Majelis Rasulullah yang Sebenarnya

31760169_10211129917394801_1129534978183397376_n

Sore itu, tepat pada Hari Ahad, dengan pasaran Wage. Atau Ahad Wage setelah ashar, sungguh majlis rutinan ngaji maknani burdah ini tampak tak biasa. Bab demi bab berhasil dilalui dengan khidmat, hingga sampailah pada bab Keutamaan Rasulullah…

Beliau, Yai Salim (saya biasa memanggil beliau begitu), memulai dengan tawasul kepada Nabi dan para auliya, lalu dibacakanlah bait demi bait burdah nan indah itu, lalu dimaknani satu per satu.

FAHWA mongko utawi kanjeng Nabi ALLADZI iku wong TAMMA kang sempurno MA’NAHU opo tingkah batine wong WASHUUROTUHU lan tingkah lahire wong TSUMMAASHTHOFAA monko keri-keri milih HU ing kanjeng Nabi HABIIBAN ing kekasih BAARIUNNASAMI sopo dzat kang nitahno menungso

MAKA DIALAH SANG NABI NAN SEMPURNA DERAJAT LAHIR DAN BATINNYA, LALU SANG MAHA PENCIPTA MANUSIA PUN MEMILIHNYA SEBAGAI SEORANG KEKASIH

Entah perasaan saya saja atau bagaimana, tetapi saya sungguh merasakan yang tidak biasa. Sepertinya ada yang terpendam dalam sanubari, kesedihan dan kerinduan yang mendalam kepada Kanjeng Nabi, dan tiba-tiba, saya pun ikut bersedih. Saya simpan erat-erat agar tidak sampai menitikkan air mata. Benar saja, Yai Salim membacakan bait-bait itu dengan penuh penghayatan, bahkan beliau pun sempat tak sanggup meneruskan cerita yang beliau ceritakan di hadapan para santri beliau. Beliau menangis hebat, apalagi saat beliau menceritakan detik-detik kematian Sang Kekasih Allah, saat detik-detik Bilal Bin Rabah meninggalkan Madinah dan kembali ke Madinah lagi, demi Kekasih hatinya yang sangat Bilal cintai. Saat penduduk madinah mendengarkan adzan sekali lagi dari Bilal Bin Rabah dan mereka berhamburan keluar, bukan apa yang ditanyakan oleh mereka tetapi mereka keluar dengan bertanya-tanya, AYA HAYYA MUHAMMAD AYA HAYYA MUHAMMAD AYA HAYYA MUHAMMAD AYA HAYYA MUHAMMAD (APAKAH MUHAMMAD HIDUP LAGI, APAKAH MUHAMMAD HIDUP LAGI, APAKAH MUHAMMAD HIDUP LAGI!)

Saya pun penasaran, saya melihat sekeliling saya, saya perhatikan dan memang benar bahwa para santri itu sama-sama menangis menyimak kisah Rasulullah yang disampaikan oleh Yai Salim. Di sebelah kiri saya persis, ada sahabat saya yang memang datang dari jauh khusus untuk mengikuti pengajian Burdah ini. Saya pun ikut penasaran dan bertanya kepadanya, ‘Djok, piye perasaanmu maeng, pas Yai nyeritakke keutamaan-keutamaan Rasulullah?’ (Djok, bagaimana perasaanmu tadi saat mendengarkan Yai menceritakan keutamaan-keutamaan Rasulullah).

Sahabat saya menjawab, “Aku iki suedih pengen nangis, tapi tapi tak empet soale aku isin karo awakmu bro” (Saya ini sedih ingin menangis, tetapi aku masih bisa menahannya soalnya aku malu sama kamu)

Lalu, siapa lagi yang tak menangis mendengar kisah Rasulullah yang begitu penuh pengorbanan, kisah sang kekasih yang tanpa batas kesabaran dan kasih kepada umatnya. Semoga kita bermimpi ketemu Rasulullah dan dikumpulkan serta dijumpakan kepada beliau kelak di akhirat. Amin amin amin.

