Doa penghancur dan Mbah Yai Romli

download

سألتك يا غفار عفواوتوبة باقهر ياقهار خذ من تحيلا 
“Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu. Aduhai Dzat yang banyak mengampuni dosa-dosa. Ku mohon ampunan dan taubat. Dan dengan isim “qahr” yang Kau sandang, aduhai dzat yang maha memaksa, hancurkan orang-orang yang membuat reka-daya”

Bagi warga nahdliyin, doa tersebut di atas tentu saja tidak asing di telinga. Doa tersebut selalu terselip dalam setiap rangkaian acara istighosah. TAPI……………………………………………..

Jangan sembarangan membaca doa itu jika tidak tahu maksudnya. Kalau saya sendiri, saya tidak akan berani membaca doa itu meski saat sedang mengikuti istighosah. Alasannya sederhana, saya tidak diperkenankan untuk mengamalkan doa itu oleh kiai-kiai saya. Konon katanya, doa itu akan memunculkan sinar merah yang berarti petaka, atau jika suatu tempat dibacakan doa itu, tempat itu tidak akan bisa berkembang. Sebut saja pesantren, jika dibacakan doa itu, pesantren itu tidak akan berkembang. Begitu tandasnya dari kiai-kiai saya.

Saya pun selalu mewanti-wanti istri saya untuk tidak ikut membaca doa itu saat istighosah. Pernah suatu ketika, saya mengadakan majlis dzikir di Pasuruan, kebetulan saya tempatkan di tempat saya. Karena saya kurang tahu setting dzikir di Pasuruan, ternyata doa di atas selalu dilantunkan bahkan diulang-ulang. Benar sekali kata guru saya, sehari setelah acara, saya mengalami kecelakaan sepeda motor. Saya masuk ke kolong truk tronton, tetapi untungnya tidak terjadi apa-apa. Saya pun pulang dan merasa aman, selang beberapa jam setelah itu, saya terjatuh dari kursi kerja saya dan kakai saya terkilir. Alhasil, saya tetap mendapatkan bala’ menurut versi saya. Setelah kejadian itu, majlis dzikir itu saya ganti menjadi majlis waqiah, karena selain tidak menyinggung orang-orang di situ, juga untuk menyamarkan. Karena kalau saya menjelaskan perihal doa itu, mana mungkin orang Pasuruan yang terkenal kuat kesantriannya mau menerima penjelasan manusia yang kadang santri kadang bukan, ya saya ini. Saya ini seorang pebisnis kecil yang ingin jadi besar, sebesar-besarnya.

Lain cerita saya, lain pula cerita Mbah Yai Romli. Cerita ini tidak bisa ditiru. Alasannya sederhana, Mbah Yai Romli ini mursyid toreqoh dan kealiman serta kearifannya sudah di atas manusia rata-rata, jika beliau berani membaca ini, beliau sudah tahu risikonya dan akan kembali kepada siapa doa itu, selain mempertimbangkan segi mudhorot dan maslahat bagi kebanyakan orang.

Suatu ketika, ada seorang taipan China yang hendak mendirikan 8 gedung bioskop di depan pondok pesantren Rejoso. Tanah-tanah itu dibeli oleh taipan China itu dan digunakan sebagai tempat hiburan pertama di wilayah Jombang. Arus protes pun justeru tidak langsung datang dari Mbah Yai Romli, tetapi dari para tamu-tamu beliau yang merupakan para ulama jempolan pada zamannya. Mbah Yai Romli hanya mesem dan meminta bersabar. Sesekali menjelaskan bahwa itu hak dia membangun gedung bioskop di atas tanahnya sendiri. Para tamu itu pun nggerundel dan pikirannya belum sampai pada pikiran Mbah Yai Romli. Hingga pada puncaknya bioskop itu dibuka perdana.

Seperti yang kita tahu bioskop pada zaman itu, poster-poster maha besar pasti bertebaran di sekitar gedung, hingga ada poster yang memuat artis dengan setengah telanjang dan yang cenderung mengumbang aurat. Dari situlah beliau tidak tinggal diam. Beliau tidak menasihati si taipan itu secara langsung atau bahkan marah kepada si taipan itu. Beliau hanya meminta kepada Allah SWT, dengan dibantu oleh para santri beliau yang setia.

