2 Tahun Membawa ‘Bom Waktu’

Bulan ini adalah, bulan pertama aku tak membawa bom waktu itu lagi. Ya, bom waktu ini bisa membunuhku kapan saja, meski mati itu tidak ditentukan oleh salah satu sebab, tapi setidaknya bom waktu ini tampak seperti peringatan keras dan nyata, bahwa nyawa ini bisa melayang kapan saja karena bom waktu itu.

2 tahun yang lalu, aku mengalami sakit yang lumayan parah. Batuk yang tidak karuan, badan yang sering merasakan pegal-pegal, lemas, dan tidak doyan makan. Karena saking seringnya berinteraksi dengan dunia persantetan dan teluh, aku pun mulai berpikir ke sana lagi. Apa aku terkena barang begituan lagi, hebat sekali barang ini. Aku pun mencari tahu, siang malam dan akhirnya aku memeriksakan diri ke salah satu dokter keturunan Arab.

Sore itu, aku diantar istriku, dengan mengendari sepeda motor Varioku. Kami masuk berdua dan daftar seketika, dan giliranku untuk diperiksa pun akhirnya tiba. Tanpa babibu, sang dokter ini pun menyuruhku telentang untuk diperiksa aliran napasku. Sontak, sang dokter ini kaget dan masih sedikit ragu. Dia pun menganjurkanku untuk melakukan foto rontgen dan kembali lagi keesokan harinya.

Ya, aku akhirnya kembali keesokan harinya dan benar saja, aku mengidap flek paru-paru yang sangat parah. Hampir seluruh dadaku dipenuhi virus laknat ini. Aku pun sempat keder dan berpikir dalam-dalam. Waduh! Sang dokter pun menjelaskan bahwa penyakitku ini disebabkan karena asap rokok parah dan dia memperingatkanku dengan keras agar aku tak bergumul dengan para perokok atau bahkan menjadi pelakunya.

Sontak, hubungan pertetanggaanku pun hilang. Hampir seluruh tetanggaku adalah perokok berat dan tiap malam kami sering berkumpul hingga pagi. Ya, kejadian seperti ini terjadi selama bertahun-tahun semenjak aku mendiami rumahku yang di Pasuruan ini. Ya, aku harus menghindari para perokok dan itu berarti aku tidak boleh dekat-dekat dengan mereka. Aneh juga kalau aku harus memohon ke tetanggaku untuk tidak merokok, karena bukan aku yang membelikan rokok mereka, mereka sendiri yang membelinya menggunakan uang mereka sendiri.

Dicap sombong mungkin iya, karena aku yang biasanya bergaul tanpa batas, guyonan, dan lain-lain, tiba-tiba saja tidak mau diajak keluar, tidak mau jagongan, dan itu pun berlangsung (mungkin) selamanya. Begitu pula dengan teman-temanku yang perokok. Aku dicap sombong atau megaya tidaklah mengapa. Mereka tidak merasakan penderitaanku, mereka tidak merasakan dan tahu berapa yang sudah aku habiskan untuk tenaga, mental, dan dana selama 2 tahun itu. Sekotak obat harganya hampir Rp200.000. Lebih mahal dari rokok keparat itu. Pertama kali, aku pun merasa tidak enak dengan tetanggaku dan teman-temanku, tapi aku mulai berdamai dengan keadaanku, aku memikirkan anak-anakku, istriku, dan keluargaku. Mereka lebih menggantungkanku daripada tetanggaku atau teman-temanku. Aku pun sadar, bahwa aku harus sehat kembali. Itu hukumnya WAJIB!

Tepat beberapa bulan yang lalu aku melakukan perjalanan rutin dari Pasuruan ke Malang. Aku pun bertemu seorang nenek-nenek tua rentah sedang berjalan tertatih-tatih di pinggir jalan dan aku pun tidak tega untuk tidak menepikan mobilku. Aku tunggu nenek itu hingga melewati mobilku, aku buka kaca mobilku, dan nenek itu pun melemparkan senyumnya yang indah ke arahku saat melintasi mobilku. Aku pun mengeluarkan uang kertas untuk aku berikan ke nenek itu, aku kaget saat nenek itu membalas pemberian uang kertas itu dengan satu doa saja ‘Nak, mugo-mugo diparingi sehat’. Aku sebenarnya merinding bercerita tentan nenek ini. Kebetulan saat itu aku bertemu nenek ini di sepanjang jalan sepi tiada rumah, hampir bisa dikatakan hutan belantara.

Aku pun tak ambil pusing, entah nenek ini jelmaan apa atau siapa. Aku langsung mengelus-eluskan dataku, aku resapi doa nenek itu, aku masukkan dalam hatiku, aku mintakan lagi ke Tuhanku. Aku berdoa sendiri, Ya, Allah mugo-mugo doae mbah iki jenengan ijabah’.

Seminggu setelah kejadian itu, aku berniat memeriksakan keadaanku. Penasaran sekali dengan keadaanku. Aku ke dokter keturunan Arab itu, dan seperti biasa aku disuruh melakukan foto rontgen dan kembali lagi keesekon harinya. Sontak, aku kaget bahagia. Dari hasil foto itu diketahui bahwa aku sudah NEGATIF penyakit flek paru. Aku dinyatakan sembuh total!! Aku pun pulang menceritakan kabar ini kepada istriku dan bapakku. Aduh, mereka sepertinya tidak percaya dan saat aku tunjukkan hasil fotonya mereka sangat senang. Itulah perjuanganku membawa bom waktu. Bom waktu yang akhirnya tidak jadi meledak bersamaku.

Untuk teman-temanku dan tetanggaku yang perokok, aku tidak pernah membenci kalian, tapi aku membenci ASAP kalian. Jika saat engkau meroko di sekitarku dan aku tiba-tiba berlalu, mohon maklumi keadaanku. Aku tak mungkin menasihati kalian, karena kalian lebih mengerti daripada aku, seperti aku mengerti keadaanku dan keluargaku. Aku ingin sehat, aku ingin melihat senyuman anak dan istriku setiap hari, tanpa membawa bom waktu itu lagi. Semoga kita semua disehatkan, dimakmurkan, dilindungi, dan dijamin kehidupan kita dengan jaminan terbaik dari Allah SWT!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s