Belajar hidup dari Mak Ketan

Kira-kira, saya ini sedang apa?

Kurang lebih, saya sedang nyambi cangkruan dan menggoda mak ketan ini. Kebetulan, mak ini (sebut saja mak ketan, karena saya tanya nama beliau, beliau tidak berkenan menjawab) sedang lewat di depan masjid jami’ Al Anwar Pasuruan.

Obrolan pun dimulai dengan saya membeli 5 biji ketan seharga lima ribu (satu bungkus harganya seribu) dari beliau. Saya pun langsung sodorkan uang Rp100.000 dan mak ketan ini langsung mengembalikan uang itu kepada saya. Saya pun menolaknya dan meminta beliau untuk memegang uang itu, tapi beliau tetap keukeuh mencari kembalian uang itu.

Semua orang, termasuk bapak-bapak tukang becak pun dimintai tolong untuk bisa ditukari uang itu agar bisa mengembalikan uang saya. Sambil nderemil (berbicara tanpa arah) mak ketan ini menata dagangannya, dan akhirnya saya goda beliau untuk menunggu istri saya datang. Istri saya akan membawa uang pas. Beliau pun bersedia menunggu hingga istri saya tiba.

Dalam percakapan selama penantian itu, saya pun menggoda beliau. Mak, jenengan kok bisa awet muda begitu apa rahasianya, jenengan pasti umurnya 80 ke atas? (Bu, Anda kok bisa awet muda begini apa rahasianya, Anda umurnya sudah pasti di atas 80 tahun)

Mak ini pun akhirnya buka suara. Nak, nek kowe kepengen koyo emak, yo kudu rajin solat, ngaji, nek bengi ojo lali tahajud, terus jaluki nang masjid, gak usah rame-rame, gak usah kondo-kondo. Cukup kowe ae sing weruh. (Nak, jika kamu ingin seperti ibu, kamu harus rajin solat, ngaji, kalau malam jangan lupa tahajud, terus memintalah di masjid, tidak usah keras-keras atau berisik, cukup kamu saja yang tahu maksudmu).

Cerita pun berlanjut hingga zaman gestapu, tapi istri saya keburu datang sehingga saya memutuskan untuk pulang.

Setidaknya, berkumpul dengan orang-orang seperti inilah yang pada akhirnya akan memberikan obat hati untuk kita. Mak ini bicaranya hanya seputar dagangang yang harganya cuma 1000, selebihnya beliau berbicara melulu soal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla. Wis yo mak, mugo2 ketane laris manis semanis sing tuku haha

Advertisements

Sembuh Total dengan Wasilah Tahlilan

Bagitahlilan-360x240 sebagian kaum muslimin, tahlilan mungkin dianggap sebagai amalan bidah dolalah atau sesat, namun tidak bagi kaum muslimin yang lain. Termasuk saya sendiri. Saya menganggap tahlilan itu bukan perkara yang jelek dan sesat menimbang kegiatannya yang tidak terbatas waktu dan tidak menggeser waktu-waktu wajib syariat seperti waktu sholat 5 waktu dll dan dalam rangkaian tahlilan itu akan dilantunkan ayat-ayat suci Alquran seperti

  1. Alfatihah
  2. Alikhlas
  3. Alfalaq
  4. Annas
  5. Ayat Kursi
  6. Takbir, Tahmid, Tahlil
  7. Sholawat
  8. Doa penutup

Dan biasanya ditutup dengan acara makan, tergantung shohibul hajat dan bukan merupakan suatu kewajiban. Kalau di daerah-daerah pedesaan, biasanya cukup secangkir kopi panas. Jadi tidak ada tahlilan wajib makan-makan dan memberatkan si empunya hajat.

Tahlilan tidak khusus untuk Mayyit dan harus hari ke-1-7, 40, 100. Tahlilan bisa dilakukan kapan saja dan untuk keperluan selain mendoakan mayyit. Ah panjang nanti kalau cerita ini, tapi setidaknya semoga tulisan ini bisa menjadi referensi untuk membuka cakrawal orang yang belum mengetahui esensi dari tahlil.

