Saya tak mau kaya!

Kredit foto: syaarar

Kredit foto: syaarar

Saat saya sedang menyimak keterangan dari dosen pengampu mata kuliah TEFL, salah satu teman yang duduk di samping saya bercerita. Jadi, ceritanya ada dosen menjelaskan dan ada teman yang bercerita; telinga kanan untuk mendengarkan cerita teman saya dan telinga kiri untuk mendengarkan. Hitung-hitung, Tuhan tidak sia-sia menciptakan dua telinga untuk saya.

Ia bercerita bahwa semalam teman sekamarnya, yang juga teman sekelas saya, dengan tegas mengatakan bahwa ia tak mau jadi orang kaya. Saya langsung kaget. Tak cukup sampai di situ, dahi saya pun dibuat mengernyit. Ah, ada-ada saja teman saya ini. Kalau saya justru sebaliknya. Setiap orang pasti ingin kaya, meski kaya itu bukan jaminan bahagia. Begitu pula saya.

Saya mau berkomentar, dan berpikir keras untuk menimpali. Aneh juga! Tak sekata pun keluar dari mulut saya seharian belum makan nasi. Ah, biarkan saja pikir saya. Toh itu pilihannya. Kita boleh memilih untuk jadi apa saja dan pilihan itu tidak selalu lebih baik daripada pilihan yang lain. Pilihan saya belum tentu lebih baik daripada pilihannya, dan juga sebaliknya. Kalau kita melihat segala sesuatu dari kacamata minus atau plus kita masing-masing, maka tidak akan ada titik temu, atau bahkan menimbulkan perselisihan.

Ya sudahlah. Setidaknya, itulah pilihannya untuk tidak mau menjadi kaya. Kita hanya mampu mendoakannya. Semoga keinginannya tercapai. Kebahagian teman kita sama dengan kebahagiaan kita juga toh? Nah, di sinilah peran kita sebagai teman. Setidaknya kita selalu mendoakannya.

Saat kita miskin atau kekurangan, apakah secara materi kita mampu berbuat lebih untuk sesama kita? Saat kita berkelimpahan atau singkatnya kaya, kita bisa menjangkau lebih. Kita bisa membuat sekolah untuk mereka yang tak mampu, menyantuni mereka yang perlu disantuni dan terlebih lagi, kita tak perlu berpikir keras terkaot apa yang akan kita makan esok nanti. Ibadah jadi tenang. Tidur jadi nyenyak (saya tidak membahas orang kaya yang kedunyan).

Ya, begitulah pesan salah satu karib saya yang saat ini mengelola pondok pesantren di Situbondo. Saat saya melontarkan guyonan kepadanya. ‘Lho, opo ustad iku yo butuh duit toh. Mulang ngaji sing genah lak engko teko-teko dewe duite’. Celoteh saya. ‘Nek ora ono duite koyo aku ngene iki, ibadah ra iso tenang, mulang ngaji kepikiran, yo ugo mikir bojo mikir anak. Nek duwe bondo, ibadah tenang, pengen budal nang endi wae iso. Mulang ngaji iso ikhlas soale wis ora ono sing diarep. Wes talah, kudune ngono’, timpal teman saya.

Orang kaya dermawan itu sama dengan manajer Allah SWT yang secara tidak langsung diperintahkan untuk mengatur keuangan-NYA. Semoga kita mampu menjadi manajer hebat dan amanat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s