Cibiran itu………bak obat

photo credit: trekearth

Apakah Anda pernah dicibir orang atau direndahkan? Bagaimanakah Anda menyikapinya saat itu? Atau setidaknya, maukah Anda berbagi dengan saya bagaimanakah perasaan Anda saat itu?

Marah? Kesal? Jengkel? Dendam? Bersumpah serapah? Atau tenang-tenang saja? Atau sebaliknya, justru Anda langsung sadar bahwa Anda harus bangkit saat itu juga meski kebangkitan itu tak selalu berbuah durian, tapi berbuah mahoni?

Biasanya, saat kita dicibir atau dihina orang, kita selalu marah atau jengkel atau bahkan kesal, sampai ada yang lebih dari itu. Ya, itu manusiawi sekali, tetapi tahukah kita bahwa ada yang lebih manusiawi lagi daripada itu? Anda tahu kira-kira apa? Ya, betul. Jadikanlah cibiran atau hinaan itu sebagai sarana untuk membuat doa Anda terkabul. Saya tidak begitu mengerti soal agama atau tasawuf atau apalah yang berkaitan dengan hubungan manusia, tuhan, dan manusia, tetapi KATANYA, orang yang terdzolimi itu doanya manjur. Orang bodoh jika dihina pasti marah atau jengkel atau mendoakan yang jelek-jelek kepada pelakunya. Lalu, bagaimanakah dengan Anda? Apakah demikian juga bagi Anda? Saya rasa tidak, ya saya yakin tidak mungkin karena setelah membaca tulisan pendek ini Anda pasti sedikit tercerahkan, paling tidak Anda bisa membaca alur cerita tulisan ini ke mana dan bisa menjadi rambu kuning, setidaknya ketika Anda akan melakukan hal yang negatif (seperti yang saya sebutkan di atas) saat Anda berada dalam posisi ini.

Saya mengutip sebuah kisah nyata yang saya dapatkan dari teman saya yang saat ini mengasuh salah satu pesantren di Situbondo. Dahulu kala, ada satu keluarga besar yang tampak begitu luar biasa dari luarnya. Dan dalam keluarga besar tersebut,  ada salah satu anggota keluarga yang bisa dibilang serba kekurangan. Mencukupi kebutuhan sehari-harinya saja ia tak mampu, bahkan istrinya yang minta dibelikan ini dan itu harus gigit kuku karena ia tak mampu membelikannya. Celakanya, saudara-saudara istrinya ini suka memamerkan apa yang mereka punyai kepada istri lelaki yang kekurangan ini. Tak cukup sampai di situ, kata-kata nyeplos yang tampak biasa, tapi bisa menyakitkan pun sering terlontar dari saudara-saudaranya yang sudah merasa berada 10 tingkat di atasnya.

Seringkali sang istri lelaki ini curhat kepada sang suami. Suaminya pun ikut sedih mendengarnya. Karena sang suami ini sangat dekat dengan para ulama dan ia tahu betul apa yang harus dilakukan saat ia menghadapi situasi seperti ini. Ia pun cukup menunjukkan senyum kepada istrinya, seraya memintanya untuk bersabar dan berdoa. Ah, saat saya nulis kisah ini saya jadi ingat salah satu kaifiyah (cara) yang diajarkan dalam kitab Nashoihul Ibad. Saat orang-orang sedang mendoakan sesuatu yang buruk kepada kita, kita dianjurkan untuk mengucapkan Allahumma la taj’al mimma yaquul (Ya Allah janganlah engkau wujudkan kepadaku apa yang ia ucapkan), sebagai penangkal doa jelek itu.

Hari pun silih berganti, cibiran dan hinaan pun tak pernah berhenti. Tak ayal pula pameran harta pun semakin menjadi-jadi. Hingga suatu ketika sang suami mendengar sendiri ucapan saudara-saudaranya. Begitu mengiris hati, bak seorang wanita mandul yang ditanya soal anak, bak orang miskin yang ditanya soal harta, bak luka mengangah yang disiram dengan air garam, sakit pasti rasanya! Sang suami pun tampak tenang dan diam sejenak sambil merenung. Air mata pun menetes deras dari kedua matanya. Ia pun saat itu juga terlecut untuk menjadi suami terbaik, setidaknya suami yang mampu membelikan susu, bahkan rumah-rumah mewah!

Karena ia tak tahu harus bagaimana, ia cukup bersabar dan berdoa, berdoa dan selalu berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah semua ini sebagai saranaku untuk menjadi mulia, jadikanlah semua ini sebagai cambukku untuk menjadi suami yang lebih bertanggung jawab, jadikanlah ucapan-ucapan orang-orang itu sebagai penyemangatku untuk menjadi 1000X lebih maju daripada mereka, dan jika Engkau berkenan, tundukkanlah mereka lewat aku, tunjukkanlah kekuasanMU kepada mereka lewat aku, bakar habis kesombongan mereka sampai tiada kesombongan di antara keluarga kami dan kami kembali ke ‘setelan default’.

Singkat cerita, (katanya teman saya ini tadi) pria yang serba kekurangan ini pun langsung berubah nasibnya. Tak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan bulan, ia mampu memiliki apa saja. Subhanallah…Allah SWT bisa mengubah (bukan merubah ya) apa saja dan siapa saja dalam hitungan detik, menit, dst… Sehingga, kita sangat tidak dianjurkan untuk menyombongkan diri atau membanggakan diri atas apa saja, karena semuanya hanya milik Allah SWT semata.

Saya pun penasaran dan ingin sekali bertemu orang ini. Semoga saya bisa segera bertemu dengan orang ini dan memintanya untuk bercerita langsung kepada saya. Pasti seru. Semoga kesuksesan, kemakmuran, dan kemenangan selalu menyertai kita. Semoga kita dijauhkan dari sifat sombong dan takabur. Amin amin amin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s