Tak lekang oleh waktu

وَاخْتِمْ بِأَحْسَنِ خِتاَمٍ إِذَا دَناَ اْلإِنْصِرَامُ

وَحاَنَ حِينُ الْحِماَمِ وَزاَدَ رَشْحُ الْجَبِينِ

Sudahilah kami dengan sebaik-baik kesudahan, apabila hampir waktu untuk berpisah, Ketika hampir kepada maut dan menambahkan peluh di dahi.

p_20170212_051022.jpg

Semoga khusnul khotimah, semoga mendapatkan surga terbaik, semoga selalu ada di hati anak-anaknya. Ribuan siang dan malam pasti berganti, cintaku takkan terganti, doaku takkan berhenti, harapanku akan selalu tergantung di langit tertinggi, wahai sang motivator hati.

 

Antara yang lebih berhak dan tidak

Ini adalah tulisan ngawur di tengah badai tenggat pekerjaan dan tenggat lain-lain yang tidak bisa disebut satu-satu. Semalam saya melihat seseorang terkena sawan atau sawanen atau kejinen atau sejenisnya. Namanya orang posting dan minta saran atau pendapat, sudah tentu hasilnya bermacam-macam. Setidaknya, banyak ahli suwuk dan terawang yang bermunculan. wkwkwkwkw

Wis ah saya tidak sedang membahas itu, saya sedang membahas yang lebih berhak atas milik kita, setidaknya, ini cerita dari teman saya. Saya ceritakan ulang dengan kata-kata sendiri, semoga tidak berlebihan dan berkekurangan.

Pada satu malam, sekitar 7 atau 8 tahunan yang lalu, saya berkunjung ke rumah teman, teman saya ini sangat sederhana hidupnya, kehidupannya bisa dibilang cukup dan tidak lebih, tapi pola pikirnya sungguh luar biasa. Tak ada angin tak ada hujan, dia pun menanyakan perihal anak saya waktu itu dan to the point saya digasak dengan pertanyaan, ‘Anakmu opo wis bok aqiqohi?‘ (Apakah anakmu sudah diaqiqohkan?)

Jawaban saya tentu saja ‘belum’, ngontrak rumah saja pada saat itu benar-benar seperti dapat rezeki nomplok dan teman saya ini tek berhenti dengan pertanyaan itu. Dia pun menjelaskan antara hak dan kewajiban manusia. “Aqiqoh itu haknya Allah SWT, jadi kalau kamu punya uang 5 juta, maka segerakan untuk melaksanakan aqiqoh. Tidak usah berperasaan eman karena Allah SWT pasti akan menggantinya”, ujarnya. “Takkan pernah putus kamu memikirkan kebutuhanmu. Hak Allah SWT itu sebaiknya didahulukan, entah semacam aqiqoh atau hak-hak Allah yang lain yang merupakan kewajiban kita,” lanjutnya.

Saya melongo, dan benar-benar melongo sambil mbatin “kurang ajar orang ini, kayak tahu saya sedang pegang uang 6 juta hasil dari kerja sambilan dalam sebulan.” Saya pun tak kuasa harus mengikuti saran teman saya ini, saya coba dan buktikan apa benar ucapannya. Saya sisihkan 3 juta untuk aqiqoh dan 3 juta untuk kontrak rumah. Pas jret. 😀

Setahun, dua tahun, dan tiga tahun, sungguh efeknya sangat terasa. Wah, teman saya ini memang benar. Setidaknya dia pernah bercerita, anak kita tidak akan mudah sakit atau terkena gangguan jin atau sejenisnya jika sudah diaqiqohi. Saya jadi ingat di daerah Pasuruan yang biasanya aqiqohnya dibarengkan dengan acara nikahannya (aqiqoh setelah puluhan tahun WOW??) atau pas acara sunatan (ini masih lumayan). Nah, saya ingat mbak yang kemarin posting, mungkin saran teman saya ini bisa dipakai jika ada rezeki.

Ah sudahlah, saya ini hanya menceritakan kisah teman saya, ayo dibuktikan. Ayo dibuat tesisnya biar cepet lulus hahaha PEACE BESAR> 😀

Ngopi dengan Mbah Qosim

p_20170204_173829.jpgHingga saat ini, kopi yang bisa menyegarkan jiwa dan raga ya kopi racikannya Mbah Putri, istri dari Mbah Qosim.

Mbah Qosim, mungkin di daerah Pasuruan sudah cukup dikenal atau mungkin tidak sama sekali. Pada usianya yang sangat senja, kurang lebih 95-an tahun, beliau masih sangat sehat dan tak sedikit pun terlihat tua untuk manusia seusia beliau. Dahsyatnya lagi, beliau ingat satu-satu siapa saja yang mengunjungi beliau. Tanpa obat, bahkan beliau ini alergi obat dokter. Setidaknya begitu yang saya ketahui.

