Penerjemah Lepas – Suka dan Duka

Suka dan duka selalu menyelimuti, plus dan minus selalu ada dan saya yakin hal ini pun dialami oleh mereka yang bekerja di kantoran. Hanya saja, tingkatannya mungkin berbeda. Saya memulai karier sebagai penerjemah lepas sejak 2009 dan saat itu saya masih berstatus ‘ngantor’ di salah satu sekolah ternama di Surabaya. Rasa khawatir untuk tidak dapat proyek pun tak pernah tebersit karena saya memiliki penghasilan tetap dari ‘ngantor’ saya selain saya juga memberi les privat ke sejumlah instansi. Tahun 2010, tepatnya bulan Juli saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan ‘kantoran’ saya karena ada satu dan lain hal. Yang lebih mengerikan lagi, saya sudah memiliki 1 istri ( ๐Ÿ˜€ ) dan 1 anak untuk dihidupi saat itu. Saya memutuskan keluar dari pekerjaan ‘ngantor’ pun tidak didasari alasan kuat atau bahkan sudah ada pekerjaan tetap pengganti; hanya berharap menjadi penerjemah lepas yang super sukses. Pasrah dan pasrah saja saat itu. Kejadian mengerikan pun terjadi, rumah kontrakan saya ambruk dan saya harus cari tempat tinggal sedangkan ‘kantong’ saat itu dalam keadaan kosong. Alhasil, saya ‘pulkam’ ke rumah istri dan minta bantuan tempat tinggal ke mertua saya (tinggal di rumah mertua untuk sementara waktu).ย 

Dari situlah saya mulai getol mencari proyek karena basis klien saya masih terbatas lokal dengan rate Rp40 saja. Hayo siapa yang mau dibayar segitu sekarang? ;). Rasa putus asa pun datang saat tak satupun lamaran terbalas. Lagi-lagi, pasrah dan pasrah hingga kesulitan benar-benar menghimpit; susu anak saya habis dan saya tidak sanggup untuk membelikannya, apalagi istri saya minta untuk dibelikan baju lebaran. Uang di peci saya pun yang cuma 50 ribu ย (uang pamungkas ๐Ÿ˜€ )ย saya keluarkan untuk beli susu sekadarnya dan keinginan istri terpaksa saya pending dulu. ย 

Terdengar ngeri tapi itulah kenyataan pahit yang mungkin setiap orang harus alami. Bagi rekan-rekan yang ingin menjalani pekerjaan ini (penerjemah lepas), berikut beberapa hal yang harus dipertimbangkan- setidaknya berdasarkan pengalaman saya:

1) Kemampuan – Ketahui dan ukur kemampuan kita. Apakah kita sudah benar-benar paham dengan dunia penerjemahan atau kita sekadar paham? Ingat bahwa paham berarti tidak hanya bisa menerjemahkan atau menggunakan CAT Tool dengan baik, ada banyak faktor yang harus kita pertimbangkan.

2) Bekal – Jangan langsung ‘nyemplung’ tanpa bekal. Setidaknya kita mempunyai modal untuk bisa digunakan untuk menopang kebutuhan kita selama beberapa bulan ke depan untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk. Saya yakin sebagian besar klien tidak langsung membayar kita saat kita menyelesaikan pekerjaan dari mereka. Juga, jangan sampai cerita di atas menimpa kita – cukup saya saja. ๐Ÿ˜€

3) Manajemen Waktu – Kalau Anda tergolong orang yang tidak bisa mengelola waktu dengan baik, jangan terjun ke dunia penerjemah lepas. Silakan buktikan sendiri….

4) Kesehatan – Manusia itu ada batasnya. Kita bisa memaksa fisik kita untuk bekerja selama 5 hari dengan 2 jam tidur setiap harinya, tetapi lama-kelamaan fisik kita akan menolak. Ibarat mesin, semakin kita sering pakai mesin, kita akan sering ke bengkel atau setidaknya kita harus sering merawatnya. #baca –tangan kram selama hampir 3 bulan (Silakan ditambahkan ya kalau ada kiat yang lain).

Beberapa kesalahan yang sering saya jumpai saat ini adalah para penerjemah pemula cenderung melihat sisi ‘makmur’ dari penerjemah yang sudah mapan seperti yang sering kita ketahui di posting-posting milis atau FB dan sebaliknya mereka yang sudah mapan pun tidak pernah secara tegas dan terbuka menceritakan sisi ‘gelap’ yang dialami. Menurut saya ini adalah kesalahan besar. Mereka juga pernah berdarah-darah untuk mendapatkan klien dan ada juga yang mulai dari rateย terendah yang mungkin saja tidak diceritakan secara mendetail kepada kita. Saya buka penerjemah senior; saya masih pemula dan hijau. Saya mulai dengan berdarah-darah mencari klien. Rate Rp40 pun saya lahap. Bukan maksud saya untuk mengajak rekan-rekan untuk menerima rateย rendah. Sekali lagi, pertimbangkan kemampuan kita! Hal yang terindah dari semua ini adalah ‘BE YOURSELF AS YOU KNOW WHAT YOU NEED MOST’. Saya pun pernah disarankan untuk menolak rate 3 sen euro, namun saya tidak iyakan karena waktu itu saya masih pemula dan butuh belajar. Alhamdulillah dari rateย tersebut saya bisa bangun rumah dan kantor (bukan bermaksud sombong, tetapi mengikuti alur judul di atas – Suka dan Duka).ย 

Jangan lupa bahwa pekerjaan ini (penerjemah lepas) penuh dengan misteri. Untuk menyingkap misteri ini, jangan lupa sisihkan penghasilan kita untuk yang membutuhkan. Semoga tidak ‘nyasar’…..

 

 

Advertisements

15 responses to “Penerjemah Lepas – Suka dan Duka

  1. petuah yang sangat berharga! nubi sangat terbantu dengan wejangan dari Mbak Kakung Ahnan Alex! ๐Ÿ˜€

    btw, pindah ke WP, bloggernya gimana? ๐Ÿ™‚

    eh, maaf, numpang backlink ya Suhu! ๐Ÿ˜›

  2. This is a really inspiring story.. ๐Ÿ™‚ sekarang sedang mengalami masa-masa belum ada balasan dari application letter yg dikirim ke bnyk klien..hihihi.. tapi jadi semangat karena baca tulisan ini ๐Ÿ™‚ terima kasih mas Ahnan, salam kenal ๐Ÿ™‚

  3. menarik..
    aku juga lg nyba kesana kemari nih..
    hehe..
    tp susah ya..
    apa karena jd penerjemah bahasa inggris itu udah terlalu banyak ya? ๐Ÿ˜ฆ
    secara anak TK aja sekarang udah bisa ngomong bahasa inggris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s