Alm. Mbah Yai Nur Salim, Sang Kiai Penyabar

Semalam saat sedang ngeloni anak saya yang mbarep sambil menggaruk-nggaruk punggungnya dan mata agak sedikit terpejam, tiba-tiba saya ingat sosok Mbah Yai Nur Salim, Dengok. Beliau yang biasa disebut atau terkenal dengan nama lengkap K.H. Nur Salim ini termasuk salah satu kiai sepuh dan sangat disegani di zamannya, dan beruntung sekali saya bersama teman-teman yang lain pernah menimba ilmu dari beliau. Beliau waktu itu mengajar pelajar Ushul Fiqih di kelas kami. Entah pelajaran ini masih ada atau tidak di zaman sekarang ini. Semoga masih ada.

Saya ingat betul cara beliau mengajar kami. Beliau perawakannya ramping tidak seperti kiai-kiai kebanyakan dan bersurban dan cenderung berbadan tambun atau tinggi besar. Pembawaan beliau sangat sederhana. Kalau orang tidak tahu, mungkin beliau dianggap orang biasa. Ilmunya pun sangat luar biasa, terutama saat mengendalikan kelas Ushulul Fiqih. Berbagai kaidah fiqhiyyah dibeber habis di dalam kelas. Asal muasal Hadits dan Alquran, Ijma’, dan Qiyas pun tak lepas dibeber habis, tak peduli apakah murid beliau mendengarkan atau tidak. Beliau terus saja menerangkan sambil tersenyum ikhlas. Tak pernah sedikit pun saya mendapati beliau marah di kelas.

Melihat murid-murid beliau yang tidak mendengarkan atau bahkan ramai sendiri, beliau pun tetap tersenyum seakan-akan tidak apa-apa. Kira-kira, kalau murid saya yang begitu, akan aku lempari sepatu satu-satu. 😀

Pernah suatu ketika, kebetulan di kelas kami ada salah satu murid yang menjadi idola setiap wanita di sekolah kami. Sebut saja namanya Amin (Semoga keberuntungan selalu menyertainya). Saat Mbah Yai Nur Salim menjelaskan ayat وإذا بطشتم بطشتم جبارين, teman saya itu langsung interupsi dan bertanya. ‘Mbah Yai, niku khasiate nopo?’

Mbah Yai Nur Salim pun tidak kehabisan akal. Agar teman saya ini atau bahkan seisi kelas ini tertarik dengan pelajaran beliau ini, beliau pun mengadakan sayembara. ‘Nanti siapa saja yang bisa menemukan ayat ini ada di surat apa dan ayat berapa, nanti saya jelaskan khasiatnya apa saja.’

Satu kelas pun bersemangat mencari tahu dan akhirnya ketemu. Ya, dalam tatapan beliau yang tajam. Tersimpan samudera ilmu yang luas, memancarkan tatapan keikhlasan dan harapan, dan menebar senyuman yang selaly sumringah sehingga aku tak mampu melupakan senyuman beliau. Pagi pun pecah dan tetap saja sosok Mbah Yai Nur Salim ini meneyertaiku. Bahkan, saat aku mulai perjalananku dari  Pasuruan ke Malang pagi ini.

Mbah Yai Nur Salim, semoga Allah memberikan panjenengan surga tertinggi. Semoga pancaran senyum panjenengan mampu aku teruskan. Alfatihah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s