Mbah Qosim ini termasuk orang yang memiliki kelebihan, pernah hidup dan bercengkerama dengan K.H. Abdul Hamid Pasuruan dan bahkan pernah suatu waktu beliau diberi petunjuk langsung oleh Mbah Yai Hamid untuk melakukan sesuatu yang tak biasa.

Mbah Qosim ini orangnya sangat sederhana, sangat berbeda dan kontras dengan orang-orang yang mungkin saat ini memiliki kelebihan sama. Saya sering main ke rumah beliau, setidaknya sebulan sekali, jaraknya pun tidak cukup jauh dari rumah saya. Mbah Qosim ini suka menyembuhkan orang-orang yang memiliki permasalahan medis dan non-medis, dari yang mulai paling berat hingga paling ringan dan tak sepeser pun beliau minta bayaran. Rumahnya pun biasa-biasanya. Beliau berpantang jika diminta orang untuk menyarang hujan (menghentikan hujan karena ada hajat tertentu) karena bagi beliau itu sama saja dengan menghentikan banyak kehidupan makhluk; singkatnya buntu rezeki.

Kebanyakan yang datang ke sana, mereka yang tak kunjung sembuh melalui ikhtiyar dokter. Cara beliau menyembuhkan pasiennya pun serba aneh. Baru saja beliau bercerita, beliau mengobati mantan kepala kejaksaan di Pasuruan yang terkena batu tidak kunjung sembuh hingga tidak bisa berbicara. Beliau pun menyuruh keluarga pasiennya ini untuk membeli apel jenis apa saja di Pasar Kebonagun, lalu apel itu dimasak dalam Majic Jar dan langsung disuruh makan seketika di hadapan beliau. Dan atas izin Allah SWT, orang ini langsung bisa ngomong. Banyak lagi cara-cara nyeleneh yang beliau lakukan yang menurut saya tidak bertentangan dengan syari.

Jika orang datang ke sini karena ada hajat kebutuhan, entah masalah kesehatan, sepiritual, atau masalah-masalah yang lain, beda lagi dengan saya. Saya ke sini berniat untuk menikmati kopi racikan Mbah Putri, masalah tambahannya, itu lain lagi.  Kebetulan, saya dibekali seplastik daun sirsak untuk diseduh guna menghilangkan segala racun yang ada dalam tubuh. Tak ada mantra khusus, apalagi yang berbau syirik dan bidah. Dan tambahan yang paling makjleb malam ini adalah pesan beliau yang sungguh harus diingat siapa saja.

‘Nak, kabeh wong duwe apes, apes iki yo ngiringi kebejan, mulo kabeh kudu diati-ati. Ojo rumongso kuwe iki wong apik, terus bejo terus. Sak bejo-bejone menungso, isih ono apesi. Dadi kabeh kudu dipikir, diati-ati, ojo grusa-grusu, kalem wae.’

‘Anakku, semua orang itu memiliki ketidakberuntungan dan ketidakberuntungan ini selalu mengiringi keberuntungan, maka semuanya harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh pikir. Jangan kamu merasa sudah baik, lalu kamu akan selalu beruntung. Seberuntung-beruntungnya manusia, tetap akan menemui ketidakberutungan. Jadi semuanya harus dipikir, dipertimbangkan, dan jangan tergesa-gesa, santai saja’

Sebaik-baiknya orang adalah orang yang berumur panjang dan banyak kebaikannya. Kebaikan itu sifatnya tidak melulu berupa ibadah murni, banyak sekali kebaikan yang di luar itu yang sifatnya bermanfaat bagi sesama. Semoga beliau diberi usia panjang dan barokah

 

 

Dia dan Dia

Dia, datang-datang tak disangka
Dia, hadir langsung begitu saja
Dia, mengetuk pintu yang tak biasa
Dia, aneh tapi nyata

Dia, bagai misik yang pekat warna dan rasa
Dia, hadirkan wangi tanpa rupa
Dia, menyelinap dalam sanubari sang petapa
Dia, menebarkan angin damai tanpa suara

Dia, telah mengusik pikiran sang jumawa
Dia, telah menusuk hati sang pujangga
Dia, kini ada dalam hatiku yang gulana
Dia, Dia, dan Dia!

 

—The Untold Story—

Terong Kualat

p_20170130_213310.jpg

Terong Kualat Beli di Pasar Gading – Pasuruan, Rp8.000 per kilo

Di mana-mana, yang namanya terong itu ya enak, atau sebut saja terong, tidak ada terong kualat. Tetapi, lain lagi dengan terong malam ini. Tepat setelah isya’, kami hendak makan di luar dan kebetulan tidak jadi karena hujan yang begitu lebat, ditambah, anak kami yang paling kecil masih tertidur pulas. Akhirnya, kami memutuskan makan di rumah saja. Makan sederhana dengan sejuta rasa; tempe dan tahu bacem penyet spesial istriku.

