Sirr Allah

Demi samarnya kelembutan Allah, demi lembutnya pertolongan Allah, demi indahnya penutup Allah, saya masuk ke dalam perlindungan Allah dan saya meminta syafa’at kepada baginda Rasulullah SAW….

Sirr atau bahasa Inggrisnya sama dengan secret atau bahasa sufi/tasawufnya sama dengan rahasia Allah untuk orang terpilih bisa dibilang memang benar ada, entah yang mengalaminya merasakan sendiri atau orang lain yang merasakannya tetapi si empunya tidak melihat atau merasakannya. Ada salah satu ulama ahli dzikir mengatakan bahwa sirr Allah ini tidak boleh diceritakan oleh siapa saja yang diberi oleh-NYA. Jika diceritakan, maka kemungkinan besar sirr ini tidak akan melekat lagi kepada orang yang pernah memilikinya tadi. Sirr ini akan hilang secara tiba-tiba dan tidak akan dapat digunakan lagi atau dikeluarkan saat dibutuhkan.

Ngomong-ngomong tentang sirr ini, saya ingat salah satu cerita kawan saya yang kebetulan waktu itu sedang melakukan tirakat perjalanan selama beberapa bulan dengan mengunjungi makam ulama dan auliya’ di daerah sekitar atau singkatnya ngalap barokah dengan berwasilah kepada mereka. Setelah mengakhiri tirakat terakhirnya, ia mampu mengendalikan kondisi tubuhnya sesuai dengan ucapannya. Jika ia mengatakan ia takkan mengantuk dan lapar selama sehari, maka ia takkan mengantuk dan lapar saat itu padahal tak sejam pun tidur atau tak sesendok pun makan nasi atau camilan lain.

Tak sampai di situ, siapa pun yang berdekatan dengannya, entah kenal atau tidak, entah dalam kondisi bad mood atau tidak, semua orang di dekatnya yang diajak berbicara pasti merasa senang seakan-seakan sudah kenal lama sekali seperti teman akrab. Sungguh aneh dan ia menyebutnya sebagai sirr Allah yang diberikan kepadanya.

Hari pun berganti dan keesokan harinya ia bertemu saya di salah satu warung kopi dekat rumah. Ia pun bercerita lagi tentang sirr Allah yang pernah ia ceritakan kepada saya. Saya lihat raut mukanya tampak lesu seperti kehilangan sesuatu. Benar saja! Ternyata apa yang ia dapatkan dari buah tirakat perjalanannya itu sirna begitu saja hanya karena ia tak mampu menyimpan sirr Allah itu tadi. Ia menceritakan sirr itu kepada saya dan cerita inilah yang menyebabkan sirr itu sirna, katanya.

Saya pun berusaha mengingat-ingat pesannya kiai saya waktu itu. Kurang lebih isinya,’Kowe kudu pinter jogo sirr Allah. Ojo sampe ono wong ngerti.’ Teman saya pun tersadar dan juga ingat pesan itu karena memang saat itu kami berlima menerima pesan yang sama. Ah, sayang sekali. Ternyata tak semua kejadian itu harus diucapkan dan diutarakan kepada orang lain. Ada sekat antara kita dengan manusia dan kita dengan Allah saja. Semoga kita selalu mampu merahasiakan sirr Allah dan menjaga sekat-sekat Allah…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s