Saya punya pengalaman mistis dengan tahlilan ini. Demi Allah cerita ini asli tanpa rekayasa. Pernah suatu ketika Pakdhe saya, saudara ipar dari mertua saya mengalami sakit keras yang tidak kunjung sembuh. Beliau sudah berobat ke mana-mana, ke puskesmas, rumah sakit, dokter rumah, bahkan ustad dan kiai pun beliau datangi agar beliau bisa sembuh seperti sedia kala.

Sudah puluhan kali usaha pengobatan ke mana-mana dan tidak membuahkan hasil sama sekali. Akhirnya, pada suatu malam, saya bermimpi pakdhe saya itu dan saya melihat dia memanggil-manggil saya agar saya bisa menolongnya untuk menyembuhkan penyakitnya. Saya pun bingung karena berdoa saja saya tidak bisa, apalagi mengobati seperti para tabib dan ustad-ustad di Pasuruan itu.

Saya pun tidak ambil pusing. Saya datangi rumah beliau malam berikutnya. Saya pijat-pijat beliau sekenanya dan baca doa sekenanya. Saat itu pula saya terbersit, bagaimana jika diadakan tahlilan saja di rumah beliau? Seluruh anggota beliau pun mengiyakan dan akhirnya diadakan tahlilan dengan tujuan untuk mendoakan kesembuhan pakdhe saya ini. Sebagai pamungkas, saya pun berpesan supaya menyedekahkan uang ke masjid atau tempat-tempat sosial yang lain dengan tujuan untuk mencari ridho Allah SWT sekaligus untuk obat segala macam penyakit.

Selang sehari, tahlilan pun digelar dengan mengundang warga sekitar. Alhamdulillah, seketika itu, beliau sembuh dan tidak sakit lagi atas izin Allah Azza Wa Jalla melalui wasilah tahlilan.

Tulisan ini nyata adanya tanpa rekayasa atau bahkan propaganda untuk membenarkan amalan yang lagi marak diteriaki bidah, bidah, dan bidah. Terlepas dari itu semua, lihatlah sendiri rangkaiannya. tak ada satu pun yang menyalahi syariat.

Untuk menjaga ukhuwah, Anda yang bertahlil tidak boleh mengata-ngatai yang anti-tahlilan dengan sebutan wahabi dan sebangsanya. Pun sama bagi yang anti-tahlilan, Anda tidak boleh juga merasa paling benar dan menyesatkan serta mebidah-bidahkan yang melakukan tahlilan. WALAKUM A’MALUKUM. Ini hanya masalah furu’.

 

Hidup Mulia Tanpa Klenik dan Kanuragan

Capture2222

Pernah suatu ketika saya dinasihati oleh salah satu mursyid toreqoh mu’tabaroh bahwa dalam hidup, ilmu sejati yang harus terus dicari adalah ilmu selamet (selamat, aman dari segala marabahaya dunia dan akhirat), bukan sebaliknya, mencari ilmu kesaktian atau kanuragan.

Jika kita muslim, maka salat lima waktu tepat waktu dan berjamaah (diusahakan bisa) serta melakukan salat-salat sunnah yang lain sesuai waktu dan kebutuhan (hajat, dhuha, tahajud, dll) adalah sesuatu yang mutlak untuk meraih keselamatan itu, sisanya bisa ditambahkan dengan kegiatan-kegiatan sunnah lainnya, termasuk kegiatan bermuamalah dengan sesama.

Beliau pun melanjutkan cerita bahwa orang yang memiliki ilmu kanuragan atau klenik biasanya hidupnya hanya sebatas PAS atau bahkan kurang-kurang. Setidaknya, saya mengamini nasihat beliau karena saya melihat fenomena yang ada di masyarakat, terutama di daerah kelahiran dan tempat tinggal saya saat ini memang begitulah kenyataannya. Sebut saja, ini bagi yang percaya dengan ilmu santet atau sihir, bahwa untuk menangkal santet atau sihir, orang akan mengamalkan amalan yang macam-macam, entah mantra, entah jampi-jampi, dan sejenisnya, tetapi jauh dari itu, jika kita mengerti ilmu hadits secara utuh, dengan salah isya’ berjamaah saja, Insyallah kita akan terhindar dari ilmu santet dan sejenisnya. Jadi, modalnya hanya salat isya’ berjamaah.

