Mohon konfirmasinya ya…

Judul posting yang aneh, namun semoga bisa bermanfaat untuk kita semua.

Pernahkah klien Anda meminta Anda untuk mengonfirmasi bahwa email dari ybs. sudah Anda terima dengan baik? Atau sebaliknya, Anda yang meminta konfirmasi dari klien Anda bahwa email Anda sudah diterima oleh klien dengan baik?

Mungkin ini adalah hal sepele, namun justru hal sepele inilah yang akan menjadi penentu apakah klien Anda akan betah untuk tinggal di rumah Anda atau minggat jauh-jauh dari rumah Anda. Saya mengalami hal terkait kejadian di atas beberapa waktu silam. Tentu saja hal ini sangat sepele, namun jujur dengan kejadian tersebut saya telah kehilangan beberapa klien dan memiliki klien tetap. Ya, kuncinya adalah di konfirmasi (konfirmasi=kata benda, sehingga harus dipisah bukan di pisah *takut kena protes nanti*).

Suatu hari saya mendapatkan sebuah proyek dengan total transaksi senilai US$500-an dan saat pekerjaan saya kirim, saya langsung mendapatkan email konfirmasi dari klien saya yang menyatakan bahwa email sudah diterima dengan baik. Saya pun langsung menyampaikan terima kasih saya kepada ybs. karena kebetulan saya masih ada di depan laptop saya. Tak lama kemudian, saya harus bepergian jauh dan saat itu saya masih belum punya ponsel pintar (baca: smartphone) yang bisa pushmail (apa padanannya? email dorong atau dorong email? hihihihi biar para penerjemah andal yang menjawabnya, saya kan masih nyubi-nyubi (basa Jawa yang berarti coba-coba yang tentu saja beda dengan newbie > [nubii]). Si klien mengirimkan dana segar pada waktu itu. Yang bikin saya kaget lagi, ketika saya pulang, buka email, dan mendapati ada 3 email yang bersarang di kotak email saya dengan nama pengirim yang sama, saya langsung parno (bukan parni). Ternyata benar, si klien meminta konfirmasi bahwa saya telah menerima pembayaran dari ybs.. Wah, telat nih kalau mau jawab. Waktu pengiriman menunjukkan pukul 8 pagi sedangkan saya buka email saya pada pukul 5 sore. ‘Tidak apa-apalah’, pikir saya. Lebih baik telat daripada tidak konfirmasi sama sekali. Akhir cerita (maaf saya singkat saja soalnya ada singa mati datang nih :D), si klien menunjukkan ekspresi yang kurang menyenangkan dan bisa dipastikan bahwa si klien tidak akan menghubungi lagi. Waduh, ternyata benar sekali bahwa kejadian seperti ini telah membuat saya kehilangan satu klien potensial saya. (Salah siapa ya?) πŸ˜€

Lain lagi dengan cerita yang satu ini. Saat itu saya sedang menggarap proyek dengan total transaksi ribuan USD. Saat saya mengirimkan berkas hasil rendering (aneh pasti kalau dengar proyek rendering. Silakan japri kalau mau tahu :D), tak satu pun email balasan yang saya terima dari klien bahwa email saya sudah diterima dengan baik oleh si klien. Saya tetap tenang dan menunggu hingga sehari. Email konfirmasi yang saya tunggu pun tak datang juga. Akhirnya saya memutuskan untuk mengirim ulang email yang saya kirim pada waktu itu dengan catatan di bagian paling bawah dari email saya. Kurang lebih, ‘Please confirm the receipt of the email as I am afraid that it comes into the spam box.’ yang selalu saya tulis sejak kejadian itu. Wah berhasil!!!! Si klien langsung balas email saya dengan kata-kata yang sangat romantis; ‘Dear Ahnan, thank you for the rendering. We are very sorry for not confirming the yesterday’s email receipt from you. Have great day Ahnan! ………..’ (Nah kalau yang ini salah siapa?) πŸ˜€

Pada intinya bukan siapa yang salah, namun setiap kita menerima sesuatu, sebaiknya kita konfirmasikan hal tersebut kepada pihak yang berkirim email atau apa pun kepada kita. Tak peduli seberapa besar dan kecil nominal atau benda yang kita terima. Mungkin US$1 itu terlalu kecil untuk kita, namun hal tersebut tentu saja beda di mata klien. Ada hal-hal di luar nalar kita yang tidak bisa selalu kita remehkan. Ya, cukup lakukan satu; konfirmasi atau klien Anda selingkuh (bukan Anda selingkuhi lo ya). πŸ˜€

Advertisements

3 responses to “Mohon konfirmasinya ya…

  1. Mas Ahnan, di konfirmasi itu harusnya dikonfirmasi, konfrmasi di sini adalah kata kerja….
    Salam penerjemah,
    Mr.X

    • Halo Mr X atau mbak Dewi Anita,

      Terima kasih telah berkunjung. Apakah tulisan saya sudah dibaca dengan seksama? Berikut saya kutipkan. “Tentu saja hal ini sangat sepele, namun jujur dengan kejadian tersebut saya telah kehilangan beberapa klien dan memiliki klien tetap. Ya, kuncinya adalah di konfirmasi (konfirmasi=kata benda, sehingga harus dipisah bukan di pisah *takut kena protes nanti*).”
      Contoh kalimatnya seperti ini. 1. Pengiriman barang tersebut harus dikonfirmasi. (betul)
      2. Pengiriman barang tersebut harus di konfirmasi. (salah)

      Nah, dalam kasus tulisan saya, kata ‘di’ saya fungsikan sebagai ‘kata depan’ dan ‘konfirmasi’ sebagai ‘kata benda’. Kalau ditulis ulang bisa seperti ini; Tentu saja hal ini sangat sepele, namun jujur dengan kejadian tersebut saya telah kehilangan beberapa klien dan memiliki klien tetap. Ya, kuncinya adalah di konfirmasi ada pada konfirmasi Anda (konfirmasi=kata benda, sehingga harus dipisah bukan di pisah *takut kena protes nanti*).

      Oiya, biar lebih jelas lagi, silakan periksa http://kamusbahasaindonesia.org/konfirmasi untuk lebih jelasnya.

      Bagaimana menurut Anda? πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s