Kawan, masih ingatkah kalian?

Pada suatu siang yang tak begitu panas, dengan selingan angin semilir yang sepoi-sepoi, sehingga mampu menghanyutkan siapa saja untuk tenggelam bersama desahan napas tanpa mata terbuka, sungguh satu siang itu terasa aduhai.

Secara tak sengaja, saya melihat seorang anak yang usianya sekitar 10 atau 12 tahun seperti dalam gambar. Saya ambil fotonya tanpa sepengetahuannya dan saat melihat-lihat foto ini, angan dan memori saya pun terbang jauh ke belakang, terbang jauh ke masa lampau, sekitar 25 tahunan yang lalu, saat saya masih seusia anak ini.

Dulu, tidak ada yang namanya tablet atau HP, atau bahkan komputer, eh mungkin ada tapi masih tidak se-mainstream sekarang ini. Mainan kami pun sepele. Kalau tidak main loncat tali, ya main kelereng, atau nyetip cicak di pasar, atau main tembak-tembakan. Begitulah masa kecil kami waktu itu. Dunianya sangat jauh beda dengan dunia anak-anak saat ini. Tentu saja, membandingkan hal semacam ini juga kurang bijak, karena dunia tentu saja tidak berjalan mundur. Sebaliknya, dunia semakin ke depan dengan berbagai teknologinya yang semakin memudahkan dan menyibukkan manusia.

Selain mainan-mainan seperti yang saya sebutkan di atas, kami pun tak jarang melakukan petualangan laut dan darat. Memanjat pohon, menanjaki perbukitan, atau bahkan trekking menyusuri desa-desa saat Jumat tiba. Tak ketinggalan pula, kami juga tak jarang menyusuri areal persawahan dan rawah-rawah hanya untuk mencari ikan gatul dan sejenisnya, atau bahkan mencari lempung. Permainan kami sebenarnya tidak begitu njelimet, simpel banget tetapi sungguh sangat terkesan dan terkenang.

Selama petualangan itu, kami selalu berkelompok dan kelompoknya ya itu-itu saja. Teman-teman sekolah sepantaran. Ada Budi Hartono, ada Yono Hermansyah, ada Mochammad Zuliyanto, ada Didik Wahyono, dan teman-teman yang lain yang tidak bisa saya sebut satu-satu. Nah, di antara teman-teman ini ada satu teman yang sangat nyentrik dan sepertinya selalu dinaungi Dewi Fortuna. Kami biasa memanggil dia dengan nama Yanto, rambutnya yang agak keriting dan selalu parlente di antara kami. Ke mana pun dia bermain, dia pasti menjadi raja dalam permainan itu. Ke mana pun dia mencari sesuatu, dia pasti menemukan apa yang dicari. Beda lagi dengan Budi. Budi ini seperti ketua geng di kelompok kami. Siapa saja selalu ingin dekat dengannya. Siapa saja ingin berteman dengannya. Dia seperti dirigien dalam kelompok kami. Kalau dia tidak berangkat, maka seluruh rombongan tidak akan berangkat. Dan ada teman-teman yang lain dengan keunikannya masing-masing.

Masa kecil kami sungguh sangat sayang untuk dilupakan. Kami selalu mandi bersama di tepi laut setelah pulang sekolah, dan jika ada kesempatan, kami menyusuri areal persawahan yang bukan merupakan ‘tanah jajahan’ kami. Ya, tanah jajahan karena kami sejatinya adalah anak para nelayan. Kulit hitam, rambut merah, pipi yang memancarkan silau garam habis mandi di laut. Begitulah kami. Simpel dan tidak neko-neko, tetapi sungguh kenangan itu takkan kami lupa sedikitpun. Bahkan saya yang sudah berusia 34 tahun ini pun, tak sepenggal cerita dari masa kecil kami yang tercecer. Kawan-kawan saya, Budi, Didik, Yanto, Yono, dan semuaya semoga kita ingat kisah ini. Semoga kisah yang tertulis tak sempurna ini mampu membangkitkan kisah klasik nan indah yang pernah kita lalui. Semoga kalian semua selalu dalam lindungan Allah SWT.

