Kawan, masih ingatkah kalian?

Pada suatu siang yang tak begitu panas, dengan selingan angin semilir yang sepoi-sepoi, sehingga mampu menghanyutkan siapa saja untuk tenggelam bersama desahan napas tanpa mata terbuka, sungguh satu siang itu terasa aduhai.

Secara tak sengaja, saya melihat seorang anak yang usianya sekitar 10 atau 12 tahun seperti dalam gambar. Saya ambil fotonya tanpa sepengetahuannya dan saat melihat-lihat foto ini, angan dan memori saya pun terbang jauh ke belakang, terbang jauh ke masa lampau, sekitar 25 tahunan yang lalu, saat saya masih seusia anak ini.

Dulu, tidak ada yang namanya tablet atau HP, atau bahkan komputer, eh mungkin ada tapi masih tidak se-mainstream sekarang ini. Mainan kami pun sepele. Kalau tidak main loncat tali, ya main kelereng, atau nyetip cicak di pasar, atau main tembak-tembakan. Begitulah masa kecil kami waktu itu. Dunianya sangat jauh beda dengan dunia anak-anak saat ini. Tentu saja, membandingkan hal semacam ini juga kurang bijak, karena dunia tentu saja tidak berjalan mundur. Sebaliknya, dunia semakin ke depan dengan berbagai teknologinya yang semakin memudahkan dan menyibukkan manusia.

Selain mainan-mainan seperti yang saya sebutkan di atas, kami pun tak jarang melakukan petualangan laut dan darat. Memanjat pohon, menanjaki perbukitan, atau bahkan trekking menyusuri desa-desa saat Jumat tiba. Tak ketinggalan pula, kami juga tak jarang menyusuri areal persawahan dan rawah-rawah hanya untuk mencari ikan gatul dan sejenisnya, atau bahkan mencari lempung. Permainan kami sebenarnya tidak begitu njelimet, simpel banget tetapi sungguh sangat terkesan dan terkenang.

Selama petualangan itu, kami selalu berkelompok dan kelompoknya ya itu-itu saja. Teman-teman sekolah sepantaran. Ada Budi Hartono, ada Yono Hermansyah, ada Mochammad Zuliyanto, ada Didik Wahyono, dan teman-teman yang lain yang tidak bisa saya sebut satu-satu. Nah, di antara teman-teman ini ada satu teman yang sangat nyentrik dan sepertinya selalu dinaungi Dewi Fortuna. Kami biasa memanggil dia dengan nama Yanto, rambutnya yang agak keriting dan selalu parlente di antara kami. Ke mana pun dia bermain, dia pasti menjadi raja dalam permainan itu. Ke mana pun dia mencari sesuatu, dia pasti menemukan apa yang dicari. Beda lagi dengan Budi. Budi ini seperti ketua geng di kelompok kami. Siapa saja selalu ingin dekat dengannya. Siapa saja ingin berteman dengannya. Dia seperti dirigien dalam kelompok kami. Kalau dia tidak berangkat, maka seluruh rombongan tidak akan berangkat. Dan ada teman-teman yang lain dengan keunikannya masing-masing.

Masa kecil kami sungguh sangat sayang untuk dilupakan. Kami selalu mandi bersama di tepi laut setelah pulang sekolah, dan jika ada kesempatan, kami menyusuri areal persawahan yang bukan merupakan ‘tanah jajahan’ kami. Ya, tanah jajahan karena kami sejatinya adalah anak para nelayan. Kulit hitam, rambut merah, pipi yang memancarkan silau garam habis mandi di laut. Begitulah kami. Simpel dan tidak neko-neko, tetapi sungguh kenangan itu takkan kami lupa sedikitpun. Bahkan saya yang sudah berusia 34 tahun ini pun, tak sepenggal cerita dari masa kecil kami yang tercecer. Kawan-kawan saya, Budi, Didik, Yanto, Yono, dan semuaya semoga kita ingat kisah ini. Semoga kisah yang tertulis tak sempurna ini mampu membangkitkan kisah klasik nan indah yang pernah kita lalui. Semoga kalian semua selalu dalam lindungan Allah SWT.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s