Nah, kebetulan saya menemukan fenomena online sebagai verifikasi pamungkas dawuh atau nasihat dari mursyid toreqoh bahwa ucapan beliau itu ada benarnya jika ditilik dari status anggota grup yang sudah saya samarkan nama orang dan nama grupnya. Silakan disimak sendiri dan direnungi sendiri.

Bagi kawan-kawan yang masih bergelut dengan aneka klenik dan kesaktian atau kanuragan, sebaiknya ditinggalkan, karena sejatinya itu semua tiada bermanfaat dalam jangka panjang, mungkin terlihat hebat sesaat itu iya. Juga, bagi teman-teman yang suka menyesatkan para sufi atau ahli toreqoh, sampeyan perlu piknik. Orang-orang toreqoh itu lebih wirai dari orang biasa, lebih ingat Allah SWT daripada kita kebanyakan, yang dilupakan dengan urusan dunia. Mereka bekerja, mengajar, belajar, tetapi selalu mengingat Allah SWT dan bermuamalah penuh adab tak seperti kita.

Saya bukan pengamal klenik, juga bukan ahli toreqoh atau pengikut toreqoh mana pun, tulisan ini saya tulis di sela-sela waktu senggang saya dari angon.

Aku tak butuh harta, tapi ridho-NYA

P_20170731_060928_HDR.jpg

Wah, jangan salah paham dengan judul postingan FB saya ini. Itu salah satu ujaran dari salah satu ustad ngaji yang saya temui sabtu siang kemarin, bukan saya, saya masih cinta dan butuh harta.

Jadi, ceritanya begini. Sabtu itu, saya sedang mood bersepeda ongkel dengan tujuan yang tidak jelas. Dalam perjalanan muter-muter itu, saya kepikiran salah satu guru ngaji di masjid Jami’ Pasuruan. Cuma penasaran sebenarnya, beliaunya ini pernah bilang rumahnya ada di sekitar SMPN 11 Gading Rejo, Pasuruan. Saya pun tanpa ba bi bu lansung meluncur ke sana sekalian mengukur jalan. Kira-kira, jarak dari rumah beliau ke masjid jami’ itu berapa kilo.

Saya tidak tahu berapa kilo, yang jelas kaki saya hingga senin pagi ini masih terasa jaremi karena efek sepeda ongkel sabtu kemarin. Saya simpulkan, jaraknya pasti sangat jauh. Saya pun mencari ke sana kemarin, bertanya kepada satu orang ke orang lain di sekitar SMPN 11 itu, dan akhirnya saya menemukan sebuah rumah super kecil, dengan jendela kaca yang sudah pecah-pecah, saya dekati rumah yang ada di dalam gang sempit itu hingga sepeda ongkel saya pun tidak bisa masuk. Saya pun akhirnya tiba di pintu rumah beliau dan saya dipersilakan masuk oleh istri beliau. Saat masuk pun, hati saya ini menjerit hebat (asline pengen nangis seketika itu tetapi saya tahan takutnya menyinggung perasaan beliau).

Saya perhatikan perabotan rumah beliau. Sungguh demi Allah beliau ini adalah guru ngaji termiskin (harta) dari guru-guru ngaji yang pernah saya jumpai. Almarinya pun sudah jebol tidak karu-karuan dan ruangannya pun sangat kecil. Antara kamar tidur dan dapur menjadi satu (Semoga Allah menkayakan beliau di dunia dan di akhirat kelak).

Saya pun diajak ngobrol santai, saya gunakan kesempatan ini untuk mengajukan pertanyaan berapakah yang dihasilkan dari hasil jerih payah mengajar ngaji beliau. Sontak saya langsung dimarahi, dan beliau berpesan ‘Mas, hidup ini kalau sudah tujuannya mencari ridho Allah, uang itu tidak ada artinya. Meski keadaan saya begini, saya senang dan bahagia.’ (dari versi terjemahan ujaran jawa beliau)

Dan masih banyak kekurangan-kekurangan beliau yang lain yang menurut saya itu adalah kehebatan luar biasa (saya tidak berani bercerita, karena inti dari cerita nyata ini adalah, saya ingin menyampaikan bahwa masih ada orang seperti yang ternash dalam alquran di bawah ini – setidak menurut versi saya).

