Belajar dari sang pencerah

Di suatu pagi yang cerah, saat langit tak sama sekali menampakkan kegalauannya, saat matahari tersenyum lebar kepada semuanya, dan suara riuh riang kendaraan bak menyambut pesta pernikahan sang primadona, aku berkunjung ke salah satu rumah kolega, yang jaraknya kira-kira 3 atau bahkan 4 km dari rumah.

Wajahnya yang selalu ceriah dan cerah, yang tak menampakkan raut durjana, selalu senyum ceria menyambut sahabatnya yang mengetuk pintu rumahnya. “Ah, kawan, aku senang sekali bertemu engkau di pagi hari ini”, sahutku dengan penuh gembira. Ia pun hanya tersenyum ikhlas dan tak menampakkan ekspresi apa-apa. Ia hanya datar-datar saja. “Ah, kawanku ini sungguh bersahaja”, gumamku dalam hati ini.

Kawanku ini adalah seorang pengusaha, bisa dibilang pengusaha yang sukses di bidangnya. Ia menggeluti usahanya 5 tahun yang lalu, sama seperti saat aku menggeluti usahaku ini.Bedanya, nasib dia lebih beruntung dariku, meski sebenarnya membandingkan hal ini tidak baik juga. Semua sudah diatur oleh yang kuasa. Ia memiliki puluhan pegawai di rumahnya yang indah itu, kurang tahu juga apakah ia memiliki kantor di luar, mungkin ada, tetapi aku tidak berani menanyakan lebih jauh.

Aku dipersilakan duduk di rumahnya yang juga kantor itu. Aku melihat langsung semua aktivitas karyawannya itu, dari A sampai B, ia pun dengan cueknya ngobrol denganku, berbicara apa saja yang seolah ia tahu apa yang aku mau. Dari cara ia berbisnis sampai bagaimana ia memperlakukan para karyawannya, ia kupas tuntas dengan sesekali menyeruput kopi yang dihidangkan istrinya.

Saat aku memerhatikan para karyawannya, ada satu atau dua karyawan yang tampak bagiku seperti bermain-main saja. Aku hanya memerhatikan, tanpa bertanya-tanya. Aku perhatikan lagi sekitar ruang kerja karyawannya, sambil sesekali menyeruput kopi buatan istrinya. Kopinya sungguh mantap! Tak ada sistem finger print atau sejenisnya seperti kantor-kantor pada umumnya. Padahal, usahanya cukup terbilang maju dan resmi. Aku pun semakin penasaran, dan rasa-rasanya pikiran ini selalu terbayang ingin bertanya, ya bertanya apa saja tentang keunikan kantornya ini.

Aku seruput kopi itu dengan penuh rasa galau, galau ingin bertanya cara ia memperlakukan para karyawannya. “Ah, sudahlah. Buat apa aku berpikir yang tidak-tidak serta menanyakan yang tidak-tidak, pula?”, hatiku berontak. Aku pendam pertanyaan-pertanyaan itu, namun semakin aku pendam, semakin pertanyaan-pertanyaan itu menyiksa batinku. Pertanyaan-pertanyaan itu bak udun yang mau mberojol. Semakin ditekan, semakin mau keluar seluruh isinya.

Aku akhirnya memberanikan diri untuk mengajukan satu pertanyaan, dan lagi-lagi, aku terpukau dengan jawaban kawanku ini. Saat aku menanyakan kenapa pegawai yang tampak main-main itu dibiarkan saja meski hal itu tentunya mengganggu kegiatan produksi di tempatnya. Ia malah bercerita masa lalunya saat ia masih menjadi seorang pegawai.

Dahulu kala, ia adalah seorang pegawai yang bekerja di salah satu instansi milik pengusaha Tiongkok. Seperti pegawai pada umumnya, ia pun terkadang iseng, kadang pula jahil. Pernah juga minta izin yang tidak masuk akal kepada bosnya itu. Pernah juga, terkadang, sesekali berbohong dan membuat kesalahan, tetapi anehnya bosnya pada waktu itu seperti terbius olehnya. Bosnya selalu mengiyakan apa yang diujarkannya. Saat ia bilang, ia mau ada acara aqiqoh untuk anaknya yang berada di luar kota, bosnya pun tidak melarangnya untuk izin tidak masuk kerja, padahal jelas sekali bahwa bosnya lebih berhak atasnya dan banyak lagi kesalahan-kesalahan lain yang ia perbuat pada waktu itu terhadap bosnya yang kebetulan beda keyakinan dengannya. Ia bercerita kepadaku sambil mengenang dan menghayati.

Ia pun melanjutkan ceritanya lagi, seolah-olah sambil menasihatiku secara tidak langsung. Aku sungguh terbawa oleh cerita-ceritanya dan ia pun menutup ceritanya dengan nasihat tidak langsung yang akan selalu aku kenang. Ia menjawab pertanyaan yang aku ajukan tadi dengan tulus mengatakan, “Kawan, biarkanlah pegawai-pegawaiku begitu, itu bukan salah mereka. Itu mungkin salahku dulu yang ditampakkan sekarang dan semoga apa yang dilakukan pegawaiku itu bisa menjadi penebus kesalahan-kesalahanku saat aku dulu menjadi pegawai. Jikalau pegawaiku meminta izin aku untuk melakukan apa saja, entah itu kegiatan pribadi atau kegiatan keagamaan atau apa pun, meski saat jam kerja berlangsung dan aku lebih berhak atasnya, aku akan selalu terbuka dan memberinya izin, apa pun yang pegawai itu lakukan. Aku tidak akan menegur atau bahkan melarang atau bahkan mengurangi gaji dan menambahkan jam kerjanya di lain waktu. Biarkan semuanya diganti oleh Allah SWT dengan kebahagian-kebahagian yang lain.”

Masya Allah, sungguh jawaban yang aku sendiri tidak bisa terima, tetapi begitulah kawanku itu. Aku belajar dari sang pencerah ini. Semoga kita selalu dalam bimbingan Allah SWT.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s