 

Advertisements

Ala Santri; Penting Manut Guru

 

4686101613295689513

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS Atthalaq: 3)

Kutipan ayat tersebut saya rasa cocok dengan kejadian yang saya alami kemarin. Alquran kebenarannya pasti 100%, salah satu tugas kita adalah mengimani kebenaran alquran itu sendiri serta isi yang terkandung di dalamnya.

Sore kemarin, tepatnya 16 Maret 2018, saya kebetulan ada janji dengan Habib Abdullah Almuchdor, salah satu guru besar Tarim Yaman, yang kebetulan sedang berada di Indonesia. Sekitar pukul 4 saya diminta datang ke sana dan ditunggu di kediaman beliau. Singkat cerita, saya sampai di depan rumah beliau dan dipersilakan masuk oleh putra beliau. Ternyata…..

Saat itu ada 2 orang lagi dengan kegiatan yang berbeda. Dua-duanya sama-sama berbada tambun dengan pekerjaan mereka masing-masing. Di depan teras beliau, salah satu dari tamu beliau ini sedang ngepak atau membenahi buku-buku kecil yang hendak dia bawa ke pesantrennya. Saya pun penasaran, siapakah gerangan dia dan benar saja dia adalah santri utusan dari Habib Sholeh Banyuwangi yang diutus untuk mengambil kitab Basyairul Khoirot dari Habib Abdullah. Kurang lebih ini sholawatnya:

Posted by Al Ukhuwah Wal Ishlah on Wednesday, May 12, 2010

Saya persingkat saja ceritanya dan sampai kepada pemuda yang diutus oleh Habib Sholeh untuk mengambil buku ini. Saya kebetulan ada di sana dan bercengkerama agak lama dengan Habib Abdullah, hingga akhirnya pemuda tambun ini pun mau berpamitan pulang ke Banyuwangi dengan membawa buku sholawat tadi. Saya pun sama, keperluan saya sudah selesai dan saya harus beranjak pulang.

Saya perhatikan pemuda itu dari belakang yang kebetulan dia keluar duluan dan akhirnya kita berada pada baris yang sama di depan rumah Habib Abdullah. Saya pun bertanya kepada dia, ke mana dia hendak pergi. Dia akan kembali ke Banyuwangi untuk menyampaikan amanat gurunya itu.

Saya pun menawarinya untuk mengantarnya ke terminal bus, yang kebetulan searah dengan rumah saya. Awalnya pemuda ini sungkan dan saya paksa saja karena kasihan juga kalau dia jalan atau naik becak yang lumayan jauh dari kediaman Habib Abdullah.

Sesaat setelah dia dan saya masuk mobil, hujan deras nan lebat pun turun. Dia pun sepertinya tampak kebingungan dalam mobil dan menanyakan suatu daerah di Pasuruan. Saya pun langsung menjawabnya, tidak usah mencari daerah itu, pulang saja lebih baik. Dia keukeuh mau ke sana dan akhirnya saya pun bertanya kenapa dia ngotot mau ke sana. Ternyata, dia mau berhutang uang kepada teman pondoknya. Saya pun tersenyum kecil dalam hati dan kembali bertanya, “memangnya berapa mas ongkos ke Banyuwangi dari sini?” “60 ribu”, jawab dia.

Saya pun menggoda dia, “60 ribu saja ngutang mas, sudah naik bus saja nanti kan yo pasti sampai Banyuwangi meski gak pake uang.” Dia semakin bingung, mungkin begini @#@#@#@#@$#@$#%$%$#$#@#%$@#%$#%#$%#%$.