Semua tahu dan tempe bacem pun tersaji tak lama setelah itu, tak lupa pula sambal olahan khasnya. Ah sedap sekali tentunya. Saya cicipi dan terasa ada yang kurang. Uwaaa, ternyata lalapan terongnya yang kurang. Saya cari di lemari es dan ternyata sudah tidak ada. Akhirnya, saya pun memutuskan keluar untuk mencari terong sebagai lalapan masakan yang nikmat ini. Adik Nabiel pun ikut menemari pencarian terong saya dan akhirnya kami berdua pergi menerjang hujan lebat hanya untuk mencari terong.

Kami pun sampai di toko pertama dan hanya saya yang keluar, anak saya saya tinggal di dalam mobil, tentu dengan pengawasan saya dalam jarak dekat. Saya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari si penjual dan tiba-tiba ada seorang bapak berkopyah yang bertanya, ‘Cari apa mas?’ ‘Saya mencari terong, Pak. Apa di sini jual?’ jawab saya. Bapak penjual pun mengatakan bahwa dia tidak menjual terong, tetapi dia mengatakan juga bahwa biasanya ada terong di tokonya. Saya pun tidak mau pergi dari toko itu dengan tangan kosong. Kebetulan istri saya menyuruh saya untuk membeli sekilo telur ayam. Saya pun membeli telur di sana.

Sambil menunggu bapak tadi menimbang telur-telurnya, saya disapa oleh seorang lelaki yang sangat tua. Dia pun bertanya asal saya dan saya jawab saya dari sekitar daerah situ saja. Sepertinya orang tua ini masih penasaran dengan saya dan terus bertanya kepada saya, asli saya yang sebenarnya. Saya pun menjawab saya berasal dari desa Paciran, Lamongan. Dan, rupanya bapak ini mengetahui desa saya ini dan memiliki teman di sana, sempat beberapa kali berkunjung di sana. Saya anggap percakapan ini biasa saja. Tidak ada yang aneh atau  apa. Wong saya sedang membeli telur, bukan mencari demit atau hal-hal berbau mistis.

Pak tua ini pun menyarankan kepada saya untuk membeli terongnya di Pasar Gading saja, pasar yang buka 24 jam di Pasuruan yang tak pernah saya kunjungi sebelumnya sama sekali. Jalannya saja tahu, tetapi saya tidak pernah masuk pasar itu. Dasar saya yang agak ngeyel malam ini. Saya pun menyampaikan dengan nada halus sambil senyum bahwa saya hanya mencari terong untuk lalapan, tidak mungkin saya ke pasar Gading malam-malam begini hanya untuk terong. Bapak tua ini masih saja menyarankan hal yang sama, dan tetap saja saya ngeyel dengan kata-kata yang sama pula.

Seakan terkena daya magis bapak tua ini. Saya perhatikan beliaunya ini senyum-senyum sendiri, dan saya dengan Nabiel, anak kedua saya pun tanpa disengaja ingin ke Pasar Gading dengan tekat bulat. Awalnya tidak ada niat, kami hanya muter-muter untuk menghabiskan waktu dan aneh saja, saya sampai di Pasar Gading, saya lewati sampai ujung dan kembali lagi ke ujung. Saya balik lagi ke ujung dan kembali lagi ke ujung. Nah nah nah, bolak balik kan? 😀

Akhirnya, saya pun mencari tempat parkir kendaraan dan menaruh kendaraan saya di sana dan mencoba masuk ke pasar Gading ini. 100 meter dari pintu utam ada penjual terong dan saya pun langsung ke sana. ‘Bu, saya beli terongnya 1 kilo saja ya.’ Seloroh saya.

Nah, akhirnya keturutan juga makan terong penyet. Terongnya ini mungkin terong kualat pak tua tadi, tetapi rasanya tetap nikmat. Saya potong kecil-kecil dan saya goreng sebagai campuran masakan spesial istri saya. Sudah saya tak makan dulu, gais. Lapaar habis muterrrr.

Nah, aneh kan?

Kadang, mengingatkan orang itu tidak perlu selalu menggunakan cara konvensional. Saya menemukan spanduk nyeleneh ini di sekitar tempat kerja saya, di sekitar perumahan ABM Permai. Kalau dipikir-pikir, orang di sini tidak akan mempan jika ditakut-takuti dengan perihal demit, tetapi bisa jadi orang yang bukan warga sekitar situ.

