Runtuhnya Kerajaan Cinta

IMG-20180623-WA0021Siang itu, di sekitar pelataran pasar Kebonagung, Pasuruan, saya duduk-duduk sambil menunggu istri, anak, dan mertua saya yang sedang berbelanja di pusat kulakan Sengkuko. Menunggu dan tidak berbuat apa pun itu membosankan, apalagi sendirian. Saya buka HP saya dan mencoba menggoda teman saya dengan gambar-gambar sekitar pasar. Gambar saya pun mendapatkan respons baik dan akhirnya saya pun mengajak teman saya yang terpancing ini ngopi di warung di ujung jalan Pasar Bonagung.

Tak biasanya saya ngopi di sana, seakan saya memang akan ditunjukkan sebuah pelajaran berharga. Benar saja, saat saya duduk dan pesan kopi kepada seorang ibu paruh baya, beliau tampak biasa-biasa saja, hingga datanglah seorang lelaki tua, mengontel sepeda anginnya dari kejauhan, mendekat ke warung tempat saya ngopi dan benar saja beliau tanpa canggung dan sungkan langsung duduk di sebelah saya. Tak banyak basa-basi dari dia, sekadar mengucap dan bergumam jajannya tinggal sedikit. Saya perhatikan jemarinya yang dipenuhi batu akik dan pikiran saya pun antara positif dan negatif, sehingga saya pun terpaksa membuka percakapan hanya untuk tahu siapa sebenarnya bapak tua ini. Benar ternyata, dia seorang pemilik sawah yang memang tanpa seperti orang tak punya jika sekilas dipandang mata.

Bapak tua ini pun mulai akrab dengan saya, bertanya ke sana dan ke mari, hingga si ibu penjual pun penasaran dan menyodorkan kumpulan foto orang-orang besar yang pernah bersama ibu penjual ini. Di antaranya, ada K.H Ahmad Subadar (Alm. Ya Allah tambahkanlah rahmat untuk beliau), Habib Hasan Bin Muhammad Bin Hud Assegaf (semoga Allah SWT selalu sehatkan badan beliau, panjangkanlah usia beliau). Saya pun melihat-lihat seluruh foto itu dan ibu itu pun mulai bercerita soal rumah tangganya.

Beliau menikah di usia 13 tahun dan ditinggal suaminya meninggal saat dia berusia 22 tahun. Dia meninggalkan anak semata wayan dan pada akhirnya anak beliau pun ikut meninggalkannya, dengan meninggalkan sejumlah hutang yang memaksa si ibu ini menjual seluruh asetnya termasuk rumah satu-satunya yang saat ini menjadi tempat usaha tahu campur Lamongan di sekitaran Jalan Pangsud Pasuruan.

Malang pasti datang, musibah pasti tiba. Beliau bercerita, kehidupannya sangat makmur saat suaminya masih ada. Beliau salah satu wanita yang disegani di zamannya. Tak tanggung-tanggung, ternyata beliau ini adalah teman sekelas Ustadzah Uchie yang kesohor se-Pasuruan dengan ceramahnya yang krenyes-krenyes. Semua kerajaan ada masa jayanya dan kejayaan abadi kerajaan takkan bisa diraih tanpa bersanding dengan keseimbangan antara kehidupan keagamaan seseorang dan kehidupan duniawinya. Jika kerajaan itu hanya mengurusi urusan dunia, kerajaan itu sudah pasti hancur pada akhirnya. Jika sebaliknya, ada kepastian bahwa kerajaan itu selalu jaya.

Saya tidak sedang menghakimi ibu yang malang ini, setidaknya, inilah pelajaran bagi saya pribadi untuk selalu waspada, apa pun keadaannya. Ya Allah selamatkanlah kami, keluarga kami, anak cucu kami dari tipu daya dunia dan akhirat, tetapkanlah iman dan Islam kami, berilah manfaat atas ilmu-ilmu kami, matikanlah kami dalam keadaan khusnul khotimah, dan berikanlah kami apa saja yang bermanfaat dan barokah serta jauhkanlah kami dari kefakiran.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s