Saya pun berceloteh ringan tak berarti kepada dia, karena tentu saja ilmu tawakkalnya dia pasti lebih hebat daripada santri kebanyakan. Saya bilang kepada dia. “Mas, santri kalau sudah maqom sampeyan ini sudah pasti langka. sampeyan bayangkan, sampeyan tidak punya uang untuk kembali ke Banyuwangi dan akhirnya sampeyan bisa pulang tanpa uang. Betapa tidak, saya ini lo kok juga tidak mengerti kok bisa ketemu sampeyan di kediaman Habib Abdullah. Sampeyan tahun hujan lebat ini, sampeyan lo kok yo gak kehujanan lantaran kebetulan lagi ada saya yang saya juga tidak mengerti kenapa saya ke sini. Ini semua pasti karena tingkat tawakkal sampeyan sudah di atas maqom sempurna. Sampeyan pasti cuma disuruh sama guru sampeyan tanpa dikaish sangu atau dipesan apa-apa kan? Dan sampeyan manut pasrah bongkoan???”

Jawabnya, “Iya”. Begitulah ilmu santri. Pokoknya manut guru dan kiainya, PASTI SELAMET. Allah SWT yang akan melebarkan jalannya, apa pun keadaannya. Semoga saya bisa belajar dari pemuda dan santri tambun ini. Amin amin amin.

Doa penghancur dan Mbah Yai Romli

download

سألتك يا غفار عفواوتوبة باقهر ياقهار خذ من تحيلا 
“Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu. Aduhai Dzat yang banyak mengampuni dosa-dosa. Ku mohon ampunan dan taubat. Dan dengan isim “qahr” yang Kau sandang, aduhai dzat yang maha memaksa, hancurkan orang-orang yang membuat reka-daya”

Bagi warga nahdliyin, doa tersebut di atas tentu saja tidak asing di telinga. Doa tersebut selalu terselip dalam setiap rangkaian acara istighosah. TAPI……………………………………………..

Jangan sembarangan membaca doa itu jika tidak tahu maksudnya. Kalau saya sendiri, saya tidak akan berani membaca doa itu meski saat sedang mengikuti istighosah. Alasannya sederhana, saya tidak diperkenankan untuk mengamalkan doa itu oleh kiai-kiai saya. Konon katanya, doa itu akan memunculkan sinar merah yang berarti petaka, atau jika suatu tempat dibacakan doa itu, tempat itu tidak akan bisa berkembang. Sebut saja pesantren, jika dibacakan doa itu, pesantren itu tidak akan berkembang. Begitu tandasnya dari kiai-kiai saya.

Saya pun selalu mewanti-wanti istri saya untuk tidak ikut membaca doa itu saat istighosah. Pernah suatu ketika, saya mengadakan majlis dzikir di Pasuruan, kebetulan saya tempatkan di tempat saya. Karena saya kurang tahu setting dzikir di Pasuruan, ternyata doa di atas selalu dilantunkan bahkan diulang-ulang. Benar sekali kata guru saya, sehari setelah acara, saya mengalami kecelakaan sepeda motor. Saya masuk ke kolong truk tronton, tetapi untungnya tidak terjadi apa-apa. Saya pun pulang dan merasa aman, selang beberapa jam setelah itu, saya terjatuh dari kursi kerja saya dan kakai saya terkilir. Alhasil, saya tetap mendapatkan bala’ menurut versi saya. Setelah kejadian itu, majlis dzikir itu saya ganti menjadi majlis waqiah, karena selain tidak menyinggung orang-orang di situ, juga untuk menyamarkan. Karena kalau saya menjelaskan perihal doa itu, mana mungkin orang Pasuruan yang terkenal kuat kesantriannya mau menerima penjelasan manusia yang kadang santri kadang bukan, ya saya ini. Saya ini seorang pebisnis kecil yang ingin jadi besar, sebesar-besarnya.

Lain cerita saya, lain pula cerita Mbah Yai Romli. Cerita ini tidak bisa ditiru. Alasannya sederhana, Mbah Yai Romli ini mursyid toreqoh dan kealiman serta kearifannya sudah di atas manusia rata-rata, jika beliau berani membaca ini, beliau sudah tahu risikonya dan akan kembali kepada siapa doa itu, selain mempertimbangkan segi mudhorot dan maslahat bagi kebanyakan orang.

