Tak Perlu Beragama untuk Jadi Baik

Sekarang lagi musim sensi agama. Tolong tidak disalahpahami judul di atas, seperti memahami Pizza Hut menjadi Fitsa Hats karena sentimen agama yang kelebihan dosis. Saya tidak berbicara arti dan maksud itu, tetapi saya ingin mengangkat sosok lelaki hebat yang ada di foto ini.

Tulisan ini bukan didasari karena saya sering diajak makan malam yang enak-enak di rumah beliau lo, tapi lebih dari itu :D. Ada sesuatu yang misterius di balik semua itu.

15823293_10208090656080552_4193764345558660507_n

Acara makan malam di rumah mewah Mas Sutarto

Malam itu, setelah packing dari kantor, saya diundang makan malam ke rumah kawan saya ini. Suguhannya pun enak menurut saya, ada menu khusus untuk saya, lodeh, tempe penyet dan telur ceplok, saya tidak makan yang mewah-mewah, eman. Tempe penyet dan sayur lodeh sudah terasa bak surga bagi saya. 😀

Acara makannya pun dilanjut di ruang sebelah, ditemani kopi dan onde-onde wong sugih (mau saya upload, tapi lupa saya taruh mana fotonya). Kami duduk-duduk, ngomongin business as usual dan sesekali bercerita tentang kehidupan masing-masing. Dari sinilah, saya melihat hati seluas samudra. Mungkin kalau saya di posisi yang sama, saya tidak akan bisa. Ah sudahlah, saya mau lanjut cerita.

Mas Tarto ini mungkin bisa dikatakan secara fisik sama dengan teman-teman pada umumnya; teman-teman bagian slengean. Ternyata, dia menyimpan banyak misteri dan sepertinya semua misteri itu dikeluarkan pada malam itu dengan wajah setengah ngantuk. Atau mungkin karena ngantuknya itu ya, jadi misterinya keluar semua. Ah sudahlah, bukan itu poinnya.

Ada sesuatu yang hebat dalam kehebatan atau kesuksesan seseorang, dan itulah yang saya tangkap dari kisah-kisahnya malam itu. Intinya, kalau saya ceritakan satu per satu di sini, bisa-bisa saya tidak kerja untuk hari ini. Dia adalah sang Kafilul yatim dan orang-orang yang membutuhkan.

Saya sempat ingat beberapa waktu lalu, kurang lebih dua tahunan yang lalu. Rumahnya yang jauh dari perkotaan saat itu, tidak mengurungkan niatnya untuk menolong saya. Saya harus membayar kontraktor rekanan yang sedang menggarap ruko waktu itu, dan kebetulan kontraktor ini tidak punya rekening dan butuh uang saat itu juga. Otak saya pun berputar dan ingat mas Tarto ini. Saya utarakan keluhan saya dan dia langsung mengiyakan. Sejurus kemudian, dia turun dari batu ke ATM terdekat hanya untuk meminjamkan uangnya sekitar 15 jutaan. Begitulah salah satu kelebihannya, kita tak perlu beratribut agamis untuk jadi baik atau apa pun lah. Yang harus agamis itu adalah perbuatan kita, bukan penampakan kita.

Sing mau kenalan, PM hahaha

 

Advertisements

2 responses to “Tak Perlu Beragama untuk Jadi Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s