Hingga pada akhirnya, beliau menginstruksikan untuk membaca doa tersebut di atas bersama-sama dengan kaifiyah (tata cara) khusus beliau. Gemuruh doa itu bak angin kencang yang mampu merobohkan apa saja yang ada di hadapannya. Benar saja, saat bioskop perdana dibuka, tiba-tiba ada angin yang sangat amat kencang yang mampu merobohkan 8 gedung bioskop yang dibangun oleh taipan China tu. Aduhai rugi materi besar-besaran tentu saja.

Dari kejadian itu, si taipan pun mendapatkan hidayah. Dia masuk Islam setelah melihat kejadian itu. Dia rugi materi, tetapi dia sangatlah beruntung karena akhirnya dia menemukan mutiara Islam melalui kejadian yang akan selalu mempertebal imannya.

Wis ya, ojo ditiru, iku maqomi wali. Nek ndungo sing standar-standar ae koyo aku, contohne Robbana Atina dst….

رب فانفعنا ببرگتهم, واهدناالحسنی بحرمتهم

وأمتنا فی طريقتهم, ومعافاة من الفتن

Advertisements

Sembuh Total dengan Wasilah Tahlilan

Bagitahlilan-360x240 sebagian kaum muslimin, tahlilan mungkin dianggap sebagai amalan bidah dolalah atau sesat, namun tidak bagi kaum muslimin yang lain. Termasuk saya sendiri. Saya menganggap tahlilan itu bukan perkara yang jelek dan sesat menimbang kegiatannya yang tidak terbatas waktu dan tidak menggeser waktu-waktu wajib syariat seperti waktu sholat 5 waktu dll dan dalam rangkaian tahlilan itu akan dilantunkan ayat-ayat suci Alquran seperti

  1. Alfatihah
  2. Alikhlas
  3. Alfalaq
  4. Annas
  5. Ayat Kursi
  6. Takbir, Tahmid, Tahlil
  7. Sholawat
  8. Doa penutup

Dan biasanya ditutup dengan acara makan, tergantung shohibul hajat dan bukan merupakan suatu kewajiban. Kalau di daerah-daerah pedesaan, biasanya cukup secangkir kopi panas. Jadi tidak ada tahlilan wajib makan-makan dan memberatkan si empunya hajat.

Tahlilan tidak khusus untuk Mayyit dan harus hari ke-1-7, 40, 100. Tahlilan bisa dilakukan kapan saja dan untuk keperluan selain mendoakan mayyit. Ah panjang nanti kalau cerita ini, tapi setidaknya semoga tulisan ini bisa menjadi referensi untuk membuka cakrawal orang yang belum mengetahui esensi dari tahlil.

Saya punya pengalaman mistis dengan tahlilan ini. Demi Allah cerita ini asli tanpa rekayasa. Pernah suatu ketika Pakdhe saya, saudara ipar dari mertua saya mengalami sakit keras yang tidak kunjung sembuh. Beliau sudah berobat ke mana-mana, ke puskesmas, rumah sakit, dokter rumah, bahkan ustad dan kiai pun beliau datangi agar beliau bisa sembuh seperti sedia kala.

Sudah puluhan kali usaha pengobatan ke mana-mana dan tidak membuahkan hasil sama sekali. Akhirnya, pada suatu malam, saya bermimpi pakdhe saya itu dan saya melihat dia memanggil-manggil saya agar saya bisa menolongnya untuk menyembuhkan penyakitnya. Saya pun bingung karena berdoa saja saya tidak bisa, apalagi mengobati seperti para tabib dan ustad-ustad di Pasuruan itu.