Suatu ketika, ada seorang taipan China yang hendak mendirikan 8 gedung bioskop di depan pondok pesantren Rejoso. Tanah-tanah itu dibeli oleh taipan China itu dan digunakan sebagai tempat hiburan pertama di wilayah Jombang. Arus protes pun justeru tidak langsung datang dari Mbah Yai Romli, tetapi dari para tamu-tamu beliau yang merupakan para ulama jempolan pada zamannya. Mbah Yai Romli hanya mesem dan meminta bersabar. Sesekali menjelaskan bahwa itu hak dia membangun gedung bioskop di atas tanahnya sendiri. Para tamu itu pun nggerundel dan pikirannya belum sampai pada pikiran Mbah Yai Romli. Hingga pada puncaknya bioskop itu dibuka perdana.

Seperti yang kita tahu bioskop pada zaman itu, poster-poster maha besar pasti bertebaran di sekitar gedung, hingga ada poster yang memuat artis dengan setengah telanjang dan yang cenderung mengumbang aurat. Dari situlah beliau tidak tinggal diam. Beliau tidak menasihati si taipan itu secara langsung atau bahkan marah kepada si taipan itu. Beliau hanya meminta kepada Allah SWT, dengan dibantu oleh para santri beliau yang setia.

Hingga pada akhirnya, beliau menginstruksikan untuk membaca doa tersebut di atas bersama-sama dengan kaifiyah (tata cara) khusus beliau. Gemuruh doa itu bak angin kencang yang mampu merobohkan apa saja yang ada di hadapannya. Benar saja, saat bioskop perdana dibuka, tiba-tiba ada angin yang sangat amat kencang yang mampu merobohkan 8 gedung bioskop yang dibangun oleh taipan China tu. Aduhai rugi materi besar-besaran tentu saja.

Dari kejadian itu, si taipan pun mendapatkan hidayah. Dia masuk Islam setelah melihat kejadian itu. Dia rugi materi, tetapi dia sangatlah beruntung karena akhirnya dia menemukan mutiara Islam melalui kejadian yang akan selalu mempertebal imannya.

Wis ya, ojo ditiru, iku maqomi wali. Nek ndungo sing standar-standar ae koyo aku, contohne Robbana Atina dst….

رب فانفعنا ببرگتهم, واهدناالحسنی بحرمتهم

وأمتنا فی طريقتهم, ومعافاة من الفتن

Tugas Kuliah dan Mbah Yai Romli

P_20180315_031816Entah ini kebetulan, atau tidak, tetapi saya hanya mengutip tulisan dari buku yang sedang saya baca ini, yang disarikan dari dawuh Syaikh Abul Hasan Asyadzily

“Allah mencipta makhluk dengan sebuah misi ilahiyah. Oleh karena itulah Allah mempunyai pilihan dan takdir. Maka, seorang hamba yang membangun adab di hadapan sang pencipta selayaknya ridho atas pilihan dan takdir Allah.”

Kisah saya ini jangan ditiru, karena memang tidak ada yang perlu ditiru. Saya termasuk mahasiswa S2 yang malas, bukan malas tetapi sangat malas. Saat semua teman saya sudah lulus dan berjibaku dengan mainan baru mereka, saya masih berjibaku dengan thesis saya dan saat ini masih proses penyelesaian.

Saya sudah beberapa kali melobi sekolah-sekolah yang menjadi rujukan untuk penelitian saya, entah kenapa, semuanya menolak, ada juga yang tidak ada jawaban, sebelum akhirnya, saya memutuskan untuk melakukan penelitian di kampus-kampus yang bisa diteliti. Dan, dari sinilah saya kenal dengan Mbah Yai Romli berdasarkan cerita dan semakin penasaran dengan beliau.

