiku meminta izin aku untuk melakukan apa saja, entah itu kegiatan pribadi atau kegiatan keagamaan atau apa pun, meski saat jam kerja berlangsung dan aku lebih berhak atasnya, aku akan selalu terbuka dan memberinya izin, apa pun yang pegawai itu lakukan. Aku tidak akan menegur atau bahkan melarang atau bahkan mengurangi gaji dan menambahkan jam kerjanya di lain waktu. Biarkan semuanya diganti oleh Allah SWT dengan kebahagian-kebahagian yang lain.”

Masya Allah, sungguh jawaban yang aku sendiri tidak bisa terima, tetapi begitulah kawanku itu. Aku belajar dari sang pencerah ini. Semoga kita selalu dalam bimbingan Allah SWT.

Syiir tanpo asal; penakluk si dungu nan pemalas

Dulu, kalau tidak salah sekitar 20 tahun silam, ada salah seorang Kiai, sebut saja nama beliau adalah Kiai Zainuri. Gayanya yang khas dan penampilannya yang terbilang sangat sederhana membuat beliau tampak seperti orang yang biasa-biasa saja. Orang yang tidak pernah bertemu beliau pun akan menyangka sama dan pasti akan mengajukan pertanyaan yang sama, “apakah dia itu seorang Kiai?”.

Ya, beliau adalah salah satu Kiai yang cukup sepuh di kalangan sekolah kami. Keilmuan beliau sangat tampak sebenarnya, cuma penampilannya yang menampakkan beliau seperti orang yang biasa-biasa saja. Ngomong-ngomong tentang kesabaran beliau, saya sangat kagum dan acungi jempol. Saya menyaksikannya sendiri.

Saat itu, kelas saya kebetulan kelas super rame dan susah dikendalikan, ditambah lagi dengan sekumpulan siswa yang terbilang kurang berminat untuk pelajaran Nahwu dan (maaf) cenderung menyepelehkan pelajaran tersebut. Saya pun tergolong siswa yang rame itu dan siswa yang tidak pernah hafal kalau disuruh menghafal bait-bait Alfiyah dan kiasan-kiasan saraf. Tiap minggu, saya harus menghafal dobel karena bait-bait sebelumnya gagal saya hafalkan. Yang membuat kelas semakin membosankan, tentunya tulisan-tulisan beliau yang sangat  banyak dalam bentuk pegon dan sangat cepat dihapus. Pusing tentu saja iya.

Dalam suatu waktu, ketika pelajaran Nahwu berikutnya dimulai, seluruh teman saya ramai sendiri. Kiai ini menjelaskan tentang kaidah-kaidah Nahwiyah dan tak ada satu pun yang mendengarkan. Beliau pun tak marah sama sekali. Beliau hanya berhenti sejenak dan menatap tajam ke arah teman-teman. Saya sempat memerhatikan sorotan mata beliau dan seketika itu pula saya terhenyak dan langsung terdiam sendiri. Teman-teman saya pun masih saja ramai dan tidak sadar bahwa sang Kiai sedang memerhatikan mereka.

Tak lama setelah itu, beliau duduk di meja kayu kuno yang ada di depan kelas sambil memberikan nasihat singkat. Nasihat itu pun tak diucapkan melalui lisan beliau, tetapi melalui tulisan singkat yang bunyinya kurang lebih seperti di bawah ini:

إن المعلم والطبيب كلا هما  لا ينصحان إذاهما لم يكرما

Janganlah engkau mengharapkan nasihat dari gurumu dan seorang dokter jika engkau tak mampu memuliakan mereka–
(mohon maaf jika ada kesalahan arti karena ini saya terjemahkan secara bebas. Saya bukan ahli bahasa Arab apalagi bahasa syiir yang membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi)

Setelah menuliskan ini, beliau pun langsung keluar dari ruangan kelas tanpa berkata apa pun. Seketika itu pula, hati saya terenyuh dan mata saya meneteskan air mata tanpa sadar. Masih, teman-teman saya ini ramai sendiri seperti pasar.

