Ngaplo; 11 atau 12 tahun silam!

Ngaplo atau menurut definisi subjektif saya – keadaan di mana kita tidak mampu berbuat apa-apa dan hanya bisa melongok atau melihat sambil memendam keinginan yang kuat untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh objek yang kita lihat atau perhatikan. Setidaknya, saya pernah mengalami ini – meski terbilang tidak jarang, tapi menurut saya ngaplo saya yang satu ini sungguh berkesan di hati. Bukan kesan enaknya; tidak ada ngaplo itu rasanya enak. Kalau boleh beranalogi, orang pada makan bakso dan lontong, saya hanya kebagian mangkuknya…atau bahkan tidak kebagian sama sekali karena sudah keburu dicuci sama si penjualnya.

Saya masih ingat 11 atau 12 tahun yang lalu saat saya masih duduk di bangku kuliah. Kalau tidak salah ingat, saat itu saya masih harus menyelesaikan 4 semester lagi untuk meraih gelar S1 saya. Ya, saat itu saya masih semester 4 dan sebagaimana kegiatan wajib fakultas, semua mahasiswa yang menempuh mata kuliah speaking diwajibkan mengikuti PKL atau Praktik Kerja Lapangan. PKL ini tidak memerlukan waktu sebulan atau bahkan seminggu. Cukup 3 atau 4 hari, dan setelah itu kami sudah dianggap memenuhi tugas mata kuliah speaking. 

Saat itu, tujuan PKL kami adalah pulau dewata atau Bali. Siapa sih yang tidak mengenal pulau yang eksotis ini? Anak saya Daniel pun tahu sebelum ia pernah ke sana. Bukan Balinya yang menjadi sasaran PKL kami, melainkan banyaknya wisatawan asing dari berbagai mancanegara yang membuat fakultas kami menjadikan Bali sebagai tempat PKL. Kami harus mengumpulkan data, secara berkelompok, dari para wisatawan secara langsung. Tentu saja, kami harus menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar kami dan inilah inti dari PKL itu.

Ngomong-ngomong tentang Bali, selain sunset dan sunrise-nya yang begitu indah sampai terkenal seantero jagat, aneka suvenir dan hiburannya pun tak ketinggalan menarik. Tentu saja, semua ini menjadi bumbu dapur perjalanan PKL kami. Di mana ada keramaian, entah pasar, tempat kesenian, atau bahkan tempat menarik lainnya, di sanalah bus yang kami tumpangi selalu berhenti. Tak ketinggalan pula, para mahasiswa yang sudah tidak sabar dan selalu bersemangat untuk melihat-lihat dan tak sedikit yang akhirnya membeli apa yang mereka lihat. Saya yang mahasiswa dari desa ini pun sebenarnya ingin seperti mereka; melihat ini, membeli itu, menawar ini, membeli itu dan lain sebagainya. Namun apa daya, itu semua tidak mampu saya lakukan. Saya hanya bisa ngaplo di atas bus sambil melihat dari kejauhan – banyak yang menenteng barang beliannya. Tak sepeser pun saya bawa bekal uang untuk keperluan PKL saya. Saya hanya mengandalkan jatah makan dan minum dari paket perjalanan PKL waktu itu. Alhamdulillah, meski saya tidak mampu membeli apa pun saat itu, saya masih segar bugar dan bisa kembali ke kos dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun.

Ya, betapa ngaplo-nya saya waktu itu. Semua teman saya saling menenteng barang belanjaannya serta aneka suvenir khas Bali yang dibeli mereka dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi saya hanya membawa segudang derita. Dan derita ini tentunya derita dari satu tempat ke tempat lainnya. 😀

Kalau saya flashback lagi, jangankan bawa bekal uang, bisa bayar PKL saja rasanya seperti habis mendapatkan undian 1 miliar pada waktu itu. Saya termasuk mahasiswa yang serba kekurangan (kekurangan segalanya; uang kurang, bekal kurang, wajah kurang sip, otak kurang, makan kurang, tapi minum tidak pernah kurang karena banyak air keran di Masjid) waktu itu. Saya harus bekerja agar bisa terus kuliah sampai lulus S1. Memang jalan Allah itu tidak selamanya sama dengan yang kita harapkan, tetapi semuanya pasti indah pada waktu-NYA. Saya bekerja di salah satu counter pulsa di Surabaya dan saat itu gaji saya persis Rp400.000 sebulan. Cukup buat bayar biaya PKL saat itu. Urusan sangu, itu urusan nomor 100 (atau makan nggak makan asal bisa ikut). Begitulah kondisi ngaplo saya saat itu. Keren kan? 😉

Semoga kita selalu diberi semangat dan kekuatan untuk menjalani segala kekurangan kita, lalu diberi kekuatan dan kemampuan untuk menutupnya melalui proses yang cepat dan indah dan menjadikannya sebuah pijakan untuk menaiki tangga-tangga kesuksesan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s