Saya pun tidak ambil pusing. Saya datangi rumah beliau malam berikutnya. Saya pijat-pijat beliau sekenanya dan baca doa sekenanya. Saat itu pula saya terbersit, bagaimana jika diadakan tahlilan saja di rumah beliau? Seluruh anggota beliau pun mengiyakan dan akhirnya diadakan tahlilan dengan tujuan untuk mendoakan kesembuhan pakdhe saya ini. Sebagai pamungkas, saya pun berpesan supaya menyedekahkan uang ke masjid atau tempat-tempat sosial yang lain dengan tujuan untuk mencari ridho Allah SWT sekaligus untuk obat segala macam penyakit.

Selang sehari, tahlilan pun digelar dengan mengundang warga sekitar. Alhamdulillah, seketika itu, beliau sembuh dan tidak sakit lagi atas izin Allah Azza Wa Jalla melalui wasilah tahlilan.

Tulisan ini nyata adanya tanpa rekayasa atau bahkan propaganda untuk membenarkan amalan yang lagi marak diteriaki bidah, bidah, dan bidah. Terlepas dari itu semua, lihatlah sendiri rangkaiannya. tak ada satu pun yang menyalahi syariat.

Untuk menjaga ukhuwah, Anda yang bertahlil tidak boleh mengata-ngatai yang anti-tahlilan dengan sebutan wahabi dan sebangsanya. Pun sama bagi yang anti-tahlilan, Anda tidak boleh juga merasa paling benar dan menyesatkan serta mebidah-bidahkan yang melakukan tahlilan. WALAKUM A’MALUKUM. Ini hanya masalah furu’.

 

Ngopi dengan Mbah Qosim

p_20170204_173829.jpgHingga saat ini, kopi yang bisa menyegarkan jiwa dan raga ya kopi racikannya Mbah Putri, istri dari Mbah Qosim.

Mbah Qosim, mungkin di daerah Pasuruan sudah cukup dikenal atau mungkin tidak sama sekali. Pada usianya yang sangat senja, kurang lebih 95-an tahun, beliau masih sangat sehat dan tak sedikit pun terlihat tua untuk manusia seusia beliau. Dahsyatnya lagi, beliau ingat satu-satu siapa saja yang mengunjungi beliau. Tanpa obat, bahkan beliau ini alergi obat dokter. Setidaknya begitu yang saya ketahui.

Mbah Qosim ini termasuk orang yang memiliki kelebihan, pernah hidup dan bercengkerama dengan K.H. Abdul Hamid Pasuruan dan bahkan pernah suatu waktu beliau diberi petunjuk langsung oleh Mbah Yai Hamid untuk melakukan sesuatu yang tak biasa.

Mbah Qosim ini orangnya sangat sederhana, sangat berbeda dan kontras dengan orang-orang yang mungkin saat ini memiliki kelebihan sama. Saya sering main ke rumah beliau, setidaknya sebulan sekali, jaraknya pun tidak cukup jauh dari rumah saya. Mbah Qosim ini suka menyembuhkan orang-orang yang memiliki permasalahan medis dan non-medis, dari yang mulai paling berat hingga paling ringan dan tak sepeser pun beliau minta bayaran. Rumahnya pun biasa-biasanya. Beliau berpantang jika diminta orang untuk menyarang hujan (menghentikan hujan karena ada hajat tertentu) karena bagi beliau itu sama saja dengan menghentikan banyak kehidupan makhluk; singkatnya buntu rezeki.

Kebanyakan yang datang ke sana, mereka yang tak kunjung sembuh melalui ikhtiyar dokter. Cara beliau menyembuhkan pasiennya pun serba aneh. Baru saja beliau bercerita, beliau mengobati mantan kepala kejaksaan di Pasuruan yang terkena batu tidak kunjung sembuh hingga tidak bisa berbicara. Beliau pun menyuruh keluarga pasiennya ini untuk membeli apel jenis apa saja di Pasar Kebonagun, lalu apel itu dimasak dalam Majic Jar dan langsung disuruh makan seketika di hadapan beliau. Dan atas izin Allah SWT, orang ini langsung bisa ngomong. Banyak lagi cara-cara nyeleneh yang beliau lakukan yang menurut saya tidak bertentangan dengan syari.

