Pak Suyanto, sang pengayuh becak hebat!

Siapa yang tak kenal dengan bapak satu ini. Pasti tidak ada yang mengenal beliau karena mungkin pekerjaannya yang secara kasat mata hina, tetapi sebenarnya sangat mulia sekali. Lebih mulia dari pekerjaan saya dan lebih barokah dari pekerjaan saya. InsyaAllah begitu.

Beliau bernama Suyanto. Setidaknya begitulah beliau meminta saya untuk memanggil beliau. Beliau pun dengan ramah terus bercerita tentang dirinya sambil sesekali saya bertanya kepada beliau. Wajahnya tampak masih awet muda jika dilihat usianya yang sudah 60-an dan yang lebih hebat lagi, beliau ini masih sangat sehat walafiat. Beliau, menurut cerita beliau sendiri, memiliki satu istri dan 3 anak, dua laki-laki dan satu perempuan yang semuanya sudah bekerja. Lantas, beliau masih aktif bekerja menafkahi istri beliau. Rumah beliau ada di sekitar daerah Kejayan. Beliau sempat mengajak saya mampir kalau lewat Kejayan. Ramah pokoknya orangnya. Beliau menambahkan cerita beliau bahwa dalam sehari beliau bisa bolak-balik 4 kali dari alun-alun Pasuruan ke Kejayan yang merupakan rumahnya. Saya pun kaget. Kalau dibuat perbandingan, dibutuhkan waktu sekitar 25-30 menit untuk sampai ke sana dari rumah saya ke Kejayan dengan mengendarai mobil. Subhanallah.

Saya pun kembali bertanya mengenai penghasilannya malam itu. Beliau menceritakan bahwa sekarang ini becak sedang lesu-lesunya. Kondisi jalan sangat ramai orang, tetapi jarang sekali ada yang memakai jasa tukang becak. Sejak Maghrib hingga pukul 12 tengah malam (setidaknya waktu HP saya menunjukkan begitu), beliau hanya mendapatkan Rp5.000. Itu pun, beliau gunakan untuk operasional beliau. Beli camilan dan kopi. Tetapi beliau sungguh luar biasa lo kawan-kawan. Beliau tak sedikit pun menunjukkan rasa melas, padahal saya tahu sendiri sebenarnya beliau ini sangat butuh. Makan beliau sangat lahap dan itu menunjukkan bahwa beliau memang benar-benar lapar.

Beliau adalah guru saya malam itu. Beliau mengajari kemandirian tingkat dewa! Betapa tidak? Meski pekerjaannya yang tergolong rendah gajinya, tahukah kawan-kawan bahwa beliau tak pernah sekalipun menyuruh istrinya bekerja. Jadi beliau ini menanggung kehidupan seluruh keluarganya sendiri tanpa campur tangan istri dan anaknya. Itu beliau lakukan sejak usia 13 tahun dan hingga sekarang. Yang lebih mengesankan lai, beliau sudah punya rumah sendiri dari hasil mengayuh becaknya yang sudah puluhan tahun.

Beliau ini termasuk tukang becak yang beruntung. Setidaknya beliau menyebut diri beliau begitu. Di awali dari kisah beliau pernah ditabrak pemotor yang mengantuk dan motor itu menabrak kedua punggung beliau. Becaknya mental tidak karuan, dan beliau ndelosor ke tengah jalan. Beliau, kata beliau, tidak mengalami luka serius. Belahi selamet (Celaka taoi masih selamat) kata beliau. Lalu sang pemotor? Justru sang pemotor yang mengalami luka berat.

Tak hanya itu, beliau pernah suatu malam saaat hendak pulang melewati Rumah Sakit Pasuruan, beliau ndelosor sendiri. Tiba-tiba, beliau tidak bisa mengendalikan becak beliau dan menabrak pohon besar. Memang jalan di sekitar RS Purut tidak ramah bagi non-pemotor. Beliau berusaha sekuat tenaga mengendalikan becak itu, cerita beliau lagi, tetap saja becak tidak mau dikendalikan. Tiba-tiba, ada mobil box warna putih yang berada tepat di belakang beliau dan menghentikan kendaraan itu. Sang pengemudi beserta peumpang mobil box hanya bengong melihat dan tidak berani melewati beliau karena takut nanti dituduh menabrak beliau. Setidaknya beliau bercerita begitu. Becak pun nabrak pohon, bruuuuuuk dan beliaunya pun terjatuh atau ndelosor. Sang sopir dan penumpang mobil box lalu keluar setelah itu, meonolong Bapak Suyanto dan memberi beliau uang sejumlah Rp15.000. Beliau cerita dapat duit Rp15.000 ini pun sangat bungah (senang). Saya langsung membayangkan bagaimana jika Pak Suyanto ini mendapatkan uang Rp150.000, bisa-bisa nangis mungkin.

Itulah sosok Bapak Suyanto, sederhana, tegas, kuat, dan bertanggung jawab, setidaknya untuk anak-anak dan istri beliau. Lah lalu, saya? Jauh sekali jika dibandingkan dengan Bapak Suyanto ini. Sungguh malam itu saya kena pukulan telak oleh beliau ini. Orangnya suantai pool dan sangat ramah, orangnya sangat tegar, tegar menghadapi kerasanya dunia ini.

Ini adalah cerita malam ke-21 di bulan Ramadhan. Foto beliau bisa dilihat di bawah ini. Saya kalau ingat-ingat beliau dan rekan-rekan beliau (tidak sempat saya foto, setelah sesi ini sebenarnya ada teman seperjuangan yang ngopi di warung yang sama).

Bapak Suyanto, saya tahu doa saya ini tak sehebat doa-doa nir-pendosa. Semoga jenengan selalu dalam lindungan Allah SWT, rezekinya banyak dan barokah. Amin

IMG_20160625_232218

Bapak Suyanto melahap lalapan pesanannya sambil bercerita tentang kehidupan kerasnya

Advertisements

One response to “Pak Suyanto, sang pengayuh becak hebat!

  1. Jujur belum pernah ngobrol sama abang becak sih, tapi 5000 per hari? Kok sanggup ya? Sabar dan telaten nunggu penumpang itu lho yang luar biasa, padahal hari gini kalau saya keluar dari stasiun, lebih pilih telepon minta jemput daripada minta antar abang becak… batin saya sih, kasian abang becaknya capek ngayuh, jauh soalnya, tapi semestinya berpikir sebaliknya ya, karena mereka memang butuh penumpang, bukan butuh dikasihani karena mengayuh becak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s