Advertisements

Bu Zu, aku datang memenuhi panggilanmu

Pagi itu, sepulang dari memeriksakan diri dari penyakit yang tak diundang ini, terlintas sosok Bu Zu di benakku. Rasa-rasanya bayangannya seperti menggelayut di pikiran dan tak mau turun atau sirna begitu saja. Aku pun mencoba mengalihkan bayangan akan Bu Zu ini dengan memutar murottal di mobilku sambil komat-kamit mengikuti lantunan itu. Ah! Masih saja, aku teringat isi SMS yang dikirimkan ke aku oleh Bu Zu sehari sebelumnya.

Bu Zu ini adalah salah satu guru TK-ku. Ya, sekitar 29 atau 30 tahun yang lalu, beliau pernah mengajariku. Mengajariku huruf A B C D dan Alif, Ba’, Ta’ serta keterampilan-keterampilan yang lain. Nahasnya, aku kemarin lupa tidak minta foto beliau, sehingga cerita ini terdengar seperti hoax. Usia beliau yang sudah terbilang sepuh, tetapi semangat mengajar dan belajar beliau ini masih sungguh luar biasa. Betapa tidak, beliau pernah lo kuliah lagi meski dalam usia beliau yang (maaf) udzur. Ayo semangat Bu Zu!!

Aku pun tak bisa memberontak kata hatiku untuk mengunjungi beliau. Aku pun ingat, bukankah pagi itu beliau akan berangkat mengajar. Ah, aku coba saja ke kediaman beliau. Siapa tahu memang benar beliau hari ini akan berangkat sekolah. Aku ingin mengantar beliau berangkat mengajar, setidaknya, sesekali dan tentu saja ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan jasa-jasa beliau.

Aku starter mobilku, aku luruskan jalanku, aku belokkan ke jalanan yang menuju rumah beliau. Ya, akhirnya aku sampai di gang rumah beliau. Sempit dan susah untuk parkir, tapi aku pikir, kesempitan dan kesusahan itu tiada arti jika dibandingkan dengan aneka masalah yang pernah aku tuangkan dalam gelas pikiran beliau saat aku kecil dulu. Aku maju pelan-pelan, mundur lagi pelan-pelan dan alhamdulillah, mobilku bisa parkir tanpa menyenggol apa pun.

Aku pun keluar dari mobil, dan langsung menuju rumah beliau. Astaga! Aku salah rumah. Dengan semangat 45 aku mengetuk rumah orang lain. ‘Assalamualaikum, pak ngapunten Bu Zu ne wonten?’ Bapak itu pun menjawab, ‘Mas, rumah Bu Zu di sebelah, bukan di sini.’ Jiah, aku salah rumah. Tidak mengapa, aku pamit ke bapaknya dan menuju rumah sebelahnya.

Aku ketuk rumah satunya, aku sampaikan Assalamualaikum dan sontak saja suara itu masih sama; ya suara Bu Zu yang 30 tahun lalu mengajariku kehidupan. Gaya beliau pun sama. Wajahnya pun sama. ‘Kok sama semua?’, pikirku.

Seperti murid kebanyakan, aku pun mencium tangan beliau, aku minta doa beliau dan ngobrol ngalur ngidul tiada batas. Aku pun menawari beliau untuk diantar ke sekolah tempat beliau bekerja. Ya, sekolah yang sama dengan sekolahku dulu.

Bu Zu pun mempersiapkan diri, menyiapkan segala sesuatunya untuk bekal mengajar di sekolah. Kami pun akhirnya berjalan menuju mobil, aku bukakan pintu mobil itu untuk beliau, sambil sedikit aku goda, ‘Bu Zu, kados artis nggeh jenengan?’ Bu Zu pun tertawa ngakak. Aku tutup pintu mobilku, aku pun masuk ke mobil dan mulai mengemudikan mobilku ke tempat beliau mengajar.