Ustad Solekhan namanya, beliau masih tampak muda dan gagah meski usianya sudah menginjak 75 tahun. Tunggangan beliau pun bukan mobil apalagi sepeda motor, tetapi ongkel tua yang berhasil menaklukkan deru jalanan kota Pasuruan dan sekitarnya. Dan orang-orang seperti inilah yang seharusnya layak mendapatkan kehidupan layak dari siapa pun. Mohon doanya semoga beliau diberi kesembuhan dari penyakit yang beliau derita saat ini sehingga beliau bisa kembali mengajar kalamullah di masjid-masjid dan rumah-rumah para santri beliau.

Dan bapakku guru ngaji pertamaku.

Di mana pun dan kapan pun membaca atau mendengar surat ini, pikiran dan otak saya selalu dibawa kembali ke masa super silam atau kalau kaset begitu ya, direwind sampai habis mundur ke belakang.

Masa kecil saya itu termasuk masa yang paling malas bagi saya. Jika Yanto, Yono, Budi HartonoDidik Fafa Swimming Course, dan kawan-kawan saya yang lain sudah tartil membaca Alquran, beda lagi dengan saya. Saya ini yang paling malas sejagat. Alhasil, Alif Ba Ta ya tidak paham sama sekali.

Suatu ketika saat teman-teman yang lain hendak akan mengaji Alquran di musholla Mbah Bashir (sekitaran masjid Attaqwa Paciran), saya ditinggal oleh teman-teman yang akan hendak mengaji di sana, kebetulan malam itu adalah malam pertama saya akan memulai ngaji Alif Ba Ta. Seperti anak kecil pada umumnya, karena ditinggal oleh teman-teman saya, saya pun menangis sejadi-jadinya. Bapak saya, yang kebetulan akan melakukan salat wajib infirod di rumah pun dengan tanggap menyambut tangan saya, dan digelarkan sajadah, serta disiapkan Alquran tebal yang tampak kuno (sepertinya masih tersimpan rapi di rumah).

Seusai salat maghrib berjamaah dengan saya, kami duduk bersila dan surat alquran di foto inilah yang pertama diajarkan beliau kepada saya. Saya hanya disuruh mendengarkan tanpa dijelaskan satu-satu maksud dari ayat itu bahkan makhrojnya. Pokoknya, saya disuruh menyimak dan melantunkannya berulang dan…..

Secara tidak langsung, saya hafal surat ini dengan sendirinya melalui suara yang dikeluarkan oleh bapak saya. Jika saya ditanya siapa guru ngaji saya pertama, ya itu bapak saya.

Saya tidak sedang ‘ngapik-ngapik’ (promosi) bapak saya. Bapak saya ini ngajinya super lancar (saat beberapa kali main di Pasuruan), tapi anehnya anaknya yang satu ini malah mulai belajar ngaji. Alhasil, baca Qurannya masih belum cetoh bahkan tidak jelas dan tidak karuan. Lak isin2i bapak e ah ngene iki. Bapake pinter ngaji, anake OON. Bapake wis hatam bolak balik, anake mek hatam fatihah bolak balik.

Fenomena ngustad ngonline nginternasional

ilustrasi-Online
Ngustad-ngustad begini ini biasanya hanya tahan banting dalam ujian kelas 1, tidak kelas 2 sampai 10. Nah bingung kan dengan maksud saya???
 
Para ulama sepuh kampung sama berpesan, zaman ini zaman fitnah, orang pintar bisa kelihatan bodoh dan juga sebaliknya, lawong benar saja bisa jadi salah, cukup edit gambar atau video, lalu kreasikan sesuai nafsu, jadi deh!
 
Saya melihat dan menyaksikan sendiri hebatnya akhlak dan resistansi ulama-ulama kampung, ada yang difitnah sesat lagi menyesatkan, ada yang difitnah ilmunya kurang, ada yang difitnah macam-macam yang saya rasa lebih dahsyat dari fenomena para gus dan kiai ngonline saat ini yang sedang ramai. Lalu apa sikap beliau-beliau ini, para ulama kampung ini?? Mereka hanya diam seribu bahasa sambil tersenyum, tak secuil pun mereka mengklarifikasi dan juga menunjukkan kebaikan apa saja yang mereka sudah lakukan selama ini. Mereka semuat tidak butuh itu! Mereka sudah tsiqoh bahwa KEMULIAAN ITU MILIK ALLAH, PUN KEHINAAN. SIAPA YANG DIKEHANDAKI-NYA MULIA, MAKA MULIALAH, PUN SEBALIKNYA. Ilmu mereka sangat tinggi, nek aku ngono yo pesti mencak-mencak, wong diarani ra iso ngaji ae mencak-mencak, padahal yo ancen ra iso ngaji hahaha
 