Dari kejadian ini, saya pun menjadi giat mencari apa maksudnya syiir itu, apakah maksudnya sama dengan pemahaman awal saya saat membaca tulisan itu pertama kali di papan. Akhirnya, jawaban itu saya temukan di kitab Ta’limul Mutaallim dan benar saja, maksudnya seperti yang saya tangkap di awal.

Kejadian itu sungguh seperti sebuah momentum penting atau bahasa kerennya milestone bagi kehidupan saya. Saya yang waktu itu sangat goblok dan malas, langsung tersadar dan merasakan kerinduan yang luar biasa untuk dapat terus diajar beliau. Ya, meski saya tetap goblok dan bodoh, kejadian itu membuat saya berhijrah dari kehidupan yang penuh kebodohan dan kekosongan. Betapa tidak, kalau ditanya siapakah murid yang paling goblok di kelas, jawabannya pasti mengarah ke saya. 😀

Kejadian itu sungguh aneh. Seketika itu juga, saya mulai suka dengan dunia ulama. Seketika itu juga, beberapa hari setelah kejadian itu, saya langsung sowan ke beberapa ulama sepuh yang kebetulan juga guru-guru saya di Madrasah Tsanawiyah. Saya pun langsung berkunjung ke dhalem para ulama ini satu per satu guna meminta restu dan doa mereka. Saya pun didoakan.

Ternyata, doa dan keikhlasan guru-guru dan kiai-kiai kita mampu menggetarkan arasy untuk murid-murid mereka yang mau bertawadhu’ dan taat apa pun keadaannya. Semoga harta kita, ilmu kita, dan keturunan kita menjadi jembatan bagi kita untuk bisa selalu dekat dengan para ulama. Amin

Rumput di ladang kita, jauh lebih hijau!

Dalam balutan digitalisasi dunia seperti saat ini, mau menggetarkan sesuatu itu mudah sekali. Apalagi menggetarkan hati-hati yang sedang sakit! Itu perkara mudah, setidaknya itu menurut pandangan saya.

Kita punya apa, kita tinggal jepret dan share. Tak butuh semenit, gambar-gambar penuh keangkuhan itu tersebar ke media sosial yang kita kehendaki. Begitu gambaran singkatnya soal dunia digital saat ini. Tentunya tak melulu berdampak buruk, dampak baiknya pun sama-sama ada.

Ah kita lupakan sejenak dunia digital itu. Saya tak sedang ngomongin soal dunia digital karena semakin ke dalam, maka akan semakin terlihat kebodohan saya dalam hal ini. Sama pula ketika orang yang fanatik buta (buta beberapa kali) membicarakan presiden pilihannya. Yang berseberangan dengannya adalah musuh. Padahal, presiden itu milik bersama, yang pro dan kontra sama-sama berpresiden sama. Anehnya lagi, mereka-mereka ini bukan anak kecil atau SMA, mereka adalah orang-orang yang ber-IQ sangat tinggi (setidaknya ngakunya begitu). Semakin fanatik pro dan kontra, semakin terlihat gobloknya! Ayo move-on dikit aja.

Tiga paragraf tak karuan di atas itu mungkin pembuka judul yang kurang pas, tapi setidaknya begitulah gambaran perasaan saya. Tidak menentu dan susah ditebak. Kembali ke rumput di ladang kita. Kita tentu saja menginginkan kehidupan yang tenang dan damai. Andai kita tak punya apa pun, kita tetap tenang dan damai. Itulah kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan para kekasih Allah SWT pada zaman dahulu (meski sekarang pun masih kita jumpai orang-orang dengan maqom yang seperti ini).