Jika orang datang ke sini karena ada hajat kebutuhan, entah masalah kesehatan, sepiritual, atau masalah-masalah yang lain, beda lagi dengan saya. Saya ke sini berniat untuk menikmati kopi racikan Mbah Putri, masalah tambahannya, itu lain lagi.  Kebetulan, saya dibekali seplastik daun sirsak untuk diseduh guna menghilangkan segala racun yang ada dalam tubuh. Tak ada mantra khusus, apalagi yang berbau syirik dan bidah. Dan tambahan yang paling makjleb malam ini adalah pesan beliau yang sungguh harus diingat siapa saja.

‘Nak, kabeh wong duwe apes, apes iki yo ngiringi kebejan, mulo kabeh kudu diati-ati. Ojo rumongso kuwe iki wong apik, terus bejo terus. Sak bejo-bejone menungso, isih ono apesi. Dadi kabeh kudu dipikir, diati-ati, ojo grusa-grusu, kalem wae.’

‘Anakku, semua orang itu memiliki ketidakberuntungan dan ketidakberuntungan ini selalu mengiringi keberuntungan, maka semuanya harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh pikir. Jangan kamu merasa sudah baik, lalu kamu akan selalu beruntung. Seberuntung-beruntungnya manusia, tetap akan menemui ketidakberutungan. Jadi semuanya harus dipikir, dipertimbangkan, dan jangan tergesa-gesa, santai saja’

Sebaik-baiknya orang adalah orang yang berumur panjang dan banyak kebaikannya. Kebaikan itu sifatnya tidak melulu berupa ibadah murni, banyak sekali kebaikan yang di luar itu yang sifatnya bermanfaat bagi sesama. Semoga beliau diberi usia panjang dan barokah

 

 

Bless in disguise (Keminggris)

dscf0209

Tanggal 28 Januari 2017, tepat pukul 1.25 WIB saya baru tersadar bahwa saya sedang mendapatkan berkah tanpa sadar, berkah tanpa disadari, atau bahasa kasarnya, saya menemukan emas di dalam kotoran sapi. Baunya kotoran sapi sungguh tidak sedap dan tidak enak, apalagi kalau dikerubutin lalat, duh (maaf ya para pembaca, agak jorok sedikit). Tapi senang, setelah itu. 😀

Alkisah, sebentar, hmmm, syahdan, hmmm, sepertinya kata-kata itu terlalu bombastis. Ah begini saja.

Malam itu, saat mata sudah tinggal beberapa watt, kepala sudah mulai panas dan mau mengeluarkan asap, badanku seperti digebuki orang sekampung (bahasa orang lebay), saya pun ngeleset (bahasa kerennya lie on the bedroom), atau selonjoran di kamar tidur, sungguh kantuk ini tak tertahankan dan jam waktu itu menunjukkan pukul 7 malam. Sungguh masih sangat pagi untuk tidur jam segitu. Entah mau bagaimana lagi, setan ngantuk godaannya sangat besar (maaf ya setan, untuk kali ini saya mencatut namamu), akhirnya saya pun tertidur, lupa dengan segala deadline atau tugas-tugas yang lain.

Sang istri pun sepertinya tak sampai hati membangunkan tidur ganteng saya, dan itu terbukti dengan kata-katanya setelah saya bangun beberapa jam setelah itu. Tiba-tiba, ada anak yang masuk kamar dengan jeritan yang sangat keras, eh, lupa, jeritan atau tangisan. Saya tadi mendengarnya agak samar dan anak kecil ini menjerit semakin keras. “e.s e.s e.s, e.s e.s e.s, e.s e.s e.s” , jeritnya. Saya pun membuka mata saya dan saya perhatikan dari pojok ke pojok, eh ternyata anak saya yang nomor dua, entah sedang ngelindur atau apa, saya kurang tahu. Maksud dia, dia mau minta main PS (PlayStation).

