Tugas Kuliah dan Mbah Yai Romli

P_20180315_031816Entah ini kebetulan, atau tidak, tetapi saya hanya mengutip tulisan dari buku yang sedang saya baca ini, yang disarikan dari dawuh Syaikh Abul Hasan Asyadzily

“Allah mencipta makhluk dengan sebuah misi ilahiyah. Oleh karena itulah Allah mempunyai pilihan dan takdir. Maka, seorang hamba yang membangun adab di hadapan sang pencipta selayaknya ridho atas pilihan dan takdir Allah.”

Kisah saya ini jangan ditiru, karena memang tidak ada yang perlu ditiru. Saya termasuk mahasiswa S2 yang malas, bukan malas tetapi sangat malas. Saat semua teman saya sudah lulus dan berjibaku dengan mainan baru mereka, saya masih berjibaku dengan thesis saya dan saat ini masih proses penyelesaian.

Saya sudah beberapa kali melobi sekolah-sekolah yang menjadi rujukan untuk penelitian saya, entah kenapa, semuanya menolak, ada juga yang tidak ada jawaban, sebelum akhirnya, saya memutuskan untuk melakukan penelitian di kampus-kampus yang bisa diteliti. Dan, dari sinilah saya kenal dengan Mbah Yai Romli berdasarkan cerita dan semakin penasaran dengan beliau.

Dari kuliah saya yang molor bertahun-tahun, setidaknya saya harus bisa menanamkan dalam jiwa kosong ini, menanamkan wejangan para ulama sufi seperti yang terkutip di atas. Sungguh, saya menemukan banyak kemudahan dalam proses penyelesaian thesis saya ini, di antaranya, dosen pembimbing saya yang sungguh sangat amat kooperatif dan membantu serta memudahkan urusan-urusan saya (semoga saja beliau tidak pernah melihat blog ini, karena pada intinya ujaran ini memang benar adanya dan tidak mengada-ngada atau ada maksud tersembunyi), lalu, saya dipertemukan dosen Unipdu dan juga guru lahir batin saya, sebut saja Pak Nurdin, yang sekilas saya perhatikan nyeleneh, dan setelah saya konfirmasi di warung pesantren, memang orangnya nyeleneh. Sungguh beliau orang yang memiliki banyak kelebihan tersembunyi, dan bonus yang terbesarnya adalah, saya mampu bersentuhan secara ruhani dengan muassis pondok yang berlokasi di Rejoso Jombang ini.

Awalnya, saya diberi masukan dan cerita mengenai Mbah Yai Romli oleh Pak Nurdin dan semakin hari, semakin saya penasaran, hingga saya menemukan buku di atas yang terpajang di pojok rak buku toko buku yang berlokasi di Tebu Ireng. Kok ora nyambung, Mbah Yai ada di Rejoso, tapi tiba-tiba ada Tebu Ireng. Ya, saya membeli buku itu di Tebu Ireng yang kebetulan saya bersama teman saya, Pak Anang jalan-jalan ke sana.

Saya sangat menyukai dunia sufisme yang saat ini sedang mengalami nisbat penyesatan dari orang-orang yang tidak percaya dunia tasawuf, dan sungguh tugas yang saya kerjakan di kampus UNIPDU ini mengantarkan saya kepada dunia yang saya sukai, meski saya pribadi belum berbaiat ke thoriqoh mana pun. Setidaknya, saya sangat mencintai ulama-ulama sufi pada zaman old dan zaman now. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan Mbah Yai Romli meski hanya mampu melihat kubur beliau. Mendengar dan menyaksikan sendiri karya-karya beliau, sungguh membuat saya merinding dan semakin penasaran.

Mbah Yai Romli adalah salah satu ulama sufi jawa yang disegani, dengan cerita-cerita mu’tabar yang sungguh di luar nalar. Tak hanya itu, beliau adalah murid kesayangan sekaligus menantu Mbah Yai Hasyim Asy’ari sang pendiri jamiyah Nahdlotul Ulama.

Wahai Tuhanku, maka berilah kami manfaat dengan keberkatan mereka.
Dan hantarkanlah kami kepada kemuliaan dan kebaikan dengan jalan menghormati mereka.
Dan matikanlah kami dalam jalan mereka
Dan lindungilah kami dari segala fitnah dunia 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s