Kelas Kehidupan: Sang Nakhoda Perahu

Saat kehidupan perkuliahan mulai menampakkan kesibukannya dengan aneka aroma sedap atau bahkan sebaliknya. Saya melihat sesosok lelaki tambun berkacamata, dengan gayanya yang khas – saya yakin tidak seorang pun di kelas saya mampu meniru gayanya yang menurut saya eksentrik! Dialah ketua kelas kami yang sudah menakhodai perahu kelas D sampai seperempat perjalanan kami menuju pulau kesuksesan yang masih harus ditempuh bermil-mil lagi.

Semakin lama semakin menarik saya mencermati orang ini. Menurut saya unik dan tentu saja nyentrik. Betapa tidak? Saat teman-teman sekelas pada sibuk dengan kegiatannya masing-masing, atau bahkan saat perkuliahan sudah selesai, orang ini masih saja ribut sendiri dengan tugasnya sebagai ketua kelas. Mengatur bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah beranak pinak tentunya bukanlah hal yang mudah, tetapi saya melihat justru sebaliknya. Ketua kelas saya ini sangat santai menghadapi mereka bahkan saya melihatnya sangat perhatian kepada mereka.

Saya pun turut merasakan perhatiannya secara langsung. Saat badan terasa sangat pegal karena kegiatan yang begitu banyak, sepertinya ketua ini tahu keadaan saya dan mengatakan kepada saya bahwa ia bisa memijat. “Kebetulan sekali,” pikir saya. Saya pun tidak sungkan meminta tolong kepadanya untuk memijat saya dan tra la! Saya dapat fast response seperti saat pesan delivery order dari McD. Permintaan saya langsung dikabulkan. Saya pun dipijat dan alhamdulillah efek pijatannya luar biasa!

Ya, itu pengalaman pribadi saya. Tak cukup sampai di situ. Saya pribadi pun merasa sangat senang karena saya tidak pernah ketinggalan informasi perkuliahan apa pun, bahkan sampai detail terkecil. Bagi saya yang pekerjaannya tidak jelas dan tak pasti ini, tentu saja satu keberuntungan tersendiri. Informasi apa pun yang didapat langsung disebarkan, dan ia pun aktif ke sana kemari untuk meminta kejelasan dari dosen atau pihak fakultas kalau memang ada salah satu anggota kelas yang kurang jelas dengan berbagai aktivitas perkuliahan.

Suatu ketika kami berada dalam satu ruangan – tepatnya ada tiga orang termasuk saya waktu itu. Saya pun sempat membuat guyonan kecil kepadanya, “Pak, sampeyan iki opo ora kesel ngurusi wong-wong sing kadang-kadang angel diatur?” “Ngono kuwi wis risiko Pak. Tapi aku ora iso njarke wong-wong koyo ngono. Iku wis tanggung jawabku.” jawabnya santai.

Orang ini hebat sekali pikir saya. Saya yakin tak semua orang bisa seperti ini. Saya tahu bahwa menjadi ketua kelas tidak ada hubungannya sama sekali dengan kemapanan atau singkatnya ketua kelas tidak pernah digaji dan dimanja. Semoga kesehatan, keselamatan, rezeki yang berlimpah, dan panjang umur selalu menyertainya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s