Tidur saya tentu saja terganggu dan saya langsung bangun, menanyakan kepada anak saya kenapa dan tetap saja e.s, e.s. e.s. Hingga akhirnya, anak saya ini benar-benar bangun, bermain sendiri sambil saya awasi, sesekali saya dusel. Dia pun lari ke kamar satunya, naik kasur dan tidur di sana seperti sedang melamun. Saya dekati, saya garuk-garuk punggungnya. Ah, si bapak sungguh ngantuk. Saya pun tak sadar tertidur lagi dan saat saya bangun, anak saya tidak ada di sisi saya. Saya pun keluar kamar dan mencarinya, ternyata dia sedang bermain sendiri.

Malam pun semakin larut, sesekali saya melihat layar monitor komputer saya yang masih menyala dan saya sungguh shock ternyata malam ini saya ada konferensi online pukul 01.00 WIB yang jelas saya tidak ingat sama sekali. Saya langsung teringat, ternyata jeritan atau tangisan anak saya tadi pasti sinyal dari Big Bos untuk membangunkan saya dan mengingatkan saya bahwa ada tugas konferensi untuk menggarap mega proyek (saya tulis mega proyek biar kelihatan keren meski ya tetap saja proyeknya begitu-begitu saja. Lumayan buat beli susu dan beras).

Saya pernah membaca sebuah artikel singkat tentang Bless in Disguise (Berkah yang Tersamar – versi terjemahan saya – maaf kalau salah soalnya masih amatir). Saya berpikir sejenak, mencoba mengingat-ngingat, dan bertanya-tanya sendiri, ‘Apakah ini yang dinamakam Bless in Disguise?”

Yang tahu, silakan PM saya, kalau jawabannya pas di hati, saya kasih pulsa, ciyussss 😀

Garam pembawa petaka!

images

Garam

Siapa yang tidak kenal dengan garam. Garam ini fungsinya banyak sekali. Selain sebagai penyedap makanan kita sehari-hari, ternyata ada banyak manfaat lainnya yang tidak bisa dinalar menggunakan logika kita. Sebut saja untuk mengusir demit, mendatangkan sesuatu, atau bahkan untuk berbuat jahat.

Alkisah delapan atau sembilan tahun yang lalu ketika saya masih bekerja sebagai seorang guru swasta di salah satu kawasan paling rawan di daerah Surabaya. Sekolah yang menjadi tempat saya ini tampak baik-baik saja, hingga pada akhirnya ada gejolak kepentingan dan nafsu amarah yang tak bisa dipadamkan. Tetapi, biarlah kisah ini saya simpan sendiri.

Nah, suatu ketika saya berangkat ke sekolah pagi-pagi. Kepala sekolah saya yang kebetulan seorang Chinese taat mendapati bahwa ruangannya penuh dengan garam kasar. Sontak, dia pun tidak berani memasuki ruangannya itu. Pikirnya, pasti ada orang yang ingin berbuat terhadapnya. Sejurus kemudian, saya pun tiba. Kebetulan ruangan guru dan ruangan kepala sekolah berdekatan, tak kurang dari 1 meter alias jejer.

Saya yang masih fresh dari sepeda motor dan kasarannya jiwa saya masih belum jangkep. Saya pun dipanggil kepala sekolah itu dan disuruh membersihkan garam yang berserakan itu Pikir saya, ini maksudnya apa coba saya disuruh membersihkan garam yang sepertinya ditabur untuk niat jahat.

Kepala sekolah saya pun mengusut siapa yang menabur garam di ruangannya dan akhirnya, tuduhan itu jatuh kepada para pihak keamanan karena mereka yang berada di sekolah selama 24 jam. Memang ada-ada saja, dan konon ceritanya, garam itu ditabur agar sang kepala sekolah tidak jadi mengusut kasus pencurian yang terjadi saat itu. Pikir saya, ada-ada saja orang mau menghilangkan jejak jahatnya. Kalau dipikir-pikir, kalau tidak mau mengalami kejadian yang demikian, ya tidak usah mencuri, pasti tidak usah menabur garam segala.