Namanya orang lama, beliau tak henti-hentinya geleng-geleng kepala, sambil bertanya-tanya ini mobil beli berapa. Tak henti-hentinya pula beliau mengatakan merasa sangat nyaman naik mobilku ini, padahal ya mobile elek. Aku melihat rasa bangga di hati Bu Zu. Bangga, mungkin, karena muridnya masih mau mengunjungi beliau, bangga, mungkin, karena melihat muridnya sukses secara materi (padahal sebenarnya aku masih mencari-cari kesuksesan), bangga, mungkin, karena hal-hal lain yang tidak bisa aku mengerti dan pahami.

Bu Zu, semoga panjenengan selalu dalam lindungan Allah SWT dan panjang umur, sehat selalu.

Alm. Mbah Yai Nur Salim, Sang Kiai Penyabar

Semalam saat sedang ngeloni anak saya yang mbarep sambil menggaruk-nggaruk punggungnya dan mata agak sedikit terpejam, tiba-tiba saya ingat sosok Mbah Yai Nur Salim, Dengok. Beliau yang biasa disebut atau terkenal dengan nama lengkap K.H. Nur Salim ini termasuk salah satu kiai sepuh dan sangat disegani di zamannya, dan beruntung sekali saya bersama teman-teman yang lain pernah menimba ilmu dari beliau. Beliau waktu itu mengajar pelajar Ushul Fiqih di kelas kami. Entah pelajaran ini masih ada atau tidak di zaman sekarang ini. Semoga masih ada.

Saya ingat betul cara beliau mengajar kami. Beliau perawakannya ramping tidak seperti kiai-kiai kebanyakan dan bersurban dan cenderung berbadan tambun atau tinggi besar. Pembawaan beliau sangat sederhana. Kalau orang tidak tahu, mungkin beliau dianggap orang biasa. Ilmunya pun sangat luar biasa, terutama saat mengendalikan kelas Ushulul Fiqih. Berbagai kaidah fiqhiyyah dibeber habis di dalam kelas. Asal muasal Hadits dan Alquran, Ijma’, dan Qiyas pun tak lepas dibeber habis, tak peduli apakah murid beliau mendengarkan atau tidak. Beliau terus saja menerangkan sambil tersenyum ikhlas. Tak pernah sedikit pun saya mendapati beliau marah di kelas.

Melihat murid-murid beliau yang tidak mendengarkan atau bahkan ramai sendiri, beliau pun tetap tersenyum seakan-akan tidak apa-apa. Kira-kira, kalau murid saya yang begitu, akan aku lempari sepatu satu-satu. 😀

Pernah suatu ketika, kebetulan di kelas kami ada salah satu murid yang menjadi idola setiap wanita di sekolah kami. Sebut saja namanya Amin (Semoga keberuntungan selalu menyertainya). Saat Mbah Yai Nur Salim menjelaskan ayat وإذا بطشتم بطشتم جبارين, teman saya itu langsung interupsi dan bertanya. ‘Mbah Yai, niku khasiate nopo?’

Mbah Yai Nur Salim pun tidak kehabisan akal. Agar teman saya ini atau bahkan seisi kelas ini tertarik dengan pelajaran beliau ini, beliau pun mengadakan sayembara. ‘Nanti siapa saja yang bisa menemukan ayat ini ada di surat apa dan ayat berapa, nanti saya jelaskan khasiatnya apa saja.’

Satu kelas pun bersemangat mencari tahu dan akhirnya ketemu. Ya, dalam tatapan beliau yang tajam. Tersimpan samudera ilmu yang luas, memancarkan tatapan keikhlasan dan harapan, dan menebar senyuman yang selaly sumringah sehingga aku tak mampu melupakan senyuman beliau. Pagi pun pecah dan tetap saja sosok Mbah Yai Nur Salim ini meneyertaiku. Bahkan, saat aku mulai perjalananku dari  Pasuruan ke Malang pagi ini.

Mbah Yai Nur Salim, semoga Allah memberikan panjenengan surga tertinggi. Semoga pancaran senyum panjenengan mampu aku teruskan. Alfatihah.