Dari kuliah saya yang molor bertahun-tahun, setidaknya saya harus bisa menanamkan dalam jiwa kosong ini, menanamkan wejangan para ulama sufi seperti yang terkutip di atas. Sungguh, saya menemukan banyak kemudahan dalam proses penyelesaian thesis saya ini, di antaranya, dosen pembimbing saya yang sungguh sangat amat kooperatif dan membantu serta memudahkan urusan-urusan saya (semoga saja beliau tidak pernah melihat blog ini, karena pada intinya ujaran ini memang benar adanya dan tidak mengada-ngada atau ada maksud tersembunyi), lalu, saya dipertemukan dosen Unipdu dan juga guru lahir batin saya, sebut saja Pak Nurdin, yang sekilas saya perhatikan nyeleneh, dan setelah saya konfirmasi di warung pesantren, memang orangnya nyeleneh. Sungguh beliau orang yang memiliki banyak kelebihan tersembunyi, dan bonus yang terbesarnya adalah, saya mampu bersentuhan secara ruhani dengan muassis pondok yang berlokasi di Rejoso Jombang ini.

Awalnya, saya diberi masukan dan cerita mengenai Mbah Yai Romli oleh Pak Nurdin dan semakin hari, semakin saya penasaran, hingga saya menemukan buku di atas yang terpajang di pojok rak buku toko buku yang berlokasi di Tebu Ireng. Kok ora nyambung, Mbah Yai ada di Rejoso, tapi tiba-tiba ada Tebu Ireng. Ya, saya membeli buku itu di Tebu Ireng yang kebetulan saya bersama teman saya, Pak Anang jalan-jalan ke sana.

Saya sangat menyukai dunia sufisme yang saat ini sedang mengalami nisbat penyesatan dari orang-orang yang tidak percaya dunia tasawuf, dan sungguh tugas yang saya kerjakan di kampus UNIPDU ini mengantarkan saya kepada dunia yang saya sukai, meski saya pribadi belum berbaiat ke thoriqoh mana pun. Setidaknya, saya sangat mencintai ulama-ulama sufi pada zaman old dan zaman now. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan Mbah Yai Romli meski hanya mampu melihat kubur beliau. Mendengar dan menyaksikan sendiri karya-karya beliau, sungguh membuat saya merinding dan semakin penasaran.

Mbah Yai Romli adalah salah satu ulama sufi jawa yang disegani, dengan cerita-cerita mu’tabar yang sungguh di luar nalar. Tak hanya itu, beliau adalah murid kesayangan sekaligus menantu Mbah Yai Hasyim Asy’ari sang pendiri jamiyah Nahdlotul Ulama.

Wahai Tuhanku, maka berilah kami manfaat dengan keberkatan mereka.
Dan hantarkanlah kami kepada kemuliaan dan kebaikan dengan jalan menghormati mereka.
Dan matikanlah kami dalam jalan mereka
Dan lindungilah kami dari segala fitnah dunia 

Belajar hidup dari Mak Ketan

Kira-kira, saya ini sedang apa?

Kurang lebih, saya sedang nyambi cangkruan dan menggoda mak ketan ini. Kebetulan, mak ini (sebut saja mak ketan, karena saya tanya nama beliau, beliau tidak berkenan menjawab) sedang lewat di depan masjid jami’ Al Anwar Pasuruan.

Obrolan pun dimulai dengan saya membeli 5 biji ketan seharga lima ribu (satu bungkus harganya seribu) dari beliau. Saya pun langsung sodorkan uang Rp100.000 dan mak ketan ini langsung mengembalikan uang itu kepada saya. Saya pun menolaknya dan meminta beliau untuk memegang uang itu, tapi beliau tetap keukeuh mencari kembalian uang itu.

Semua orang, termasuk bapak-bapak tukang becak pun dimintai tolong untuk bisa ditukari uang itu agar bisa mengembalikan uang saya. Sambil nderemil (berbicara tanpa arah) mak ketan ini menata dagangannya, dan akhirnya saya goda beliau untuk menunggu istri saya datang. Istri saya akan membawa uang pas. Beliau pun bersedia menunggu hingga istri saya tiba.

