Ustad Kunyuk!

Kalau sekarang sedang ramai membahas jenderal kunyuk, yang katanya, suka menebar fitnah dan teror di sana-sini, tanpa memedulikan bumi yang dipijaknya, kali ini ada ustad kunyuk, versi saya.

Pada suatu Jumat siang yang begitu panas. Tak tampak, saat itu, mega mendung di atas langit yang menaungi kepala saya. Saya berjalan menuju salah satu masjid yang berada tak jauh dari ruko saya. Seperti biasa, sebagai seorang muslim, salat jumat berjamaah itu sebagai rutinitas wajib. Terdengar dari kejauhan suara adzan yang menandakan akan dimulainya khutbah Jumat dan akhirnya saya berhasil menginjakkan kaki saya di masjid itu. Saya pun langsung tahiyat masjid langsung mendengarkan ceramah sang khotib.

Selang beberapa menit duduk sambil menyimak khutbah, telinga ini rasanya panas, hati ini terasa berontak ingin ngampleng ustad kunyuk ini yang tak lain adalah seorang khotib Jumat itu. Saya pun memejamkan mata sejenak dan menyadari hakikat dari ustad kunyuk ini. Ah, begini-begini juga ciptaan Allah SWT, mungkin juga memang dibuat demikian sebagai i’tibar.

Mungkin julukan ustad kunyuk ini terlihat kasar, tetapi saya ingin menggambarkan betapa sang ustad ini menebar fitnah di mimbar Jumat yang barokah. Dengan suaranya yang menggebu-gebu, dengan semangat Islamnya yang bak badai menerjang rumah-rumah warga, Ustad ini menggebu-nggebu menyikat habis amalan orang sebelah. “Wahai kaum muslimin RA, tidak ada sunnah dan perintah kirim-kirim doa lalu dibayar. Masa berdoa saja kita harus mbayar. Wahai kaum muslimin, kita tidak butuh minta didoakan orang, kita cukup langsung berdoa kepada Allah SWT. Tidak perlu meminta doa orang lain. Allah maha pengabul doa” sambil mencatut beberapa hadits dan beberapa ayat alQuran, sang ustad ini sungguh semangatnya luar biasa, namun bacanya sambil terbata-bata, seperti orang yang baru belajar membaca.

Saya pun mbatin, ini ustad apa mahasiswa. Ini ustad beneran apa mahasiswa yang sudah dicuci otaknya. Puluhan hadits sahih dilontarkan dengan bacaannya yang terbata-bata, dan anehnya di bagian akhirnya, ia melontarkan hadits yang biasanya dianggap maudhu’, hadits qudsi yang ia sebut dengan hadits langsung dari Allah SWT.

Tak sampai di situ, sang ustad pun memberi contoh tentang dosanya berzina. Cerita-cerita berzina dibeber habis-habisan, cerita ‘anjuran’ meminta maaf langsung kepada Allah SWT setelah melakukan dosa besar itu dibeber habis-habisan, dan dipungkasi dengan Allah Maha memaafkan. Sang ustad ini memang harus diajak piknik, biar tahu bagaimanakah seorang pendajwah seharusnya.

Saya yang kebetulan duduk di saf belakang, melihat lalu lalang anak-anak muda dan anak-anak seusia keponakan saya, rasanya tidak pantas jikalau khotbah itu membahas soal zina beserta contoh pelaku-pelakunya dari sahabat para nabi. Dari kacamata orang awam seperti saya, ini sangat fatal wahai ustad! Sebagai seorang pendakwa, Anda harus tahu maqolul hal wal makan. Dalam ilmu balagoh, ucapan itu harus disesuaikan kondisi dan tempat, bukan gebyah uya tanpa melihat siapa mustamiin kita.

Khotbah pun selesai, hati saya sudah tidak jangget lagi karena saya yakin semua ini bisa membatalkan ibadah salat Jumat lagi. Akan tetapi, sang ustad ini melakukan blunder lagi. Dalam proses salatnya, sang ustad membaca ayat Alquran ala qori’, bukan ala qori’nya yang menjadi permasalahan. Beberapa ayat dalam rakaat awal, diulang lagi dalam rakaat kedua, PERSIS ketika saya belajar qiroaah di sekolah saya dulu. Sungguh persis karena yang dibaca juga sangat pendek! Ah ustad, katanya nyunnah. Sunah itu, khotbahnya singkat saja, baca suratnya panjang. Begitu seharusnya prosesi salat Jumat menurut hadits sahihnya. Lalu sunnah yang manakah yang ustad ini amalkan? Allahu A’lam.

Tak hanya itu, dalam pungkasan salatnya, sang ustad menutup salamnya dengan warohmatullah sedangkan dalam takbirotul ihromnya ia anti bismillah. Saya pun akhirnya menyadari dan memahami bahwa ustad ini sungguh tiada pijakan, atau mungkin belajarnya lewat buku-buku terjemahan atau mungkin Mbah Google. Dia tidak jelas mana yang diikutinya. Ini namanya campur aduk manhaj! Mungkin ustad ini butuh piknik. Tidak paham mana masalah khilafiyyah dan tidak. Sungguh ustad ini telah memfitnah orang sebelah. Tidak ada kewajiban harus membayar sekian rupiah untuk setiap doa yang dipanjatkan. Tiada sepeser pun harus dikeluarkan untuk setiap fatihah yang dikirimkan. Ayo ustad, saya tunjukkan yang sebenarnya. Lalu, apakah saya harus menyebut Anda ustad kunyuk? Ustad penebar fitnah? Sungguh khotbah itu penuh fitnah!

Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s