Syiir tanpo asal; penakluk si dungu nan pemalas

Dulu, kalau tidak salah sekitar 20 tahun silam, ada salah seorang Kiai, sebut saja nama beliau adalah Kiai Zainuri. Gayanya yang khas dan penampilannya yang terbilang sangat sederhana membuat beliau tampak seperti orang yang biasa-biasa saja. Orang yang tidak pernah bertemu beliau pun akan menyangka sama dan pasti akan mengajukan pertanyaan yang sama, “apakah dia itu seorang Kiai?”.

Ya, beliau adalah salah satu Kiai yang cukup sepuh di kalangan sekolah kami. Keilmuan beliau sangat tampak sebenarnya, cuma penampilannya yang menampakkan beliau seperti orang yang biasa-biasa saja. Ngomong-ngomong tentang kesabaran beliau, saya sangat kagum dan acungi jempol. Saya menyaksikannya sendiri.

Saat itu, kelas saya kebetulan kelas super rame dan susah dikendalikan, ditambah lagi dengan sekumpulan siswa yang terbilang kurang berminat untuk pelajaran Nahwu dan (maaf) cenderung menyepelehkan pelajaran tersebut. Saya pun tergolong siswa yang rame itu dan siswa yang tidak pernah hafal kalau disuruh menghafal bait-bait Alfiyah dan kiasan-kiasan saraf. Tiap minggu, saya harus menghafal dobel karena bait-bait sebelumnya gagal saya hafalkan. Yang membuat kelas semakin membosankan, tentunya tulisan-tulisan beliau yang sangat  banyak dalam bentuk pegon dan sangat cepat dihapus. Pusing tentu saja iya.

Dalam suatu waktu, ketika pelajaran Nahwu berikutnya dimulai, seluruh teman saya ramai sendiri. Kiai ini menjelaskan tentang kaidah-kaidah Nahwiyah dan tak ada satu pun yang mendengarkan. Beliau pun tak marah sama sekali. Beliau hanya berhenti sejenak dan menatap tajam ke arah teman-teman. Saya sempat memerhatikan sorotan mata beliau dan seketika itu pula saya terhenyak dan langsung terdiam sendiri. Teman-teman saya pun masih saja ramai dan tidak sadar bahwa sang Kiai sedang memerhatikan mereka.

Tak lama setelah itu, beliau duduk di meja kayu kuno yang ada di depan kelas sambil memberikan nasihat singkat. Nasihat itu pun tak diucapkan melalui lisan beliau, tetapi melalui tulisan singkat yang bunyinya kurang lebih seperti di bawah ini:

إن المعلم والطبيب كلا هما  لا ينصحان إذاهما لم يكرما

Janganlah engkau mengharapkan nasihat dari gurumu dan seorang dokter jika engkau tak mampu memuliakan mereka–
(mohon maaf jika ada kesalahan arti karena ini saya terjemahkan secara bebas. Saya bukan ahli bahasa Arab apalagi bahasa syiir yang membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi)

Setelah menuliskan ini, beliau pun langsung keluar dari ruangan kelas tanpa berkata apa pun. Seketika itu pula, hati saya terenyuh dan mata saya meneteskan air mata tanpa sadar. Masih, teman-teman saya ini ramai sendiri seperti pasar.

Dari kejadian ini, saya pun menjadi giat mencari apa maksudnya syiir itu, apakah maksudnya sama dengan pemahaman awal saya saat membaca tulisan itu pertama kali di papan. Akhirnya, jawaban itu saya temukan di kitab Ta’limul Mutaallim dan benar saja, maksudnya seperti yang saya tangkap di awal.