Dalam percakapan selama penantian itu, saya pun menggoda beliau. Mak, jenengan kok bisa awet muda begitu apa rahasianya, jenengan pasti umurnya 80 ke atas? (Bu, Anda kok bisa awet muda begini apa rahasianya, Anda umurnya sudah pasti di atas 80 tahun)

Mak ini pun akhirnya buka suara. Nak, nek kowe kepengen koyo emak, yo kudu rajin solat, ngaji, nek bengi ojo lali tahajud, terus jaluki nang masjid, gak usah rame-rame, gak usah kondo-kondo. Cukup kowe ae sing weruh. (Nak, jika kamu ingin seperti ibu, kamu harus rajin solat, ngaji, kalau malam jangan lupa tahajud, terus memintalah di masjid, tidak usah keras-keras atau berisik, cukup kamu saja yang tahu maksudmu).

Cerita pun berlanjut hingga zaman gestapu, tapi istri saya keburu datang sehingga saya memutuskan untuk pulang.

Setidaknya, berkumpul dengan orang-orang seperti inilah yang pada akhirnya akan memberikan obat hati untuk kita. Mak ini bicaranya hanya seputar dagangang yang harganya cuma 1000, selebihnya beliau berbicara melulu soal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla. Wis yo mak, mugo2 ketane laris manis semanis sing tuku haha

Hidup Mulia Tanpa Klenik dan Kanuragan

Capture2222

Pernah suatu ketika saya dinasihati oleh salah satu mursyid toreqoh mu’tabaroh bahwa dalam hidup, ilmu sejati yang harus terus dicari adalah ilmu selamet (selamat, aman dari segala marabahaya dunia dan akhirat), bukan sebaliknya, mencari ilmu kesaktian atau kanuragan.

Jika kita muslim, maka salat lima waktu tepat waktu dan berjamaah (diusahakan bisa) serta melakukan salat-salat sunnah yang lain sesuai waktu dan kebutuhan (hajat, dhuha, tahajud, dll) adalah sesuatu yang mutlak untuk meraih keselamatan itu, sisanya bisa ditambahkan dengan kegiatan-kegiatan sunnah lainnya, termasuk kegiatan bermuamalah dengan sesama.

Beliau pun melanjutkan cerita bahwa orang yang memiliki ilmu kanuragan atau klenik biasanya hidupnya hanya sebatas PAS atau bahkan kurang-kurang. Setidaknya, saya mengamini nasihat beliau karena saya melihat fenomena yang ada di masyarakat, terutama di daerah kelahiran dan tempat tinggal saya saat ini memang begitulah kenyataannya. Sebut saja, ini bagi yang percaya dengan ilmu santet atau sihir, bahwa untuk menangkal santet atau sihir, orang akan mengamalkan amalan yang macam-macam, entah mantra, entah jampi-jampi, dan sejenisnya, tetapi jauh dari itu, jika kita mengerti ilmu hadits secara utuh, dengan salah isya’ berjamaah saja, Insyallah kita akan terhindar dari ilmu santet dan sejenisnya. Jadi, modalnya hanya salat isya’ berjamaah.

Nah, kebetulan saya menemukan fenomena online sebagai verifikasi pamungkas dawuh atau nasihat dari mursyid toreqoh bahwa ucapan beliau itu ada benarnya jika ditilik dari status anggota grup yang sudah saya samarkan nama orang dan nama grupnya. Silakan disimak sendiri dan direnungi sendiri.

Bagi kawan-kawan yang masih bergelut dengan aneka klenik dan kesaktian atau kanuragan, sebaiknya ditinggalkan, karena sejatinya itu semua tiada bermanfaat dalam jangka panjang, mungkin terlihat hebat sesaat itu iya. Juga, bagi teman-teman yang suka menyesatkan para sufi atau ahli toreqoh, sampeyan perlu piknik. Orang-orang toreqoh itu lebih wirai dari orang biasa, lebih ingat Allah SWT daripada kita kebanyakan, yang dilupakan dengan urusan dunia. Mereka bekerja, mengajar, belajar, tetapi selalu mengingat Allah SWT dan bermuamalah penuh adab tak seperti kita.

