Syiir tanpo asal; penakluk si dungu nan pemalas

Dulu, kalau tidak salah sekitar 20 tahun silam, ada salah seorang Kiai, sebut saja nama beliau adalah Kiai Zainuri. Gayanya yang khas dan penampilannya yang terbilang sangat sederhana membuat beliau tampak seperti orang yang biasa-biasa saja. Orang yang tidak pernah bertemu beliau pun akan menyangka sama dan pasti akan mengajukan pertanyaan yang sama, “apakah dia itu seorang Kiai?”.

Ya, beliau adalah salah satu Kiai yang cukup sepuh di kalangan sekolah kami. Keilmuan beliau sangat tampak sebenarnya, cuma penampilannya yang menampakkan beliau seperti orang yang biasa-biasa saja. Ngomong-ngomong tentang kesabaran beliau, saya sangat kagum dan acungi jempol. Saya menyaksikannya sendiri.

Saat itu, kelas saya kebetulan kelas super rame dan susah dikendalikan, ditambah lagi dengan sekumpulan siswa yang terbilang kurang berminat untuk pelajaran Nahwu dan (maaf) cenderung menyepelehkan pelajaran tersebut. Saya pun tergolong siswa yang rame itu dan siswa yang tidak pernah hafal kalau disuruh menghafal bait-bait Alfiyah dan kiasan-kiasan saraf. Tiap minggu, saya harus menghafal dobel karena bait-bait sebelumnya gagal saya hafalkan. Yang membuat kelas semakin membosankan, tentunya tulisan-tulisan beliau yang sangat  banyak dalam bentuk pegon dan sangat cepat dihapus. Pusing tentu saja iya.

Dalam suatu waktu, ketika pelajaran Nahwu berikutnya dimulai, seluruh teman saya ramai sendiri. Kiai ini menjelaskan tentang kaidah-kaidah Nahwiyah dan tak ada satu pun yang mendengarkan. Beliau pun tak marah sama sekali. Beliau hanya berhenti sejenak dan menatap tajam ke arah teman-teman. Saya sempat memerhatikan sorotan mata beliau dan seketika itu pula saya terhenyak dan langsung terdiam sendiri. Teman-teman saya pun masih saja ramai dan tidak sadar bahwa sang Kiai sedang memerhatikan mereka.

Tak lama setelah itu, beliau duduk di meja kayu kuno yang ada di depan kelas sambil memberikan nasihat singkat. Nasihat itu pun tak diucapkan melalui lisan beliau, tetapi melalui tulisan singkat yang bunyinya kurang lebih seperti di bawah ini:

إن المعلم والطبيب كلا هما  لا ينصحان إذاهما لم يكرما

Janganlah engkau mengharapkan nasihat dari gurumu dan seorang dokter jika engkau tak mampu memuliakan mereka–
(mohon maaf jika ada kesalahan arti karena ini saya terjemahkan secara bebas. Saya bukan ahli bahasa Arab apalagi bahasa syiir yang membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi)

Setelah menuliskan ini, beliau pun langsung keluar dari ruangan kelas tanpa berkata apa pun. Seketika itu pula, hati saya terenyuh dan mata saya meneteskan air mata tanpa sadar. Masih, teman-teman saya ini ramai sendiri seperti pasar.

Dari kejadian ini, saya pun menjadi giat mencari apa maksudnya syiir itu, apakah maksudnya sama dengan pemahaman awal saya saat membaca tulisan itu pertama kali di papan. Akhirnya, jawaban itu saya temukan di kitab Ta’limul Mutaallim dan benar saja, maksudnya seperti yang saya tangkap di awal.

Kejadian itu sungguh seperti sebuah momentum penting atau bahasa kerennya milestone bagi kehidupan saya. Saya yang waktu itu sangat goblok dan malas, langsung tersadar dan merasakan kerinduan yang luar biasa untuk dapat terus diajar beliau. Ya, meski saya tetap goblok dan bodoh, kejadian itu membuat saya berhijrah dari kehidupan yang penuh kebodohan dan kekosongan. Betapa tidak, kalau ditanya siapakah murid yang paling goblok di kelas, jawabannya pasti mengarah ke saya. 😀

Kejadian itu sungguh aneh. Seketika itu juga, saya mulai suka dengan dunia ulama. Seketika itu juga, beberapa hari setelah kejadian itu, saya langsung sowan ke beberapa ulama sepuh yang kebetulan juga guru-guru saya di Madrasah Tsanawiyah. Saya pun langsung berkunjung ke dhalem para ulama ini satu per satu guna meminta restu dan doa mereka. Saya pun didoakan.

Ternyata, doa dan keikhlasan guru-guru dan kiai-kiai kita mampu menggetarkan arasy untuk murid-murid mereka yang mau bertawadhu’ dan taat apa pun keadaannya. Semoga harta kita, ilmu kita, dan keturunan kita menjadi jembatan bagi kita untuk bisa selalu dekat dengan para ulama. Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s