Antara yang lebih berhak dan tidak

Ini adalah tulisan ngawur di tengah badai tenggat pekerjaan dan tenggat lain-lain yang tidak bisa disebut satu-satu. Semalam saya melihat seseorang terkena sawan atau sawanen atau kejinen atau sejenisnya. Namanya orang posting dan minta saran atau pendapat, sudah tentu hasilnya bermacam-macam. Setidaknya, banyak ahli suwuk dan terawang yang bermunculan. wkwkwkwkw

Wis ah saya tidak sedang membahas itu, saya sedang membahas yang lebih berhak atas milik kita, setidaknya, ini cerita dari teman saya. Saya ceritakan ulang dengan kata-kata sendiri, semoga tidak berlebihan dan berkekurangan.

Pada satu malam, sekitar 7 atau 8 tahunan yang lalu, saya berkunjung ke rumah teman, teman saya ini sangat sederhana hidupnya, kehidupannya bisa dibilang cukup dan tidak lebih, tapi pola pikirnya sungguh luar biasa. Tak ada angin tak ada hujan, dia pun menanyakan perihal anak saya waktu itu dan to the point saya digasak dengan pertanyaan, ‘Anakmu opo wis bok aqiqohi?‘ (Apakah anakmu sudah diaqiqohkan?)

Jawaban saya tentu saja ‘belum’, ngontrak rumah saja pada saat itu benar-benar seperti dapat rezeki nomplok dan teman saya ini tek berhenti dengan pertanyaan itu. Dia pun menjelaskan antara hak dan kewajiban manusia. “Aqiqoh itu haknya Allah SWT, jadi kalau kamu punya uang 5 juta, maka segerakan untuk melaksanakan aqiqoh. Tidak usah berperasaan eman karena Allah SWT pasti akan menggantinya”, ujarnya. “Takkan pernah putus kamu memikirkan kebutuhanmu. Hak Allah SWT itu sebaiknya didahulukan, entah semacam aqiqoh atau hak-hak Allah yang lain yang merupakan kewajiban kita,” lanjutnya.

Saya melongo, dan benar-benar melongo sambil mbatin “kurang ajar orang ini, kayak tahu saya sedang pegang uang 6 juta hasil dari kerja sambilan dalam sebulan.” Saya pun tak kuasa harus mengikuti saran teman saya ini, saya coba dan buktikan apa benar ucapannya. Saya sisihkan 3 juta untuk aqiqoh dan 3 juta untuk kontrak rumah. Pas jret. 😀

Setahun, dua tahun, dan tiga tahun, sungguh efeknya sangat terasa. Wah, teman saya ini memang benar. Setidaknya dia pernah bercerita, anak kita tidak akan mudah sakit atau terkena gangguan jin atau sejenisnya jika sudah diaqiqohi. Saya jadi ingat di daerah Pasuruan yang biasanya aqiqohnya dibarengkan dengan acara nikahannya (aqiqoh setelah puluhan tahun WOW??) atau pas acara sunatan (ini masih lumayan). Nah, saya ingat mbak yang kemarin posting, mungkin saran teman saya ini bisa dipakai jika ada rezeki.

Ah sudahlah, saya ini hanya menceritakan kisah teman saya, ayo dibuktikan. Ayo dibuat tesisnya biar cepet lulus hahaha PEACE BESAR> 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s