Hanya berdua, aku dan bapakku!

Mungkin ini adalah panduan singkat bagi yang mau menikah, tapi jangan ditiru kalau bisa. Adegan ini hanya untuk yang bernyali, bermental baja, dan tidak punya malu. Setidaknya, harus dipikir-pikir dulu jika mau melakukan adegan ini. Konsekuensinya pasti ada, jadi buah bibir tetangga atau jika tidak, minimal buah bibir saudara haha 😀

Alkisah pada suatu waktu, kalau tidak salah ingat sekitar tahun 2007-an. Ketika saya hendak melamar istri saya yang sekarang ini, bisa dikatakan saya melamarnya apa adanya, atau bahkan menyalahi adat kebiasaan masyarakat sekitar. Konsekuensinya pun sudah sangat saya pahami betul, saya akan jadi buah bibir, jadi rasan-rasanan sekampung lah minimal.

Saat keadaan ekonomi sedang sulit, saat sang ibu pusaka meninggalkan kami sebelum datangnya hujan emas di negeri orang, prinsip yang saya tanamkan adalah, jangan sampai saya merepotkan siapa pun, apalagi bapak saya yang tinggal satu-satunya. Gaji saya yang waktu itu hanya Rp750.000 sebulan sebagai guru honorer di salah satu lembaga swasta dan rasanya tidak mungkin gaji itu bisa mencukupi anak orang, sedangkan saya harus segera menikahi istri saya dan itu artinya, saya harus ‘nembusi’ pihak istri perihal prosesi pernikahan saya.

Kalau orang melamar pada umumnya itu rombongan dan membawa berbagai bekal, itu tidak berlaku bagi saya. Bukan maksud saya pelit, tapi sungguh, kami tidak punya uang untuk melakukan seperti kebiasaan orang pada umumnya. Jika orang lain boleh hutang, bagi saya BIG NO! Urusan nikah ini adalah urusan saya sendiri, dan sebaiknya saya tidak merepotkan siapa pun, apalagi orang tua yang tinggal satu-satunya.

Saya hanya meminta izin kepada bapak saya bahwa saya akan melamar anak gadis orang dan saat bapak mengatakan iya, saya tidak butuh waktu lama untuk mengatur bagaimana dan kapan harus ke sana. Kami hanya berdua, berangkat dari Pasuruan dengan menaiki angkutan umum dan bus antarkota. Saya mau bertanya, adakah orang yang berani dan nekat melamar anak gadis orang hanya dengan berdua saja tanpa bawa apa-apa?

Ini bukanlah sebuah kebanggaan, cerita ini hanya untuk memotivasi siapa saja yang mau menikah, agar jangan mempersulit diri sebelum menikah. Yang harus dipikirkan itu justru malah sebaliknya, setelah nikah nanti bagaimana kondisi kita.

Bisa dibayangkan, kami hanya berdua dengan memakai pakaian seadanya dan tidak membawa bekal apa-apa, hanya bekal ikhlas melamar saja. Tak cukup sampai di situ, saat proses pernikahan pun bisa dikatakan saya tidak bisa memberikan barang-barang mewah kepada calon istri saya. Apa yang mau saya berikan? Makan saja susssaaaaaaaah. Saya hanya membelikan sebagian kebutuhan calon istri waktu itu. Mungkin eh pasti, sangat kurang pada waktu itu. Namun, alhamdulillah, istri saya mau menerimanya apa adanya.

Tak hanya sampai di situ, saat walimah pun saya pasrah bongkoan. Pasrah bongkoan itu singkat ceritanya hanya bermodalkan datang. Tak sepeser pun uang yang saya sumbang untuk acara itu. Lagi-lagi, karena terbentur ekonomi sulit. Lagi-lagi, saya tidak mau merepotkan orang tua saya.

Bagaimana aku bisa merepotkan orang tua saya sedangkan sejak kecil aku sudah merepotkan mereka? Bagaimanakah aku akan hidup bahagia jika aku menambah beban orang tua saya? Mungkin tampak egois bagi saya, tetapi percayalah! Hidupmu akan berkah jika kamu tidak merepotkan orang tua. Menikah saja sudah merepotkan orang tua, lalu apa yang akan kita dapat setelah nikah? #renungandiri

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s