Lalu,

Aku menyingkir, lalu aku berpikir, untuk terus menyingkir, menyingkir pergi dari semua yang getir, walau getir itu selalu membuatku berpikir, ya berpikir, terus berpikir, tanpa akhir.

Pada suatu fajar saat orang-orang mulai bergelayut dengan aneka santapan sahurnya yang, bisa menggoda selera dan memuakkan selera, aku dipaksa berpikir lagi, lagi, dan lagi. Barang ini sepele, tapi aku selalu kepikiran. Kepikiran, ya kepikiran terbawa ke mana-mana.

Dua jalan membentang di depan, jikalau Robert Frost bilang ia tak bisa menapaki keduanya, berbeda lagi dengan aku. Aku tahu kedua jalan itu akan berakhir di mana dan sejauh mana kedua jalan itu akan terbentang di depan mata. Tetap saja, pikiran ini seperti disayat-sayat pisau kegalaun. Ada goresan di mana-mana, dengan aneka ukurannya. Aku harus memilih dua keputusan yang sama-sama aku tahu konsekuensinya, tapi akhirnya, aku tak memilih keduanya. Aku pilih saja ‘atau’!

Aku tahu aku ini lemah, atau bahkan tidak tegas. ‘Wahai lelaki lemah dan tak tegas, enyah saja engkau dari peliknya dunia ini!’, anganku melayang. ‘Wahai lelaki lemah dan tak tegas, enyah saja engkau dari peliknya dunia ini!’, lagi-lagi anganku menghardikku.

Lalu, lalu, lalu, lalu aku harus bagaimana? Lalu? Lalu aku harus melakukan apa? ‘Dasar lelaki edan!’, jantungku berontak. ‘Dasar lelaki bajingan!’, hatiku meronta. ‘Dasar engkau lelaki tak berdasar!’, goda mata hatiku penuh sinis.

‘Ah, kalian! Kalian semua tidak tahu aku, tidak tahu maksudku! Dasar hati galau!’, hardik pikiranku. Aku pejamkan mata sejenak, aku merenung sejenak, dan aku masih saja tak mampu bersahabat dengan keadaanku. Aku berontak setengah mati, terus berontak meski tak tampak seperti orang yang sakit hati, atau bahkan? Lalu? Lalu?

Ah, aku tak perlu risau sebenarnya. Aku juga tak perlu galau. Wahai hati yang sudah mem-bully-ku. Aku sudah sembuh! Aku sudah handyplast semua sayatan dalam pikiranku. Aku sudah mantap dengan ‘atau’ku. Aku maafkan kamu wahai hati sang pembully. Aku maafkan keadaanku. Aku maafkan, maafkan, ya aku maafkan, lalu? Lalu? Lalu aku ikhlaskan. Akan aku perhatikan, akan aku ikhlaskan, apa pun yang akan dilakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s