Teman dahsyat, Sang pembimbing jiwa kosong!

Pas lagi malam-malam marung tahu campur sama istri dan kakak daniel (Nabiel ditinggal di rumah sama mbahnya), tiba-tiba saya ingat teman saya yang satu ini. Namanya Hanif Asyhar, asli orang ndeso, desanya namanya desa Sugihan, tetangga desa dengan mantan pelaku bom Bali kala itu.

Saya pun makan sambil bercerita tentang Hanif ini ke istri saya dan apa saja yang kami lakukan pada waktu itu. Ya, sewaktu kami masih duduk di Madrasah Tsanawiyyah. Hanif ini sungguh anak yang sangat tatak kala itu. Betapa tidak, kiloan kuburan dilaluinya malam-malam tanpa sedikit pun rasa takut. Bisa dibayangkan, anak yang seusia itu jalan-jalan sendirian melintasi kuburan yang tergolong angker. Sepertinya tak terlintas sama sekali rasa takut dalam dirinya. Kalau saya pribadi, lebih memilih jalur yang lebih ramai dan tidak bersinggungan dengan kuburan atau yang berbau itu. Ya, saya selalu lewat jalan raya kalau pulang malam-malam dari sekolah saya waktu itu. Jauh tidak mengapa, asal hati ini tidak was-was.

Beda saya, beda dengan Hanif teman saya ini. Kalau saya penakut, dia ini super berani. Tidak hanya berani sama demit dan kawan-kawannya, dengan manusia yang dholim pun dia berani. Siapa pun pasti dia lawan. Keren wis pokoe.

Istri saya pun semakin penasaran saat saya ceritakan masa kecil kami. Biar seru, saya bubuhi sedikit kisah tentang saya ke istri saya. Sambil makan, saya bilang ke istri saya. Saya dulu sering keluyuran ke Pasar-pasar begini sendirian, sehabis sekolah. Terus istri saya bertanya saya ngapain saja di pasar-pasar itu. Saya jawab enteng saja bahwa saya cuma mau melihat-lihat orang. Cuma lihat-lihat orang dan duduk-duduk, sesekali pindah-pindah tempat. Saya lanjut cerita lagi ke istri saya, saya kalau main itu jauh sekali. Kalau dari desa saya, saya biasanya main sampai ke daerah Blimbing, Berondong, sampai Tuban. Terus, istri saya nanya lagi, lah bapake sampeyan opo ora nggoleki yang? Saya jawab dengan enteng, sing penting aku ora moleh bengi-bengi sak dukure jam 8 wis aman. Nah itu saya, selalu geje dari kecil.

Pernah suatu ketika, kebetulan saja sebenarnya, saya diajak main-main ke Tuban oleh Hanif, teman saya ini. Dan apes bener! Kami kemalaman di jalan dan itu tentunya tidak ada kendaraan menuju ke desan kami, Paciran. Jarak tempunya bisa berjam-jam kalau dilalui dengan jalan kaki. Dan sungguh benar, kami benar-benar jalan kaki setelah kami menemukan mobil carteran terakhir kami yang hanya sampai di desa Blimbing. Kami terpaksa jalan kaki dari Blimbing ke desa Paciran dan kalau tidak lupa, kami sampai di Paciran pukul 12 Malam.

Nah, jalanan dari Blimbing ke Paciran ini terkenal sangat angker. Tak ada penerangan jalan satu pun di sana. Saya berulang kali tersandung batu karena takut lihat kiri kanan wkwkwkwkw. (Ojo diguyu rek aku wedian mbiyen 😀 ). Saya perhatikan langkah Hanif ini sungguh pasti. Kalau ingat kejadian ini, asline yo kangen, tapi emoh ogah mbaleni. Ngelewati hutan belantara plus kuburan yang masih aktif dan sering muncul penampakan jin.

Dan menyoal ibadah, beda lagi dengan Hanif ini. Hanif ini sangat kuat ibadahnya. Asli sangat kuat jika dilihat dari usianya yang sangat muda begitu. Pernah suatu ketika, kami tidur di musholla Nggunung, salah satu musholla yang berada di atas perbukitan. Mushollah ini terkenal sangat angker, banyak jinnya di sana, tak jarang pula seringkali ada suara-suara bangku yang bergeser-geser sendiri. Merinding asli. Nah, kebetulan suatu ketika, Hanif ini tidur di musholla ini beberapa hari dan saya perhatikan terus. Setiap jam 2 atau jam 3, dia pasti ke kamar mandi. Kamar mandi sekolah atau mushollah ini pun tergolong angker. Siapa saja yang masuk ke sana, pasti minta diantar, tidak peduli itu siang atau agak malam.

Hanif ini masuk serubat serubut seperti tidak ada apa-apa, bahkan tiap jam 2 malam dia selalu mandi dan dilanjutkan dengan salat-salat sunnah, lalu membaca wirid dan ayat-ayat suci Alquran. Nah, terus pas tarhim dia biasanya balik ke pondoknya, mengikuti Jamaah subuh dan ngaji rutin. Kalau saya masih tetep di Mushollah dan balik ke rumah saat pukul 5 pagi.

Siangnya pas sekolah, dia tidak pernah makan tiap hari Senin dan Kamis. Dan usut punya usut, ternyata dia tidak pernah tidak puasa Senin Kamis. Asli keren pokoe. Saya perhatikan dari hari ke hari kok ya ada keinginan seperti dia. Akhirnya saya bertanya resep-resepnya. Begini pertanyaan saya, “Nif, caramu ngelekoni koyo ngono iku piye?” Dia menjawab begini, “Wong iku wis ono wadahe dewe-dewe. Ibadahe wong siji karo wong liyone bedo-bedo, hasile yo bedo-bedo, sing apik iku yo disesuaikan karo kemampuanmu. Ono sing kuat poso senin kemis, tahajud ra tahu let, ono sing mung kuat salah sijine.”

Saya akhirnya sadar dan memaklumi dan hasilnya memang benar-benar beda! Kalau saya sekarang jadi manusia tiada arah (ora ngalor ora ngidul, begijakan ngetan ngulon), kalau teman saya, Hanif ini beda, kalau dipuisikan itu antara langit dan bumi. Hanif langitnya, saya buminya. Nah, teman saya Hanif ini sekarang menjadi seorang muballigh wis elek2an ustad utowo ngiyayi neng Situbondo. Kapan-kapan tak celuke neng Pasuruan, aku wis kangen suwe ra tahu ngobrol. Jiwaku wis kosong melompong butuh dicharge 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s