Garam itu sungguh pembawa petaka bagi saya. Betapa tidak! Saya yang pagi-pagi rapi bau wangi dan harus menyambut murid-murid saya di sekolah malah mengalami sebaliknya. Saya harus mengambil air menggunakan ember besar, mengangkatnya dari kamar mandi ke ruangan kepala sekolah, membersihkan garam yang berserakan, lalu mengepel seluruh ruangan itu untuk menghindari hal-hal yang bukan-bukan. Nah, keringat pun bercucuran dan bau kecut pun menyebar. Sungguh garam itu membawa petaka bagi saya! 😀

Perjalanan bertemu dua guru sejati (Bagian 2)

Dan akhirnya saya punya waktu untuk menyambung cerita mistis saya.

Gunung itu nampak sangat tinggi. Saya pun bergegas menaiki gunung itu lagi. Tanpa saya duga, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tampak tenang berada di atas bok mobil pick-up dengan laju kendaraannya yang lumayan. Beliaunya melewati saya dan tersenyum kepada saya. Saya pun ikut tersenyum, dan saya beliau melambaikan tangan beliau sambil tersenyum dan berteriak dengan lembutnya ‘Ayo melok aku munggah wae’ (Ayo, ikut saya naik saja). Saya pun tidak mengabaikan ajakan beliau. Saya ikut beliau. Saya naik mobil pick up itu bersama beliau. Duduk berdua di bok pick-up, tanpa menghiraukan si sopirnya.

Selama perjalanan, tak banyak yang kami obrolkan. Beliau hanya tersenyum melihat saya dan sesekali berujar. Perjalanan menaiki gunung itu sungguh lancar, tak ada halangan apa pun hingga kami tiba di puncak tertinggi gunung itu. Akhirnya, mobil pick-up itu berhenti di bagian teratas gunung, dan sang guru ini pun menyuruh saya turun dari mobil pick-up dan berpamitan kepada saya. “Saya tinggal dulu, kamu ke sana. Temui orang yang ada di sana”.

Saya pun ditinggal beliau sendirian. Tak tersadar, pandangan saya pun teralihkan ke sebuah sinar terang di puncak gunung itu. Ada sesosok lelaki yang sedang duduk-duduk di kursi sendirian. Saya pun penasaran. Saya dekati dan semakin saya dekati, sinar itu semakin terang. Saya pun akhirnya berada dalam jarak yang sangat dekat dengan sinar ini. Sang lelaki yang nampak bersinar ini berdiri, menghampiri saya dan saya sungguh kaget, ternyata beliau adalah guru saya waktu saya masih sekolah dulu. Saya pun mencium tangan beliau. Dan beliaunya pun tersenyum menyambut saya.

Sebuah proses pencarian guru sejati ini ditunjukkan dari sebuah mimpi seorang pendosa. Mimpi seorang hamba yang tiada hari tiada berbuat dosa. Saya pun tak pikir panjang. Keesokan harinya, saya pergi ke ndalem kedua guru sejati ini. Saya sowani satu-satu sesuai dengan urutan mimpi saya. Saya ceritakan perihal mimpi saya ini kepada beliau berdua. Masing-masing punya keistimewaan sendiri-sendiri, masing-masing memberikan wejangan sendiri-sendiri dan saya pun mengisahkan permasalahan saya kepada beliau. Beliau berdua pun dengan santai menanggapi permasalahan itu. Salah satu dari beliau memberikan sebuah amalan doa dan dengan penuh kemantapan memberi  tahu saya bahwa semuanya akan kembali baik-baik saja. Yang jelek akan sirna dan musnah.

Sungguh betul kata guru mulia. Seluruh penyakit masyarakat di sekitar rumah sirna tanpa bekas. Semua yang meresahkan masyarakat hilang satu per satu hingga tak menyisakan suatu masalah apa pun. Begitulah perjalanan mencari guru sejati saya. Semoga beliau berdua selalu dalam lindungan Allah SWT.

Perjalanan bertemu dua guru sejati

downloadSudah lama sekali tidak menulis di blog dan sebenarnya ingin menceritakan kisah yang mungkin sebagian orang menganggapnya sebagai cerita orang ora waras, tetapi cerita ini setidaknya bisa dijadikan bahan guyonan jika mau atau lucu-lucuan, tetapi saya menganggap mimpi saya ini benar adanya dan akhirnya saya menemukan teka-teki dalam mimpi itu.

