Perjalanan bertemu dua guru sejati (Bagian 2)

Dan akhirnya saya punya waktu untuk menyambung cerita mistis saya.

Gunung itu nampak sangat tinggi. Saya pun bergegas menaiki gunung itu lagi. Tanpa saya duga, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tampak tenang berada di atas bok mobil pick-up dengan laju kendaraannya yang lumayan. Beliaunya melewati saya dan tersenyum kepada saya. Saya pun ikut tersenyum, dan saya beliau melambaikan tangan beliau sambil tersenyum dan berteriak dengan lembutnya ‘Ayo melok aku munggah wae’ (Ayo, ikut saya naik saja). Saya pun tidak mengabaikan ajakan beliau. Saya ikut beliau. Saya naik mobil pick up itu bersama beliau. Duduk berdua di bok pick-up, tanpa menghiraukan si sopirnya.

Selama perjalanan, tak banyak yang kami obrolkan. Beliau hanya tersenyum melihat saya dan sesekali berujar. Perjalanan menaiki gunung itu sungguh lancar, tak ada halangan apa pun hingga kami tiba di puncak tertinggi gunung itu. Akhirnya, mobil pick-up itu berhenti di bagian teratas gunung, dan sang guru ini pun menyuruh saya turun dari mobil pick-up dan berpamitan kepada saya. “Saya tinggal dulu, kamu ke sana. Temui orang yang ada di sana”.

Saya pun ditinggal beliau sendirian. Tak tersadar, pandangan saya pun teralihkan ke sebuah sinar terang di puncak gunung itu. Ada sesosok lelaki yang sedang duduk-duduk di kursi sendirian. Saya pun penasaran. Saya dekati dan semakin saya dekati, sinar itu semakin terang. Saya pun akhirnya berada dalam jarak yang sangat dekat dengan sinar ini. Sang lelaki yang nampak bersinar ini berdiri, menghampiri saya dan saya sungguh kaget, ternyata beliau adalah guru saya waktu saya masih sekolah dulu. Saya pun mencium tangan beliau. Dan beliaunya pun tersenyum menyambut saya.

Sebuah proses pencarian guru sejati ini ditunjukkan dari sebuah mimpi seorang pendosa. Mimpi seorang hamba yang tiada hari tiada berbuat dosa. Saya pun tak pikir panjang. Keesokan harinya, saya pergi ke ndalem kedua guru sejati ini. Saya sowani satu-satu sesuai dengan urutan mimpi saya. Saya ceritakan perihal mimpi saya ini kepada beliau berdua. Masing-masing punya keistimewaan sendiri-sendiri, masing-masing memberikan wejangan sendiri-sendiri dan saya pun mengisahkan permasalahan saya kepada beliau. Beliau berdua pun dengan santai menanggapi permasalahan itu. Salah satu dari beliau memberikan sebuah amalan doa dan dengan penuh kemantapan memberi  tahu saya bahwa semuanya akan kembali baik-baik saja. Yang jelek akan sirna dan musnah.

Sungguh betul kata guru mulia. Seluruh penyakit masyarakat di sekitar rumah sirna tanpa bekas. Semua yang meresahkan masyarakat hilang satu per satu hingga tak menyisakan suatu masalah apa pun. Begitulah perjalanan mencari guru sejati saya. Semoga beliau berdua selalu dalam lindungan Allah SWT.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s