Kejadian itu sungguh seperti sebuah momentum penting atau bahasa kerennya milestone bagi kehidupan saya. Saya yang waktu itu sangat goblok dan malas, langsung tersadar dan merasakan kerinduan yang luar biasa untuk dapat terus diajar beliau. Ya, meski saya tetap goblok dan bodoh, kejadian itu membuat saya berhijrah dari kehidupan yang penuh kebodohan dan kekosongan. Betapa tidak, kalau ditanya siapakah murid yang paling goblok di kelas, jawabannya pasti mengarah ke saya. 😀

Kejadian itu sungguh aneh. Seketika itu juga, saya mulai suka dengan dunia ulama. Seketika itu juga, beberapa hari setelah kejadian itu, saya langsung sowan ke beberapa ulama sepuh yang kebetulan juga guru-guru saya di Madrasah Tsanawiyah. Saya pun langsung berkunjung ke dhalem para ulama ini satu per satu guna meminta restu dan doa mereka. Saya pun didoakan.

Ternyata, doa dan keikhlasan guru-guru dan kiai-kiai kita mampu menggetarkan arasy untuk murid-murid mereka yang mau bertawadhu’ dan taat apa pun keadaannya. Semoga harta kita, ilmu kita, dan keturunan kita menjadi jembatan bagi kita untuk bisa selalu dekat dengan para ulama. Amin

Saya tak mau kaya!

Kredit foto: syaarar

Kredit foto: syaarar

Saat saya sedang menyimak keterangan dari dosen pengampu mata kuliah TEFL, salah satu teman yang duduk di samping saya bercerita. Jadi, ceritanya ada dosen menjelaskan dan ada teman yang bercerita; telinga kanan untuk mendengarkan cerita teman saya dan telinga kiri untuk mendengarkan. Hitung-hitung, Tuhan tidak sia-sia menciptakan dua telinga untuk saya.

Ia bercerita bahwa semalam teman sekamarnya, yang juga teman sekelas saya, dengan tegas mengatakan bahwa ia tak mau jadi orang kaya. Saya langsung kaget. Tak cukup sampai di situ, dahi saya pun dibuat mengernyit. Ah, ada-ada saja teman saya ini. Kalau saya justru sebaliknya. Setiap orang pasti ingin kaya, meski kaya itu bukan jaminan bahagia. Begitu pula saya.

Saya mau berkomentar, dan berpikir keras untuk menimpali. Aneh juga! Tak sekata pun keluar dari mulut saya seharian belum makan nasi. Ah, biarkan saja pikir saya. Toh itu pilihannya. Kita boleh memilih untuk jadi apa saja dan pilihan itu tidak selalu lebih baik daripada pilihan yang lain. Pilihan saya belum tentu lebih baik daripada pilihannya, dan juga sebaliknya. Kalau kita melihat segala sesuatu dari kacamata minus atau plus kita masing-masing, maka tidak akan ada titik temu, atau bahkan menimbulkan perselisihan.

Ya sudahlah. Setidaknya, itulah pilihannya untuk tidak mau menjadi kaya. Kita hanya mampu mendoakannya. Semoga keinginannya tercapai. Kebahagian teman kita sama dengan kebahagiaan kita juga toh? Nah, di sinilah peran kita sebagai teman. Setidaknya kita selalu mendoakannya.

Saat kita miskin atau kekurangan, apakah secara materi kita mampu berbuat lebih untuk sesama kita? Saat kita berkelimpahan atau singkatnya kaya, kita bisa menjangkau lebih. Kita bisa membuat sekolah untuk mereka yang tak mampu, menyantuni mereka yang perlu disantuni dan terlebih lagi, kita tak perlu berpikir keras terkaot apa yang akan kita makan esok nanti. Ibadah jadi tenang. Tidur jadi nyenyak (saya tidak membahas orang kaya yang kedunyan).

Ya, begitulah pesan salah satu karib saya yang saat ini mengelola pondok pesantren di Situbondo. Saat saya melontarkan guyonan kepadanya. ‘Lho, opo ustad iku yo butuh duit toh. Mulang ngaji sing genah lak engko teko-teko dewe duite’. Celoteh saya. ‘Nek ora ono duite koyo aku ngene iki, ibadah ra iso tenang, mulang ngaji kepikiran, yo ugo mikir bojo mikir anak. Nek duwe bondo, ibadah tenang, pengen budal nang endi wae iso. Mulang ngaji iso ikhlas soale wis ora ono sing diarep. Wes talah, kudune ngono’, timpal teman saya.

