Setidaknya, saya harus mengerti!

Siang itu, saat istri saya mengajukan request untuk belanja kebutuhan dapur dan sandang untuk anak-anak, saya pun menyempatkan waktu untuknya.

Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB kala itu dan saya berangkat dari rumah bersama 3 jagoan saya; Daniel, Nabiel, dan Kamil. Kami sempatkan makan dulu di warung berlima. Dan setelah itu, kami langsung melanjutkan ke toko pakaian. Waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul 12.30. Ah waktunya salat Dhuhur. Saya harus segera bergegas.

Kebetulan, istri saya sedang dalam masa nifas, sehingga cukup saya dan anak-anak yang harus melakukan salat Dhuhur. Kebetulan lagi, tokonya sangat dekat dengan masjid Jami’ Pasuruan dan saya turunkan istri saya sambil menggendong Kamil di toko pakaian, sedang Daniel dan Nabiel ikut saya salat di masjid.

Sebenarnya bukan ini inti dari ceritanya, justru sebaliknya, saya ingin menceritakan perjumpaan saya dengan buku kecil mungil seharga Rp20.000. Saya rasa buku ini cukup memberikan gambaran tentang salah satu tareqot termasyhur di dunia. Entah ini sebuah kebetulan belaka atau bagaimana, saya memiliki manaqibnya Syekh Hasan Assyadzili dalam bentuk tulisan gedrik. Ceritanya ini saya tidak sengaja.

Sehabis melaksanakan salat Dhuhur, saya kepikiran ingin main-main di sebelah masjid. Ya, di sebelah masjid adalah tempat orang-orang berjualan aneka kebutuhan ibadah hingga buku bacaan lengkap. Saya datangi kios di emperan ini satu-satu dan melihat buku ini dari kejauhan.

p_20170114_005655_hdr

Buku saku

Saya pun membuka halamannya satu per satu, dengan penuh rasa penasaran. Saya menemukan kutipan dari pendiri tareqoh ini yang dipesankan dari guru beliau. Kurang lebih seperti dalam gambar ini:

p_20170114_005634_hdr

Sungguh abot perkataan ini, dan mungkin juga susah untuk dilakukan, ah tunggu sebentar, saya mencoba memahami dengan gaya dan versi saya sendiri, semoga tidak salah dan semoga juga bisa menambah kebaikan untuk saya sendiri.

Sek, sek, kalau misalnya saat ini saya bekerja dengan profesi saya saat ini, eh tapi malah membuat saya jauh dari Allah, berarti saya tahu harus bagaimanan. Sek, sek lagi, berarti misalnya kalau saya sedang bermedia sosial atau gampangannya, nyetatus, atau mengomentari status dan itu tiada manfaat untuk mendekatkan saya kepada Allah, itu berarti??? Sek, sek lagi. Kalau saya hanya harus berteman dengan seseorang yang bisa mendekatkan diri saya kepada Allah, lalu teman seperti apakah dan penampakannya bagaimana? Apa harus parlente? Yang tiap hari pakai sarung dan kopyah? atau yang jenggotnya panjang dengan celana di atas mata kaki dan di jidatnya ada tanda bekas sujudnya? Atau yang gembel semacam orang gila yang tidak pernah mandi? Atau semacam orang-orang yang lebih tidak beruntung dibandingkan saya? Hmmmm asli saya mumet malam ini. Saya sudahi dulu tulisan ini biar tidak tambah mumet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s