Keong Sakti Penakluk Begal!

Beberapa hari yang lalu, saya diundang untuk menghadiri acara pengajian di salah satu sekolah yang berlokasi di Lamongan, Jawa Timur sebagai penyimak. Salah satu teman saya yang berasal dari Situbondo pun ternyata dapat undangan serupa dan ia pun turut hadir dalam acara pengajian ini. Kami bertemu dalam acara itu dan duduk bersanding berdua sampai acara selesai. Kami pun tak lupa ngobrol ngalor-ngidul dengan topik bahasan yang campur aduk. Kenangan masa sekolah dulu pun seolah tampak nyata atau bahkan terulang! Ya, seru sekali!

Malam pun semakin larut. Dan sampailah di penghujung acara. Para hadirin beranjak pulang meninggalkan tempat duduk masing-masing. Hanya tinggal kami berdua yang masih berada di sekolah itu. Pikir-pikir, sudah lama sekali kami tidak pernah mengunjungi sekolah yang sudah membesarkan kami ini. Sampai kami puas melepas rindu pada almamater sekolah kami, kami pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Kebetulan, teman saya ini akan bermalam di pondok pesantren tempat ia nyantri dulu. Itu berarti kami searah dalam perjalanan pulang kami.

Kami pun keluar dari gerbang sekolah, menyusuri kuburan kuno yang penuh dengan makam kompeni meski makam penduduk sekitar pun ada di sana; tapi kuburan ini terbilang kuburan kuno karena sudah tidak ada aktivitas lagi di kuburan ini. Hanya dua atau tiga penggembala yang terkadang menggembalakan ternak mereka di sini. Saat saya masih sering lewat kuburan ini atau bahkan bermain di sini waktu kecil dulu, saya tak pernah menemukan sesuatu yang angker atau aneh, hanya sering terjatuh di kuburan ini saat pulang sekolah.

Di tengah-tengah perjalanan pulang, kami melihat segerombolan orang yang tidak kami kenal sama sekali. Kami pun santai saja karena kami tidak berpikir mereka itu orang-orang jahat. Kami akhirnya bersinggungan melewati mereka dan ternyata salah satu dari mereka menghentikan kami dengan teriakan yang sangat keras. “Berhenti,” katanya. Kami pun berhenti. Saya sangat kaget dan agak sedikit takut sambil memandangi raut muka teman saya. Tak sedikit pun saya lihat rasa takut pada raut mukanya. Ia hanya tersenyum dan berusaha menenangkan saya. “Ngene ae wedi toh Lex,” katanya, “gampang ngatasi wong ngene-ngene iki!”

Saya lihat teman saya ini mengeluarkan sejenis keong dari sakunya dan dilemparkanlah keong ini di depan gerombolan orang yang menghadang kami sambil berkata, “Ini keongku, jogo yo ojo sampek ucul. Nek ucul, tak pateni kabeh kowe!” Gerombolan ini pun gaduh dan tampak panik berebut keong yang dilemparkan oleh teman saya tadi. Salah satu dari mereka pun berhasil mengambil keong ini dari tanah dan dengan wajah tertunduk ia menunjukkan keong itu ke teman saya sambil berkata, “Saya akan jaga keong ini, mas.”

Hebat sekali teman saya ini. Hanya dengan seekor keong ia mampu menundukkan gerombolan begal yang hendak merampok kami. Saya pun tak meragukan ucapannya lagi. Kami pun berhasil melewati gerombolan orang itu dengan aman tanpa terjadi sesuatu yang tak diinginkan dan tak lama kemudian saya pun terbangun dari mimpi saya dan ternyata, saya hanya bermimpi! Mimpi yang sangat aneh. Tapi seaneh-anehnya mimpi saya tadi, saya anggap itu sebagai bunga pemberian dari sang Ilahi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s