Orang kaya dermawan itu sama dengan manajer Allah SWT yang secara tidak langsung diperintahkan untuk mengatur keuangan-NYA. Semoga kita mampu menjadi manajer hebat dan amanat!

Ngaplo; 11 atau 12 tahun silam!

Ngaplo atau menurut definisi subjektif saya – keadaan di mana kita tidak mampu berbuat apa-apa dan hanya bisa melongok atau melihat sambil memendam keinginan yang kuat untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh objek yang kita lihat atau perhatikan. Setidaknya, saya pernah mengalami ini – meski terbilang tidak jarang, tapi menurut saya ngaplo saya yang satu ini sungguh berkesan di hati. Bukan kesan enaknya; tidak ada ngaplo itu rasanya enak. Kalau boleh beranalogi, orang pada makan bakso dan lontong, saya hanya kebagian mangkuknya…atau bahkan tidak kebagian sama sekali karena sudah keburu dicuci sama si penjualnya.

Saya masih ingat 11 atau 12 tahun yang lalu saat saya masih duduk di bangku kuliah. Kalau tidak salah ingat, saat itu saya masih harus menyelesaikan 4 semester lagi untuk meraih gelar S1 saya. Ya, saat itu saya masih semester 4 dan sebagaimana kegiatan wajib fakultas, semua mahasiswa yang menempuh mata kuliah speaking diwajibkan mengikuti PKL atau Praktik Kerja Lapangan. PKL ini tidak memerlukan waktu sebulan atau bahkan seminggu. Cukup 3 atau 4 hari, dan setelah itu kami sudah dianggap memenuhi tugas mata kuliah speaking. 

Saat itu, tujuan PKL kami adalah pulau dewata atau Bali. Siapa sih yang tidak mengenal pulau yang eksotis ini? Anak saya Daniel pun tahu sebelum ia pernah ke sana. Bukan Balinya yang menjadi sasaran PKL kami, melainkan banyaknya wisatawan asing dari berbagai mancanegara yang membuat fakultas kami menjadikan Bali sebagai tempat PKL. Kami harus mengumpulkan data, secara berkelompok, dari para wisatawan secara langsung. Tentu saja, kami harus menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar kami dan inilah inti dari PKL itu.

Ngomong-ngomong tentang Bali, selain sunset dan sunrise-nya yang begitu indah sampai terkenal seantero jagat, aneka suvenir dan hiburannya pun tak ketinggalan menarik. Tentu saja, semua ini menjadi bumbu dapur perjalanan PKL kami. Di mana ada keramaian, entah pasar, tempat kesenian, atau bahkan tempat menarik lainnya, di sanalah bus yang kami tumpangi selalu berhenti. Tak ketinggalan pula, para mahasiswa yang sudah tidak sabar dan selalu bersemangat untuk melihat-lihat dan tak sedikit yang akhirnya membeli apa yang mereka lihat. Saya yang mahasiswa dari desa ini pun sebenarnya ingin seperti mereka; melihat ini, membeli itu, menawar ini, membeli itu dan lain sebagainya. Namun apa daya, itu semua tidak mampu saya lakukan. Saya hanya bisa ngaplo di atas bus sambil melihat dari kejauhan – banyak yang menenteng barang beliannya. Tak sepeser pun saya bawa bekal uang untuk keperluan PKL saya. Saya hanya mengandalkan jatah makan dan minum dari paket perjalanan PKL waktu itu. Alhamdulillah, meski saya tidak mampu membeli apa pun saat itu, saya masih segar bugar dan bisa kembali ke kos dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun.

