Pesan Sang Waliyullah

Pada suatu siang dengan panas terik matahari yang begitu menyengat dan angin sepoi-sepoi khas pegunungan yang mampu membuat siapa saja terlena, saya mengunjungi rumah salah satu ulama besar di desa saya. Konon katanya, ulama ini mukasyafah, setidaknya kakak ipar saya pernah menceritakan sepak terjang beliau. Saat ada orang yang hendak meminta nama untuk anaknya yang baru lahir, tanpa mengutarakan maksud kedatangannya, sang ulama ini pun langsung tahu maksud di hati. Belum sampai memasuki pintu rumah sang ulama ini, orang ini sudah disambut di depan pintu dan diberi nama sesuai maksud kedatangannya. Inilah salah satu kelebihan ulama ini.

Bukan itu maksud saya merangkai tulisan ini karena menceritakan karomah wali itu juga sebenarnya memerlukan izin dan saya tidak memiliki izin lebih jauh untuk itu. Saya pun akhirnya bertemu dengan beliau dan kami berbincang panjang lebar. Tak lupa, sang ulama ini pun bercerita tentang kisah salah satu ulama sufi, Syeh Abu Hasan Assyadzili (semoga tulisan saya tidak salah). Saya mulai menyimak cerita beliau dengan sangat khidmat. Syeh Abu Hasan Assyadzili selalu berpakaian rapi dan bagus, tak seperti ulama sufi pada umumnya yang cenderung memakai pakaian lusuh dan compang-camping. Suatu hari Syeh Abu Hasan Assyadzili ini mengajar para muridnya di salah satu majelis dan di sana ada salah satu muridnya yang pakaiannya lusuh dan compang-camping. Bisa dibilang, muridnya ini merupakan ulama juga saat itu. Syeh Abu Hasan Assyadzili mulai mengajar dan berceramah dan di tengah-tengah ceramahnya itu, Syeh Abu Hasan Assyadzili mendengar salah satu muridnya tadi berbisik dalam hati, “Syeh ini katanya wali dan ahli tasawuf, tapi pakaiannya kok bagus dan tidak menunjukkan bahwa ia tidak mencintai dunia, malah sebaliknya tampak seperti sangat mencintai dunia. Lihatlah saya, saya lebih baik daripadanya karena saya tidak mencintai dunia, pakaian saya lusuh dan jelek dan saya melepaskan semua kecintaan saya pada dunia.”

Sang Syeh pun mendengar teriakan hatinya ini dan sontak santrinya pun kaget bagaimana Syeh ini bisa mengetahui isi hatinya padahal ia berkata dalam hati. Sang Syeh pun akhirnya menjelaskan panjang lebar perihal penampilan beliau. Singkat cerita akhirnya si santri ini diminta oleh Syeh untuk datang ke rumahnya. Malam pun tiba, dan sang murid memenuhi panggilan sang Syeh. Sang Syeh menjelaskan kepada muridnya, “Wahai muridku, dengan pakaian ini aku akan lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah, orang kebanyakan akan menganggap sebaliknya dengan pakaian yang selalu aku pakai itu. Wahai muridku, wusul atau dekat dengan Allah itu tidak bisa diukur dengan pakaian yang kita pakai, kalau aku memakai pakaian seperti yang kau pakai, orang-orang malah akan mendatangiku dan kapan aku bisa berdua dengan Allah? Wahai muridku, apakah kamu mau rumah-rumahku, kuda-kudaku, atau harta-hartaku? Ambillah mana saja yang kau mau.”

Malulah santri itu mendengar penjelasan dari sang Syeh. Sang Syeh pun lalu mengajaknya berkeliling peternakannya dan diminta untuk memilih kuda yang paling bagus menurutnya. Dipilihnya kuda yang besar dan gagah – kalau zaman sekarang, mungkin si santri ini dipilihkan mobil Land Rover edisi terbaru – Sang santri pun diminta untuk menunggangi kuda itu dan sebelum berangkat, sang Syeh pun menitipkan ‘sesuatu’ kepada santri itu. “Wahai santriku, bawalah air dalam wadah ini, perhatikan dan jaga terus air dalam wadah ini selama perjalanan sampai tempat tujuan dan jangan sampai tumpah sedikit pun”, pesannya. Sang santri pun bertanya-tanya dalam hati apa maksudnya, namun tidak berani mengungkapkannya kepada sang Syeh. Berangkatlah santri itu dan dengan susah payah ia menjaga air yang dipesankan oleh sang Syeh. Tiba-tiba, santri ini ditepuk pundaknya oleh sang Syeh dan kaget bukan kepalang saat ia mendapati ia berada di suatu tempat yang asing sama sekali. Sang santri langsung bertanya kepada sang Syeh, “Syeh, di manakah saya berada sekarang”. “Kamu ada di Baghdad sekarang,” jawab sang Syeh. Sang santri itu pun tambah kaget lagi mengingat jarak Bagdad dengan rumah Syeh saat itu bisa ratusan kilo. Anehnya, perjalanan itu tidak memakan waktu yang lama, malah terasa seperti dalam hitungan menit.

Bagi saya pribadi, cerita ini sangat membekas di hati. Saya pun selalu membuat analogi-analogi kecil dan menghubung-hubungkan setiap kejadian yang saya alami dengan cerita ini. Hingga suatu ketika, saya seakan menemukan jawaban lewat kejadian yang akhir-akhir ini menimpa saya. Ternyata saya tidak perlu menoleh ke sana ke mari untuk sampai ke tujuan saya sebagaimana dikisahkan dalam cerita di atas. Saya harus fokus, fokus, dan fokus serta mengurusi dan menjaga apa yang saat ini diamanatkan kepada saya. Itu saja intinya. Ternyata di balik itu semua, ketenangan hati itu timbul, keinginan yang macam-macam pun sirna dan yang terpenting lagi, saya bisa tambah bersyukur.

Semoga selalu tersemat ketenangan, kedamaian, dan keikhlasan dalam hati kita…. Amin amin amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s