Nasi kuning ini rasanya sudah tak sama

Saya tak pernah suka nasi kuning, mungkin hingga saat ini, tapi terkadang, saya juga memakannya saat ingin bernostalgia dengan keadaan yang menurut saya sangat lucu dari sudut pandang saya yang sekarang. Saya masih ingat betul 13 tahun yang lalu, saat saya masih kuliah di Surabaya waktu itu. Dana sudah sangat pas-pasan, orang tua sepertinya sudah akan mengibarkan bendera putih untuk sekolah saya dan untungnya, saat itu juga saya dapat pekerjaan dengan gaji yang tak seberapa, tapi sangat membantu hidup dan kuliah saya di Surabaya.

Dengan gaji Rp400.000 sebulan, dikurangi untuk bayar kos Rp75.000 sebulan dan SPP kuliah bulanan sebesar Rp110.000, jadi uang itu sisa Rp215.000 untuk kebutuhan lain, termasuk makan. saya tidak ambil pusing waktu itu, atau berpikir yang macam-macam untuk melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Malah saya prihatin dengan diri saya sendiri, terkadang meratapi kekurangan itu.

Saya pun memutar otak keras-keras, bagaimana saya bisa hidup dengan uang yang ada di tangan itu (Rp215.000) untuk sebulan dan tiba-tiba, datanglah seorang ibu-ibu meracang dengan membawa aneka daganganngya, termasuk nasi kuning. Gambarnya sama persis dengan yang ini:

p_20170406_072807_sres.jpg

Nasi kuning ini harganya Rp7.000

Singkat cerita, saya tertarik dengan nasi kuning yang dibawa ibu-ibu ini. Saya membelinya dengan harga Rp1000 waktu itu. Saya selalu beli dua, satu untuk pagi dan satunya untuk Malam. Kalau mau tanya kenyang tidak makan nasi seribu, ya bisa dijawab sendiri bagaimana. Saya hanya butuh untuk mengganjal perut saya agar tidak lapar dan menyambung hidup dari hari ke hari.

Dulu sekali, nasi kuning ini rasanya sangat nikmat dan rahasianya mungkin karena saya makannya penuh dengan nafsu makan. Saya sangat lapar terlebih dahulu sebelum saya bisa melahap nasi kuning ini. Sebelum berangkat kuliah, saya makan satu plastik mika ini dan sesudah pulang kerja sekitar pukul 22.00, saya makan yang satunya, entah basi atau tidak, pokoknya saya makan saja.

Selalu saja, kalau saya melihat nasi kuning di mana pun, saya tidak begitu berselera. Bukan karena saya tidak doyan, tapi saya selalu ingat waktu itu. Makan nasi kuning dua bungkus untuk sehari penuh dan rasanya laparrrr masih saja menggelayut di perut. Dan…. ada rasa kepedihan yang rasanya tidak bisa dirasakan (lebay poko’e).

Hari ini saya membeli nasi kuning di sebelah rumah, porsinya pun sama persis, termasuk lauknya, bedanya cuma satu. Saya makan separuh saja sudah kenyang dan tidak habis, beda dulu, saya tak menyisakan satu biji pun. Ah nasi kuning, you saved my life!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s