Secangkir kopi untuk sahur dari ibuku

P_20160624_022107

Kopi buatan sendiri

Bagiku menyeruput kopi saat sahur bukanlah kebiasaan yang aku tolerir. Aku pun menyeruput kopi saat sahur ini bukan karena aku mengantuk atau mau lembur menggarap pekerjaanku yang harus aku setor hari ini sebelum aku berangkat ke Malang pagi ini.

Aku tiba-tiba ingat makku. Nama beliau adalah Markatun, beliau meninggal sekitar tahun 2007-an (agak lupa), saat kehidupan ini sungguh mencabik-cabikku. Ya, makku ini sungguh pandai membangunkan seisi rumah untuk sahur. Salah satu caranya adalah dengan membuatkan secangkir kopi ukuran jumbo dan kopi ini bisa dinikmati bersama-sama dengan Pakku, dan ketiga saudaraku.

Wadah kopinya kurang lebih sama dengan wadah seperti yang aku foto ini, cuma mungkin beda merek. Tetapi, itu tidaklah penting. Makku punya kebiasaan membuatkan kami secangkir kopi dan dikeroyok bersama-sama sebelum santap sahur inti. Aku yang suka tidur dan paling susah dibangunkan ini , pasti menjadi target sasaran pertama makku. ‘Ayo lex, tangi-tangi wayahe sahur.’ Tetap saja aku tak bangun. ‘Ayo lex, tangi-tangi sahur.’ Masih tetap saja aku tak mau bangun, dan jurus terakhirnya adalah makku pergi ke kamar mandi, lalu membawa gayung dan ke kamarku, lalu memercikkan air itu ke mukaku. Sontak, aku langsung bangun.

Setelah bangun itu pun aku tak langsung ke dapur untuk sahur. Masih tolah toleh sambil menahan kantuk dan makku pun tak kehabisan jurus. Beliau pun langsung ke dapur dan mengambil secangkir kopi yang telah beliau racik. Beliau kembali lagi ke kamarku dan membawakanku secangkir kopi itu untuk diseruput. Alhasil, ngantuk ini langsung lenyap seketika.

Begitulah cara makku membangunkanku saat sahur. Sudah puluhan tahun berlalu dan masa itu sepertinya hadir seketika saat ini dan aku pun tak kuasa ingin mengulang kenangan itu. Tentu, kenangan itu takkan kembali, tetapi setidaknya, aku bisa mengulangi meminum kopi saat sahur dan mungkin itu hanya saat aku ingat kenangan ini.

Mak, engkau adalah ibu terbaik, engkau tak pernah berhenti mendoakanku meski engkau saat itu sudah berada di ujung jalan. Jika engkau melihat keadaanku seperti ini, dengan cucu-cucumu yang tak sempat engkau lihat saat engkau masih hidup, seperti engkau melihat cucu-cucumu yang lain dari saudara-saudaraku, semoga engkau bahagia di alam sana. Aku tak bisa lagi mencium tanganmu atau bahkan membelikan sesuatu untukmu, tapi semoga lantunan doa-doa yang aku panjatkan setelah salatku dan saat aku mengingatmu mampu menentramkanmu di alam sana. Semoga Allah Ta’alaa memberikan tempat terbaik untukmu. Amin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s