Rumput di ladang kita, jauh lebih hijau!

Dalam balutan digitalisasi dunia seperti saat ini, mau menggetarkan sesuatu itu mudah sekali. Apalagi menggetarkan hati-hati yang sedang sakit! Itu perkara mudah, setidaknya itu menurut pandangan saya.

Kita punya apa, kita tinggal jepret dan share. Tak butuh semenit, gambar-gambar penuh keangkuhan itu tersebar ke media sosial yang kita kehendaki. Begitu gambaran singkatnya soal dunia digital saat ini. Tentunya tak melulu berdampak buruk, dampak baiknya pun sama-sama ada.

Ah kita lupakan sejenak dunia digital itu. Saya tak sedang ngomongin soal dunia digital karena semakin ke dalam, maka akan semakin terlihat kebodohan saya dalam hal ini. Sama pula ketika orang yang fanatik buta (buta beberapa kali) membicarakan presiden pilihannya. Yang berseberangan dengannya adalah musuh. Padahal, presiden itu milik bersama, yang pro dan kontra sama-sama berpresiden sama. Anehnya lagi, mereka-mereka ini bukan anak kecil atau SMA, mereka adalah orang-orang yang ber-IQ sangat tinggi (setidaknya ngakunya begitu). Semakin fanatik pro dan kontra, semakin terlihat gobloknya! Ayo move-on dikit aja.

Tiga paragraf tak karuan di atas itu mungkin pembuka judul yang kurang pas, tapi setidaknya begitulah gambaran perasaan saya. Tidak menentu dan susah ditebak. Kembali ke rumput di ladang kita. Kita tentu saja menginginkan kehidupan yang tenang dan damai. Andai kita tak punya apa pun, kita tetap tenang dan damai. Itulah kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan para kekasih Allah SWT pada zaman dahulu (meski sekarang pun masih kita jumpai orang-orang dengan maqom yang seperti ini).

Karena saya ini termasuk santri yang gagal; gagal mengikuti proses kelulusan Matan Aljurumiyah dan gagal-gagal yang lain (semoga saya mendapatkan ridho dari para guru dan kiai). Tulisan saya ini sebenarnya juga bisa dikatakan sebagai tulisan orang gagal paham. Tapi percayalah, cerita saya ini benar, walau saya ini orang gagal. Saat kita mendengar (ini berarti hanya mendengar dan tidak melihat sendiri) bahwa ada orang di luar sana yang profesinya sama dengan kita atau kemampuannya sama dengan kita tetapi mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih besar dari kita (jika hati kita sakit), kita merasa sakit hati. Kita menginginkan agar kenikmatan itu sirna darinya dan sebaliknya menghampiri kita. Atau dalam kasus lain, hanya kita membaca status Facebook atau status di media-media sosial lain dari teman-teman seprofesi kita yang kemampuannya menurut kita sama atau bahkan jauh lebih rendah dari kita, hati kita serasa heboh sendiri, teraduk-aduk seperti telur dadar. Apalagi teman-teman kita ini sangat pandai membuat pencitraan di dinding-dinding kesombongan. Update statusnya heboh, padahal kebenarannya 50%:50%, bisa benar-bisa salah. Lah yang lebih tahu siapa? Ya, yang update status itu. Lalu, kenapa kita heboh sendiri?

Kawan! Percayalah bahwa rumput di ladang kita itu jauh lebih hijau dan indah. Semakin kita tak memerhatikan ladang kita, semakin kita dijauhkan dari penampakan indahnya ladang kita. Kalau kita perhatikan ladang kita, kita perhatikan terus dan terus, kita siram, kita rawat, kita potong benalunya jika ada, kita rapikan, ladang kita pasti akan tampak subur. Tak hanya subur, ladang kita pun akan tampak asri dan indah. Nah begitulah gambarannya. Sebaliknya, saat kita lebih memerhatikan ladang orang lain, maka ladang orang lain itu akan semakin subur, indah, dan asri; jauh melebihi ladang kita yang kurang kita perhatikan. Analoginya, kita lebih memilih merawat rumput dan bunga di ladang milik orang lain daripada merawat milik kita. Percayalah kawan! Milik kita itu jauh lebih indah dan subur daripada milik orang lain. Cobalah untuk selalu memerhatikannya. Anda pasti akan segera menemukannya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s