Ternyata, saya lebih goblok daripada pedagang kaki lima!

Mbah SuwitoPernah melihat pemandangan seperti ini di daerah sekitar Anda? Atau pemandangan lain yang lebih menarik dari ini? Ya, mungkin pemandangan seperti ini sudah biasa bagi sebagian orang dan bisa jadi luar biasa bagi sebagian orang yang lain. Tetapi, saya tak sedang membahas si penjual nasi goreng atau bahkan rombongnya. Saya mau membahas sesuatu yang lain. Sesuatu yang menampar saya seketika itu juga!

Malam itu, saya sedang ingin jalan-jalan menyusuri alun-alun kota Pasuruan. Saya ingin menikmati suasana nightlife yang sebenarnya dari kota Pasuruan. Jangan dibayangkan seperti kehidupan bebas lepas seperti di lokasi-lokasi lain. Nightlife di sini sangat berbeda sekali dengan yang mungkin ada di daerah-daerah lain. Banyak sekali saya jumpai warung-warung aneka makanan dan minuman ringan seperti wedang kopi, dll. Oh ya, tahu tek, soto ayam, nasi goreng, dan aneka menu khas Indonesia lainnya juga ada. Jumlahnya pun tidak hanya satu dua. Ada beberapa penjual dengan jenis makanan yang sejenis. Tak jarang pula, jaraknya hanya sekitar 5 sampai 10 meter tiap rombong, bahkan ada yang lebih dekat lagi. Kebetulan, saya sedang lapar saat itu dan mampir di salah satu warung kopi sambil menikmati aneka gorengan yang dijual. Hampir 2 jam saya duduk-duduk di sana sambil memerhatikan kegiatan para penjual dan pembeli di sana. Saya perhatikan betul dan saya mendapati mereka saling bertegur sapa, tidak saling memfitnah, bermusuhan, apalagi bertengkar. Bahkan, sesama penjual pun saling bertukar sapa, ngobrol, guyonan, terkadang pula saling tukar uang kembalian saat ada pembeli yang jajan menggunakan pecahan uang yang lebih besar.

Hai tunggu sebentar! Persis di sebelah saya adalah pedagang tahu tek dan sebelahnya lagi juga pedagang tahu tek. Lo, mereka kok tidak bermusuhan ya? Tidak pula tidak saling menyapa. Aneh!! Jualannya sama, jaraknya sama-sama dekat (saling bersebelahan). Pengunjungnya pun tidak sama banyak! Harganya pun seporsi beda-beda. Hebat sekali mereka. Tunggu-tunggu! Kenapa pedagang tahu tek itu ke rombong satunya. Sedang apa dia? Oh, ia mau menukar uang karena tidak ada kembalian untuk pelanggannya. Lo lo lo, kok mereka senyum-senyum saja. Pasti kurang waras mereka ini! Jualannya sama. Pelanggannya tidak sama banyak, kok mau-maunya si penjual yang sepi pelanggan menukari uang untuk pesaingnya?? Waduh! Aneh juga! Kok bisa ya?

Saya benar-benar kagum sama mereka ini. Bisa dibilang, di atas kertas, pola pikir strategis mereka jauh lebih rendah daripada saya, tetapi mereka mampu menempatkan diri mereka dengan sangat baik di antara sesama mereka. Mereka tidak sikut-sikutan, tidak saling memfitnah, tidak saling bermusuhan, atau bahkan bertengkar. Sedangkan saya?

Akhir-akhir ini saya melihat kejadian yang cukup menggelitik bagi saya. Ya, sebenarnya tidak pantas saya ceritakan di sini, tetapi saya ini sedang iseng atau dengan kata lain, saya sedang melakukan pencitraan (versi saya). Anggap saja kejadian ini melibatkan orang-orang yang bisa dibilang sangat terpelajar. Singkat kata, lebih hebatlah daripada pedagang kaki lima. Kerjanya saja pakai otak, tidak pakai otot! Nah, si A membisiki si B tentang xxxx, si B membisiki si C tentang xxxx, si C membisiki si D tentang xxxx, sampai si X. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang menanggapinya biasa-biasa saja, serta ada pula yang berontak.

Saya memerhatikan kejadian ini lucu sekali. Saya pribadi tidak ambil pusing dengan kejadian ini, karena sudah biasa. Saya pun tidak mau mencampuri urusan dapur orang lain. Karena saya tidak tahu pasti sebenarnya dapurnya seperti apa. Saya tidak pernah pergi ke dapur mereka dan memeriksa barang mereka satu-satu.

Kembali lagi ke penjual aneka makanan dan minuman di atas. Mereka berjualan makanan yang sama, saling berdekatan, dan dengan jumlah pelanggan yang tidak sama banyak. Mereka baik-baik saja. Tidak ada perselisihan di antara mereka. Lalu, siapakah yang lebih goblok sebenarnya? Saya atau penjual-penjual itu?

Nah, saya akhirnya bermuhasabah (bahasa kerennya berkontemplasi), bahwa terjadi sikut-sikutan itu karena kita kurang percaya dengan petugas pembagi rezeki. Rezeki kita sudah ada wadahnya sendiri-sendiri. Pekerjaan boleh sama, apa pun boleh sama, tetapi ingatlah bahwa takaran rezeki kita itu beda-beda. Nah, saya akhirnya sadar dengan ini. Lalu, apa selanjutnya? Mari sudahi polemik ini. Malu sama yang punya rombong. hehehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s