Karena saya ini termasuk santri yang gagal; gagal mengikuti proses kelulusan Matan Aljurumiyah dan gagal-gagal yang lain (semoga saya mendapatkan ridho dari para guru dan kiai). Tulisan saya ini sebenarnya juga bisa dikatakan sebagai tulisan orang gagal paham. Tapi percayalah, cerita saya ini benar, walau saya ini orang gagal. Saat kita mendengar (ini berarti hanya mendengar dan tidak melihat sendiri) bahwa ada orang di luar sana yang profesinya sama dengan kita atau kemampuannya sama dengan kita tetapi mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih besar dari kita (jika hati kita sakit), kita merasa sakit hati. Kita menginginkan agar kenikmatan itu sirna darinya dan sebaliknya menghampiri kita. Atau dalam kasus lain, hanya kita membaca status Facebook atau status di media-media sosial lain dari teman-teman seprofesi kita yang kemampuannya menurut kita sama atau bahkan jauh lebih rendah dari kita, hati kita serasa heboh sendiri, teraduk-aduk seperti telur dadar. Apalagi teman-teman kita ini sangat pandai membuat pencitraan di dinding-dinding kesombongan. Update statusnya heboh, padahal kebenarannya 50%:50%, bisa benar-bisa salah. Lah yang lebih tahu siapa? Ya, yang update status itu. Lalu, kenapa kita heboh sendiri?

Kawan! Percayalah bahwa rumput di ladang kita itu jauh lebih hijau dan indah. Semakin kita tak memerhatikan ladang kita, semakin kita dijauhkan dari penampakan indahnya ladang kita. Kalau kita perhatikan ladang kita, kita perhatikan terus dan terus, kita siram, kita rawat, kita potong benalunya jika ada, kita rapikan, ladang kita pasti akan tampak subur. Tak hanya subur, ladang kita pun akan tampak asri dan indah. Nah begitulah gambarannya. Sebaliknya, saat kita lebih memerhatikan ladang orang lain, maka ladang orang lain itu akan semakin subur, indah, dan asri; jauh melebihi ladang kita yang kurang kita perhatikan. Analoginya, kita lebih memilih merawat rumput dan bunga di ladang milik orang lain daripada merawat milik kita. Percayalah kawan! Milik kita itu jauh lebih indah dan subur daripada milik orang lain. Cobalah untuk selalu memerhatikannya. Anda pasti akan segera menemukannya!

Ternyata, saya lebih goblok daripada pedagang kaki lima!

Mbah SuwitoPernah melihat pemandangan seperti ini di daerah sekitar Anda? Atau pemandangan lain yang lebih menarik dari ini? Ya, mungkin pemandangan seperti ini sudah biasa bagi sebagian orang dan bisa jadi luar biasa bagi sebagian orang yang lain. Tetapi, saya tak sedang membahas si penjual nasi goreng atau bahkan rombongnya. Saya mau membahas sesuatu yang lain. Sesuatu yang menampar saya seketika itu juga!

Malam itu, saya sedang ingin jalan-jalan menyusuri alun-alun kota Pasuruan. Saya ingin menikmati suasana nightlife yang sebenarnya dari kota Pasuruan. Jangan dibayangkan seperti kehidupan bebas lepas seperti di lokasi-lokasi lain. Nightlife di sini sangat berbeda sekali dengan yang mungkin ada di daerah-daerah lain. Banyak sekali saya jumpai warung-warung aneka makanan dan minuman ringan seperti wedang kopi, dll. Oh ya, tahu tek, soto ayam, nasi goreng, dan aneka menu khas Indonesia lainnya juga ada. Jumlahnya pun tidak hanya satu dua. Ada beberapa penjual dengan jenis makanan yang sejenis. Tak jarang pula, jaraknya hanya sekitar 5 sampai 10 meter tiap rombong, bahkan ada yang lebih dekat lagi. Kebetulan, saya sedang lapar saat itu dan mampir di salah satu warung kopi sambil menikmati aneka gorengan yang dijual. Hampir 2 jam saya duduk-duduk di sana sambil memerhatikan kegiatan para penjual dan pembeli di sana. Saya perhatikan betul dan saya mendapati mereka saling bertegur sapa, tidak saling memfitnah, bermusuhan, apalagi bertengkar. Bahkan, sesama penjual pun saling bertukar sapa, ngobrol, guyonan, terkadang pula saling tukar uang kembalian saat ada pembeli yang jajan menggunakan pecahan uang yang lebih besar.