 Saat hendak jumatan, saya melihat spanduk aneh ini. Saya ambil kamera dan saya abadikan. Ah, ini adalah cara ternyeleneh menurut saya, untuk mengingatkan orang agar tidak membuang sampah sembarangan.

Bagi orang sekitar situ, mungkin tidak ada yang ganjil atau biasa saja, tapi bagi warga yang otaknya dipenuhi dengan gambaran aneka demit, pasti reaksinya beda-beda. Mungkin ada yang menjajal karena ingin membuktikan, atau langsung ngeri campur mual-mual, atau reaksi-reaksi sejenis lainnya.

Yang jelas, cara mengingatkan orang itu bisa dengan banyak cara, disesuaikan dengan waktu, tempat, dan orang yang menjadi objek peringatan. Nah, bagi yang suka mengingatkan, jangan lupa cara, waktu, tempat, dan target orangnya. Do like a Rome when you are in Rome. 

Bless in disguise (Keminggris)

dscf0209

Tanggal 28 Januari 2017, tepat pukul 1.25 WIB saya baru tersadar bahwa saya sedang mendapatkan berkah tanpa sadar, berkah tanpa disadari, atau bahasa kasarnya, saya menemukan emas di dalam kotoran sapi. Baunya kotoran sapi sungguh tidak sedap dan tidak enak, apalagi kalau dikerubutin lalat, duh (maaf ya para pembaca, agak jorok sedikit). Tapi senang, setelah itu. 😀

Alkisah, sebentar, hmmm, syahdan, hmmm, sepertinya kata-kata itu terlalu bombastis. Ah begini saja.

Malam itu, saat mata sudah tinggal beberapa watt, kepala sudah mulai panas dan mau mengeluarkan asap, badanku seperti digebuki orang sekampung (bahasa orang lebay), saya pun ngeleset (bahasa kerennya lie on the bedroom), atau selonjoran di kamar tidur, sungguh kantuk ini tak tertahankan dan jam waktu itu menunjukkan pukul 7 malam. Sungguh masih sangat pagi untuk tidur jam segitu. Entah mau bagaimana lagi, setan ngantuk godaannya sangat besar (maaf ya setan, untuk kali ini saya mencatut namamu), akhirnya saya pun tertidur, lupa dengan segala deadline atau tugas-tugas yang lain.

Sang istri pun sepertinya tak sampai hati membangunkan tidur ganteng saya, dan itu terbukti dengan kata-katanya setelah saya bangun beberapa jam setelah itu. Tiba-tiba, ada anak yang masuk kamar dengan jeritan yang sangat keras, eh, lupa, jeritan atau tangisan. Saya tadi mendengarnya agak samar dan anak kecil ini menjerit semakin keras. “e.s e.s e.s, e.s e.s e.s, e.s e.s e.s” , jeritnya. Saya pun membuka mata saya dan saya perhatikan dari pojok ke pojok, eh ternyata anak saya yang nomor dua, entah sedang ngelindur atau apa, saya kurang tahu. Maksud dia, dia mau minta main PS (PlayStation).

Tidur saya tentu saja terganggu dan saya langsung bangun, menanyakan kepada anak saya kenapa dan tetap saja e.s, e.s. e.s. Hingga akhirnya, anak saya ini benar-benar bangun, bermain sendiri sambil saya awasi, sesekali saya dusel. Dia pun lari ke kamar satunya, naik kasur dan tidur di sana seperti sedang melamun. Saya dekati, saya garuk-garuk punggungnya. Ah, si bapak sungguh ngantuk. Saya pun tak sadar tertidur lagi dan saat saya bangun, anak saya tidak ada di sisi saya. Saya pun keluar kamar dan mencarinya, ternyata dia sedang bermain sendiri.

Malam pun semakin larut, sesekali saya melihat layar monitor komputer saya yang masih menyala dan saya sungguh shock ternyata malam ini saya ada konferensi online pukul 01.00 WIB yang jelas saya tidak ingat sama sekali. Saya langsung teringat, ternyata jeritan atau tangisan anak saya tadi pasti sinyal dari Big Bos untuk membangunkan saya dan mengingatkan saya bahwa ada tugas konferensi untuk menggarap mega proyek (saya tulis mega proyek biar kelihatan keren meski ya tetap saja proyeknya begitu-begitu saja. Lumayan buat beli susu dan beras).

Saya pernah membaca sebuah artikel singkat tentang Bless in Disguise (Berkah yang Tersamar – versi terjemahan saya – maaf kalau salah soalnya masih amatir). Saya berpikir sejenak, mencoba mengingat-ngingat, dan bertanya-tanya sendiri, ‘Apakah ini yang dinamakam Bless in Disguise?”

Yang tahu, silakan PM saya, kalau jawabannya pas di hati, saya kasih pulsa, ciyussss 😀