“Surat Ali ‘Imran Ayat 26
 
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
 
Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
 
Saya tidak sedang menjadi komentator, karena saya tidak dibayar untuk jadi komentator. Ada ngustad ngonline yang baru diterpa isu ‘ora entos ngaji’, lakok langsung konferensi pers selama 50 menit lebih, anehnya lagi, beliau ini menyebut semua kebaikan yang sudah dilakukannya, lo lo lo, ajor jum ganjarane ajor ajor ajor. Nek gawe aku wong kampung ra entos ngaji ngene iki, ngustad model ngono iku wis kudune lewat, opo maneh ngustad sing seneng misuh2, Kanjeng Nabi gak tahu misuh 😀
 
#isengjum

Nasi kuning ini rasanya sudah tak sama

Saya tak pernah suka nasi kuning, mungkin hingga saat ini, tapi terkadang, saya juga memakannya saat ingin bernostalgia dengan keadaan yang menurut saya sangat lucu dari sudut pandang saya yang sekarang. Saya masih ingat betul 13 tahun yang lalu, saat saya masih kuliah di Surabaya waktu itu. Dana sudah sangat pas-pasan, orang tua sepertinya sudah akan mengibarkan bendera putih untuk sekolah saya dan untungnya, saat itu juga saya dapat pekerjaan dengan gaji yang tak seberapa, tapi sangat membantu hidup dan kuliah saya di Surabaya.

Dengan gaji Rp400.000 sebulan, dikurangi untuk bayar kos Rp75.000 sebulan dan SPP kuliah bulanan sebesar Rp110.000, jadi uang itu sisa Rp215.000 untuk kebutuhan lain, termasuk makan. saya tidak ambil pusing waktu itu, atau berpikir yang macam-macam untuk melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Malah saya prihatin dengan diri saya sendiri, terkadang meratapi kekurangan itu.

Saya pun memutar otak keras-keras, bagaimana saya bisa hidup dengan uang yang ada di tangan itu (Rp215.000) untuk sebulan dan tiba-tiba, datanglah seorang ibu-ibu meracang dengan membawa aneka daganganngya, termasuk nasi kuning. Gambarnya sama persis dengan yang ini:

p_20170406_072807_sres.jpg

Nasi kuning ini harganya Rp7.000

Singkat cerita, saya tertarik dengan nasi kuning yang dibawa ibu-ibu ini. Saya membelinya dengan harga Rp1000 waktu itu. Saya selalu beli dua, satu untuk pagi dan satunya untuk Malam. Kalau mau tanya kenyang tidak makan nasi seribu, ya bisa dijawab sendiri bagaimana. Saya hanya butuh untuk mengganjal perut saya agar tidak lapar dan menyambung hidup dari hari ke hari.

Dulu sekali, nasi kuning ini rasanya sangat nikmat dan rahasianya mungkin karena saya makannya penuh dengan nafsu makan. Saya sangat lapar terlebih dahulu sebelum saya bisa melahap nasi kuning ini. Sebelum berangkat kuliah, saya makan satu plastik mika ini dan sesudah pulang kerja sekitar pukul 22.00, saya makan yang satunya, entah basi atau tidak, pokoknya saya makan saja.

Selalu saja, kalau saya melihat nasi kuning di mana pun, saya tidak begitu berselera. Bukan karena saya tidak doyan, tapi saya selalu ingat waktu itu. Makan nasi kuning dua bungkus untuk sehari penuh dan rasanya laparrrr masih saja menggelayut di perut. Dan…. ada rasa kepedihan yang rasanya tidak bisa dirasakan (lebay poko’e).

Hari ini saya membeli nasi kuning di sebelah rumah, porsinya pun sama persis, termasuk lauknya, bedanya cuma satu. Saya makan separuh saja sudah kenyang dan tidak habis, beda dulu, saya tak menyisakan satu biji pun. Ah nasi kuning, you saved my life!