Ya, betapa ngaplo-nya saya waktu itu. Semua teman saya saling menenteng barang belanjaannya serta aneka suvenir khas Bali yang dibeli mereka dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi saya hanya membawa segudang derita. Dan derita ini tentunya derita dari satu tempat ke tempat lainnya. 😀

Kalau saya flashback lagi, jangankan bawa bekal uang, bisa bayar PKL saja rasanya seperti habis mendapatkan undian 1 miliar pada waktu itu. Saya termasuk mahasiswa yang serba kekurangan (kekurangan segalanya; uang kurang, bekal kurang, wajah kurang sip, otak kurang, makan kurang, tapi minum tidak pernah kurang karena banyak air keran di Masjid) waktu itu. Saya harus bekerja agar bisa terus kuliah sampai lulus S1. Memang jalan Allah itu tidak selamanya sama dengan yang kita harapkan, tetapi semuanya pasti indah pada waktu-NYA. Saya bekerja di salah satu counter pulsa di Surabaya dan saat itu gaji saya persis Rp400.000 sebulan. Cukup buat bayar biaya PKL saat itu. Urusan sangu, itu urusan nomor 100 (atau makan nggak makan asal bisa ikut). Begitulah kondisi ngaplo saya saat itu. Keren kan? 😉

Semoga kita selalu diberi semangat dan kekuatan untuk menjalani segala kekurangan kita, lalu diberi kekuatan dan kemampuan untuk menutupnya melalui proses yang cepat dan indah dan menjadikannya sebuah pijakan untuk menaiki tangga-tangga kesuksesan kita.

Secangkir Kopi Rasa SPSS

Saat itu, kami baru saja menyelesaikan perkuliahan kami. Kami pun pergi ke suatu tempat untuk mengisi perut yang keroncongan karena belum makan sedari siang. Kami akhirnya mendarat di salah satu lokasi kuliner emperan yang bisa kami bilang ‘surganya’ kuliner. Ya, di depan balai kesenian Krida, Sukarno Hatta, Malang. Bagi kami yang bukan asli warga Malang, tentunya malam itu adalah malam yang membahagiakan sekali. Betapa tidak, kami mendarat di surganya kuliner saat motor tubuh kami memerlukan bensin agar bisa melaju kencang lagi.

Selesai sudah acara makan bersama kami dan kami beranjak kembali ke rusunawa. Kebetulan, hanya kelas D yang saat itu ada perkuliahan dan tentunya rusunawa tampak lengang tidak seperti biasanya. Kami akhirnya sampai di depan rusunawa, memarkir mobil, dan masuk ke kamar kami. Kami pun meminta tolong petugas kamar untuk menambahkan matras tidur karena kami rasa matras yang ada dalam kamar kami itu tidak bisa menampung lima orang sekaligus.

Kami menaruh barang masing-masing dan langsung melanjutkan tugas belajar bersama kami. Kami mempelajari materi SPSS untuk persiapan UAS esoknya. Malam pun semakin menyelimuti langit dan tak terasa jam menunjukkan pukul 11 malam. Rasa kantuk pun terasa tak tertahankan. Dua dari teman saya sudah tepar duluan dan tinggal kami bertiga yang masih terjaga. Seperti biasa, saya selalu ditemani kopi saat kerja malam, dan kebetulan tidak ada kopi saat itu. Bahkan, kami pun lupa membeli sebotol air putih.

Tiba-tiba ada yang lewat di depan kamar kami. Saya tengok ke luar dan ternyata, dia adalah salah satu teman kami yang kebetulan tinggal di lantai yang sama. Saya menyapanya dan seperti biasa, dia menyapa balik dengan candaan khasnya. Ah, dia sungguh manis saat tersenyum. Saya pun meminta tolong kepadanya untuk dibuatkan secangkir kopi. Tanpa banyak komentar, dia langsung membuatkan kopi untuk kami. Kami menunggu beberapa saat dan kopi pun akhirnya tersaji dalam dua wadah besar. Saya tawarkan kopi itu kepada yang tertua di kamar kami dan ternyata tidak ada yang mau. Akhirnya, saya yang menyeruput kopi itu dan rasanya begitu enak. Satu cangkir besar kopi habis dalam semalam karena rasanya yang memang enak. Kapan-kapan, saya dan teman-teman mau dibuatkan lagi. Semoga saja orangnya mau. hahaha