Secangkir Kopi Rasa SPSS

Saat itu, kami baru saja menyelesaikan perkuliahan kami. Kami pun pergi ke suatu tempat untuk mengisi perut yang keroncongan karena belum makan sedari siang. Kami akhirnya mendarat di salah satu lokasi kuliner emperan yang bisa kami bilang ‘surganya’ kuliner. Ya, di depan balai kesenian Krida, Sukarno Hatta, Malang. Bagi kami yang bukan asli warga Malang, tentunya malam itu adalah malam yang membahagiakan sekali. Betapa tidak, kami mendarat di surganya kuliner saat motor tubuh kami memerlukan bensin agar bisa melaju kencang lagi.

Selesai sudah acara makan bersama kami dan kami beranjak kembali ke rusunawa. Kebetulan, hanya kelas D yang saat itu ada perkuliahan dan tentunya rusunawa tampak lengang tidak seperti biasanya. Kami akhirnya sampai di depan rusunawa, memarkir mobil, dan masuk ke kamar kami. Kami pun meminta tolong petugas kamar untuk menambahkan matras tidur karena kami rasa matras yang ada dalam kamar kami itu tidak bisa menampung lima orang sekaligus.

Kami menaruh barang masing-masing dan langsung melanjutkan tugas belajar bersama kami. Kami mempelajari materi SPSS untuk persiapan UAS esoknya. Malam pun semakin menyelimuti langit dan tak terasa jam menunjukkan pukul 11 malam. Rasa kantuk pun terasa tak tertahankan. Dua dari teman saya sudah tepar duluan dan tinggal kami bertiga yang masih terjaga. Seperti biasa, saya selalu ditemani kopi saat kerja malam, dan kebetulan tidak ada kopi saat itu. Bahkan, kami pun lupa membeli sebotol air putih.

Tiba-tiba ada yang lewat di depan kamar kami. Saya tengok ke luar dan ternyata, dia adalah salah satu teman kami yang kebetulan tinggal di lantai yang sama. Saya menyapanya dan seperti biasa, dia menyapa balik dengan candaan khasnya. Ah, dia sungguh manis saat tersenyum. Saya pun meminta tolong kepadanya untuk dibuatkan secangkir kopi. Tanpa banyak komentar, dia langsung membuatkan kopi untuk kami. Kami menunggu beberapa saat dan kopi pun akhirnya tersaji dalam dua wadah besar. Saya tawarkan kopi itu kepada yang tertua di kamar kami dan ternyata tidak ada yang mau. Akhirnya, saya yang menyeruput kopi itu dan rasanya begitu enak. Satu cangkir besar kopi habis dalam semalam karena rasanya yang memang enak. Kapan-kapan, saya dan teman-teman mau dibuatkan lagi. Semoga saja orangnya mau. hahaha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s