Saya bukan pengamal klenik, juga bukan ahli toreqoh atau pengikut toreqoh mana pun, tulisan ini saya tulis di sela-sela waktu senggang saya dari angon.

Aku tak butuh harta, tapi ridho-NYA

P_20170731_060928_HDR.jpg

Wah, jangan salah paham dengan judul postingan FB saya ini. Itu salah satu ujaran dari salah satu ustad ngaji yang saya temui sabtu siang kemarin, bukan saya, saya masih cinta dan butuh harta.

Jadi, ceritanya begini. Sabtu itu, saya sedang mood bersepeda ongkel dengan tujuan yang tidak jelas. Dalam perjalanan muter-muter itu, saya kepikiran salah satu guru ngaji di masjid Jami’ Pasuruan. Cuma penasaran sebenarnya, beliaunya ini pernah bilang rumahnya ada di sekitar SMPN 11 Gading Rejo, Pasuruan. Saya pun tanpa ba bi bu lansung meluncur ke sana sekalian mengukur jalan. Kira-kira, jarak dari rumah beliau ke masjid jami’ itu berapa kilo.

Saya tidak tahu berapa kilo, yang jelas kaki saya hingga senin pagi ini masih terasa jaremi karena efek sepeda ongkel sabtu kemarin. Saya simpulkan, jaraknya pasti sangat jauh. Saya pun mencari ke sana kemarin, bertanya kepada satu orang ke orang lain di sekitar SMPN 11 itu, dan akhirnya saya menemukan sebuah rumah super kecil, dengan jendela kaca yang sudah pecah-pecah, saya dekati rumah yang ada di dalam gang sempit itu hingga sepeda ongkel saya pun tidak bisa masuk. Saya pun akhirnya tiba di pintu rumah beliau dan saya dipersilakan masuk oleh istri beliau. Saat masuk pun, hati saya ini menjerit hebat (asline pengen nangis seketika itu tetapi saya tahan takutnya menyinggung perasaan beliau).

Saya perhatikan perabotan rumah beliau. Sungguh demi Allah beliau ini adalah guru ngaji termiskin (harta) dari guru-guru ngaji yang pernah saya jumpai. Almarinya pun sudah jebol tidak karu-karuan dan ruangannya pun sangat kecil. Antara kamar tidur dan dapur menjadi satu (Semoga Allah menkayakan beliau di dunia dan di akhirat kelak).

Saya pun diajak ngobrol santai, saya gunakan kesempatan ini untuk mengajukan pertanyaan berapakah yang dihasilkan dari hasil jerih payah mengajar ngaji beliau. Sontak saya langsung dimarahi, dan beliau berpesan ‘Mas, hidup ini kalau sudah tujuannya mencari ridho Allah, uang itu tidak ada artinya. Meski keadaan saya begini, saya senang dan bahagia.’ (dari versi terjemahan ujaran jawa beliau)

Dan masih banyak kekurangan-kekurangan beliau yang lain yang menurut saya itu adalah kehebatan luar biasa (saya tidak berani bercerita, karena inti dari cerita nyata ini adalah, saya ingin menyampaikan bahwa masih ada orang seperti yang ternash dalam alquran di bawah ini – setidak menurut versi saya).

Ustad Solekhan namanya, beliau masih tampak muda dan gagah meski usianya sudah menginjak 75 tahun. Tunggangan beliau pun bukan mobil apalagi sepeda motor, tetapi ongkel tua yang berhasil menaklukkan deru jalanan kota Pasuruan dan sekitarnya. Dan orang-orang seperti inilah yang seharusnya layak mendapatkan kehidupan layak dari siapa pun. Mohon doanya semoga beliau diberi kesembuhan dari penyakit yang beliau derita saat ini sehingga beliau bisa kembali mengajar kalamullah di masjid-masjid dan rumah-rumah para santri beliau.