Kelas Kehidupan; Sang Dosen Aswaja

Pada suatu hari yang tampak sibuk bagi kami para mahasiswa pasca-sarjana, di sela-sela mengerjakan tugas-tugas kuliah yang tampak tak ada ujungnya, saya mengamati satu fenomena menarik dan juga penuh misteri di salah satu kelas kami.

Saya ingat waktu itu ketika teman-teman saya mulai sibuk mempresentasikan makalah mereka masing-masing secara berkelompok. Dan kebetulan saat itu saya masuk kelas agak terlambat karena harus membenahi makalah saya saat itu juga di salah satu rental di dekat kampus. Setelah berjam-jam lamanya, presentasi kelompok pun akhirnya selesai.

Seperti kita ketahui mata kuliah Aswaja ini merupakan mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa pasca-sarjana ini sebagai landasan pemikiran dan faham tentang ke-NU-an. Aswaja merupakan kepanjangan dari Ahlussunnah Wal Jamaah. Saya sudah mendapatkan pelajaran ini sejak kecil dan saat itu pelajaran ini pun diajarkan kepada saya oleh salah satu ulama besar di desa saya. Ternyata, di pasca-sarjana pun sama. Mata kuliah ini dibimbing oleh salah satu ulama yang bisa dibilang memiliki nama besar di kalangan para Nahdliyin kota apel. Menariknya lagi, beliau ini adalah seorang ahli tasawuf yang tentu saja (menurut pengetahuan saya) memiliki pemikiran-pemikiran yang tidak hanya memandang sesuatu dari luar atau secara kasat mata, ada sesuatu yang tidak  bisa dinalar yang biasanya mampu ditanamkan kepada siapa pun dengan Allah SWT sebagai pemancarnya.

Ya, presentasi pun selesai dan sang dosen yang juga seorang kiai ini pun mulai mempersiapkan soal-soal ujiannya untuk diujikan kepada semua mahasiswa yang ada di kelas saat itu. Di tengah-tengah tugas dan ujian yang hampir bersamaan semuanya, tentu saja saya bisa membayangkan betapa lelah dan susahnya keadaan waktu itu. Tetapi saya tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan teman-teman saya saat itu. Semoga saja, mereka semua mampu mengendalikan keadaan dan mendapatkan nilai bagus seperti yang diharapkan.

Saya pun berpindah tempat duduk, dari barisan ke-3 ke barisan ke-1. Bukannya saya egois karena tidak mau dimintai contekan atau apa. Tapi kalau toh teman-teman saya minta contekan kepada saya, apa yang akan saya berikan lawong saya juga tidak yakin dengan jawaban saya. Saat itu mata saya memang terlihat tidak sehat. Semua yang ada di papan tulis tampak samar, sehingga saya terpaksa harus duduk di barisan paling depan agar saya bisa melihat tulisan di papan dengan jelas.

Sang kiai pun memantulkan soal-soalnya lewat proyektor kelas dan terasa janggal saat sang kiai berpesan kepada kami semua untuk percaya pada kemampuan diri sendiri dan untuk tidak membuka buku. Pesan beliau ini pun ditulis di bagian akhir dari soal-soal yang diujikan seakan-seakan pesan tersebut menjadi sebuah isyarat agar kami percaya pada diri sendiri dan mampu berbuat jujur apa pun keadaannya. Keanehan pun bertambah, setidaknya saya memandangnya begitu. Setelah menuliskan pesan terakhir itu, sang kiai meninggalkan ruangan kelas kami. Ini berarti kami bebas melakukan berbagai kecurangan di kelas karena tidak ada dosen yang mengawasi. Logikanya seperti itu.

Saya pun semakin takut dan semakin memahami bahwa ini pasti sebuah ujian kejujuran oleh sang kiai ini. Sang dosen ini sepertinya ingin mengajarkan kejujuran bagi para mahasiswanya yang caranya tentu saja tidak bisa dipahami sekilas oleh kebanyakan orang. Lagi-lagi, saya ingat beliau ini adalah seorang ahli tasawuf dan dugaan saya ini semakin diperkuat dengan pengalaman saya bersama para kiai saat masih duduk di bangku sekolah dahulu.

Jam menunjuk ke angka 11.30 dan perkuliahan pun seharusnya diakhiri. Sang kiai pun memasuki ruangan kelas tepat pukul 11.30, saat perkuliahan memang harus diakhiri. Anehnya, saat saya memandang sang kiai ini, saya melihat wajah beliau yang begitu terang dan cerah seakan-akan habis melakukan salat atau bermunajah kepada Allah – sesuatu yang tidak biasa! Saya pun mengamati bawaan beliau. Beliau membawa buku kecil yang sepertinya digunakan sebagai sarana munajah.

Kelas itu seperti sebuah kelas kehidupan bagi saya. Pikiran saya terbang ke mana-mana setelah kejadian itu. Jika saya lulus ujian kelas kehidupan ini, apakah saya mampu mendapatkan ilmu laduni dari sang kiai ini. Mungkin hasil ujian UAS saya tidak maksimal, tetapi saya bangga karena saya mampu mengisi dua soal terakhir dari sang kiai ini:

  1. Percaya pada diri sendiri
  2. Tidak membuka buku

Jika ilmu yang saya terima dari sang kiai ini bermanfaat dan barokah, tak ada satu pun penghalang bagi saya untuk menggapai ilmu-ilmu lain yang belum pernah saya dapatkan saat saya duduk di bangku perkuliahan ini. Semoga keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan selalu menyertai beliau dan semoga kita dijauhkan dari sifat malas dan culas…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s