Majelis Rasulullah yang Sebenarnya

31760169_10211129917394801_1129534978183397376_n

Sore itu, tepat pada Hari Ahad, dengan pasaran Wage. Atau Ahad Wage setelah ashar, sungguh majlis rutinan ngaji maknani burdah ini tampak tak biasa. Bab demi bab berhasil dilalui dengan khidmat, hingga sampailah pada bab Keutamaan Rasulullah…

Beliau, Yai Salim (saya biasa memanggil beliau begitu), memulai dengan tawasul kepada Nabi dan para auliya, lalu dibacakanlah bait demi bait burdah nan indah itu, lalu dimaknani satu per satu.

FAHWA mongko utawi kanjeng Nabi ALLADZI iku wong TAMMA kang sempurno MA’NAHU opo tingkah batine wong WASHUUROTUHU lan tingkah lahire wong TSUMMAASHTHOFAA monko keri-keri milih HU ing kanjeng Nabi HABIIBAN ing kekasih BAARIUNNASAMI sopo dzat kang nitahno menungso

MAKA DIALAH SANG NABI NAN SEMPURNA DERAJAT LAHIR DAN BATINNYA, LALU SANG MAHA PENCIPTA MANUSIA PUN MEMILIHNYA SEBAGAI SEORANG KEKASIH

Entah perasaan saya saja atau bagaimana, tetapi saya sungguh merasakan yang tidak biasa. Sepertinya ada yang terpendam dalam sanubari, kesedihan dan kerinduan yang mendalam kepada Kanjeng Nabi, dan tiba-tiba, saya pun ikut bersedih. Saya simpan erat-erat agar tidak sampai menitikkan air mata. Benar saja, Yai Salim membacakan bait-bait itu dengan penuh penghayatan, bahkan beliau pun sempat tak sanggup meneruskan cerita yang beliau ceritakan di hadapan para santri beliau. Beliau menangis hebat, apalagi saat beliau menceritakan detik-detik kematian Sang Kekasih Allah, saat detik-detik Bilal Bin Rabah meninggalkan Madinah dan kembali ke Madinah lagi, demi Kekasih hatinya yang sangat Bilal cintai. Saat penduduk madinah mendengarkan adzan sekali lagi dari Bilal Bin Rabah dan mereka berhamburan keluar, bukan apa yang ditanyakan oleh mereka tetapi mereka keluar dengan bertanya-tanya, AYA HAYYA MUHAMMAD AYA HAYYA MUHAMMAD AYA HAYYA MUHAMMAD AYA HAYYA MUHAMMAD (APAKAH MUHAMMAD HIDUP LAGI, APAKAH MUHAMMAD HIDUP LAGI, APAKAH MUHAMMAD HIDUP LAGI!)

Saya pun penasaran, saya melihat sekeliling saya, saya perhatikan dan memang benar bahwa para santri itu sama-sama menangis menyimak kisah Rasulullah yang disampaikan oleh Yai Salim. Di sebelah kiri saya persis, ada sahabat saya yang memang datang dari jauh khusus untuk mengikuti pengajian Burdah ini. Saya pun ikut penasaran dan bertanya kepadanya, ‘Djok, piye perasaanmu maeng, pas Yai nyeritakke keutamaan-keutamaan Rasulullah?’ (Djok, bagaimana perasaanmu tadi saat mendengarkan Yai menceritakan keutamaan-keutamaan Rasulullah).

Sahabat saya menjawab, “Aku iki suedih pengen nangis, tapi tapi tak empet soale aku isin karo awakmu bro” (Saya ini sedih ingin menangis, tetapi aku masih bisa menahannya soalnya aku malu sama kamu)

Lalu, siapa lagi yang tak menangis mendengar kisah Rasulullah yang begitu penuh pengorbanan, kisah sang kekasih yang tanpa batas kesabaran dan kasih kepada umatnya. Semoga kita bermimpi ketemu Rasulullah dan dikumpulkan serta dijumpakan kepada beliau kelak di akhirat. Amin amin amin.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s