Ternyata, hidangan lezat itu karena anaknya (Hikayat)

Konon ada seorang lelaki tua bersama seorang anak laki-lakinya. Ia berprosesi sebagai seorang nelayan. Menariknya, sang nelayan ini bisa dibilang ahli ibadah. Tak sekalipun ia meninggalkan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim, bahkan tak pernah sekali pun ia meninggalkan salat malam.

Sehabis salat subuh, ia melaut dan selalu mendapatkan ikan dengan jumlah yang tidak seberapa. Ke esokan harinya pun ia melaut dan hasilnya tetap sama. Begitulah seterusnya. Ikan yang ia dapatkan sangat sedikit bahkan kadang tidak dapat ikan sama sekali. Suatu ketika, ia teringat anak lelakinya yang masih kecil itu. Pikirnya, sekali-sekali ia mengajak anaknya melaut sambil membelajarkanya mencari penghidupan kelak jika ia besar nanti. Sang ayah dan anak pun pergi melaut bersama. Kemudian, perahu pun sampai di tempat tujuan dan jaring pun mulai dibentangkan. Tak satu pun ikan yang terjaring, hingga akhirnya kesabaran mereka membuahkan hasil. Ada salah satu ikan yang nyantol di jaring mereke. Sang ayah pun sangat girang dan ingin cepat-cepat mengangkat ikan itu dan memasukkannya ke dalam wadah lalu dijual ke pasar.

Tanpa diduga, sang anak memerhatikan mulut ikan itu. Ia perhatikan dan perhatikan terus menerus. Ia pun lantas berujar kepada ayahnya agar ikan itu dilepaskan. Ayahnya pun marah besar karena ia mendapatkan ikan itu dengan susah payah.

“Nak, kenapa engkau meminta ayahmu ini melepaskan ikan ini padahal engkau tahu sendiri kita mendapatkannya dengan susah payah?” tanya sang ayah.

“Ayah, tak tahukah engkau bahwa ikan ini sedang berdzikir. Cobalah pandangi mulut ikan itu ayah. Ikan itu seolah-olah berdzikir mengucapkan asma ALLAH SWT.” jawab sang anak.

“Anakku, ikan memang seperti itu mulutnya. Itu sudah biasa. Itu bukan berdzikir, tapi ia sedang bernapas.” sahut ayahnya dengan penuh kesal.

Sang anak pun ngotot supaya ikan itu boleh dilepas oleh sang ayah. Sambil menangis ia mengiba.

“Ayah, aku rela melakukan apa saja asalkan ayah mau melepaskan ikan ini. Jika kita melepaskan ikan ini, maka yang berdzikir kepada ALLAH SWT tidak akan berkurang saat itu. Percayalah. Tolong lepaskan ikan ini ayah.” pinta anak itu.

“Baik anakku. Aku lepaskan ikan ini demi kamu”. ujar sang ayah.

Ikan itu akhirnya dilepas atas permintaan anak sang nelayan. Hari pun berganti, kegiatan sang ayah pun berjalan seperti biasa hingga suatu ketika ada kejadian di luar nalar di pagi hari. Tiba-tiba, aneka makanan lezat terhidangkan di perahu sang ayah setiap pagi sebelum mereka hendak berangkat melaut. Tak sampai di situ saja, mereka pun selalu pulang membawa ikan yang sangat banyak. Kejadian ini tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi hampir tiap hari. Akhirnya, sang ayah pun berangan-angan dan merasa bahwa ini semua adalah buah dari ibadahnya yang tiada pernah putus.

Hari pun berganti, tahun pun mulai menampakkan usia senjanya. Sang anak pun akhirnya meninggal dunia tanpa sebab yang jelas. Suatu ketika sang ayah hendak melaut untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, sungguh teramat kaget ketika ia sudah tidak menjumpai lagi hidangan lezat yang biasanya ia santap bersama anaknya tiap pagi saat ia mulai menjalankan aktivitas melautnya. Hasil tangkapan ikan pun tidak seperti biasanya, bahkan kembali seperti dulu atau bahkan tidak dapat ikan sama sekali. Ia pun mengadukan nasib kepada Sang Pencipta, “Tuhanku, apa salahku sehingga nikmat yang biasanya kami terima tak kami terima lagi.”

Tuhan pun menjawab pengaduannya lewat jalur mimpi. Saat ia sedang terlelap tidur, ia tiba-tiba bermimpi ketemu anaknya dan sang anak pun berujar kepadanya. “Ayah, hidangan dan segala nikmat yang sempat kita nikmati berdua kala itu semata karena barokah ikan yang kita lepaskan.” Tak lama setelah itu, sang ayah pun bangun dari tidurnya dan akhirnya tersadar bahwa ternyata semua keanehan itu berasal dari sebab melepaskan seekor ikan yang dianggap berdzikir kepada ALLAH SWT.

Subhanallah…….

Lalu, masihkan kita membanggakan nilai ibadah kita dan menyepelehkan sesuatu yang kelihatan kecil tapi justru nilai keutamaannya lebih besar dari yang secara kasat mata kelihatan besar? Itulah rahasia Allah. Ibadah itu sangat luas, kita bekerja dengan niat menolong agama Allah juga termasuk ibadah, atau sebaliknya, kita beribadah salat atau zakat bisa-bisa malah mendapatkan dosa karena niat kita bukan ibadah atau karena Allah SWT, tetapi karena untuk mendapatkan pujian. Semoga kita menjadi orang yang selalu mampu menata niat untuk ibadah di jalan ALLAH SWT. Amin amin amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s