Suatu ketika, kalau tidak salah sekitar 2 tahunan yang lalu, saya mengalami kejadian yang sungguh tak seorang pun ingin mengalaminya; diancam orang, dikirimi ‘hadiah’, sampai rumah dimaling orang dan semua itu dilakukan oleh orang yang mungkin sama atau atas dasar hasud. Saat saya sedang sakit keras dan memeriksakan diri ke RS setempat, ternyata tak satu pun penyakit yang terdeteksi dan akhirnya, saya pun beralih ke jalur lain; jalur doa dan alhamdulillah penyakit saya langsung sembuh total dan konon katanya, saya sedang dikerjai oleh seseorang. Dari kejadian ini, saya pun akhirnya dianjurkan untuk berguru kepada salah satu kiai di Mojokerto.

Masalah pun tak berhenti di situ, musuh saya semakin banyak. Tiap pagi kalau mau berangkat ke kantor, selalu dihadang oleh tetangga beserta teman-temannya yang memang sengaja ingin mencari gara-gara dengan saya. Seluruh teman-teman premannya diajak ke rumahnya hampir tiap pagi. Saya pun hanya cuek, secuek-nya dan singkat cerita, akhirnya rumah saya pun berhasil dibobol maling dan seluruh uang beserta HP saya hilang. Saya pun bingung, perasaan rumah ini pagarnya sudah penuh baik secara fisik dan non-fisik.

Saya pun langsung melaporkan kejadian ini kepada guru saya dan sepertinya setiap kejadian selalu ada hikmah setelahnya. Saya selalu yakin itu. Saya pun ingin membaiatkan diri sebagai murid dan santrinya secara utuh dan guru saya pun berkata demikian, ‘Mas Alex, ikhlaskan semuanya dan carilah guru lagi sampai ketemu.’

Ah, saya bingung, ini namanya mau jadi murid tetapi malah disuruh mencari guru. Saya pun mengiyakan dan mulai mencari-cari guru berdasarkan mimpi-mimpi yang berdatangan. Pernah suatu ketika saat malam tiba, saya didatangi oleh salah satu habib yang sangat terkenal di Pasuruan dan saat pagi itu juga, saya pun langsung ke kediamannya. Saya sowan ke sana dan dengan harapan, beliau ini yang kelak akan menjadi guru saya. Ternyata, hati ini tiada kecocokan.

Hari berlalu dan saya pun mimpi lagi. Kali ini, saya bermimpi anak kecil dan anak kecil ini mencari saya dan ketemu saya, lalu dia berujar, ‘Mas, dicari Gus Idris.’ Saya pun langsung ke kediaman Gus Idris dan benar saja, saya disambut anak kecil di sekitar kediaman Gus Idris Pasuruan dan diantarkan anak itu ke kediaman Gus Idris. Kejadian yang sama persis dengan yang terjadi dalam mimpi. Saya pun akhirnya bertemu dengan beliaunya dan lagi-lagi, tiada kecocokan dalam hati ini dan itu berarti, saya harus mencari guru lagi.

Lalu beberapa malam kemudian, saya mimpi menaiki sebuah gunung menggunakan sepeda motor dan tanpa diduga, sepeda motor saya jatuh dari gunung itu dan alhamdulillah, hanya sepeda motor saya yang rusak dan musnah, saya tidak apa-apa. Lalu, saya ditolong oleh dua orang yang tidak saya kenal sama sekali dan salah satu dari mereka membentak temannya, ‘Heh, jarno ae arek iki ojo ditulungi. Ben kapok. Engko lak iso ngadek-ngadek dewe.’ Kurang lebih artinya, Hai, anak ini tidak usah diperhatikan dan tidak usah dibantu. Biar dia rasakan. Nanti dia bisa berdiri sendiri.

Saya pun bergegas naik gunung itu lagi, dan ……… (bersambung)