Hai tunggu sebentar! Persis di sebelah saya adalah pedagang tahu tek dan sebelahnya lagi juga pedagang tahu tek. Lo, mereka kok tidak bermusuhan ya? Tidak pula tidak saling menyapa. Aneh!! Jualannya sama, jaraknya sama-sama dekat (saling bersebelahan). Pengunjungnya pun tidak sama banyak! Harganya pun seporsi beda-beda. Hebat sekali mereka. Tunggu-tunggu! Kenapa pedagang tahu tek itu ke rombong satunya. Sedang apa dia? Oh, ia mau menukar uang karena tidak ada kembalian untuk pelanggannya. Lo lo lo, kok mereka senyum-senyum saja. Pasti kurang waras mereka ini! Jualannya sama. Pelanggannya tidak sama banyak, kok mau-maunya si penjual yang sepi pelanggan menukari uang untuk pesaingnya?? Waduh! Aneh juga! Kok bisa ya?

Saya benar-benar kagum sama mereka ini. Bisa dibilang, di atas kertas, pola pikir strategis mereka jauh lebih rendah daripada saya, tetapi mereka mampu menempatkan diri mereka dengan sangat baik di antara sesama mereka. Mereka tidak sikut-sikutan, tidak saling memfitnah, tidak saling bermusuhan, atau bahkan bertengkar. Sedangkan saya?

Akhir-akhir ini saya melihat kejadian yang cukup menggelitik bagi saya. Ya, sebenarnya tidak pantas saya ceritakan di sini, tetapi saya ini sedang iseng atau dengan kata lain, saya sedang melakukan pencitraan (versi saya). Anggap saja kejadian ini melibatkan orang-orang yang bisa dibilang sangat terpelajar. Singkat kata, lebih hebatlah daripada pedagang kaki lima. Kerjanya saja pakai otak, tidak pakai otot! Nah, si A membisiki si B tentang xxxx, si B membisiki si C tentang xxxx, si C membisiki si D tentang xxxx, sampai si X. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang menanggapinya biasa-biasa saja, serta ada pula yang berontak.

Saya memerhatikan kejadian ini lucu sekali. Saya pribadi tidak ambil pusing dengan kejadian ini, karena sudah biasa. Saya pun tidak mau mencampuri urusan dapur orang lain. Karena saya tidak tahu pasti sebenarnya dapurnya seperti apa. Saya tidak pernah pergi ke dapur mereka dan memeriksa barang mereka satu-satu.

Kembali lagi ke penjual aneka makanan dan minuman di atas. Mereka berjualan makanan yang sama, saling berdekatan, dan dengan jumlah pelanggan yang tidak sama banyak. Mereka baik-baik saja. Tidak ada perselisihan di antara mereka. Lalu, siapakah yang lebih goblok sebenarnya? Saya atau penjual-penjual itu?

Nah, saya akhirnya bermuhasabah (bahasa kerennya berkontemplasi), bahwa terjadi sikut-sikutan itu karena kita kurang percaya dengan petugas pembagi rezeki. Rezeki kita sudah ada wadahnya sendiri-sendiri. Pekerjaan boleh sama, apa pun boleh sama, tetapi ingatlah bahwa takaran rezeki kita itu beda-beda. Nah, saya akhirnya sadar dengan ini. Lalu, apa selanjutnya? Mari sudahi polemik ini. Malu sama yang punya rombong. hehehe