Bu Zu, aku datang memenuhi panggilanmu

Pagi itu, sepulang dari memeriksakan diri dari penyakit yang tak diundang ini, terlintas sosok Bu Zu di benakku. Rasa-rasanya bayangannya seperti menggelayut di pikiran dan tak mau turun atau sirna begitu saja. Aku pun mencoba mengalihkan bayangan akan Bu Zu ini dengan memutar murottal di mobilku sambil komat-kamit mengikuti lantunan itu. Ah! Masih saja, aku teringat isi SMS yang dikirimkan ke aku oleh Bu Zu sehari sebelumnya.

Bu Zu ini adalah salah satu guru TK-ku. Ya, sekitar 29 atau 30 tahun yang lalu, beliau pernah mengajariku. Mengajariku huruf A B C D dan Alif, Ba’, Ta’ serta keterampilan-keterampilan yang lain. Nahasnya, aku kemarin lupa tidak minta foto beliau, sehingga cerita ini terdengar seperti hoax. Usia beliau yang sudah terbilang sepuh, tetapi semangat mengajar dan belajar beliau ini masih sungguh luar biasa. Betapa tidak, beliau pernah lo kuliah lagi meski dalam usia beliau yang (maaf) udzur. Ayo semangat Bu Zu!!

Aku pun tak bisa memberontak kata hatiku untuk mengunjungi beliau. Aku pun ingat, bukankah pagi itu beliau akan berangkat mengajar. Ah, aku coba saja ke kediaman beliau. Siapa tahu memang benar beliau hari ini akan berangkat sekolah. Aku ingin mengantar beliau berangkat mengajar, setidaknya, sesekali dan tentu saja ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan jasa-jasa beliau.

Aku starter mobilku, aku luruskan jalanku, aku belokkan ke jalanan yang menuju rumah beliau. Ya, akhirnya aku sampai di gang rumah beliau. Sempit dan susah untuk parkir, tapi aku pikir, kesempitan dan kesusahan itu tiada arti jika dibandingkan dengan aneka masalah yang pernah aku tuangkan dalam gelas pikiran beliau saat aku kecil dulu. Aku maju pelan-pelan, mundur lagi pelan-pelan dan alhamdulillah, mobilku bisa parkir tanpa menyenggol apa pun.

Aku pun keluar dari mobil, dan langsung menuju rumah beliau. Astaga! Aku salah rumah. Dengan semangat 45 aku mengetuk rumah orang lain. ‘Assalamualaikum, pak ngapunten Bu Zu ne wonten?’ Bapak itu pun menjawab, ‘Mas, rumah Bu Zu di sebelah, bukan di sini.’ Jiah, aku salah rumah. Tidak mengapa, aku pamit ke bapaknya dan menuju rumah sebelahnya.

Aku ketuk rumah satunya, aku sampaikan Assalamualaikum dan sontak saja suara itu masih sama; ya suara Bu Zu yang 30 tahun lalu mengajariku kehidupan. Gaya beliau pun sama. Wajahnya pun sama. ‘Kok sama semua?’, pikirku.

Seperti murid kebanyakan, aku pun mencium tangan beliau, aku minta doa beliau dan ngobrol ngalur ngidul tiada batas. Aku pun menawari beliau untuk diantar ke sekolah tempat beliau bekerja. Ya, sekolah yang sama dengan sekolahku dulu.

Bu Zu pun mempersiapkan diri, menyiapkan segala sesuatunya untuk bekal mengajar di sekolah. Kami pun akhirnya berjalan menuju mobil, aku bukakan pintu mobil itu untuk beliau, sambil sedikit aku goda, ‘Bu Zu, kados artis nggeh jenengan?’ Bu Zu pun tertawa ngakak. Aku tutup pintu mobilku, aku pun masuk ke mobil dan mulai mengemudikan mobilku ke tempat beliau mengajar.

Namanya orang lama, beliau tak henti-hentinya geleng-geleng kepala, sambil bertanya-tanya ini mobil beli berapa. Tak henti-hentinya pula beliau mengatakan merasa sangat nyaman naik mobilku ini, padahal ya mobile elek. Aku melihat rasa bangga di hati Bu Zu. Bangga, mungkin, karena muridnya masih mau mengunjungi beliau, bangga, mungkin, karena melihat muridnya sukses secara materi (padahal sebenarnya aku masih mencari-cari kesuksesan), bangga, mungkin, karena hal-hal lain yang tidak bisa aku mengerti dan pahami.

Bu Zu, semoga panjenengan selalu dalam lindungan Allah SWT dan panjang umur, sehat selalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s