Kuliah rasa ceramah, ternyata?

Sesi perkuliahan UNISMA tercinta

Sesi perkuliahan UNISMA tercinta | Foto oleh Mr. Akbar Zein Al-mojokertoni 

Kalau kita ngomong soal makanan atau masakan, tentu saja kita pasti ngomong tentang rasanya. Rasa masakan atau makanan bisa macam-macam, bisa enak dan bisa tidak, bisa beragam dan bisa beraneka ragam. Tapi kalau kita makan mie rasa bubur? Tentu saja aneh, atau bahkan kita tidak mau melihatnya. Beda pula saat kita makan es teler rasa duren? Coba rasanya bagaimana? Saya tidak suka duren!

Nah, soal makanan tentu lain dengan soal pendidikan. Pendidikan yang baik itu adalah, pendidikan yang tidak hanya fokus pada pedagogi. ‘Ayo anak-anak tolong buatkan kalimat simple present’, ‘Ayo anak-anak’, dan ‘Ayo anak-anak’ yang lain sudah tidak kontekstual lagi untuk zaman ini. Kalau boleh meminjam istilah Applied Linguistics, school task should involve both target and pedagogical tasks. Students should learn subject based on the real life without leaving the pedagogical aspect of teaching and learning. Boso Pasuruane, belajar iku kudu nyangkut kabeh, yo pelajarane yo pelajaran uripe. Arek-arek ora mung belajar siji tambah siji hasile loro. Piye carane arek-arek iku yo ngerti susuk piro nek tuku puthu neng pasar rong ewu limangatus nganggo duit limangewu.

Nah! (lagi), saya ingat perkuliahan saya tadi pagi. Mungkin ini yang saya sebut dengan kuliah rasa ceramah, bukan ceramah mama dedeh, bukan pula ceramah sembarangan. Ini ceramahnya Doktor lo, katanya juga Bu Nyai. Validitasnya? Ya, masak ragu dengan validitas seorang Doktor!

Pagi itu, masih tersisa beberapa tugas presentasi dan kebetulan hanya satu yang presentasi. Presentasinya pun menarik juga menurut saya pribadi. Betapa tidak, ceritanya soal telur emas, raksasa, ibu, anak, pohon tauge, dan…. ingat cerita ini kan? Saat sesi presentasi selesai dan waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB. Sang dosen bercerita sekelumit soal kehidupan sehari-hari masyarakat kita, terutama soal cara bersyukur, bersyukur atas semua yang dilimpahkan kepada kita, bersyukur atas kesehatan yang kita punya saat ini, tanpa memandang berapa duit atau harta yang kita dapatkan atas segala pengabdian kita. Kita tak sedang hitung-hitungan dengan Tuhan! Intinya, syukur, syukur, syukur!

Contohnya pun jelas! Beliau menggambarkan saat ada salah satu teman beliau (saya lupa teman atau siapa, terus terang saya agak kurang jelas, saking asyiknya mendengarkan sampai saya terbawa arus cerita, saya pun hampir ngiler tadi, untungnya teman-teman tidak tahu hehehe). Teman beliau harus di-bypass (bukan dilewatkan jalan bypass Sidoarjo, Pasuruan atau apa ya) Bypass ini semacam perlakuan untuk kasus jantung tertentu. Biayanya pun aduhai! 500 juta! Hanya bypass-nya, belum yang lainnya. Duit dari mana coba? Mahal juga kan kesehatan?

Tak cukup sampai di situ. Bagian ini yang paling saya suka! Tapi sayang, istri saya tidak berada di kelas yang sama; istri saya sedang memasak di rumah. Betapa beruntungnya para suami yang saat itu istri-istrinya berada di kelas saya (maksud saya, suami yang beristri teman-teman sekelas saya) dan mendengarkan kisah dan celotehan beliau ini. Kemasannya lucu, dengan intonasi yang menggebu-nggebu, bahasanya pun campuran. Ah, keren pokoknya! Seorang istri harus mampu bersyukur atas segala yang dikasih oleh suaminya, berapa pun itu. Katakanlah Rp300.000 untuk sebulan, kenapa tidak? Jangan jadi monster bagi suami! Biarkan Tuhan yang bertindak selebihnya. Kurang lebih begitu isi pesannya.

Beginilah seharusnya, kuliah rasa ceramah dan isinya soal kehidupan – membawa kehidupan nyata ke dalam kelas – itulah seharusnya pendidikan. Kalau boleh saya analogikan, makan singkong rasa hambar atau asin itu biasa, tapi kalau makan singkong rasa barbekyu atau rasa ayam atau rasa sapi? Itu namanya singkong rasa luar biasa! Singkongnya dapat, rasanya juga dapat. Nikmat nian!

Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertai beliau, semoga kita semua menjadi hamba-hamba Tuhan yang selalu bersyukur. Amin amin amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s