Junjung tinggi nilai moral

Menerjemahkan terkadang bisa sangat menyenangkan bahkan sangat membosankan. Sangat menyenangkan kalau kita sangat menguasai topiknya atau topik tersebut merupakan ranah kegemaran kita plus rate yang menggiurkan (anggap saja 2 digit – sayang saya belum tergolong penerjemah hebat seperti rekan-rekan yang lain karena masih pakai rate kacang; lumayan buat beli susunya Daniel sama beli cabe untuk mamanya Daniel). πŸ˜€

Kalau bahan terjemahannya susah plus rate jongkok? He he he he he. Silakan dijawab sendiri dalam hati.

Saya tidak mempersoalkan berapa saya telah dibayar oleh klien saya atau rekan saya yang telah percaya akan kemampuan saya. Tugas adalah perintah, dan perintah berarti harus diselesaikan secara tuntas terlepas dari konsekuensi yang harus kita bayar.

Saya adalah seorang penerjemah sekaligus mencoba peruntungan saya sebagai pengelola agensi terjemahan – kecil-kecilan lah yang penting lancar; buat beli susu anak saya, Daniel dan beli cabe untuk mamanya Daniel. Saya telah mengalami beberapa hal yang bisa dikelompokkan sebagai berikut:
Menyenangkan
Tidak menyenangkan

Senang kalau seperti yang saya gambarkan secara singkat seperti di atas plus kalau posisi saya sebagai pemilik agensi, senang kalau yang mengemban tugas dari saya bisa melaksanakan tugas tersebut dengan baik – at least saya tidak perlu seharian di depan komputer sambil kucek-kucek mata memeriksa kesalahan-kesalahan mendasar terkait tata bahasa. Pertanyaannya sekarang, saat posisi kita sebagai outsourcer atau ungkapan sederhananya, saat kita memiliki pekerjaan lebih dan harus membagi pekerjaan itu dengan yang lain, bagaimanakah kita menyikapi hal ini? Apakah kita cukup:
1) terima dan kirim?
2) terima, lihat, dan kirim? atau
3) terima, lihat, sunting (bila memang harus), dan kirim?

Saya tidak sedang mempromosikan diri saya sebagai seseorang yang selalu berada di pertanyaan ketiga, namun lebih dari itu saya selalu menjunjung tinggi moral saya sebagai penerjemah (apa kata dunia kalau saya berada di pertanyaan pertama – terima dan kirim?). Fenomena alam telah terjadi dan mungkin pelajaran seperti ini patut saya bagikan tanpa saya menyebutkan satu per satu siapa dan apa. Saya pernah mengalami hal yang mungkin kebanyakan orang tidak suka – menyunting naskah terjemahan yang saya sub-kontrakkan sampai seminggu lebih. Yang lebih parah lagi, saya sampai mengorbankan mata saya hingga sampai titik merah. Yang salah tentu saja bukan mereka yang telah mengerjakan. Kesalahan tetap ada pada saya dan di sinilah saya harus bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan – mensub-kontrakkan pekerjaan. Bagaimana dengan Anda? πŸ˜€

Sejarah dan cerita itu sangat penting. Masa lalu adalah sebuah pelajaran. Kalau itu jelek dan tidak bermutu, kita buat masa lalu itu sebagai sebuah proses pembelajaran untuk tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama. Kalau masa lalu itu baik dan bermutu, yuk kita buat sebagai refleksi untuk melakukan hal yang lebih baik dan bermutu. Kembali lagi ke tiga pertanyaan yang tersebut di atas.

Apa yang akan Anda lalukan kalau Anda harus mensub-kontrakkan pekerjaan Anda?
Terima dan kirim – Kalau jawaban Anda adalah ini, saya ucapkan selamat karena sebentar lagi Anda akan gigit jari. Syukur-syukur jari Anda, Anda gigit sendiri, bukan klien Anda yang gigit jari Anda. Saya ingat ada sebuah agensi yang katanya sudah mendunia, namun kenyataannya, nol! Menurut beberapa sumber, karena agensi tersebut sering melakukan kesalahan fatal. Tidak memeriksa hasil anak buahnya dan si klien/agensi lain yang bekerja sama dengan ybs. harus menyunting hasil terjemahannya mati-matian – sumbervalid.com.

Terima, lihat, dan kirim – Kalau ini jawabannya, silakan tunggu 2-6 tahun ke depan. Lihat sendiri hasilnya. πŸ˜€

Terima, lihat, sunting (bila memang harus), dan kirim? – Ini adalah titik minimal yang harus menjadi jawaban Anda alih-alih moral Anda sebagai penerjemah. Saya yakin sekali bahwa mereka yang berhasil dan selalu dihampiri proyek-proyek raksasa minimal berada di jawaban ketiga ini. Berani bertaruh? πŸ˜€

Advertisements

2 responses to “Junjung tinggi nilai moral

  1. Sebelum akhirnya aku mendapat order pertama menerjemahkan novel, aku menawarkan diri membantu teman penerjemah yang kebanjiran order. Aku banyak belajar dari situ dan merasa sangat diuntungkan karena kualitas penerjemahanku kemudian diterima oleh beberapa penerbit. Oleh karena itu, terpikir olehku untuk melakukan hal yang sama kepada penerjemah yang relatif baru, kalau sudah setaraf temanku yang sering kebanjiran order itu. Memang banyak penerbit yang secara eksplisit mencantumkan bahwa pekerjaan tersebut tidak boleh di-sub-kan. Tapi bagi yang tidak menyebutkannya, menurutku men-sub-kan itu baik, karena bisa bermanfaat seperti yang kurasakan.
    Tentu saja aku akan Terima, lihat, sunting (bila memang harus), dan kirim. Selain itu, aku juga akan wanti-wanti sebelumnya bahwa demi etika, untuk tidak membahasnya secara terbuka di jejaring sosial, apalagi dimasukkan ke dalam CV… πŸ˜‰

  2. Pengalaman dari mensub-kontrakkan suatu proyek (bukan dari mas Ahnan, lho ya) dulu, saya melakukan langkah ketiga. Meski secara tata bahasa tidak ada masalah, konsistensi naskah kurang terjaga lantaran saya bagikan ke banyak (lebih dari 1) temen. Akhirnya, oleh pemberi kerja saya diwanti-wanti untuk tidak lagi mensub-kontrakkan kerjaan dari beliau, kecuali beliau sendiri yang menegaskan kebolehannya. Satu aspek yang saya catat di sini, selain poin sebagaimana dinyatakan mbak Dina (sub-kontrak tidak mengapa bagi klien yang tidak secara eksplisit melarangnya), konsistensi matters. πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s